Water Teapot

Water Teapot
Bantuan Tasya...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


"Ta..Ta..."


"Teh Tasya, Taca kangen, Teh. Teteh kenapa tinggalin Taca ?" tangis Taca sambil memeluk Tasya yang mukanya tidak berubah sama sekali. Masih Tasya yang dulu, Tasya berumur 18 tahun.


"Maafin Teteh, yah. Teteh ngak mau ngasih aib lebih banyak buat kalian semuanya," jawab Tasya tenang sambil membalas pelukkan Taca.


"Teteh Taca kangen."


"Iya, tapi sekarang Teteh udah ditempat yang lebih baik, loh. Ditempat paling tenang."


Tasya kemudian mengajak Taca jalan-jalan mengelilingi tempat tinggal Tasya yang baru. Sesekali mereka berlarian dan bermain air dari mata air disebelah rumah Tasya.


Setelah lelah bermain Tasya dan Taca duduk diayunan yang terbuat dari akar pohon.


"Taca, Teteh liat kamu bahagia, kamu sudah menemukan calon iman ?" tanya Tasya sambil mencubit pipi Taca.


"Iya, Teh. Dia baik banget, sayang banget sama aku, aku bahagia Teh."


"Syukurlah, Taca. Teteh akan selalu mendoakan kebahagian kamu. Siapa namanya Ta ?"


"Adipati.."


"Siapa Ta, ngak kedengeran ?"


"Adipati."


"Teriak yang kenceng Taca, Teteh ngak kedengeran ini." ujar Tasya yang tiba-tiba sudah sangat jauh dari Taca.


"ADIPATIIIIIIIIIII........!"


•••


"Dimana Taca ?" tanya Adipati sambil berjalan mendekati Becca.


Kania yang mengekor dibelakang Adipati, kaget dengan kedatangan Juan dan Iis. Kania mengenal Iis sebagai salah satu psikolog di biro yang selalu perusahaan mintai bantuan.


"Ibu Iis ?" tanya Kania bingung kenapa Iis bisa ada disana.


"Kania, kamu kenapa bisa disini ?" Iis yang sama-sama bingung hanya bisa menatap Kania.


"Yang, pegangin kunci mobil aku," tiba-tiba Juan memberikan kunci mobilnya kepada Iis.


"DIMANA TACA...!?" bentak Adipati pada Becca sambil menjambak Becca.


"Di, sabar Di," Juan mengingatkan Adipati, walau sebenarnya Juan pun ingin menendang Becca.


"Honey, sakit..!" rengek Becca manja.

__ADS_1


"MANA TACA ?" Adipati tidak mengindahkan rengekkan Becca.


"Di, kita tanya baik-baik aja," ujar Iis yang berusaha menenangkan Adipati. Iis ngeri melihat amarah Adipati.


"Sayang, sini... nanti kamu luka," Juan menarik Iis menjauh dari Adipati. Juan tau dengan pasti Adipati ada di mode siap membunuh.


Jules yang kaget dengan sikap Juan pada wanita yang baru saja dilihatnya itu, langsung terdiam. Dia kemudian ingat perkataan Taca tadi, bahwa Juan punya pacar.


"Becca, lo bohong. Juan punya pacar...!!!" bentak Jules ketakutan, Jules sadar akan perbuatannya. Bisa habis dia dihajar Adipati, Jules yang mantan FWB-an Adipati, tau dengan pasti seperti apa kemarahan Adipati.


"ASTAGA.... ANSWER MY QUESTION...!!" Teriak Adipati membuat semua orang diruangan tersebut terdiam.


Tiba-tiba dari arah kamar paling ujung terdengar teriakan


"ADIPATIIIIIIIIII.....!?".


•••


BRAKKKKK


Pintu didobrak oleh Juan, kemudian Adipati masuk kedalam ruangan tersebut, dalam hitungan detik kemarahannya mencapai ubun-ubun saat melihat pemandangan didepannya.


Adipati langsung menendang Nico yang sedang menggerayangi bagian atas tubuh Taca. Nico yang tiba-tiba di tendang langsung terjengkang kesamping.


"What the..."


Bruakkkk


Adipati menerjang Nico menguncinya dibawah, kemudian Adipati memukuli Nico berkali-kali tanpa ampun. Sumpah serapah keluar dari mulut Adipati. Hati Adipati hancur saat melihat keadaan Taca yang duduk dengan tatapan kosong.


"YANG, KUNCI PINTU APARTEMEN, JANGAN IZINKAN SEORANGPUN KELUAR, INI TKP PEMERKOSAAN," perintah Juan pada Iis.


Iis langsung terhenyak, astaga jangan lagi Taca, astaga nasib kamu....


Iis langsung menutup pintu dengan cepat dan menguncinya, kemudian menjaga pintu dengan tubuhnya.


Kania langsung berlari kedalam kamar, terkesiap dengan keadaan didalam kamar. Sumpah serapah dari mulut Adipati masih terus keluar. Juan sedang berusaha untuk menenangkan Adipati agar tidak kelepasan dan membunuh Nico.


Kania menatap Taca, air matanya langsung jebol melihat keadaan Taca yang hanya menatap kedepan tidak bergerak sama sekali. Bibir Taca yang yang robek, dan beberapa luka lebam di wajahnya. Bahkan pakaian yang dipakai Taca sudah terbuka setengah.


Kania langsung mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh Taca, Kania menemukan bathrope. Dengan cepat Kania mendekati Taca, memasangkan bathrope ketubuh Taca, kemudian memeriksa celana Taca yang masih tertutup sempurna.


Kania langsung mencoba membuka ikatan tangan kanan Taca, Kania kesulitan saat membuka borgol ditangan kanan Taca. Mata Kania mencari dimana kunci borgol berada, kania menemukan sebuah kunci di nakas.


"Taca... Taca sadar Ta, bangun yuk, Ta. Taca BANGUN...!!!!" jerit Kania sambil menangis sendu.


Akhirnya Kania mampu membuka borgol di tangan kanan Taca. Kania langsung memeluk tubuh Taca.


"Taca sayanggg bangun, Taca huhuhuhuhuuuu..." Kania mencoba mengembalikan kesadaran Taca yang sudah hilang entah kemana.


"Adipati, dia bisa mati, Di." Juan berusaha menenangkan Adipati.


Kania yang kaget melihat bentuk rupa Nico langsung berteriak "PAK ADIPATI, TACA PAK. KITA HARUS BAWA TACA KERUMAH SAKIT, SEKARANG...!"

__ADS_1


Adipati yang mendengarkan teriakkan Kania langsung menghentikan pukulannya, kemudian melihat kondisi Taca.


Tangannya perih dan sakit, tapi lebih sakit dan perih hatinya yang melihat keadaan Taca saat ini.


•••


"Gue ngak mau tau, Ju. Gue mau cowo bangs*t itu dapat hukuman mati kalau bisa. Terus jebloskan Becca dan Jules kepenjara," ujar Adipati sambil mengusap wajahnya.


"Oke, Di. Tapi kita obatin tangan lo dulu. Taca masih diperiksa didalam. Lo tenang," ujar Juan sambil duduk disebelah Adipati.


Klik...


Pintu ruangan perawatan kelas vvip terbuka, kemudian keluarlah seorang dokter dan suster.


"Maaf siapa keluarganya ?"


"Saya tunanggannya." ujar Adipati cepat.


Wajah Adipati yang lelah dan berantakan membuat dokter tersebut tersenyum.


"Pak, Nona Taca baik-baik saja. Tapi jiwanya butuh diobati. Sepertinya peristiwa ini membuat Nona Taca trauma. Trauma sangat besar sehingga kesadarannya hilang. Maka nanti saya akan rekomendasikan psikolog untuk membantu kesembuhan jiwanya," ujar Dokter tersebut sambil tersenyum, mencoba menguatkan Adipati.


"Baiklah Dok, boleh saya liat tunangan saya ?" pinta Adipati.


Dokter kembali tersenyum mendengar perkataan Adipati, kemudian berkata "Boleh, Pak. Tapi bukan kah lebih baik anda beristirahat dulu."


"Saya ngak butuh istirahat, Dok. Saya butuh tunangan saya," ujar Adipati sambil masuk kedalam ruangan.


Adipati terdiam, melihat Taca yang berbaring tidak bergerak sama sekali, tatapannya kosong hanya melihat langit-langit rumah sakit. Memar-memar diwajahnya mulai terlihat, sobek dibibir Taca membuat bibirnya membengkak, yang terparah tangan kanan Taca benar-benar luka, tampak Taca berjuang untuk melepas ikatannya sampai tidak peduli kulit tangannya yang sobek.


Adipati langsung duduk disamping ranjang rumah sakit, dipegangnya tangan Taca, diciuminya tangan Taca berkali-kali.


"Sorry Amore, so sorry. Sadar Amore, aku mohon sadar sayang." pinta Adipati sambil menahan tangisnya.


Kania, Iis dan Juan terdiam melihat keadaan Taca dan Adipati. Kania hanya bisa terisak menangis sambil mengigiti kukunya.


Iis memeluk Juan dan menangis meraung-raung membasahi kemeja Juan dengan air mata.


"Amore, sadar aku mohon," mohon Adipati dengan suara lirih.


•••


Part sedih dulu yah..


Kaka author aja nulisnya sambil nangis 😭😭😭


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2