Water Teapot

Water Teapot
S2: Tamat...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Mas, aku nggak mau lagi beli tahu bulat jam 3 subuh, aku nggak mau ketemu tante Kun, nggak mau pokoknya" ujar Iis sambil bersembunyi di samping Juan.


Iis dan Juan saat ini baru bangun dari tidurnya. Setelah tragedi tante Kun yang membuat Juan dan Iis kabur secepat kilat, mereka langsung masuk kamar dan tertidur dengan perasaan tak menentu arah.


"Nanti, ngidamnya jangan yang bikin sport jantung, yah. Aku nggak sangup, Yang. Aku masih ingin liat anak aku lahir, sekolah, nikah, punya cucu," cerocos Juan sambil mengusap perut Iis pelan.


"Aku kapok, Mas."


Juan dan Iis terdiam sambil menatap langit kamarnya, tiba-tiba mereka berdua tertawa sampai perut mereka berdua sakit. Mereka baru sadar kebodohan yang baru saja mereka lakukan.


"Mas, pas tante Kun-nya bila terima kasih, kok kamu kepikiran ngomong sama-sama sih?" kekeh Iis sambil memukul bahu Juan pelan.


"Abis aku bingung mau jawab apaan? Masa aku mau bilang, maaf uangnya mana?" Juan tertawa sambil mengusap air matanya yang keluar dari sudut matanya karena tertawa keras.


"Astaga, nggak kuat aku kalau inget ketawanya itu tante, nggak lagi-lagi deh Mas," ujar Iis  sambil bangkit dari tidurnya.


"Mas...."


"Kenapa, Yang?" tanya Juan.


"Hm...nggak jadi," jawab Iis cepat, kenapa tiba-tiba dia ingin sesuatu hal yang absurd seperti ini.


Juan menyentuh paha Iis, "Apa, kamu mau apa?"


Iis menatap Juan pelan, Iis tahu permintaannya ini akan membuat Juan ngamuk. Bukan ngamuk lagi, tapi murka. Tapi, Iis ingin mencobanya.


"Apa?"


"Nggak, nggak apa-apa," ujar Iis.


"Apa kamu ngidam apa lagi?" tanya Juan.


"He... janji nggak bakal marah?" tanya Iis sambil menatap Juan lekat-lekat.


"Iya."


"Apapun permintaan aku, kamu nggak boleh marah sama sekali yah," pinta Iis.


Perasaan Juan mulai tidak enak, apa permintaan istrinya ini. Pasti sesuatu yang membuat dirinya semaput atau paling tidak membuat dirinya kesal setengah mati. Ah... sudahlah, apapun akan Juan lakukan, selama Iis tidak minta Juan untuk jalan kayang di bunderan HI.

__ADS_1


"Iya."


"Aku mau ketemu Adipati..." cicit Iis sambil menundukkan kepalanya.


"Hah, ngapain ketemu Adipati?" Wah mulai ngadi-ngadi ini Istrinya.


"Mau digendong," ujar Iis sambil menatap Juan sambil tersenyum ketakutan.


"APA..?!"


"Digendong, Mas. Boleh, yah?" pinta Iis sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nggak, ngaco kamu suer. Nggak ada, udah sini aku aja yang gendong, mau digendong sampai mana?" tanya Juan kesal sambil berdiri kemudian mengangkat Iis dengan gaya bridal.


Iis hanya bisa menahan tawanya melihat wajah Juan yang sedikit marah saat mendengarkan permintaannya. Permintaan yang membuat Juan kesal, mana mau dirinya melihat Iis digendong Adipati.


"Mau kemana?" tanya Juan setelah menggendong Iis.


"Ke... rooftop?" tanya Iis sambil menunjuk kebagian langit-langit.


"Yakin?" tanya Juan, seingatnya rooftop apartemennya ini lumayan berangin.


"Iya, kesana aja. Ah bawa itu juga," ujar Iis sambil menunjuk sesuatu pada Juan. Dengan cepat Juan mengambil barang yang ditunjuk Iis.


•••


Iis mengambil selimut yang dibawa Juan, kemudian menyelimuti Juan menggunakan selimutnya, Iis pun menyelinap diantara badan Juan dan selimut miliknya. Iis mengambil strawerry dan menyuapka strawberry ke mulut Juan.


"Hadeuh, Yang asem. Aku nggak suka strawberry," tolak Juan sambil menjauhkan tangan Iis yang memegang strawberry ditangannya. Iis langsung memakan strawberrynya dengan sekali gigitan, Juan langsung meringgis ngeri saat melihat Iis memakan strawberry tersebut.


"Mas, kalau anak ini lahir kamu mau ngapain?" tanya Iis tiba-tiba.


"Kalau lahir? Nggak ngapa-ngapain sih, happy aja setelah bertahun-tahun akhirnya aku punya anak sendiri," ujar Juan sambil mengusap perut Iis.


"Nanti, jangan berantem didepan anak, yah. Kalau kita mau berantem mending ditempat lain, anak jangan liat yah," pinta Iis.


Iis tidak mau anaknya, menderita seperti dirinya. Setengah hidupnya dia harus menerima teriakkan dan perkelahian kedua orang tuanya. Sakit, pedih dan sesak,  itu yang Iis rasakan. Neraka adalah sebutan yang paling pas untuk keadaan rumahnya dulu. Banyak yang bilang, Iis kamu nggak usah dengerin mereka, itu urusan orang dewasa nggak usah kamu ikut-ikutan. Iis hanya bisa tertawa atau menganggukkan kepalanya bila ada yang memberikan solusi tersebut, karena mana mungkin Iis tidak strees, kekerasan fisik dan psikis itu Iis lihat setiap hari dan setiap waktu. Muak.


Iis bersumpah, dia tidak akan berkelahi dengan Juan didepan anaknya nanti, apapun yang terjadi. Iis ingin anaknya sehat mental dan fisik. Jangan pernah beranggapan anak umur 5 tahun tidak bisa stress, mereka bisa stress. Itu kenyataannya.


"Aku, nggak bakal berantem didepan anak, Yang. Papih sama Mamih nggak pernah berantem didepan aku. Mamih selalu bilang, apapun yang terjadi Papih dan Mamih sayang aku, cukup itu yang aku tau," ujar Juan.


"Keluarga kamu kayanya bahagia yah, nggak pernah ada pelakor atau apa gitu," Iis menatap Juan.


"Hahahaa... dulu ada, tapi, mundur. Takut sama amukkan Mamih," Juan mengingat amukkan Mamih saat tahu Papih sedang bergenit-genit ria dengan salah satu caddy golf saat Juan kuliah dulu.

__ADS_1


"Sama mamih diapain?" Iis penasaran.


"Nggak diapa-apain, cuman rumahnya di ancurin, mobil yang papih kasih buat caddynya, dilindes truk towing...."


"Hah... nggak salah?"


"Nggak, Mamih itu cemburuan Yang, jangan salah. Papih pernah di suruh diem dirumah dua minggu cuman gara-gara ketauan traktir sekrtaris temennya makan di restoran Jepang," kenang Juan sambil menahan tawanya.


"Hadeuh, pantes anaknya bentukkannya gini," ujar Iis sambil mencawil hidung Juan pelan. Juan langsung berusaha untuk mengigit jari telunjuk Iis.


"Mas, janji sama aku. Jangan pernah pukul anak kamu," ujar Iis sambil menatap ke arah pemandangan kota Jakarta dihadapnnya.


"Janji Yang, aku nggak bakal pukul anak aku," jawab Juan.


"Bener yah, karena, kalau Papihnya aja udah nggak ngehargain anaknya sendiri dengan cara di pukul, gimana orang lain bakal ngehargain dia. Kamu nggak mau dan nggak ridho 'kan, liat anak kita dipukul orang lain?" Iis menggambil strawberry kemudian memakannya kembali.


"Nggak, aku nggak bakal lakuin itu, kemarin nggak sengaja mukul kamu aja, aku nyeselnya kaya apaan. Nggak Yang, aku nggak mau."


Iis tersenyum sambil mendongkakkan kepalanya, tangannya menggapai kepala Juan, memaksa Juan untuk menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciumannya di bibir Iis. Iis tersenyum kemudian membalas ciuman Juan lembut, sampai...


"Yang, asem sumpah yah, aku nggak suka yang asem-asem," rengek Juan sambil mengusap mulutnya, Iis yang daritadi memakan strawberry.


"Hahhaa.. maaf-maaf aku lupa, maaf," kekeh Iis sambil mengusap bibir Juan.


“Kelakuan, kamu tuh,” ujar Juan sambil memeluk badan Iis geram.


“Maaf-maaf, ini keinginan bayinya. Aku ngidam kamu makan strawberry,” dusta Iis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Juan menatap Iis dengan tatapan tajamnya, tatapan yang mampu membuat Iis bertekuk lutut pada dirinya. Tatapan yang mengawali cerita cinta mereka, tatapan yang pertama kali Iis lihat di rumah sakit, saat Juan datang untuk menyelamatkan Adipati dari Becca dan Iis yang ngamuk saat mendengar Becca menghina Taca.


Iis sudah bahagia saat ini, Iis menikmati hidupnya bersama seorang lelaki yang mencintainya. Sahabat yang selalu ada disaat Iis butuhkan. Keluarga barunya yang sangat mencintai dirinya dan sudah menganggapnya anak dan Iis sedang menunggu malaikat kecil yang akan menemaninya hingga akhir hayatnya.


Iis bahagia...


Terima kasih tuhan...


Tamat?


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2