Water Teapot

Water Teapot
S2: It’s not me, it’s you..!


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please...


Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sesampainya didalam kamarnya Iis seperti tidak berjiwa. Rasa lelah karena informasi baru yang didapatkannya benar-benar membuat jiwa Iis babak belur. Iis berjalan gontai masuk kekamar mandi.


Iis seperti orang ling lung, saking ling lungnya Iis menyalakan keran air Bathupnya dan masuk kedalam bathup tanpa membuak pakaiannya. Air dari keran langsung memenuhi bathup. Setelah air didalam bathup penuh Iis langsung mematikan air keran.


Terdengar bunyi tetesan air dari keran yang ada di hadapan Iis. Iis hanya diam menatap kosong ke depan, pikirannya kalut. Informasi yang didapat Iis benar-benar menghancurkan segalanya.


Kenapa, sejahat itu Juan pada dirinya, kenapa Juan nggak jujur sama dia? Apa Juan tidak serius dengan dia? Apa dia cuman pemuas nafsu Juan? Salah dia apa, Tuhan?


‘Tuhan, kenapa sih kamu sejahat ini sama aku? Aku salah apa? Nggak boleh aku bahagia sedikit aja, kenapa kehidupan aku selalu penuh drama. Aku cuman mau hidup tenang dan berbahagia, nggak boleh?’ batin Iis sambil menahan tangisnya. Demi apapun dia ingin berteriak keras tapi Iis takut teriakkannya akan terdengar keluar.


Entah mendapatkan ide dari mana, Iis tiba-tiba menurunkan tubuhnya sampai kepalanya berada didalam air. Didalam air Iis membuka matanya dan Iis berteriak sekencang-kencangnya, saking kencangnya kaki dan tangan Iis mengeras dan bergerak menedang-nendang air. Buih gelembung langsung keluar dari dalam mulutnya.


Brush....


Suara gelombang air langsung terdengar keras saat Iis mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


“Ohok...Ohok.... hah... astaga, astaga...” Iis batuk sangat keras karena dia tanpa sengaja meminum air saat sedang berteriak, dengan cepat di mengambil napas sebanyak-banyaknya, berharap rasa sesak di dadanya hilang. Tapi, sesak itu bukan karena Iis kekurangan oksigen, sesak itu hanya anxiety (kecemasan) Iis tentang masa depannya, tentang kehidupan rumah tangganya yang tidak berpondasi kokoh.


“JUAN WIJAYA BRENGSEK...!?” teriak Iis keras sambil melemparkan botol shampoo ke dinding kamar mandi hingga pecah.


•••


Tok...tok...tok...


Iis terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukkan dari pintu kamar hotelnya. Iis mengerjapkan matanya beberapa kali dalam diam. Badannya meriang bukan main, sepertinya mandi menggunakan pakaian lengkap bukan suatu hal yang baik.


Tok....tok...tok....braaakkk....brakkk...


Iis hanya diam tak bergerak saat ketukkan pintu berubah menjadi gedoran. Badan Iis seperti lunglai tidak berdaya, tubuhnya benar-benar tidak mau digerakkan sama sekali. Capek...!?


Iis menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya, lebih baik dia tidur kembali peduli setan dengan siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Bodo amat!?


Brakk...Brakk...Brakk....


Selimut langsung Iis tarik sampai melewati kepalanya. Iis benar-benar tidak peduli dengan suara gedoran, mau ini gedung runtuh sekalipun dia tidak peduli, jeratan kasur benar-benar membuat Iis tidak bergerak sama sekali.


Suara gedoran itu tiba-tiba terhenti dengan sendirinya. Iis langsung menghela napasnya, sepertinya orang sinting yang mengetok kamarnya dengan sangat-sangat keras itu sudah sadar kalau Iis tidak mau membuka pintu sama sekali. Dia hanya ingin bergelung di antara selimut dan bantal-bantal disekelilingnya.

__ADS_1


Klik..


Iis mendengar suara pintu dibuka, tapi Iis sama sekali tidak bergerak, otaknya memang menyuruh Iis untuk waspada tapi tubuhnya benar-benar tidak peduli apa yang terjadi. Mau ada maling sekalipun Iis tidak peduli.


“Makasih Pak.”


“Sama-sama” ujar bellboy tersebut kemudian menutup pintunya.


Mata Iis langsung siaga, Iis mengenal suara orang yang masuk kekamarnya. Bukan hanya mengenalnya, suara itu suara Juan Wijaya yang Terhormat.


“Yang,” panggil Juan saat masuk kekamar hotel, tidak ada jawaban.


Juan langsung masuk kedalam kamar dan menemukan Iis yang sedang bergelung di kasur. Juan yakin itu Iis, wangi di kamar ini adalah wangi moringa, wangi tubuh Iis. Koper dan tas yang sangat Juan ingat adalah milik Iis ada dipojokkan kamar.


“Yang,” panggil Juan sambil duduk di samping kasur.


Iis memejamkan matanya erat-erat, menulikan kupingnya. Dia benar-benar tidak mau bereakso seperti apapun juga, terserah suaminya saja, dia capek.


“Yang, kamu sakit? Udah makan belum?” tanya Juan sambil berusaha menyingkap selimut yang menyelimuti tubuh Iis dengan susah payah karena Iis mencengkram selimut dengan erat.


Akhirnya setelah tarik menarik selimut antara Juan dan Iis, akhirnya Juan mampu menarik selimut yang menutupi tubuh Iis. Iis menatap Juan dengan tatapan siap memakan suaminya itu.


Juan menghela napasnya kemudian menyibakkan rambut Iis yang menutupi sebagian wajahnya. Iis hanya diam saat disentuh Juan.


“Yang, kamu udah makan belum? Mata kamu bengkak, badan kamu anget,” ujar Juan saat menyentuk kening Iis.


“Mau makan?” tanya Juan sambil menunjuk bungkusan di meja yang dibawanya.


“Mau mati,” jawab Iis dingin.


“Astaga, Yang kalau ngomong jangan ngasal, kalau kamu mati aku sama siapa?”


“Sama kebohongan kamu,” jawab Iis dingin sambil mendorong tangan Juan dengan kasar.


“Yang, aku minta maaf aku salah, aku nggak jujur,” ujar Juan.


“Sadar salah?” tanya Iis dingin sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak dari kasur.


“Yang, aku tuh...”


“Aku tuh apa? Aku tuh seorang pembohong?” sentak Iis sambil melempar bantal kearah Juan.


“Bukan gitu, denger dulu,” pinta Juan sambil mendekati Iis.


“Denger apa? Mau denger apa? Kalau kamu nggak mabok nih yah, terus aku nggak nemuin itu kertas, mau kapan kamu kasih tau aku?” tanya Iis sambil menatap Juan.

__ADS_1


“Aku...” Juan benar-benar tidak bisa menjawabnya, diapun tidak tau kalau seandainya dia tidak mabok dan Iis tidak menemukan suratnya kapan dia akan berbicara.


“Nggak bisa jawabkan?” sentak Iis kesal sambil mendorong tubuh Juan kesal.


“Yang, aku udah beberapa kali mau ngomong sama kamu, tapi ada aja halangannya,” Juan berusaha untuk membela diri.


“Kapan? Yah kalau ada halangan coba lagi, kamu tuh jahat loh Juan,” ujar Iis sambil mendorong Juan lagi.


“Astaga udah sering Yang, waktu sebelum nikah. Kemarin pas makan malam dan Papih sakit,” ujar Juan.


Iis terdiam kemudian berjalan menjauh dari Juan, mengambil air minum Iis butuh minum untuk menjernihkan pikirannya.


“Yang denger aku emang salah. Tapi, aku nggak pernah minta kamu untuk hamil ‘kan, kamu yang datang kesana dan kesini untuk hamil, jadi jangan salahin aku juga. Dari awal aku nggak berharap punya anak juga, Yang,” ujar Juan, Juan berusaha untuk membela dirinya tapi perkataannya membuat Iis naik pitam.


“Juan kamu tuh yah, nggak mau ngerasa bersalah, kok jadi aku yang salah!?” ujar Iis sambil membanting gelasnya ke meja.


“Aku nggak bilang kamu yang salah, tapi kenyataan aku sama keluarga aku nggak pernah sekalipun maksa kamu buat hamil,” bela Juan.


“Karena semua keluarga kamu dan kamu tau kalau yang sakitnya kamu, yang mandulnya kamu bukan aku,” ujar Iis sambil menunjuk dada Juan kesal.


“Yah makanya aku sama keluarga aku nggak maksa kamu, Yang. Aku udah bilang kamu bukan pabrik anak, aku nikah sama kamu karena aku sayang sama kamu.”


“Tapi, tapi kenapa aku nggak dikasih tau!? Aku yang harusnya berhak tau, aku istri kamu Juan,” ujar Iis sambil menunjuk tangannya ke dadanya.


Juan mengusap rambutnya dengan gemas, Iis akan susah ditaklukkan untuk masalah ini. Iis akan mencercanya dengan berbagai macam argumem yang sayangnya semua argumennya benar.


“Aku, aku yang minta keluarga aku bungkam, aku yang minta mereka nggak kasih tau kamu. Aku yang salah.”


“Aku yang paksa mereka buat nggak kasih tau kamu. Aku minta maaf kalau kita nggak bisa punya anak,” ujar Juan sambil menatap Iis.


“Kita!?” tanya Iis sambil menatap Juan dengan tatapan penuh kebencian.


“Iya kita nggak bisa punya anak aku minta maaf,” ujar Juan.


“It’s not me, It’s you...” sentak Iis marah sambil menatap Juan. (Ini bukan aku tapi kamu)


“What?” (Apa?)


“Bukan aku tapi kamu yang nggak bisa punya anak..!?”


•••


Maaf yah, Iisnya marah dulu. Iis manusia biasa yang bisa ngambek. Inget manusia itu Abu-abu kadang bisa baik kadang bisa jahat.


Mungkin ini saatnya Iis menjadi orang egois...

__ADS_1


inget di novel Kak Gallon nggak ada yang baik banget atau jahat banget. Karena yah namanya manusia, kadang bisa lupa diri juga ‘kan...


Hatur nuhun, baraya...


__ADS_2