Water Teapot

Water Teapot
S2: Iis ikhlas...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Suara jam dinding menemani Iis, Taca, Adipati, Mamih dan Papih diruang tunggu. Hening, tidak ada yang berbicara sama sekali, semuanya sibuk dengan pikirannya sendiri-sendir. Terkadang terdengar isakan tangis dari Mamih atau Iis.


“Pih, gimana kalau Juan lewat?” tanya Mamih sambil mengusap air matanya dan menatap Papih.


Papih hanya bisa diam melihat istrinya yang menangis terisak, hatinya pedih bukan main melihat Istri kesayangannya menangis. “Udah, udah kita doa aja yah, Papih juga udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi,” jawab Papih sambil mengusap-usap punggung Mamih.


“Iis mau minum?” tanya Taca.


“Nggak usah, Ta,” tolak Iis sambil tersenyum pda Taca.


Taca langsung kembali ketempat duduknya dan duduk disebelah Adipati, Adipati dengan cepat memeluk Taca, menelusupkan kepalanya keleher Taca, berusaha menyembunyikan air matanya yang entah kenapa mencoba mengalir.


“Di....”


“Just a moment, Amore,” ujar Adipati pelan. Taca hanya bisa mengusap rambut Adipati pelan.


Klik...


Pintu terbuka kemudian masuklah Dokter Tria dengan wajah kelelahan. “Keluarga Juan Wijaya?”


“Iya, saya Ibunya,” ujar Mamih sambil berdiri dan mendekati dokter.


“Pak Juan berhasil kami selamatkan, tapi saat ini dia masih dalam keadaan belum sadar dan dari tadi mengigo memanggil-manggil Ayang, siapa yang dipanggil Ayang?” tanya Dokter Tria.


Iis langsung berdiri dari duduknya, “Saya, saya istrinya, Dok,” ujar Iis.


“Ah, Ibu bisa ikut dengan suster untuk ketempat Pak Juan,” ujar Dokter Tria sambil memberikan perintah pada suster yang berdiri dibelakang dokter.


Iis dengan patuh mengikuti suster tersebut, keluar dari ruang tunggu. Iis berjalan sampai masuk ke ruangan rawat biasa.


“Bu... Pak Juan masih belum sadar, tapi Ibu bisa tunggu disini, yah,” ujar Suster sambil mengambil kursi dan meminta Iis duduk disampin Juan.


“Iya, makasih, Sus.”


“Kalau ada apa-apa bisa panggil kami, pakai ini,” ujar Suster itu lagi sambil memberikan alat untuk memanggil suster.


“Iya.”


Suster tersebut langsung meninggalkan Iis berdua dengan Juan.


“Hai, Mas... makasih udah bertahan, sekarang Mas bangun yah. Please bangun, kita sama-sama lagi. Biar aku rawat Mas lagi, aku urus Mas lagi yah, aku nggak papa nggak punya anak juga, aku ikhlas...” isak Iis sambil mengusap rambut Juan terus menerus.


“Aku ikhlas, seumur hidup aku cuman ngurus Mas, bayi besar kesayangan aku. Aku ikhlas Mas, aku ikhlas, asal Mas bangun, bangun yuk Mas,” pinta Iis sambil menciumi wajah Juan yang entah mengapa tampak menua 10 tahun dari umur aslinya.


Iis langsung duduk ditempat yang ada, digenggamnya tangan Juan sambil diciuminya. Entah kenapa lantunan doa tiba-tiba mengalir dari bibir Iis. Terdengar pilu dan menyesakkan dada.

__ADS_1


•••


Sudah dua hari semenjak Juan belum sadarkan diri, Iis seperti sudah menjadikan rumah sakit itu rumahnya. Iis bahkan belum pulang ke apartemen lagi semenjak menemukan Juan OD.


Iis sedang makan di tempat makan rumah sakit, saat ada suster yang berlari kearahnya. “Bu Lizbet?”


“Iya,” ujar Iis sambil menyimpanh sendoknya dimeja.


“Pak Juan, Pak Juan.”


“Kenapa suami saya?” tanya Iis sambil berdiri dari duduknya dan membereskan barang-barangnya bersiap untuk berlari.


“Pak Juan, sadar,” ujar Suster tersebut sambil tersenyum.


Dengan cepat Iis berlari kekamar Juan, terserah orang mau memarahinya karena menimbulkan keributan di lorong rumah sakit, terserah orang mau menganggap dirinya pembuat kerusuhan. Yang terpenting saat ini, Juan sadar...!?


“Mas...” panggil Iis saat membuka pintu dan mendapati Juan yang sedang duduk dan menatapnya.


“Yang...” ucap Juan sambil tersenyum lemah.


“Mas...” teriak Iis sambil berlari dan melemparkan tubuhnya ke tubuh Juan yang masih lemah.


“Iis, Juannya masih belum sehat,” ujar Mamih was-was melihat Iis melemparkan tubuhnya ke arah Juan. Iis ramping tapi kalau tiba-tiba gitu, bisa jadi penyet anaknya.


“Uhuk...uhuk...” Juan terbatuk saat tertimpa badan Iis. “Yang, kamu berat.”


“Iya aku berat, aku berat,” isak Iis sambil menciumi wajah Juan, kemudian menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Juan, menghisap wangi tubuh Juan.


“Turun, Iis,” ujar Mamih sambil menepuk bahu belakang Iis.


Juan hanya bisa tertawa lemah melihat Istrinya yang memeluk dirinya dengan erat. Walau rasa sakit disekujur tubuhnya ditambah rasa pusing dikepalanya masih Juan rasakan. Tapi, demi Iis tetap memeluknya Juan mempertahankan kesadarannya dan mengabaikan rasa sakitnya.


“Aku nggak akan pergi lagi, Yang. Udah lepas, aku nggak akan pergi lagi,” ujar Juan sambil mengusap-usap punggung Iis.


“Bener Mas nggak akan pergi lagi?” tanya Iis sambil melepaskan pelukkannya dan menatap Juan.


“Iya, Sayang. Mas nggak akan pergi lagi, Mas capek pergi-pergi,” ujar Juan sambil menyelipkan rambut Iis belakang kuping Iis.


Papih dengan cepat menarik Mamih, “Keluar yuk, Mih,” pinta Papih.


Mamih langsung menatap Papih kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Juan dan Iis yang sedang asik berpelukan seperti kukang. “Hah... udah kaya dunia sendiri, Pih,” ujar Mamih sambil mengikuti Papih berjalan keluar.


“Anak kita udah ada yang ngurus, sekarang Papih yang minta diurus,” kekeh Papih sambil mengerling nakal pada Mamih.


“Ih... Papih, nakal ih. Ya udah sini Mamih urus Papih deh,” ujar Mamih manja sambil mengelayut mesra ditangan Papih.


“Bagus, kita pulang sekarang,” ujar Papih sambil menutup pintu kamar Juan, meninggalkan Juan dan Iis.


“Mas jangan pergi lagi yah,” pinta Iis.


Juan tertawa sambil mengelus-elus pipi Iis, “Yang pergi siapa, Yang? Aku atau kamu? Lupa yang pergi itu kamu?” tanya Juan.

__ADS_1


Iis menganggukan kepalanya sambil mengigit bagian bawah bibirnya, “Maaf, aku nggak mau pergi lagi. Aku mau sama kamu aja, aku Ikhlas....”


“Ikhlas apa?”


“Ikhlas nggak bisa punya anak, aku ikhlas. Asal kamu terus disamping aku, jangan tingalin aku,” isak Iis sambil mengecup bibir Juan dengan kilat.


Juan diam mendengar perkataan Iis, hatinya sakit. Tapi, tapi itu kenyataan Juan tidak mampu memberikan Iis seorang malaikat kecil. “Makasih, Yang. Makasih.”


Iis langsung menciumi wajah Juan sambil menangis, berkali-kali kata syukur terlontar dari mulutnya. Iis memeluk Juan erat.


“Mas....”


“Iya.”


“Jangan pergi lagi yah, nggak usah pake lagi obat sialan itu,” pekik Iis.


“Hahahaa... iya,” jawab Juan pelan.


“Aku nggak punya siapa-siapa Mas, kalau kamu pergi, gimana dengan aku? Aku tak punya saudara aku tak punya orang tua, kalau Mas ninggalin Iis di dunia ini sendirian,dengan siapa aku berjuang untuk hidup, kalau nggak sama Mas?” Iis mengunci manik mata Juan. Menatapnya dengan tatapan terlembut yang pernah Iis berikan pada Juan.


“Iya, kita berdua aja yah. Nggak papa?” tanya Juan.


“Iya, berdua aja, nggak papa, aku ikhlas,” ujar Iis.


Juan langsung mencium bibir Iis lembut, tanpa menuntut. Hanya ciuman yang mendamba dan rindu, ciuman yang membuat Iis merasa dicintai dan disayang oleh suaminya. Tak berapa lama Juan mengurai ciumannya dan berkata.


“Yang, aku pulang....”


Iis tersenyum kemudian menggesekkan hidungnya ke hidung Juan.


“Selamat datang,Mas.”


•••


Udah....


Selesai... Kaka Gallon lelah ini bikin adegan mengharu biru.....


Udah yah, nggak ada lagi adegan mengharu biru. Mari kita happy-happy heheheee....


Kaka Gallon baca dikomen-komen banyak yang tau Juan selamat gara-gara baca Mr and Mrs, Trina yah. Hihihihihiii......


Iya Juan selamat, Kaka Gallon kan udah bilang, karakter kesayangan Kaka Gallon Iis. Nggak mungkin Kaka Gallon bikin sad ending dunk hehehee...


Ciao....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2