
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Juan meraba-raba kasurnya, kesal karena tidak menemukan yang dia cari. Juan membuka matanya kemudian mengedarkan pandangannya, mencari sosok Iis.
"Yang, Ayang..." panggil Juan, Juan kemudian turun dari ranjangnya. "Yang..."
Tidak ada jawaban, Juan dengan cepat berdiri kemudian berjalan kedalam kamar mandinya. "Ayang...".
Kosong...
Juan kemudian mengambil handphonenya kemudian memencet nomer Iis dengan cepat.
"Iya..Ju... kenapa ?" Pada deringan ke 2 Iis mengangkat telepon Juan.
"Kamu dimana ? Mau kemana ? Pagi-pagi udah ngilang aja," cerocos Juan kesal.
Iis hanya bisa memijit dahinya. "Kamaren kan aku udah bilang, Ju. Aku mau pulang ke Citeko. Ini aku lagi sama Pak Jaka supir kamu. Kalau ngak percaya telepon Pak Jaka, deh."
"Kasih telepon ke Pak Jaka...!" perintah Juan cepat.
Iis dengan cepat memberikan handphonenya pada Pak Jaka. "Pak, ini Juan."
"Iya, Pak Juan."
"Anterin Ibu Iis ke Citeko, harus selamat. Awas aja ngak selamat..!! "
Wajah Pak Jaka berubah sigap, "Siap, Pak...!"
Iis mengambil kembali handphonenya, "Udah ?"
"Bentar..." Juan menjauhkan handphonenya, karena melihat Bi Win yang melihatnya dengan wajah kebingungan sambil membawa tong sampah yang keluar asap dari dalamnya.
"Kenapa Bi ?"
"Den, ini.. Bibi dateng-dateng Bibi liat ini, Den. Siapa yang bakar, Den ? Bukan Bibi, Den beneran," ujar Bi Win panik.
Juan melirik kedalam wadah tempat sampah tersebut dia melihat ada bekas photo yang terbakar, salah satunya photonya ada photo Cicil bersama dengan dirinya. Senyuman Juan berkembang. 'Kelakuan' batinnya.
"Ya udah, buang aja Bi."
Bi Win langsung menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari hadapan Juan.
"Yang..."
"Kenapa, Ju ? Ada apa, kenapa Bi Win ?" tanya Iis penasaran, karena dia hanya bisa mendengar sayup-sayup perkataan Bi Win.
__ADS_1
"Kamu bakar photo mantan aku ?"
"Iya, kenapa ? Mau dikoleksi, hah ? Buat apaan juga photo mantan kamu simpen-simpen, buat nakutin tikus, hah ?" hardik Iis geram.
"Hahahaha... ngak kenapa-kenapa, ya udah kalau udah dibakar."
"Awas aja kalau aku liat kamu masih nyimpen photo mantan di handphone, file komputer, email dan lain-lain. Aku bakar semuanya..!!" hardik Iis lagi kesal.
"Iya..iyah cerewet, bakar aja semuanya. Aku ngak papa, asal mojang Citeko jadi istri aku, hahahhaaa..." goda Juan sambil duduk di pinggir kasur.
"Gombal ih.. udah ah, bye. Love you Juan...!"
Klik...
Iis mematikan sambungan teleponnya dengan Juan, Iis tersenyum malu-malu sambil melihat handphoennya.
•••
"TACAAAAAAA...." teriak Iis sambil memeluk Taca yang sedang santai di sofa ruang TV rumahnya.
"Astaga, Iis ngangetin ih, dari mana sih, happy banget." ujar Taca kaget melihat Iis sudah ada di rumahnya lagi, padahal baru kemarin malem dia masih di Jakarta.
"Udah mirip jelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar...!" pekik Taca lagi sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
"Ya maaf, aku kesini kan mau bantuin panitia Royal Wedding Entis dan Rani, hahahahaaa..." ujar Iis sambil menerentangkan tangannya.
"Rese...seneng yah, aku kesiksa dari kemaren, gara-gara dipaksa jadi panitia nikahan Entis sama Rani. Gara-gara si Aa Riki, kesel ih..." cerocos Taca kesal.
Taca langsung merubah posisi duduknya, menghadap Iis "Bener-bener harus banyak sabar, ihhh... kesel. Masa si Rani bilang aku ngak bakal jadi nikah sama Adipati, cuman gara-gara Adipati pulang, kesellll...!!!" jerit Taca sambil memukuli bantal dihadapannya.
"Hahahahaa.. udah cuekin aja, Rani dilawan. Julidnya itu aduh ngak ada duanya."
Taca dan Iis bercerita mengenai betapa menyebalkannya Rani.
"Neng Taca, Neng..." panggil seseorang dari dalam rumah.
Taca dan Iis menyelesaikan pembicaraannya, kemudian melirik Kang Rozak yang sudah membawa 2 tas kecil, kemudian memberikan salah satu tas tersebut pada Taca.
"Itu ada titipan dari, Rani. Katanya kamu jadi pager ayu sama Adipati jadi pager bagus."
"Hah ?? Bajunya mana, kan harus pake baju seragam," Taca panik.
"Itu didalam tas ada baju buat kamu, tapi katanya Adipati pake jas putih aja." ujar Kang Rozak sambil melirik Iis.
"Oh sama ini, kamu juga Iis." Kang Rozak memberikan tas lainnya pada Iis. "Iis sehat ?"
"Hah ?" ucap Iis kaget mendengar pertanyaan Kang Rozak. "Sehat, Kang...".
"Oh syukur atuh, Iis katanya mau nikah juga yah, sama Juan ?" tanya Kang Rozak tiba-tiba, membuat Iis dan Taca terdiam.
__ADS_1
"Iya Kang, doain aja yah." jawab Iis tenang sambil mengambil tas yang diserahkan oleh Kang Rozak.
Kang Rozak hanya bisa menghembuskan napasnya," Nanti sore, kamu sama Iis disuruh ketempat Rani, diminta buat ngurusin persiapan seserahan Rani."
"Siap..!" jawab Taca dan Iis berbarengan.
•••
"Waduh, bagus-bagus yah seserahannya," ujar Icih sambil melihat-lihat seserahan milik Rani.
"Eh..jangan pegang-pegang, mahal tau itu." ujar Rani sambil mengambil tad ditangan Icih.
Taca dan Iis cuman saling tatap melihat kelakuan Rani. "Teh Taca nanti nikah seserahannya apa aja, Teh ?" tanya Icih tiba-tiba.
Taca yang sedang mengulung kertas kado terdiam mendengar pertanyaan Icih. Mana Taca tau seserahan apa yang bakal Adipati kasih. Taca belum berpikir sejauh itu.
"Hah.. ngak tau, Cih. Aku belum ngobrol sampai sana," jawab Taca jujur, selama ini Adipati hanya memberikan banyak mas kawin, tapi belum membicarakan kelanjutan acara pernikahannya sama sekali. Bahkan Papa Gio belum ke sini sama sekali untuk meminta Taca.
"Alah, emang jadi dinikahin Adipati, Adipati kan bule, pergaulannya bebas. Paling abis manis sepah dibuang," cerocos Rani tiba-tiba.
Iis yang mendengar perkataan Rani langsung nyerocos, "hah...gimana? Maksudnya apa ?"
"Ngak maksud apa-apa sih. Tau sendiri kalau orang bule 'kan, bebas yah. Jangan-jangan Kamu cuman di mainnin doang, Ta. Dipake terus..."
"Aku pulang, Ran. Permisi" potong Taca cepat, Taca benar-benar sedang malas adu mulut dengan Rani.
Taca langsung keluar dari ruangan tersebut pergi meningalkan Iis yang bengong.
•••
Sepanjang perjalanan Taca menghentak-hentakkan kakinya, ada rasa kesal didadanya. Rasanya dia ingin ngejahit mulut Rani pakai jarum obras, saking keselnya.
'Kok ada manusia senyebelin Rani, sih. Ada masalah apa sama hidup dia, nyebelin banget. Maunya apa coba.' batin Taca kesal sambil menendang beberapa batu kerikil didepannya.
Taca terus berjalan tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Seseorang yang terus melihat Taca semenjak Taca meningalkan rumah Rani sampai Taca masuk kedalam rumahnya.
Senyuman orang tersebut benar-benar bisa membuat buluk kuduk orang yang melihatnya berdiri. Orang itu langsung bersenandung sambil terus melihat rumah Taca, pikirannya berlari kekanan dan kekiri memikirkan hal-hal diluar nalar manusia normal.
•••
Rani author kasih porsi yang sedikit dulu, nanti author kasih yang banyak hehehheee...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon