Water Teapot

Water Teapot
S2: Terkuak


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Badan Iis remuk, Juan benar-benar pecinta jalan-jalan. Selesai dari Wellington, Queenstown, sekarang Iis sudah mendarat cantik di hotel Hilton Auckland. Dengan cepat Iis menjatuhkan badannya di kasur dan menutup matanya.


“Capek, Mamah...” ujar Iis sambil menutup kedua matanya dengan lengan kanannya. Juan memang tipe pria yang hobi traveling, berbanding terbalik dengan Iis yang hobi rebahan.


“Yang.. capek?” suara Juan memanjakan gendang telinga Iis. Menghangatkan hatinya, Iis mengangkat lengannya, dihadapannya tampak Juan yang sedang menatap kedua bola matanya.


“Iya, aku tak sanggup. Besok kita pulang ‘kan?” tanya Iis, Iis menatap Juan dengan tatapan mengiba.


“Iya pulang, capek banget yah, Yang ?”Juan mengelus pipi Iis.


“Awas ah, aku mau mandi,”ujar Iis mencoba mendorong Juan, masalahnya saat ini Juan memenjarakan tubuhnya, wangi badan Juan benar-benar bisa Iis cium, sialnya wangi tubuh Juan adalah wangi yanh bisa membuat hasrat Iis meledak.


“Awas, Mas...” pinta Iis sambil terus menatap manik mata Juan yang gelap. Juan hanya diam menatapa Iis, membuat Iis salah tingkah. “Mas...”


“Hmmm...”


“Awas aku mau..”


“Apa?”tanya Juan sambil mengusap pipi Iis turun keleher Iis yang jenjang.


“Kamu,”jawab Iis spontan.


‘Ehhh... kok malah mau Mas? Astaga tolong otak aku, arghh semenjak di New Zaeland pikiran aku kok ngolor ngidul gini, sih?’batin Iis sambil berjuang menelan salivanya.


“Aku ?”tanya Juan sambil tersenyum smirk, sedang tangan Juan terus mengusap leher Iis.


“Ma...mandi, aku mau mandi, Mas,” Iis dengan cepat mengoreksi perkataannya.


“Mandi ?”


“Iyah, mandi tau kan mandi, ah awas ah,rese...” ujar Iis sambil mendorong Juan dengan sekuat tenaganya.


Juan berguling ke sebelah kanan Iis, membaringkan tubuhnya. “Aku mandiin mau?”


“Ngak...”


“Yakin? Kesempatan cuman sekali loh,” ujar Juan sambil menatap Iis yang sudah berdiri diambang pintu kamar mandi.


“Yakin, Mas..!!!!”


“Hahahaaa...”


Iis mendengar suara tertawa Juan dibalik pintu kamar mandi. Astaga kenapa akhir-akhir ini Juan tampak lebih menarik ?


•••


Juan dan Iis sedang berjalan-jalan menaikki sky tower, berjalan-jalan dan memandangi keindahan kota Auckland dari ketinggian. Juan awalnya meminta Iis untuk melakukan skywalk, berjalan dilantai tertinggi Sky Tower tapi dibagian luarnya. Iis yang sudah kelelahan langsung menolak ajakan Juan.

__ADS_1


“Ngak Mas, aku ngak mau, aku mau didalem aja, kalau mau Mas aja, aku tobat,” tolak Iis.


“Ya udah, aku temenin kamu aja, aku takut kamu diambil kucing kalau dibiarin berkeliaran sendirian,”Juan mengalah.


“Kucingnya namanya Juan,”canda Iis sambil menyikut perut Juan.


“Aw, sakit Yang,”ujar Juan sambil mengacak rambut Iis lembut.


Zreeettt zreeettttt


Juan mengambil handphonennya dan melihat nama Saka di layar handphonennya.


“Bentar, Yang. Jangan kemana-mana aku mau angkat telepon Saka dulu,” ujar Juan sambil meninggalkan Iis.


“Ya halo.”


“Pak semua berkas sudah ada dikamar Bapak, semua hasilnya sudah selesai, Pak.”


“Oke, nanti saya cek setelah saya sampai ke hotel, Oh Saka kamu udah balik nama itu semuanya?” tanya Juan.


“Sudah Pak, semuanya sudah dalam bentuk sertifikat, semuanya sudah diurus.”ujar Saka, sepertinya dia harus makan enak hari ini, tugas dari Juan sudah semua dia lakukan.


“Bagus, untuk yang sertifikat tolong jangan bilang ke Ibu Iis, makasih Saka.”


Juan mematikan sambungan teleponnya, Juan mendekati Iis yang sedang asik melihat anak-anak bule sedang bermain petak umpet.


“Yang, pulang dari sini ada yang mau aku omongin yah,”ujar Juan.


“Apa?”


Iis langsung berjalan keberbagai sudut sky tower meminta untuk Juan mengambil gambar dirinya dengan berbagai macam gaya. Sesekali mereka mengabdikan gambar mereka berdua dibantu oleh pengunjung disana.


Iis benar-benar berbahagia saat itu tanpa tau kabar apa yang akan Iis dapatkan nanti di hotel.


•••


“Yang..” panggil Juan dua jam setelah mereka sampai dikamar hotel.


Iis yang sedang melakukan olah raga favoritenya yang tak lain dan tak bukan adalah rebahan, langsung bangun dan menatap Juan.


“Ini, coba kamu baca. Aku belum liat sama sekali, aku mau kamu yang liat duluan,Yang,”ujar Juan sambil menyerahkan amplop pada Iis.


Iis mengerutkan keningnya, bingung kenapa tiba-tiba Juan memberikan amplop coklat pada dirinya.


“Apa ini?”


“Bacalah yang keras,oke”perintah Juan.


Dengan patuh Iis membuka amplop tersebut kemudian mengeluarkan beberapa kertas, Iis langsung membacanya.


“Hasil indentifikasi DNA, nama terduga Ayah Apo Sandia dan nama Anak Bernard Sandia,”mata Iis membulat saat membaca surat tersebut. Iis langsung menatap Juan.


“Mas ini...”

__ADS_1


“Baca Yang, aku juga belum baca, baca yang keras,”pinta Juan sambil mengusap rambut Iis, mencoba memberikan ketegaran untuk Iis.


“Mas aku ngak ngerti tabel-tabelnya,”ujar Iis bingung dengan tabel-tabel yang ada.


“Ngak usah dibaca tabelnya, baca tulisannya aja,” ujar Juan sambil menunjuk tulisan dibawah tabelnya.


Iis menggangukkan kepalanya, kemudian mulai membacanya keras agar Juan bisa mendengarnya.


“Penentuan profil DNA dilakukan dengan menggunakan metode standar terhadap sample air liur dari gelas yang diberikan pada pihak lab atas nama Apo Sandia sebagai terduga ayah dan sample darah dari kapas yang diberikan pada pihak lab atas nama Bernard Sandia sebagai anak.”


Iis berhenti membaca kertas tersebut sambil menatap Juan, “Mas kamu dapet sample dari mana?”


“Kalau air liur dari gelas yang dipake minum Ayah, kalau Bernard, kemarin kan dia jatoh, aku usap pake kapas, jadi aku dapet DNAnya.”jawab Juan.


“Mas..”


“Baca lagi, Yang,”pinta Juan sambil mengusap-ngusap paha Iis.


Dengan ragu Iis kembali membaca kertas tersebut, “Bukti ilmiah yang diperoleh dari sample yang diperiksa, menunjukkan bahwa 6 dari 21 alel loci marka STR yang dianalisis dari terduga ayah Apo Sandia tidak cocok dengan alel paternal dari anak Bernard Sandia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Apo Sandia sebagai ayah biologis dari Bernard Sandia adalah 0%. Oleh karena itu Apo Sandia sebagai terduga ayah dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis Bernard Sandia...”


Plak...


Surat ditangan Iis langsung jatuh, mata Iis langsung kosong. Ekspressi wajah Iis tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


“Yang..”panggil Juan takut-takut.


“Mas ini beneran?”tanya Iis terbata-bata.


Juan langsung memeluk Iis, Juan takut Iis histeris, bahkan lebih parahnya mengalami kondisi tidak sadarkan diri seperti Taca dulu.


“Yang...”


Iis sama sekali tidak berkata apa-apa, tubuhnya lunglai, tatapan matanya kosong.


“Yang...”


Iis tetap diam, Juan makin ketakutan. Juan tidak mau Iis terguncang karena menerima informasi ini.


“Yang, Sayang... Yang jawab aku Yang..” panggil Juan sambil mengelus rambut Iis dan menciumi bahu Iis.


“Yang...”


“Hahahahaaaahaaa.....”


••••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2