
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sudah tiga hari semenjak Iis dilarang untuk "memakai" Juan. Selama tiga hari itu juga Juan berubah seperti cacing kepanasan, kadang dia menatap Iis dengan tatapan puppy eyes andalannya atau bahkan tatapan yang siap menerkam Iis, seperti saat ini.
Iis sedang mengenakan pakaiannya saat menyadari Juan menatapnya dari tadi. "Kamu nggak ada cita-cita keluar buat makan gitu, Mas?" tanya Iis sambil menunjuk pintu keluar.
Juan yang sedang duduk di sofa hanya menatap Iis sambil menyilangkan tangannya. Sorot mata Juan bahkan membuat Iis berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Mas, bisa nggak ngeliatinnya biasa aja?" tanya Iis sambil mengerutkan keningnya.
Juan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Iis, "Ini biasa aja, aku cuman ngeliatin kamu, doang nggak boleh?" Juan mengedipkan matanya lalu mengubah posisinya menjadi menopang dagu menggunakan tangan kanannya dan memberikan ciuman jarak jauh.
Iis langsung tertawa kecil melihat kelakuan Juan, "Tau ah, aku udah nggak paham lagi sama kamu."
"Aku tuh nggak butuh dipahami, cuman butuh disayangi aja, Yang," gombal Juan seraya berdiri.
Iis hanya bisa menggelengkan kepalanya, semenjak sadar dari komanya Juan benar-benar jadi raja gombal, tingkah tengilnya kadang membuat Iis hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya saking bingungnya.
"Astaga masih kurang aku sayanginya, Mas? Harus diapain lagi ini bayi besar?" tanya Iis gemas sambil menggelendot manja dilengan Juan.
"Disayangi selalu," jawab Juan ngaco.
"Iya, iya..."
Saat Juan dan Iis berjalan keluar dari kamar, mereka dikagetkan dengan kedatangan Mamih.
"Mamih?" jerit Iis sambil berlari kearah Mamih kemudian memeluk mertuanya itu erat.
"Aduh, Iis Mamih kangen. Gimana-gimana ada kabar apa? Itu anak Mamih nggak bikin ulah 'kan? Itu anak Mamih nggak kumat encoknya? Udah mulai ada tanda-tanda menuju jompo?" cerocos Mamih sambil membalas pelukkan Iis.
"Astaga Mamih, ama anak sendiri disebut jompo, Juan juga nggak encok. Emang Papih encok...!?" Juan benar-benar kesal dengan omongan Mamih. Mamih ini benar-benar hobi bikin Juan kesal.
"Eh, semprul. Enak aja Papih encok, Papih masih muda tau," Tiba-tiba terdengar suara Papih dibelakang Juan.
"Papih, udah pulang dari London?" tanya Iis dengan intonasi suara yang ceria.
"Emang kapan Papih ke London?" Juan kaget dengan ucapan Iis, seingatnya Papih tidak ke London.
"Hadeuh... bener-bener anak durhaka, bener-bener minta diubah jadi batu kamu, Juan," ledek Papih sambil duduk di sofa.
"Lah, Juan sangka Papih nggak kemana-mana. Kan terakhir Juan dapet kabar dari Tian Papih ke Batam bukan London," terang Juan, kesel juga dipanggil anak durhaka opeh Papihnya.
"Hadeuh, emang Mih, kita buang aja si semprup ini," Papih menunjuk wajah Juan dengan jari telunjuknya. "Kita angkat aja Iis jadi anak kita."
"Ide bagus, Mamih dari dulu pingin banget anak cewe, eh dapetnya anak cowo. Mana anak cowonya bikin kepala Mamih sakit pula," cerocos Mamih.
Juan hanya bisa menghela napasnya sambil mendelik kesal. Juan harus pasrah melihat Mamih dan Papihnya yang lebih sayang Iis daripada dirinya. Entah sejak kapan Iis seperti anak kesayangan Papih dan Mamihnya. Kedua orangtuanya itu lebih suka menanyakan keadaan Iis daripada keadaan dirinya, menurut mereka bila Iis baik-baik saja dan sehat maka keadaannya Juan pun baik-baik saja dan sehat sentosa.
"Mamih sama Papih ngapain kesini?" tanya Juan.
"Ih... emang nggak boleh, Mamih sama Papih dateng buat nengok Iis?" tanya Mamih.
__ADS_1
"Astaga Mamih, anak Mamih Juan bukan Iis," rengek Juan kesal sambil menggaruk kepalanya kesal.
"Hahahahaa... udah jangan ngerajuk gitu ah, Mas. Aku yakin Papih sama Mamih kesini juga mau jenguk kamu," rayu Iis.
"Biarin aja dia tuh, kolokan kaya bayi," ujar Mamih.
"Juan, Papih sama Mamih itu mau minta ijin kalian," ujar Papih.
"Ijin apa?" tanya Juan, seingatnya Papih dan Mamihnya tidak pernah meminta ijin apapun pada dirinya.
"Papih sama Mamih mau tinggal di Hongkong," ujar Papih.
"Hah... Hongkong? Ngapain? Papih sama Mamih mau jualan Mie?" tanya Juan spontan.
"Ngaco kamu, Mamih sama Papih itu lagi ingin cari suasana baru. Perusahaan nanti diurus sama Dimas, sekalian kamu pantau Juan. Papih sama Mamih ingin menikmati hidup," ujar Papih lagi sambil mengedipkan matanya ke arah Mamih yang langsung membuat Mamih tersipu-sipu.
"Lah, kalau Mamih sama Papih pergi ke Hongkong, rumah Papih sama Mamih kosong dong," ujar Juan.
"Iya, makanya Mamih sama Papih ingin kalian tinggal disana, ini apartemen di sewain aja, atau jual terserah lah, pokoknya Mamih sama Papih ingin kalian tinggal dirumah," Mamih menepuk paha Iis pelan.
Juan dan Iis saling bertatapan, Iis sama sekali tidak ada masalah kalau diminta pindah ke rumah Mamih dan Papih.
"Mas, aku nggak keberatan kok tinggal disana," ujar Iis.
Juan hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Ya, udah kami nanti pindah kesana."
"Ah, makasih yah, masalahnya itu rumah kenangan Mamih sama Papih, bikin Juan dulu disana loh, Is. Di sofa depa...."
"Nggak usah dibahas juga Mamih, Juan yakin Iis nggak mau dengerin sejarah dan tata cara membuat Juan dari Mamih," potong Juan kesal.
•••
"Bu, Bapaknya udah nggak dipake 'kan?" tanya Suster pada Iis.
Saat ini Iis dan Juan sudah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan suster yang kemarin menganggap Iis sebagai Istri yang sering "memakai" suaminya.
"Udah nggak, Sus. Saya udah nggak dipake sama istri saya, aman," jawab Juan sambil memberikan tanda oke dengan tangan kanannya.
Suster itu langsung tersenyum senang mendengar perkataan Juan, "Nah, bagus. Sabar dulu yah, Bu. Cuman tiga hari doang kan nggak dipakenya," ujar Suster itu lagi.
Iis hanya bisa memaksakan senyumannya pada Suster itu. "Iya."
"Nah mari ikut saya," Suster itu langsung membawa Juan dan Iis ketempat ruang tunggu yang lain.
Disana Iis bisa melihat terdapat tiga pasangan suami istri yang sedang duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Ibu bisa tunggu disini," Suster itu menunjuk sebuah kursi, dengan patuh Iis duduk dikursi itu.
"Bapak silahkan keruangan itu, nanti Bapak masukkan cairannya kesini yah," Suster tersebut memberikn tabung yang sudah diberi nama Juan.
"Oke," Juan pun masuk kedalam ruangan tersebut.
Iis dengan santai mengambil majalah didalamnya dan mulai membaca, Iis menunggu Juan untuk mengeluarkan 'darah putihnya'.
5 menit kemudian
__ADS_1
Klik...
Terdengar suara pintu dibuka kemudian munculan Juan, Iis kaget melihat Juan yang sudah selesai, seingatnya Juan tidak pernah selesai sesingkat ini.
"Suster... suster," panggil Juan.
Suster langsung datang mendekati Juan, "Sudah Pak?"
"Sudah? Astaga Suster, gimana caranya saya bisa kerangsang, ini majalah dewasanya nggak ada yang lain apa? Ini majalah dewasa edisi lawas, sama filmnya, astaga Suster mana bisa ngerangsang saya, itu film dewasa tahun 70an," cecar Juan kesal.
"Hah...." Suster itu kaget dengan perkataan Juan yang tidak ada filternya sama sekali.
Beberapa Ibu-ibu dan Bapak-bapak disana langsung menahan tawanya dan saling berbisik-bisik mendengar perkataan Juan. Sedangkan, Iis langsung menenggelamkan dirinya dibalik majalah yang sedang dibacanya, berharap majalah tersebut bisa menyembunyikan dirinya. Astaga kenapa suaminya ini sangat-sangat memalukan..!?
"Ada yang lain nggak? Jangan yang lawas gini, ini tuh majalah sama film dewasa zaman saya SMP, Sus. Nggak bakal nafsu saya,"'ujar Juan lagi.
Suster didepan Juan hanya bisa mengusap dadanya, rasanya baru kali ini ada pasien minta majalah dan film dewasa yang baru pada dirinya, sepertinya otak pasien didepannya minta di bersihkan pake sabun colek.
"Nggak ada lagi Pak, maaf."
"Hadeuh, saya nggak bisa kerangsang, ah..." tiba-tiba Juan menemukan ide brilian.
"Kenapa, Pak?"
"Kalau saya minta bantuan istri saya, gimana?" tanya Juan.
"Tapi, harus pake tangan Pak," Suster tersebut mengingatkan.
"Tenang istri saya ahli pake tangan, bener nggak Yang?" tanya Juan pada Iis yang sedang berusaha menyembunyikan dirinya dibalik majalah yang menutupi wajahnya.
"Ayang ayo," ujar Juan sambil menarik tangan Iis, Iis mau nggak mau berdiri dari duduknya karena ditarik Juan.
"Bukan, dia bukan suami saya. Maaf saya nggak kenal dia. Saya tiba-tiba amnesia,"'ujar Iis sambil memberikan senyuman terbaiknya pada pasien-pasien yang ada diruangan itu.
"Ayo, Yang bantuin," ujar Juan sambil terus menarik Iis sampai masuk kedalam ruangan khusus untuk pengambilan sperm*.
"Aku bukan istrinya," rengek Iis.
Brak...
Terdengar suara pintu ditutup dari kamar yang ada di bagian bawah.
Suster hanya bisa menggelengkan kepalanya, seumur hidup dia bekerja menjadi suster, baru sekarang dia menemukan orang yang meminta film dan majalah dewasa yang terbaru.
Pasiennya hari ini adalah pasien terunik...!?
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon