Water Teapot

Water Teapot
S2: Kokom Hollykom


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Oh ngomongin diri sendiri ?”


“Maksudnya apa ?” tanya Iis geram, Icih yang ada disebelah Iis langsung memegang tangan Iis.


“Maksudnya, yah kamu ngomongin diri sendiri ? Ngak inget kamu sama Juan beda 13 tahun ? Intinya kamu sama saya sama aja,” ujar Bunda sambil berdiri dan menatap Iis.


“Icih bawa Bernard keluar...!” pinta Iis, sambil menatap Icih dengan tatapan ‘Bawa atau aku bakal meledak disini’


Icih dengan sigap membawa Bernard keluar rumah. Perasaan Icih yang tidak enak membuat Icih berjalan kerumah Abah, Icih harus memanggil Juan. Iis bisa lepas kendali..!?


“Kenapa ? Enakkan jadi orang kaya ? Enakkan banyak duit. Yah itu yang Bunda rasain, Dulu... sekarang sih boro-boro Bapak kamu udah jompo yang ada nyusahin mulu...!!” Ujar Bunda sambil mendekati Iis.


Iis mengepalkan tangannya, mencoba untuk bersabar. Monster didepannya ini benar-benar minta dimasukkan ke liang lahat.


“Nikmatkan punya uang banyak, enakkan punya calon suami kaya. Udah diapain aja kamu? Tinggal bareng ‘kan. Udah cepet hamil biar bisa diiket sama kaya Bapak kamu tuh, aku iket pake anak aku,” ujar Bunda sambil tersenyum penuh kemenangan.


‘Sabar... inhale exhale... sabar, napas’ ujar Iis didalam hati. Iis berjalan kearah Ayah yang sudah selesai makan dan meminum air minumnya.


“Jadi kalau udah hamil dan punya anak, pasti Juan nempel sama kamu. Apalagi kalau anaknya laki-laki, liat Bapak kamu sayang banget sama Bunda, sampai Ibu kamu mati ‘kan. Kasian ngak bisa punya anak lagi gara-gara rahimnya diangkat, cuman bisa punya anak perem... AAAAWWWWW....”


Cukup Iis bisa tahan kalau Bunda hanya menghina dirinya, Iis sudah kebal. Tapi, Bunda menghina Ibunya, memang mau Iis lahir jadi seorang perempuan ? Memang mau Ibunya dia harus diangkat rahimnya 3 tahun setelah melahirkan Iis ?


Iis menarik rambut Bunda sampai Bunda terhuyung kebawah, Iis benar-benar mengerahkan semua tenaganya.


“Astaga, Nak. Sudah Nak sudah....” ujar Ayah panik sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Iis di rambut Bunda.


“Awww....sakit anak kurang ajar, ngak tau diuntung...!! Udah diurus juga, lepass...!!!” maki Bunda sambil berusaha melepaskan tangan Iis dari rambutnya.


Iis bungkam dia tidak mengeluarkan kata makian sama sekali, dia tidak berbicara sama sekali. Mulutnya bungkam, terkunci rapat. Tapi, tangannya terus menarik rambut Bunda dengan ganasnya dan beberapa kali tangannya memukuli bahu dan punggung belakang Bunda tanpa ampun. Mata Iis berair tapi tidak ada setetespun air mata yang keluar. Iis seperti bergerak secara tak sadar, kesadarannya sama sekali tidak ada.


“Iis udah, Nak, Iis...” pinta Ayah sambil memeluk Iis dari belakang dengan pasrah, badannya yang ringkih benar-benar sudah tidak mampu lagi memisahkan Iis dan Bunda. Ayah tak berani berteriak pada Iis, rasa bersalahnya pada Iis merendam semua keinginan Ayah untuk berteriak.


“LEPASSS...!” bentak Bunda sambil menghentakkan tubuhnya keras membuat Iis melepaskan tarikannya di rambut Bunda, membuat beberapa rambut coklat Bunda ada ditangan Iis.

__ADS_1


Bunda terhuyung kebelakang dan menabrak meja dapur. “Anak ngak tau diri...!” teriak Bunda sambil mendekati Iis kemudian bersiap menghajar Iis dengan pukulan-pukulannya.


“Udah Kokom, sudah...” ujar Ayah sambil memeluk Iis, mencoba melindung Iis dari amukkan Bunda. Tubuh ringkih Ayah benar-benar melindungi Iis dari pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan Bunda.


Iis seperti tersadar dengan keadaan yang ada, matanya mengerjap saat melihat Ayah melindunginya dari pukulan Bunda yang membabi buta. Iis tau badan ringkih Ayahnya tidak bisa menghalau pukulan Bunda.


“Sudah Kokom sudah, jangan sakiti anak saya lagi, sudah...!!!” ujar Ayah sambil terus memeluk badan Iis.


“Anak ngak tau diuntung, sombong kamu sekarang..! Mentang-mentang mau nikah sama orang kaya, hah.. awas kamu yah, aku kerjain Juan biar dia ngak mau sama kamu...!! Anak sialan...!!!” teriak Bunda sambil terus memukuli Ayah dan mendorong-dorong badan Ayah.


Iis diam melihat Ayahnya yang menahan sakitnya dipukuli Bunda, Iis kebingungan dengan reaksi Ayahnya yang melindunginya. Terakhir dia dilindungi Ayahnya mungkin saat dia SD. Sudah lama dia tidak pernah lagi merasakan kehangatan kasih sayang seorang Ayah.


“Sudah Kokom sudah, kasihanilah Iis, dia sudah banyak berkorban untuk kamu,” ujar Ayah sambil berjuang menahan bobot tubuhnya, tulang-tulang dikakinya sudah tidak mampu lagi menahan beban badannya. Tubuh ringkih Ayah kalah, tubuhnya merosot ke kaki Iis. Iis yang kaget hanya bisa berbisik, “Ayah...”


PLAKKKKKKK....


tamparan keras menghantam pipi Iis, membuat Iis tersungkur ke lantai, kuping Iis berdenging parah. Sakitnya tidak dapat Iis ungkapkan dengan kata-kata. Mata Iis berkunang-kunang, tamparan Bunda sangat keras.


“MINTA MATI...!!!!”


Plakkkk... Bruakkkkkk.......... Bug...


“STOPP...”


“JANGAN SENTUH IIS...!!”


“TEH IIS, AYAH...!!!”


Iis yang terduduk kebingungan dengan keadaanya yang ada didepannya, Iis bengong menatap Juan yang mendorong dan menampar Bunda sampai Bunda menabrak lemari dapur, Kang Rozak yang menarik Juan agar tidak lepas kendali. Icih yang membantu Ayah untuk duduk. Iis diam sampai...


“Bundaaaaa...” teriakan Bernard menghantam gendang telinga Iis menyadarkan Iis dari lamunannya. Iis menatap Bernard yang memeluk Bunda sambil menangis tersedu-sedu berjuang untuk melindungi Bundannya dari amukkan Juan yang lepas kendali karena melihat Iis ditampar Bunda.


Kesadaran Iis tiba-tiba kembali saat melihat Bernard yang menangis, pikirannya langsung tersedot pada peristiwa yang pernah Iis alami dulu, saat Ayahnya memukuli Ibunya tanpa ampun hanya karena mempertahankan uang kuliah Iis, Iis yang pasang badan untuk melindungi Ibunya.


Iis benci Bernard, demi apapun Iis membencinya, Iis muak melihat Bernard, bahkan sering terbersih berkali-kali dipikiran Iis untuk melenyapkan nyawa Bernard. Tapi, Iis tidak tega melihat Bernard yang menjerit dan menangis berjuang melindungi Bundannya.


Juan yang masih bernafsu untuk memberi pelajaran ada Bunda karena sudah menampar Iis, berjuang keras untuk melepaskan cengkraman Kang Rozak. Iis tau bila Iis tidak menghentikan Juan sekarang, Bunda pasti habis di hajar Juan.


“STOPPP....” teriak Iis sambil berdiri dan menghampiri Bernard.

__ADS_1


“Yang, Ibu tiri kamu tuh harus dikasih pelajaran...!” ujar Juan sambil melepaskan cengkraman tangan Kang Rozak yang mulai mengendur.


“Aku tau dan aku setuju,” ujar Iis sambil berjongkok didepan Bernard dan menatap Bernard dengan tatapan yang tidak dapat di jabarkan.


“Teh...” bisik Bernard ketakutan, selama ini Bernard sangat takut dengan Iis, bahkan dulu Bernard sering menahan keinginannya untuk buang air kecil bila mengetahui ada Iis diruang tamu, karena untuk ke kamar mandi maka, Bernard harus melewati Iis di ruang tamu.


Iis langsung memeluk Bernard dengan erat, kemudian berbisik pelan, “Lupain ini semua, kamu ngak liat apa-apa,” ujar Iis sambil memeluk Bernard.


“Iya Teh..” ujar Bernard pelan sambil membalas pelukkan Iis dengan tubuh yang bergetar hebat. Bernard masih kecil tapi dia tau posisinya, dia tau siapa dirinya, bullyan disekolahnya menyadarkan Bernard siapa dirinya dirumah itu. Dia hanya seorang anak pelakor.


“Icih, bawa Bernard. Suruh dia nginep dirumah kamu, tunggu Teh Iis jemput baru Bernard boleh pulang,”perintah Iis pada Icih.


Icih dengan patuh menarik Bernard untuk keluar dari rumah itu, membawa Bernard kerumahnya.


“Akang Juga pulang, akang ngak mau ikut campur masalah kelurga kamu, Iis,” ujar Kang Rozak sambil menepuk bahu Juan, kemudian pergi meningalkan rumah Iis.


Iis merasakan rasa asin di samping mulutnya, ternyata saat ditampar Bunda Iis tidak sengaja mengigit bagian bawah bibirnya.


“Kamu kurang ajar yah,” ujar Bunda sambil menunjuk Juan. Bunda berdiri sambil membenarkan rambut dan bajunya yang kusut.


“Saya sebagai Ibunya Iis tidak sudi saya menikahkan Iis dengan orang seperti kamu...!!” ujar Bunda.


Mata Iis membulat saat mendengar perkataan Bunda. Iis berusaha menelan salivanya saat mendengar perkataan Bunda yang menurut Iis sangat-sangat tidak masuk akal.


“Denger yah, saya ngak mau kamu nikahi Iis, saya sebagai Ibunya, saya menolak...!!!!”


Juan diam mendengar perkataan Bunda, mungkin Bunda adalah Ibu Tiri Iis. Tapi, saat ini hidup Iis masih ada ditangan Ayah juga Bunda. Juan langsung menarik napas dalam-dalam mencoba untuk menahan semua amarah dan bencinya.


•••


Semangka semangka, obat darah tinggi, obat nahan emosi.....


*kaka gallon kabur...!?


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2