Water Teapot

Water Teapot
Menghargai...


__ADS_3

Taca, Siska, Radi dan Tian sudah sejam berada dikawasan Merlion, sudah puluhan photo yang mereka ambil, rasa panas membuat mereka menyerah dan akhirnya mereka meneduh di beberapa cafe yang tersebar di daerah Merlion.


"Panas banget astaga, kepala aku sampai pusing," ujar Taca sambil memegang pucuk kepalanya yang terasa panas.


"Ngak nyangka Singapura sepanas ini," ujar Siska sambil menyedot minuman dingin didepannya.


"Singapura emang sepanas ini, makanya dulu aku kuliah di Bandung, enak di Bandung dingin," ujar Radi sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.


"Tapi, panas-panas juga balik lagi ke Singapura 'kan, Rad..." tanpa sadar Taca menyindir Radi sambil mengangkat sebelah bahunya.


Radi hanya bisa tersenyum mendengar sindiran Taca, dia tidak bisa membatahnya sama sekali.


"Eh..eh... abis ini langsung ke hotel aja, yah. Ngak sanggup aku," kata Siska tiba-tiba karena panasnya benar-benar menyengat.


Taca langsung mengangukkan kepalanya dia juga ngak sanggup diem diluar lama-lama bisa gosong dia.


Akhirnya mereka berjalan bersama untuk sampai ke hotel, sesekali mereka mengabadikan moment dengan berbagai gaya dan pemandangan yang berbeda.


"Ta..photo sekali sama aku doang, mau yah," pinta Radi pada Taca.


"Ogah... kalau mau bertiga," ujar Taca sambil ngeloyor pargi meningalkan Radi.


"Sebegitu takutnya kamu sama Adipati, Ta ?" tanya Radi dibelakang Taca.


Brukkkk...


Radi menabrak Taca yang tiba-tiba berhenti didepannya, membuat Radi hampir menjatuhkan Taca kedepan.


"Aduh, Ta kok tiba-berhenti sih, jadi nabrak untung kamu ngak jatoh," ujar Radi.


Taca langsung memutar badannya kemudian menyilangkan tangannya di dada, Taca menatap Radi dengan muka serius membuat Radi menghela napasnya.


"Bukan takut, Rad... tapi menghargai. Aku menghargai Adipati sebagai suami aku, makanya aku ngak mau photo berdua sama kamu. Harusnya aku juga ngak pergi berdua aja sama kamu, makanya aku seneng ada Tian sama Siska. Aku kaya gini bukan karena takut, tapi aku menghargai suami aku, ngerti kamu Rad..." ujar Taca sambil berjalan kembali mengejar Siska yang sudah berjalan jauh didepan mereka.


Radi langsung mendengus mendengar perkataan Taca, 'Coba liat nanti, masih bisa bilang menghargai setelah kamu liat kelakuan Adipati,' batin Radi.


•••


Adipati memijat keningnya, rapat kali ini benar-benar menguras tenaganya lahir dan batin. Kepalanya hampir pecah saat mengetahui pesaing perusahannya membakar uang gila-gilaan dengan memberikan gratis ongkir dan cashback.


"Gila, Ju. Strategi mereka gila. Mentang-mentang dapat kucuran dana..." ujar Adipati sambil melempar berkas-berkas didepannya.


"Tenang, kita juga udah bikin strategi. Target market kita beda.."


"Beda gimana...."

__ADS_1


"Udah, tenang aja. Kita bisa kok buktinya perusahaan tetap lancar kan. Ngak koleps, udah tenang aja. Tim PR sama Marketing lagi ngurus semuanya." ujar Juan sambil duduk disamping Adipati dan mengambil botol minuman didepannya.


"Ternyata udah jam 4," ujar Adipati sambil melihat jamnya. 'Taca pasti udah sampai dari tadi,' batin Adipati.


Adipati mengambil handphonennya, tapi mati. "Argh, gue mau kekamar dulu deh, mau mandi mau nge charger handphone juga, pantesan Taca ngak nelpon-nelpon, handphone gue mati," ujar Adipati sambil beranjak dari kursinya.


"Gue malah kesel gara-gara Iis ngak bisa kesini daripada rapat sialan ini," ujar Juan kesal sambil mengusap-ngusap kepalanya dengan kasar saking kesalnya.


Adipati benar-benar tidak habis pikir, hidupnya dan Juan benar-benar dijungkir balikkan hanya oleh dua wanita dari desa yang sama. Dua wanita yang bisa membuat dua cassanova tobat hanya dengan waktu 1 tahun.


"Sabar yah, pulang sana. Gue mau seneng-seneng dulu disini," ujar Adipati sambil menepuk bahu Juan.


"Alah, gue pulang juga percuma, Iis di Pangandaran. Masa aku sendirian di Jakarta. Arghhh ngapain sih ke Pangandaran ? Mancing ikan kerapu apa ?" Juan mengoceh sambil mengambil handphonenya kemudian memencet nomer Iis yang sudah Juan hapal diluar kepala.


"Iya Mas..." Iis menjawab pada dering ke tiga telepon.


"Yang... udah sini aja deh,tinggalin seminarnya. Aku ngak bisa tidur kalau ngak ada kamu, kenapa sih kamu ngak bisa kesini. Emang seminarnya penting banget yah, izin dulu aja,bilang nanti seminarnya bikin lagi, nanti aku yang biayayain deh......."


Adipati langsung mundur perlahan mendengarkan ocehan Juan yang makin mirip Mamih Juan. Adipati nyerah kalau harus mendengarkan ocehan sahabat tersebut dengan cepat Adipati meninggalkan ruang rapat meninggalkan sahabatnya yang masih sibuk mengoceh.


"Tapi, Yang... aku tidur gimana, kamu tega. Kalau aku sakit gimana ?....."


Ocehan Juan terus berlanjut sampai Adipati menutup pintu ruang rapat.


•••


"Jauh juga,yah..." ujar Tian.


Taca hanya bisa mengangukkan kepalanya, napasnya habis. "Ngak lagi-lagi jalan dari Marlion ke hotel."


"Tadi, aku tawarin gendong ngak mau, padahal kalau digendong ngak cape loh, Ta." ujar Radi sambil mengerling nakal pada Taca yang langsung di balas tatapan 'Minta aku tinju' oleh Taca.


"Kalian udah check in, aku sama Tian mau ambil kunci. Mau bareng ?" tanya Siska.


"Aku pulang ajalah, Ibu Taca juga bentar lagi ketemu suaminya, bisa abis aku di gebukkin suaminya." canda Radi sambil memakai Tas punggungnya dengan benar.


"Kamu ngak nginep disini ?" tanya Tian bingung.


"Ngak, apartemen aku di sina, udah yah semuanya. Thank's for today, Ta salam buat suami kamu," ujar Radi sambil berlalu dari sana.


"Iya, ati-ati Rad..." ujar Taca sambil melambaikan tangannya.


Akhirnya Siska, Tian dan Taca berjalan ke resepsionis.


"Mbak, aku mau ngambil kunci kamar..." ujar Tian sesaat mereka sudah sampai di resepsionis.

__ADS_1


"Oh, tunggu sebentar yah, Pak..." pegawai hotel langsung pergi mencarikan kunci kamar Tian dan Siska.


Taca diam menatap mereka berdua, "Kalian kalau nikah undang-undang, yah...".


"Hahahaha... iya nanti kami bakal undang kamu sama suami kamu deh, aku penasaran sama suami kamu, kok kamu bisa nolak Radi, padahal Radi ganteng dan baik pula," ujar Siska yang masih penasaran seperti apa bentuk rupa suami Taca.


Taca hanya bisa tertawa renyah mendengar perkataan Siska. "Iya, nanti aku kesana sama suami aku, deh...".


"Mrs. Berutti..."


Taca yang sedang berbicara dengan Siska langsung berbalik melihat sumber suara, kemudian melihat supir yang tadi dikirim oleh Adipati untuk dirinya.


"Mrs. Berutti ini tasnya, sama ini kunci dari kamar Mr. Berutti. Saya permisi."


Supir itu pamit setelah memberikan kunci dan koper milik Taca, Taca terdiam melihat kunci ditangannya.


"Ini kuncinya, Pak," ujar pegawai hotel menyerahkan kunci pada Tian.


"Mbak, maaf kamar ini dilantai berap, yah ?" Taca menyerahkan kunci kamar pada pegawai hotel. Pegawai hotel tersebut langsung tersenyum melihah nomer kamar hotel tersebut, dia ingat dengan jelas siapa lelaki yang menempati kamar tersebut.


"Ini kamar Mr. Berutti, maaf kalau boleh tau anda siapanya ?" tanya pegawai hotel tersebut penasaran.


"Saya istrinya, lantai berapa yah ?, saya kesana sendiri aja, barang bawaan saya juga cuman ini aja," ujar Taca sambil memberikan senyuman terbaiknya.


Pegawai hotel tersebut langsung tersenyum mendengarkan jawaban Taca, "Baik Mrs. Berutti, kamarnya ada dilantai 55, silahkan menggunakan lift disebelah sana."


"Oh.. makasih mbak."


Tian terdiam mendengar nama keluarga yang disebutkan oleh pegawai hotel tersebut, sepertinya Tian pernah mendengarnya tapi Tian benar-benar lupa.


•••


Kaka gallon ngak tau mau komen apa hahahaa...


Pokoknya selamat baca, jangan lupa kasih tau orang-orang tentang novel kaka gallon yah...


makasih loh...


Luv ❤️


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2