Water Teapot

Water Teapot
S2: Papih akhirnya ketemu kamu...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Mas...”


Juan dan Adipati langsung menghentikan langkahnya. Juan menatap Iis yang sedang tersenyum dan duduk dikursi roda. Intan mendorong kursi roda Iis.


“Ayang, kamu kok udah duduk lagi? Emang nggak sakit?” tanya Juan sambil berjalan menghampiri Iis.


“Nggak apa-apa, Mas. Mau ketemu baby, yah? Aku ikut boleh?” tanya Iis sambil tersenyum manis pada Juan.


“Bu, ini istri saya udah nggak papa?” tanya Juan pada Intan.


Intan hanya bisa tersenyum melihat kekhawatiran Juan. “Pak, Bu Iis itu sehat kok, kuat malah, udah bisa ketemu babynya. Bisa sekalian menyusui juga,” terang Intan.


“Ibu udah bisa? Eh ini anak pertama yah?” tanya Intan lagi.


“Iya, tapi moga-moga bisa,” jawab Iis sambil tersenyum pelan.


“Ya udah biar saya aja yang dorong, Bu. Ibu bisa kembali ke Ibu-ibu yang mau lahiran,” ujar Juan sambil meletakkan tanggannya ke dorongan kursi roda.


“Ah kalau begitu permisi dulu,” ujar Intan.


•••


“Juan, Iis...sini, ini lucu banget dedenya,” ujar Taca sambil mengayun bayi yang baru lahir tersebut.


Juan langsung berjalan kearah Taca, Juan belum menggendong anaknya sama sekali. Anak yang sangat diidam-idamkan olehnya. Anak yang penuh perjuangan untuk mendapatkannya.


Juan menggendong bayinya, malaikat kecilnya. Memeluk, perempuan paling sempurna ke tiga yang pernah Juan tau. Anaknya.


“Hei, cantik... cantik banget kamu, Nak, apa sayang, mau apa? Ini Papih Nak,” ucap Juan sambil mengusap bibir mungil dihadapannya.


Juan terdiam melihat malaikat kecilnya, rasa lelah gara-gara menggendong dan tragedi odong-odong tadi benar-benar hilang. Rasa lelahnya berubah menjadi rasa bahagia. Tanpa sadar Juan melangkah ke tempat duduk didekatnya.


Juan langsung duduk dan mengayun bayi mungil miliknya. “Nak cantik banget kamu, sayang. Mirip Mamih kamu, Nak.”


Juan terus mengayun sambil tersenyum, sesekali air mata Juan jatuh mengenai wajah anak gadisnya. “Nggak, kamu bahkan lebih cantik dari Mamih, Nak, tapi jangan bilang-bilang Mamih yah, astaga Nak, Papih akhirnya bisa liat kamu, Nak.”


Juan mengecup pipi anaknya, tangisan Juan pecah. Astaga entah kenapa Juan menangis, lucu memang tapi ini kenyataannya. Tiga orang wanita yang bisa membuat dirinya menangis. Mamih, Istrinya dan malaikat kecil yang baru seumur jagung ditangannya.


“Akhirinya, Papi bisa ketemu kamu, Nak, “ ujar Juan sambil mengendusi bayinya. Wangi bayi langsung menguar dari tubuh bayi dipelukkannya.

__ADS_1


“Sayangnya Papih, ini Papih, Nak. Papih berjuang banget buat ketemu kamu, Sayang. Papih sampai harus berantem sama Mamih kamu, loh.”


Iis hanya bisa mengusap pucuk kepala Juan pelan, air mata Iis pun sedikit tumpah. Astaga... suaminya ini sangat manis, Iis bersyukur Juan benar-benar menyayangi dirinya dan anak mereka.


“Papih, rindu kamu, Nak. Terima kasih udah mau ketemu sama Papih.”


“Mas...” panggil Iis sambil mengusap pipi suaminya. “Hei kok nangis, ini anak Mas loh,” panggil Iis sambil menahan air matanya sendiri.


“Iya sayang aku tau ini anak aku, aku nggak nyangka bakal punya malaikat kecil,” ujar Juan sambil mengecupi pipi Iis pelan.


Taca dan Adipati langsung keluar dari ruangan itu, memberikan waktu untuk Iis dan Juan menikmati waktu mereka.


Juan menatap Iis sambil mengusap pipi Iis yang lebih berisi. “Yang....”


“Iya,” jawab Iis pelan sambil menyentuh tangan Juan dan mengecup bagian dalam tangan Juan dengan lembut.


“Yang, makasih udah mau ngandung anak aku, terima kasih udah mau ngelahirin anak aku. Terima kasih sudah mau badan kamu rusak, hanya untuk mengandung anak aku, makasih sayang,” ujar Juan.


“Mas, aku ikhlas, selama itu anak kamu, selama kamu sayang dan ngerawat aku dan anak-anak kita nanti,” balas Iis.


“Astaga Nak, I miss you more than you know, Nak,” ujar Juan sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya pelan. (Astaga Nak, aku sangat-sangat merindukan kamu, Nak)


“Sini Mas aku mau...”


“Nanti dulu, Yang. Aku masih mau kenalan sama anak aku, kamu bentaran dulu,” Juan menolak untuk memberikan malaikat digendongannya ketangan Iis.


“Kamu pompa aja asinya nanti aku yang kasih susunya,” ujar Juan sambil menatap Iis.


Iis hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan melihat kelakuan suaminya. Sepertinya, Iis harus benar-benar berjuang untuk mengambil anaknya dari tangan Juan.


“Nggak ada pompanya, Mas,” ujar Iis sambil melihat sekelilingnya. “Ayo, Mas, gantian sini, aku harus meng-asi-hi, Mas,” pinta Iis.


Juan mengerucutkan bibirnya, rasanya berat memberikan malaikat kecil digendongannya pada Iis. Rasanya Juan ingin kabur dari sana dan menggendong anaknya terus menerus.


“Mas....”


“Aku belum azanin, Yang,” Juan memberikan alasan pada Iis, agar Iis memberikan waktu sedikit lebih banyak lagi untuk menggendong malaikat kecil itu.


Iis langsung menghela napasnya, sepertinya Juan benar-benar sulit untuk memberikan bayi mungil yang baru saja Iis lahirkan kedunia. “Oke, ya udah aku tunguin. Azanin di telinga kanannya, inget doa yang kenceng didalam hati, biar anak kamu nggak punya kelakuan kaya kamu.”


“Iya, Yang.”


Dan azan pun berkumandang pelan namun syahdu diruang itu. Azan dari serorang lelaki yang sudah melepaskan rindunya pada anak yang sangat dinantikannya.


•••

__ADS_1


“Pak Juan dan Bu Iis sekarang udah bisa pulang yah, saya doakan semoga dalam mengurus anaknya lancar. Ini buku bayinya, jangan lupa melakukan imunisasi, yah,” pinta Intan sambil menyerahkan buku kesehatan anak pada Iis dan Juan.


Juan dan Iis pun langsung pamit dari hadapan Intan, dengan tenang Juan dan Iis keluar dari rumah bidan tersebut sambil menggendong anak yang sampai detik ini belum memiliki nama.


“Mas, kita pulang naik apa? Jangan bilang naik odong-odong,” ujar Iis cepat.


Juan terdiam, sial saking bahagianya dengan kelahiran anaknya, Juan sampai lupa kalau dia belum memanggil supir untuk menjemput mereka di sana.


“Aku nggak tau Yang, astaga aku kok lupa ngabarin supir sih,” Juan mengutuki dirinya sendiri.


“Dimas, Yaraa, Taca sama Adipati mana?” tanya Iis lagi sambil mengedarkan pandangannya kesekitarnya.


“Nggak tau, mungkin lagi nyari supir buat antar kita pulang,” jawab Juan sambil mengambil handphonennya


Tiba-tiba terdengar suara musik ay ay ay lagi, Juan langsung mengusap dahinya. Dimas benar-benar minta di lempar ke monas.


“Mas, beneran naek odong-odong? Ini babynya kasian kedinginnan, Mas,” Iis merasa keberatan bila harus pulang menggunakan odong-odong nemo itu lagi. Gimana kalau mogok lagi?


“Ayo Bang, aku udah isi bensinnya full,” ujar Dimas sambil memukul stir odong-odong tersebut sambil tersenyum bangga.


Dibelakang sudah ada Yara, Adipati dan Taca yang melihat kearah lain. Mereka tau, Juan detik ini sedang berusaha memendam amarahnya sampai ketitik paling rendah.


“Dimas...”


“Iya Bang?” tanya Dimas polos.


“Loe gue pecat jadi CEO perusahaan Wijaya...!!”


“Hah...”


•••


Kan... kan... dipecat kan... kan kan...


Bingung kan loe, Dim....


Ya kali bayi orok baru lahir langsung dibawa naek odong-odong, Dimas..! Hahahaaa....


Ini yang minta cerita Dimas sama Yaraa, nggak salah? Mau diceritain apaan? Itu mereka udah pacaran loh mau diapain lagi? Hihihiii....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2