
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis berjalan dengan cepat memasuki lift apartemen, teriakkan Juan terdengar memekakkan telinganya.
“Ayang, tunggu, Yang.”
Iis dengan cepat memencet tombol tutup pintu lift, dia sedang tidak mau melihat Juan sama sekali. Dia muak melihat Juan, rasanya dia ingin mengeluarkan semua kata kasar dalam berbagai bahasa yang dimilikinya.
“Ayang kamu dapet dari mana ini surat!?” teriak Juan di celah kecil pintu lift yang akan tertutup sedikit lagi.
Iis hanya diam menatap Juan lurus, dia sedang malas berbicara, napasnya tertahan berharap pintu lift tertutup sempurna secepatnya.
Klik....
Pintu lift tertutup dengan cepat, saat pintu lift menutup dengan cepat Iis merasakan kelegaan. Iis mencengkram tali tasnya. Rasanya dia lelah, detak jantungnya menggedornya dengan keras. Capek, lelah, marah, muak, sedih, semua perasaan bercampur menjadi satu. Iis memundurkan tubuhnya untuk mencari sandaran, tubuh Iis langsung menubruk dinding lift, kakinya bergetar hebat, tangan Iis berjuang menahan bobog tubuhnya dengan mencengkram pegangan yang menempel di dinding lift.
“Napas, Iis. Napas...”
Ting....
Iis langsung keluar dari lift kemudian mengambil kopernya dari pak Zulkarnaen.
“Bu, mau kemana?”
“Nggak kemana-mana Pak, boleh saya minta kunci mobil saya?” tanya Iis sopan.
“Maaf Bu, tadi Pak Juan telepon katanya saya nggak boleh kasih kunci mobil ke Ibu,” ujar Pak Zulkarnaen sesopan mungkin.
Iis langsung menahan napasnya, Juan benar-benar menjeratnya. Mau kabur dari Juan sama saja seperti mau kabur dari debt collector. SULIT...!
“Pak, saya mau ke kantor, saya bisa telat,” ujar Iis sambil menghela napas kesal.
“Tapi, bu. Saya nggak bisa, Pak Juan minta saya buat nahan Ibu disini atau Ibu tunggu Pak Juan aja gimana? Katanya dia mau kesini sebentar lagi,” ujar Pak Zulkarnaen.
Iis langsung mengetuk-ngetukkan sepatu hells hitamnya di lantai marmer. Nunggu Juan kesini auto keluar semua kata-kata kebun binatang dari mulut Iis.
‘Sial,’ batin Iis.
“Iis...”
“Cicil?” ujar Iis saat melihat siapa yang memanggil dirinya.
“Hai, ini gue mau balikkin mobil Juan, tapi gue cuman bisa bentar nggak bisa mampir sama sekali, aku lagi ada urusan sedikit,” ujar Cicil sambil memberikan kunci mobil pada Iis. Melihat kunci mobil ditangannya Iis langsung tersenyum senang.
__ADS_1
“Makasih,Cil. Sama aku juga ada kerjaan. Ada dinas keluar kota. Dimana mobilnya? Aku udah telat,” ujar Iis sambil menarik koper dan lengan Cicil untuk menunjukkan dimana Cicil memarkirkan mobil Juan.
“Eh... mau pergi, ya udah. Tuh mobilnya deket ‘kan?” ujar Cicil sambil menunjukkan mobil Juan yang terparkir di lobby depan apartemen.
“Makasih Cil, aku duluan. Aku buru-buru,” ujar Iis sambil memasukkan kopernya dengan paksa ke bagasi mobil Juan dan dengan cepat pergi meningalkan Cicil yang menatap Iis dengan tatapan bingung.
Tiba- tiba cicil mendengar teriakkan yang memekakkan telinganya.
“AYANG...!?”
Cicil kaget melihat Juan yang berlari seperti kesetanan tanpa mengenakan alas kaki dan hanya menggunakan piayama.
“Kamu kenapa Juan?” tanya Cicil bingung.
“Itu kenapa mobil aku dibawa Iis, Pak Zulkarnaen...!” teriak Juan kesal.
Pak Zulkarnaen berlari tergopong-gopong mendekati Juan yang sedang marah-marah.
“Iya Pak, kenapa?”
“Saya udah bilang, jangan kasih kunci mobil Istri saya, astaga Pak...!?” teriak Juan sambil memukul angin didepannya saking kesalnya.
“Maaf Pak, tapi itu tadi kuncinya dari Nona Cicil,” ujar Pak Zulkarnaen, bekerja sangat lama di apartemen itu membuat Pak Zulkarnaen mengenal masing-masing pemilik apartemen yang berjumlah sedikit itu.
Juan langsung melihat Cicil dihadapannya, matanya membulat, “Lo yang kasih catatan medis tentang gue mandul ke Iis?” bentak Juan sambil menatap Cicil seperti ingin memakannya hidup-hidup.
“Terus Iis dapet ini dari mana?” tanya Juan sambil menunjukkan kertas kesehatannya pada Cicil.
Cicil melihat kertas tersebut, “Nggak tau, kamu simpen dimana emangnya? Astaga kamu lupa kalau kamu mabok suka ngobrol nggak jelas, ngolor ngidul. Lupa kamu?” tanya Cicil kesal, Cicil hapal betul kebisaan Juan yang suka ngobrol ngolor ngidul tak tentu arah saat mabok.
“DAMN...!!!” teriak Juan kesal sambil berjongkok di tempat.
Cicil yang kasian melihat mantan tunangannya itu akhirnya ikut berjongkok, “Kamu kenapa? Belum ngaku kamu sama Iis?” tanya Cicil.
“Belum, Cil... astaga berkali-kali aku mau jujur nggak jadi-jadi aja, Cil aku harus gimana? Ancur aku Cil kalau nggak ada Iis,” ujar Juan sambil menatap kosong kedepan.
Cicil menghela napasnya kemudian menggerakkan tangan Juan, “Juan, kamu sayang Iis?”
“Astaga aku bukan sayang lagi ini, aku udah tahapan nggak bisa hidup tanpa dia. Seminggu dia ningalin aku dulu sebelum nikah, aku ancur-ancuran ampe masuk rumah sakit, Cil..!!”
Cicil keget mendengar pengakuan Juan, seingatnya dulu saat Cicil ningalin Juan yang ada si semprul ini malah bikin pesta lajang.
“Ya udah, ngapain kamu diem disini?” tanya Cicil sambil tersenyum manis pada Juan.
“Yah nyari dimana?” tanya Juan kesal.
Cicil langsung mendengus, kemudian mengeluarkan handphonennya kearah Juan. “Kamu masih bisa lacak sinyal handphone Iis ‘kan? Lupa yah dulu pernah bantuin BIN (Badan Intelegen Negara)?” tanya Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Seperti mendapatkan pencerahan Juan mengembangkan senyumannya, astaga kok dia bisa bodoh seperti ini.
“Kamu pintar Cil, merci,” ujar Juan seraya bangkit dari jongkoknya.
“De Rien (sama-sama : bahasa prancis),” jawab Cicil sambil melihat Juan yang berlari secepat kilat masuk kedalam apartemennya.
•••
Iis mengemudikan mobilnya dengan cepat, dia ingin mencari tempat untuk bersembunyi. Dimana?
Iis benar-benar butuh untuk menenangkan pikiran dan jiwanya. Iis sama sekali tidak ada maksud untuk berpisah dengan Juan, hanya saja dia betul-betul butuh menenangkan diri.
Salah? Ini perbuatan salah, seorang wanita menikah pasti dosa bila meningalkan suaminya tanpa izin. Tapi, daripada Iis berkata kasar dan semua jenis binatang dikebun binatang keluar, lebih baik dia menenangkan batin dan jiwanya. Dia butuh sendirian. Tapi, kemana?
Saking bingungnya Iis menghentikan mobil Juan di pelataran parkir salah satu hotel terkenal di Jakarta. Iis benar-benar tidak bisa berpikir sama sekali.
Tok...tok...
Iis langsung membuka kaca jendela mobilnya, “Iya?”
“Maaf Bu, Ibu mau menginap?”
“Menginap?”
“Iya Bu, kalau Ibu mau menginap saya bantu bawakan kopernya,” ujar pegawai itu.
“Nginep? Emang ini dimana?” tanya Iis bingung.
“Ini hotel,Bu,” ujar pegawai itu sambil menatap Iis curiga, kenapa wanita ini terlihat linglung.
“Ah... iya hotel, iya mau nginep. Ah... tolong turunin kopernya,” ujar Iis sambil keluar dari mobilnya.
Pegawai itu tersenyum dan dengan cepat mengambil koper Iis dan membawanya ke dalam hotel.
Yah, dia butuh istirahat. Iis butuh tidur untuk menenangkan dirinya. Dia butuh menenangkan diri.
Dia butuh sendiri...!
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon