Water Teapot

Water Teapot
Jangan egois


__ADS_3


Zzzrtttt zzzzrrrttttt


Adipati yang sedang melihat data-data dilayar laptopnya langsung melirik handphonennya, saat melihat nama Taca di handphonenya senyumannya mengembang.


"Amore..."


"Hai... lagi apa ?" tanya Taca sambil memainkan anak-anak rambutnya.


"Kenapa ? Kangen? Sini makanya pulang, tuh kasur baru, udah dateng," goda Adipati sambil tersenyum.


"Asikk, udah ganti kasur..."jerit Taca sambil tersenyum senang.


"Makanya pulang cepet..!"


"Ih.. kamu pasti lupa besok ada acara royal wedding Citeko....!" Taca mengingatkan Adipati.


Adipati terdiam, "Royal Wedding ?"


"Iyah nikahannya Entis sama Rani. Lupa yah kamu ? Jangan bilang ngak akan kesini besok."


"Astaga, aku lupa. Jam berapa acaranya Amore ?" tanya Adipati sambil melihat jadwalnya besok.


"Jam 1 siang, mana kita diminta jadi pagar ayu dan bagus lagi. Hadeuh...ribet si Rina tuh," cerocos Taca kesal.


"Hah? Kok bisa ? Kenapa ngak ditolak aja sih, Amore." ujar Adipati, entah kenapa dia merasa malas untuk hadir diacara nikahan si Entis.


"Mana bisa, pokoknya besok kamu harus dateng pake jas putih yah."


"Tapi... aku ada rapat dari jam 7 pagi, Amore. Aku ngak bisa janji datang jam 1 tepat."


"....."


"Amore."


"Beneran ngak bisa ?" rengek Taca sedih.


Adipati yang mendengar rengekkan Taca hanya bisa menghembuskan nafasnya. "Aku usahain yah, udah jangan nangis."


"Iya.. maaf yah, aku lagi ngak dalam kondisi baik moodnya. Gara-gara omongan si Rina. Ihhhh...mulutnya harus dijait..!".


"Kenapa lagi ? " Adipati hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Taca. Ngak bosen-bosennya Rina bikin masalah sama Taca.


"Masa dia bilang kamu ngak serius sama aku, katanya kamu cuman mainin aku doang. Habis manis sepah dibuang...!!"


"Udahlah ngak udah didengerin, Amore."


"Aku kesel, dari kemaren tuh bibirnya ngak berhenti-hentinya bikin gosip. Kalau, kamu tuh pergi ninggalin aku, kamu tuh bukan pulang ke Jakarta, tapi udah ngak mau lagi sama aku. Gitu coba katanya, nyebelin..."


"...."


"Mana dia bilang, kamu ngak bakal nikahin aku katanya, ah nyebelin..!"


Adipati langsung melepaskan kacamatanya, kemudian memijat dahinya dengan lembut. "Ya udah, besok aku ke tempat kamu bareng, Papa, biar sekalian Papa ngobrol sama Abah soal acara pernikahan kita."


"Papa Gio ? " tanya Taca girang.


"Kenapa tiba-tiba jadi seneng ?"


"Kan mau ketemu Papa Gio. Papa Gio tuh ganteng, baik, romantis, lucu, trus senyumannya itu, arghhhh.... udah ngak paham lagi deh pesonannya," Taca memuji selangit calon mertuanya yang makin tua malah makin ganteng maximal.

__ADS_1


Adipati langsung bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah cermim di kamarnya. "Amore, aku kalau senyum lebih ganteng dari Papa loh, aku lucu juga sering bikin kamu ketawa, romantis juga kan, ganteng apa lagi. Kok kamu malah suka sama Papa sih..." rajuk Adipati kesal, sambil menatap pantulan dirinya.


Taca bengong mendengarkan ucapan Adipati, Taca langsung mengelengkan kepalanya saking bingungnya dengan perkataan Adipati. "Kamu cemburu sama Papa ?"


"Iya lah... aku cemburu sama semua laki-laki yang kamu puji, Amore."


"Bahkan sama Pak Zulkarnaen satpam apartemen ?" goda Taca sambil mengulum senyumnya.


"Bahkan sama dia, kalau sampai kamu bilang dia ganteng, aku bakal minta management apartemen pecat Pak Zulkarnaen."


"Ihhh... kamu mah, mutus rezeki orang. Ngak baek tau..."


"Yah, makanya jangan bilang cowo lain ganteng. Awas aja kalau kamu bilang cowo lain ganteng," potong Adipati kesal.


"Hahahaa... iya, iya. Kamu beneran besok ke sini ? Abah udah kangen sama kamu tuh, dari kemaren dicariin mulu, anaknya boro dicari. Kamu mulu yang ditanyain."


"Hah...paling Abah mau nyuruh aku nyangkul atau ambilin rambutan di belakang rumah." ucap Adipati yang sudah hapal diluar kepala kebiasaan calon mertuanya itu.


"Iya, kok tau ? Hahahaaaa"


"Udah biasa aku, Amore. Kebal...!" ucap Adipati.


"Hahahaa... kok mau ?"


"Biar diizinin nikah sama anaknya." jawab Adipati gemes.


"Hahahhaa... hadeuh, kalau anaknya ngak mau gima...."


"Jangan bikin perkara, deh. Bercandanya jangan yang gitu. Aku ngak suka, bikin kepikiran tau," potong Adipati cepat.


"Idih..idih.. ngambek."


"Ih...ngak ah, udah malem..."


"Kamu tuh..."


Taca dan Adipati terus mengobrol di telepon, semua di bicarakan dari mulai hal tidak penting sampai hal lebih ngakkkk penting lagi. Tanpa mereka sadari jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Taca yang sudah mengantuk akhirnya menyerah dan tertidur dengan telepon yang masih tersambung dengan Adipati. Adipati langsung memutuskan sambungan teleponnya saat mendengar dengkuran halus Taca.


•••


"Ya.. halo.."


"Papa, apa kabar ?" tanya Adipati dengan cepat.


"Terakhir dicek hidup Papa masih bahagia, hahahaa..." canda Gio.


"Hahaha.. Pa, Papa besok atau lusa bisa ke Citeko ?"


"Hah apa itu Citeko ? " tanya Gio kebingungan.


"Kampungnya Taca, Pa. Papa harus minta Taca ke orang tuanya. Sama sekalian obrolin tentang tanggal pernikahan dan lainnya. Aku mau nikah sama Taca, Pa.."


Gio tertawa kecil mendengarkan perkataan anak lelakinya, tidak pernah terbayangkan anaknya ini meminta dinikahkan secepatnya. "Hahahhaa... tumben mau buru-buru nikah. Kenapa, takut Taca keburu sadar, kalau kamu tuh nyebelin ?"


"Oh...come on, Pa...."


"Oke..oke... paling lusa papa kesana, papa paling bawa hadiah kecil aja yah buat Taca."


"Grazie papà,"


•••

__ADS_1


"Oke rapat sampai disini, terima kasih semuanya." ujar Adipati menutup rapatnya di siang itu.


Adipati langsung meningalkan ruang rapat bersama Juan. Saat sampai dipintu lift mereka tertahan oleh panggilan Saka dan Sherlly.


"Pak, nanti jam 3 ada rapat..."


"Cancel..." jawab Adipati dan Juan bersamaan, membuat Sherlly dan Saka terdiam.


"Cancel semua kegiatan saya, seminggu ini. Saya ada keperluan." perintah Adipati sambil masuk ke dalam lift diikuti Juan.


"Saya juga Saka. Tapi cuman 2 hari. Oke.." ujar Juan sambil tersenyum pada Saka.


"TAPIIIII..."


Blam


Pintu lift tertutup dengan indahnya dihadapan Saka dan Sherlly yang hanya bisa mengumpat didalam hati, tentang kelakuan Bossnya.


•••


"Di, telat ngak yah ?" tanya Juan pada Adipati sambil menggulung lengan bajunya."


"Ngak, lah..." Adipati terdiam melihat bekas suntikan di lengan Juan. "Iis udah tau itu ?"


Juan menatap Adipati kemudian tersenyum "udah, dia udah tau semuanya."


"Semuanya ?"


Juan terdiam sambil menatap Adipati, "Cuman bagian itu yang belum gue kasih, tau."


Adipati menghela napasnya, "Juan, mending lo kasih tau dari sekarang, deh..."


"Gue belum siap, Di." potong Juan.


"Jangan egois, Ju. Gue tau dari Taca, Iis memilih jadi psikolog anak, karena dia sangat suka anak kecil. Cita-citanya menjadi seorang Ibu rumah tangga." ujar Adipati sambil menatap Juan.


Ting, pintu lift terbuka dan menyuguhkan pemandangan kota Jakarta dan satu Konner k2 ultralight helicopter, berwarna orange milik Adipati.


"Iis harus tau, kalau lo mandul, Ju..." ujar Adipati lagi sambil berjalan melewati Juan.


Lidah Juan kelu, perkataan Adipati benar-benar memukul telak dirinya. Juan takut, Juan takut Iis meninggalkan dirinya, seperti Cicil yang meninggalkannya.


•••


Nah udah yah... rahasia Juan udah kebuka semuanya...


hebat para pembaca udah bisa nebak... berarti kalian baca dengan baik obrolan receh di novel aku hahahaa...


Jadi Pak Juan itu bangsul, pernah aneh-aneh sama Cicil, mantannya satu kecamatan, mantan pemakai, dan mandul. Paket komplit yah 🙈.


Udah mulai bab ini semuanya tentang Adipati dan Taca yang mau nikah. Kita singkirkan Iis dan Juan. Nanti aja itu mah, jd bonus part, iis dan juan.


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2