
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Setibanya dirumah Iis dan Juan ambruk, mereka tertidur pulas di kamar Juan tanpa sempat berganti baju. Kejadian melahirkan Taca benar-benar menguras pikiran dan tenaga mereka berdua.
Iis merasakan kantung kemihnya penuh, mau tidak mau Iis bangun dan berlari kekamar mandi untuk menyelesaikan urusannya. Setelah selesai Iis melihat jamr didinding jam 1 malam, Iis kemudian melihat pantulan dirinya dikaca kamar mandi, entah kenapa akhirnya Iis memutuskan untuk mandi dimalam hari.
‘Mandi ah, ada air hangat juga,’ batin Iis didalam hati kemudian membuka pakaiannya kemudian mandi. Iis pun mandi dengan tenang, Iis melupakan fakta bahwa dia lupa membawa baju ganti kedalam kamar mandi. Iis biasanya selalu membawa baju ganti kedalam kamar mandi.
Iis langsung mengeringkan badannya dengan handuk dan menggunakan bathropenya. Dengan tenang Iis kembali kekamar kemudian melihat Juan yang masih tertidur membuat Iis memutuskan untuk memakain baju dikamar. Iya, Juan belum pernah melihat Iis tanpa sehelai benangpun, Iis benar-benar berusaha untuk menjauhkan pikiran mesum Juan pada tubuhnya.
Iis menjatuhkan bathropenya kemudian mengambil pakaian dalamnya lalu baju tidurnya. Saat Iis akan menggunakan pakaian dalamnya tiba-tiba tangan Iis ditarik kebelakang, mau tidak mau tubuh Iis jatuh keatas kasur, dengan cepat Juan memerangkap badan Iis dibawahnya.
“Eh...”
“Ngak usah dipake, kamu cantik kaya gini, Yang,” ujar Juan sambil menatap tubuh Iis dengan tatapan bernafsu.
Iis yang kaget langsung menendang perut Juan, Juan langsung terpelanting kebelakang. Iis dengan cepat menarik selimut kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. Dilihatnya cutter di nakas, diambilnya cutter tersebut.
(Cutter)
“Yang, galak amat sih,” ujar Juan berdiri dan bermaksud memenjarakan tubuh Iis lagi, mungkin Iis kelepasan lagi kaya kemarin ‘kan lumayan.
“Mau apa ?”
“Mau liat, liat doang. Kamu cantik beneran kalau ngak pake apa-apa,” goda Juan.
Creeeekkkkkk
Iis memunculkan mata pisau Cutternya sambil menatap Juan dengan tatapan ‘Awas kamu’. Juan langsung mundur menjauh dari Iis.
“Ngak Yang, bercanda. Galak amat,” ujar Juan sambil menatap bagian belahan di dada Iis yang demi apapun benar-benar menggoda Juan. Setiap jengkal tubuh Iis benar-benar menggoda iman Juan, mungkin itu yang membuat Juan sadar sepenuhnya saat melihat Iis berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun, rasanya Juan seperti mendapatkan durian runtuh saat melihatnya.
Creeekkkk
Iis memasukkan kembali mata pisau cutternya kedalam.
“Tapi, liat dikit boleh yah.”
Creeeekkkkkk
Iis mengeluarkan kembali mata pisau cutternya keluar sambil menatap Juan dengan tajam.
Juan menahan tawanya, astaga tunangannya ini benar-benar menguji kesabarannya, Juan kadang suka kesal sendiri pada Iis, untung cinta kalau ngak ah sudahlah.
“Oke, aku mandi yah, kamu ganti baju oke,” ujar Juan sambil tersenyum pada Iis kemudian berjalan kekamar mandi.
__ADS_1
Setelah memastikan Juan benar-benar telah masuk kekamar mandi, Iis langsung menyimpan cutternya kemudian membuka selimut yang membungkus dirinya, dengan cepat Iis mengambil pakaian dalam yang jatuh dan baju tidurnya.
“Benerkan, kamu lebih cantik ngak pake apa-apa, Yang.” ujar Juan yang mengintip dari balik pintu kamar mandi sambil tertawa tenggil.
“MASSSSSSS...!?” pekik Iis kesal sambil melemparkan bantal kearah pintu kamar mandi.
“Hahahahaa... tapi beneran kamu cantikan ngak pake apa-apa,” ujar Juan lagi dari dalam kamar mandi.
Iis yang mendengar perkataan Juan langsung berteriak “Rese ah, Mas..”
Iis langsung menggunakan pakaiannya, setelah menggunakan pakaiannya Iis keluar dari kamar Juan dan pergi kekamar miliknya, lebih baik dia tidur dikamar miliknya daripada dikamar Juan bisa habis dia.
Setelah sampai dikamarnya Iis menutup dan mengunci pintu kamarnya, mengantisipasi Bapak Juan Wijaya Yang Terhormat untuk masuk kedalam kamarnya.
•••
TOK TOK TOK...
Iis yang baru terlelap sebentar langsung terbangun saat mendengar suara gedoran di pintu kamarnya, diliriknya jam di dinding kamarnya jam 1.30. Astaga dia baru tidur 10 menit.
TOK TOK TOK TOK..
“Yang, buka atau aku dobrak ini pintu kamar beneran..!?” teriak Juan dari balik pintu kamar.
“Astaga mas kena...”
Juan langsung mencium Iis sesaat Iis membuka pintu kamarnya. Iis hanya bisa pasrah saat Juan menciumnya dengan sangat menuntut.
“Aduh, Mas. Aku ‘kan mau tidur. Kamu ngak ngantuk apa ?” tanya Iis bingung.
“Ya tidur aja dikamar aku, ngapain harus tidur disini. Udah ah mulai besok aku suruh Bi Sur bikin kamar ini jadi gudang, atau aku suruh Bi Sur gembok semua kamar di sini. Jadi, kamu cuman tidur dikamar aku aja.”
“Ih.. ngaconya mulai yah Bapak Juan ini, ya udah ayo kita kekamar kamu, kita tidur disana, yuk.” ajak Iis sambil menarik lengan Juan.
“Aaaa...”
“Eh kenapa, Mas ?” tanya Iis bingung kemudian melihat tangan Juan yang banyak cakaran dan bekas gigitan. “Ini kenapa ?”
“Tanya Taca kenapa dia bikin aku gini,”ujar Juan sambil menatap lengannya.
“Ini bekas gigitan sama cakaran Taca ?”
“Iya, parah banget Taca gigitannya,” ujar Juan mengenang gigitan Taca tadi.
Iis langsung berjalan keluar kamar dan mengambil kotak p3k.
“Mas, sini aku obatin,” panggil Iis sambil duduk disofa ruang tamu. Juan langsung menurut dan duduk disamping Iis.
Iis dengan telaten dan sabar mengobati lengan Juan yang luka-luka akibat dicakar dan digigit Taca.
“Aw..aw.. sakit, pelan-pelan.” pinta Juan sambil meringgis.
__ADS_1
“Ini udah pelan, Mas. Sabar yah, ini pelan...” Iis meniupi lengan Juan pelan.
“Yang, sakit Yang.”
“Udah, ini udah...” ujar Iis sambil memplester beberapa bagian lengan Juan.
“Butuh peluk,” pinta Juan manja.
Iis menatap Juan sambil tersenyum, Bayi besar miliknya ini benar-benar manjanya bukan main. “Sini, peluk..”
Iis langsung memeluk Juan, entah karena rasa lelah yang melanda atau apa, akhirnya Juan dan Iis tertidur di sofa ruang tamu sambil saling berpelukkan seperti kukang.
•••
Duk duk duk...
Suara-suara yang sangat keras membangungkan Iis dari tidurnya. Saat ini tubuh Iis diselimuti bed cover tebal, dihadapannya ada Juan yang sedang meminum kopi dan membaca koran.
“Mas, itu suara apa ? Ini jam berapa ?” tanya Iis bingung dengan suara-suara keras tersebut.
“Morning Yang, ini jam 9 pagi, itu suara tukang,” ujar Juan santai sambil mengusap rambut Iis.
“Tukang ?”
“Iya tukang bangunan, aku manggil tukang bangunan buat ngerenovasi kamar,” ujar Juan santai.
Ting...
Iis ingat perkataan Juan tadi malam yang ngamuk karena Iis mengunci pintu kamarnya. “Ngerenovasi apaan ?”
“Aku minta mereka copot semua pintu kamar, kecuali pintu kamar aku. Trus minta diakalin gimana caranya biar keliatan enak dipandang,” ujar Juan santai.
“Cabut ?! Maksudnya kamar aku nanti ngak ada pintunya ?!” ujar Iis bingung.
“Iya, ngak ada pintunya, biar kamu ngak bisa kunci-kunci pintu lagi kaya kemarin. Lebih bagus ‘kan daripada aku dobrak.”
Iis hanya dapat menatap Juan dengan pasrah. Terserah Bapak Juan Wijaya aja, terserah...!?
•••
Juan rese yeh, kalau kamar ngak ada pintu mau ditutup apaan ? Gordeng ????
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1