
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Taca masuk ke kamar dan mencari Adipati namun tidak menemukannya, Taca dengan cepat mencari Adipati di kamar mandi dan menemukan Adipati yang sedang berendam di bathup.
"Daddy," panggil Taca mendeketi Adipati kemudian duduk dipinggir bathup.
"Amore, kenapa ?" tanya Adipati.
"Ini.. Aww.." pekik Taca kecil saat merasakan kembali tendangan diperutnya.
Seperti sudah mengerti maksud dan tujuan Taca, Adipati langsung mengelus perut Taca, "Daddy disini, nak. Udah jangan tendang-tendang terus kasian, Mama kamu," ujar Adipati sambil mengelus perut Taca lembut.
Tiba-tiba Taca tidak merasakan lagi tendangan diperutnya sama sekali, anak-anaknya benar-benar tenang.
"Astaga, bener-bener yah, yang hamilnya Mama, tapi nurutnya sama Daddy," bisik Taca sambil mengusap-ngusap perutnya.
Adipati tersenyum mendengar gerutuan istrinya.
"Sini, masuk.." ujar Adipati meminta Taca ikut berendam bersama dengan dirinya.
"Ngak ah, kamu kalau aku masuk bisa abis aku 'dimakan' kamu, pinggang aku rontok ini," keluh Taca sambil memukul-mukul pinggang bagian belakangnya.
"Hahahaaa... istri aku jompo," canda Adipati.
"Idih, malah diketawain, rese ih.." ujar Taca sambil mengembikkan mulutnya.
Adipati menatap Istrinya, tak terbayangkan kalau dia bisa menikah dan memiliki istri seaneh Taca.
"Udah sini, masuk," pinta Adipati, Taca akhirnya mengalah dan masuk kedalam bathup dan duduk menyender ke dada Adipati.
"Daddy, nanti kalau aku ngelahirin mau pake water birth aja, gimana ?" tanya Taca meminta izin pada Adipati.
"Hah, ngak udah aneh-aneh deh, kata Dokter Rindu pinggul kamu kecil."
"Tapi, kata Dokter Rindu aku juga masih bisa ngelahirin normal, kok." ujar Taca.
Adipati menatap Taca, dia ngak mau Istrinya ini mengalami nasib yang sama seperti Mama Rosse. Dia ngak bisa membayangkan hidup tanpa mendengarkan celotehan Taca, kelakuan ajaib Taca bahkan rengekkan Taca.
"Amore, aku bener-bener was-was, aku takut saat kamu melahirkan nanti, kamu ngalamin apa yang Mama aku alamin, aku pasti kaya Papa, aku ngak bakal sanggup memilih."
"Pilih anak-anak," jawab Taca.
Adipati terkejut mendengar perkataan Taca, mana bisa dia memilih. "Terus, aku sama siapa kalau aku pilih anak-anak."
"Yah, sama anak-anaklah, jadi kamu jaga anak-anak," jawab Taca sambil menatap wajah Adipati yang terlihat pucat.
"Ngak, aku ngak mau milih, maaf Amore aku ngak bisa milih. Maaf.."
Taca yang mengerti perasaan Adipati langsung berbalik menatap Adipati kemudian mengelus pipi suaminya tersebut. "Daddy, kamu harus pilih anak-anak jangan pilih aku yah, aku mohon. Kalau ada apa-apa pilih anak-anak. Anak-anak ini itu bukti aku hidup, bukti aku pernah ada di dunia ini," ucap Taca.
Adipati menggelengkan kepalanya, "Nggak, aku bakal pilih kamu Taca, aku mana bisa hidup tanpa kamu. Kalau anak bisa kita buat lagi berulang-ulang, tapi kalau kamu ? Mau nyari dimana ? Mau nyuruh Abah nikah lagi terus punya anak lagi ? Keburu bangkotan aku, Amore.." Adipati akhirnya memantapkan pilihannya, dia akan memilih Taca bila seandainya dia dihadapkan pada situasi harus memilih.
"Hahahaha... ya udah, ngapain diobrolin sih. Sekarang kita doa aja, moga aku sehat dan mampu ngelahirin anak-anak ini dengan baik. Jangan mikir yang aneh-aneh," ujar Taca sambil mencium lembut bibir Adipati.
Adipati langsung membalas ciuman Taca dengan lembut, membelit lidah Taca dengan cepat, Adipati mengangkat tubuh Taca dan...
"Astagaaa..." pekik Taca kesal karena apa yang di pikirkannya tadi benar-benar terjadi, sekarang juga Taca sudah merasakan Adipati didalam tubuhnya.
__ADS_1
"Don't think anything, just do it slowly," bisik Adipati sambil menghentak lembut Taca.
(Jangan berpikir apapun, kita lakukan perlahan)
Taca hanya bisa pasrah pada keinginan Adipati .
"Adipati..."
•••
Sedangkan, dikamar lain ada Iis yang juga sedang berendam dengan air hangat dan busa yang sangat banyak, disekitarnya Iis menyalakan banyak lilin aroma terapi. Iis benar-benar menenangkan pikirannya.
Iis lelah kepalanya hampir pecah karena memikirkan semua perkataan Taca.
"Hah... semangat Iis, semangat. Kamu pasti bisa, kamu pasti bisaaaa...!!!" teriak Iis sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Yeahh..."
Iis kaget mendengar suara orang lain disampingnya.
"Semangat apaan, Yang ?"tanya Juan sambil meniupi busa-busa yang menutupi air.
"Bukan apa-apa, jangan ditiup busanya, Mas...!" pekik Iis kesal, karena jika busa ditiup terus-terusan bisa keliatan semua tubuh Iis yang saat ini masih tertutup busa.
"Kenapa sih, cuman mau liat doang, tuh ikan aja boleh liat, masa aku ngak boleh liat," ujar Juan kesal.
"Ya udah sana berubah jadi siluman ikan dulu sana," ujar Iis kesal sambil menjauh dari Juan.
"Iya nanti aku berubah jadi siluman ikan asin aja deh, biar kering, hahahaaa..." Canda Juan sambil duduk disamping bathup.
"Mau apa kamu kesini, sana ih. Tunggu diluar," ujar Iis sambil mengumpulkan busa-busa agar menutupi tubuhnya.
Juan yang jahil malah meniupin terus busa-buda yang ada agar makin cepat menghilang.
"Ngak mau," ujar Juan sambil menjulurkan lidahnya.
"Ya udah aku yang keluar," ujar Iis kesal sambil berusaha mengambil bathrope yang tadi Iis simpan dikursi, tapi dengan cepat Juan mengambil bathrope Iis.
"Sana, keluar tapi jangan pake ini," ujar Juan sambil menunjukkan bathrope ditangannya.
"MAS...!!!!!" pekik Iis kesal sambil mencipratkan air ke muka Juan.
"Hahahaa.. udah ah, aku mau nanya ini," ujar Juan.
"Nanya apaan?"
"Kamu takut berenang didalam laut ngak ? Sama takut ketinggian ngak ?" tanya Juan lagi.
"Astaga Mas, pertanyaan berfaedah sekali yah kamu, itu. Kenapa ngak nanti aja nanyanya, nunggu aku selesai mandi, astaga..!" Iis benar-benar geram dengan ketengilan Juan.
"Jawab, kalau ngak aku mau nangkring disini ampe pagi," ucap Juan sambil menggerakan alisnya keatas dan kebawah.
"Hadeuh, ngak aku ngak takut ketinggian, aku juga ngak takut kedalaman air, ini kamu mau ngajak aku ngapain ? Ngebor laut mati ?" tanya Iis kesal.
"Hahahahaaa... ngapain ngebor laut mati, Yang."
"Ya abis pertanyaannya kaya gitu."
Iis menatap Juan, Iis yakin seyakin yakinnya Juan akan mengajaknya ketempat yang aneh, Juan adalah tipe lelaki adrenalin junkie (penantang bahaya dan menikmati untuk melakukannya). Iis harus siap seandainya dia diminta untuk melakukan terjun lenting dari lantai 145 Burj Khalifa.
"Yang," panggil Juan sambil mendekati Iis kemudian berbisik ditelinga Iis, "Boleh 'tolongin' aku lagi ngak pake tangan kamu ?"
__ADS_1
"NGAKKKK...!!!" teriak Iis sambil mendorong badan Juan kesal.
Juan langsung mengerucutkan bibirnya, "Kejam, ya udah jangan pake tangan," ujar Juan lagi.
Iis bingung, kalau ngak pakai tangan mau pakai apa ? Buka segel ? Oh tidak bisa, Iis ngak mau pokoknya, Titik..!
"Pake apa ?" tanya Iis penasaran.
Juan menahan senyumnya dengan kepolosan Iis yang membuatnya gemas, baru sekarang dia menemukan wanita sepolos tapi sekepo Iis.
"Pake ini," ujar Juan sambil menyentuh bibir Iis.
Boom...
Wajah Iis langsung berubah merah, pikiran Iis langsung berlari kekanan dan kekiri, wajah Iis benar-benar panas, sialnya Iis kembali membayangkan ukuran milik Juan.
BYURRR
Iis langsung menceburkan kepalanya kedalam bathup untuk menutupi rona merah diwajanya.
"Yang, mau ngak ?" tanya Juan sambil menahan tawanya.
Tiba-tiba tangan Iis yang sudah terkepal keluar dari air, menandakan Iis akan memukul Juan kalau meminta yang aneh-aneh.
"Tapi..."
Tangan Iis berubah dari kepalan menjadi telunjuk yang mengarah ke pintu keluar, Juan mengerti itu tanda Juan harus keluar dari kamar mandi.
Juan tersenyum kecil tiba-tiba ide jahil terlintas di benaknya. "Ya udah, aku keluar...".
Klik...
Iis menunggu beberapa saat sampai benar-benar merasa sendirian diruangan tersebut. Dengan takut-takut Iis memunculkan kembali kepalanya.
"Astaga, pikiran aku kok jadi gini sih," bisik Iis kesal pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mungkin, aku harus potong rambut kali yah..."
"Jangan pernah berpikir buat potong rambut kamu, Yang," bisik Juan dibelakang kepala Iis.
"MAKJANNNN.... JUAN," pekik Iis kaget sambil menolehkan kepalanya dan mendapati wajah Juan yang sedang menggembungkan pipinya.
"JUAN...!"
"Awas kamu potong rambut..!" ujar Juan kesal sambil mencium bibir Iis lalu kabur meninggalkan Iis sambil tertawa.
"JUAN WIJAYAAAAA....!!!" teriak Iis kesal sambil mencipratkan air kearah Juan dengan kesal.
•••
Perbedaan pasangan somplak.
Juan-Iis dimanapun kapanpun Jahil mulu...
Adipati-Taca dimanapun kapanpun hah... sudahlah hahahaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon