Water Teapot

Water Teapot
S2: Kekanak-kanakan


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Lo nggak ke kamar Iis?” tanya Adipati sambil menutup laptop didepannya. Rapat sudah selesai dari 15 menit yang lalu, tapi Juan masih duduk disebelahnya.


“Bentar, Di. Gue masih bingung harus ngapain, dari tadi Gue udah bosen ngomong sabar mulu ke Iis. Gue yakin bukan kata-kata itu yang Iis mau denger dari mulut gue. Gue bingung mau ngomong apa,” ujar Juan jujur sambil menggaruk kepalanya.


Adipati melirik Taca yang tiba-tiba datang dan duduk disebelahnya. “Amore, dari mana?”


“Dari kamar liat Kama sama Kalila,” dusta Taca, padahal Taca baru selesai ngobrol dengan Rozak.


“Gue harus gimana?” tanya Juan bingung.


“Dengerin aja dia ngomong, Ju. Gue dulu pas nyokap gue meninggal, kuping gue empet denger orang bilang sabar,sabar. Yang gue butuh dulu orang yang dengerin gue ngomong apa....”


“Bener Juan, dulu pas Tasya ninggalin aku, aku cuman butuh orang yang dengerin aku ngobrol. Iis sabar banget denger aku ngoceh, ah... kayanya dia sabarnya banget-benget, deh,” Taca mulai mengingat-ngingat.


“Kenapa?” tanya Juan penasaran.


“Hmm.... Iis dengerin aku, Aa Riki sama Kang Rozak. Pokoknya Iis itu paling sabar kalau urusan dengerin orang ngomong,” ujar Taca.


“Iis dengerin semuanya?” tanya Juan takjub, sesabar apa sebenarnya istrinya itu.


“Iya, Iis dengerin semuanya,” ujar Taca.


“Jadi aku harus....”


“Dengerin aja Iis ngomong, lakuin apapun yang diminta Iis. Orang-orang yang sedang kehilangan hanya mau didengar dan ditemani. Nggak lebih, Juan,” ujar Taca.


“Kayanya gue ke kamar Iis dulu,” ujar Juan sambil pergi meninggalkan Taca dan Adipati.


•••


Juan berjalan ke kamar Iis, besok pagi adalah pemakaman Ayah, jasad Ayah saat ini masih di rumah sakit. Saka sedang mengurus semuanya, sepertinya hidup Juan akan nelangsa kalau tidak ada Saka.


Saat akan berjalan ke kamar Iis, Juan melihat Rozak yang berjalan ke arah berlawanan. Saat mereka saling berselisih jalan, Rozak menghentikan Juan dengan memegang tangan Juan.

__ADS_1


“Apa?” tanya Juan dingin.


“Kamu dari mana? Nggak liat Iis lagi butuh temen?” tanya Rozak nggak kalah dingin.


“Ini mau kesana, kenapa?” tanya Juan sambil menghentakkan tangan Rozak geram. Andai, Rozak bukan Kakak Taca dan salah satu orang yang membantu Iis waktu akan kuliah. Mungkin, Juan sudah mengatur strategi untuk membinasakan Rozak sampai ke akar-akarnya.


“Bisa nggak kamu kasih perhatian sedikit buat istri kamu, nggak kasian kamu sama Istri kamu?” ujar Rozak sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Juan rasanya ingin memelintir kepala lelaki didepannya itu. Maksudnya apa coba, kurang perhatian gimana? Apa setiap dia merhatiin Istrinya dia harus laporan sama mahluk sialan ini? Apa nggak sekalian setiap dia melakukan transfusi darah putih di tonton sama si Rozak..!


“Makasih udah ingetin, tapi perhatian aku buat Iis sudah lebih dari cukup,” jawab Juan sambil mengepalkan tangannya.


“Juan, ingget kata-kata aku dulu di aprtemen Adipati?” Rozak berusaha mengingatkan Juan.


“Apa, kata-kata yang mana?” tanya Juan, sepertinya semua kata-kata dari curut didepannya ini tidak ada yang harus Juan ingat.


Rozak langsung mendengus keras, sepertinya semua kata-kata yang diucapkan olehnya tidak ada satupun yang menyangkug ditelinga Juan. “Kata-kata kalau kamu nggak bisa jaga Iis dengan benar, mending tinggalin Iis dan kasih Iis ke saya, saya masih mau dan mampu buat jaga Iis, sekalipun dia jan...”


Bruak....


Kemarahan Juan sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya. Sisemprul ini benar-benar tidak tau diri. Sedang dalam keadaan berduka malah bikin ulah.


“Gue udah bilang, jangan ngurusin bini orang...!?” sentak Juan sambil mendekati Rozak yang sudah terduduk dilantai.


“Loe tuh nggak punya otak?” teriak Juan sambil berusaha untuk memukul Rozak lagi tapi pukulannya di tangkis Rozak dengan cepat. Saat Rozak akan memukul Juan dengan sikunya tiba-tiba ekor matanya menatap sosok Iis yang sudah keluar dari kamarnya karena mendengar keributan.


“Mas Juan, Kang Rozak,” ucap Iis lemah sambil melihat kedua lelaki tersebut sedang saling serang.


“Neng.”


“Ayang,” ujar Juan setelah berguling kesamping dan duduk disamping Rozak.


“Kalian ngapain? Nggak ada kerjaan berantem?” tanya Iis dingin, saking marahnya, Iis sampai tidak memiliki tenaga untuk berteriak sama sekali.


“Bukan gitu Neng tadi Akang cuman ngobrol biasa sama Juan, tapi Juan mukul Akang duluan,” ujar Rozak.


“Hah... ngobrol? Lo tadi yang bikin perkara duluan yah, maksud lo apa bilang kalau ...”


“Kenyataannya emang gitu ‘kan, Juan,” potong Rozak cepat, Rozak takut Iis akan marah kalau mendengar perkataan apa yang membuat Juan memukulnya.

__ADS_1


“Mas...” panggil Iis lemah.


“Yang, Rozak ini bikin perkara, nggak mungkin aku tiba-tiba marah kalau nggak ada masalah,” bela Juan.


“Neng, Kang Rozak juga nggak mungkin mau mukul Juan kalau nggak dipukul duluan,” Rozak benar-benar tidak mau disalahkan, entah kenapa saat ini ego Rozak sedang ada ditingkat tidak mau kalah. Bahkan Rozak ingin tau siapa yang dipilih Iis. Dirinya atau Juan.


“Yang....”


“Cukup,” potong Iis sambil mengangkat tangan kanannya.


Rozak merasa kalau Iis akan membelanya dari pada Juan saat melihat tindakan Iis. Sedangkan Juan benar-benar menahan amarahnya karena merasa tidak dipercaya oleh Istrinya.


“Mas, masuk ke kamar mandi kamu belum mandi ‘kan. Kita tidur aja,” ujar Iis sambil berjalan ke arah Juan dan membantu Juan berdiri. Juan masih ingin berdebat tapi mengingat situasi dan kondisi Iis yang sedang berkabung, Juan lebih baik menurut pada Istrinya.


“Dan kamu Kang Rozak,” ujar Iis menggantungkan perkataannya.


“Kenapa Neng?” tanya Rozak sambil berdiri dan menepuk-nepuk pahanya membersihkan debu yang menempel di celana panjangnya.


Iis menghela napas dan memejamkan matanya, kepalanya sakit. Tapi, urusannya dengan Rozak benar-benar harus selesai saat ini juga. Iis tau sifat Rozak, sifat Rozak dan Juan itu hampir sama. Sebelas duabelas, sama-sama keras kepala.


“Mending pulang Kang, Juan sudah lebih dari cukup merhatiin Iis dan jaga Iis, jadi nggak usah bilang Juan nggak bisa ngurus Iis. Iis mah udah diurus baik sama Juan. Jadi, mending Kang Rozak pulang,” usir Iis sambil menatap Kang Rozak dengan tatapan kosong.


“Neng....”


“Ah sama satu lagi, Neng bahagia sama Juan. Jadi mending Akang cari kebahagiaan Akang sendiri yah,” pinta Iis sambil tersenyum pada Rozak.


“Yang, masuk kamar, Aku mau ngobrol sama Rozak dulu sebentar,” perintah Juan dan dengan patuh Iis masuk kedalam kamarnya lagi.


Juan mendekati Rozak.


“Zak, mending kamu pergi deh. Saya udah sabar banget-banget sama kelakuan kamu. Kalau kamu ngelewatin batas kaya tadi, sekali lagi. Saya udah nggak tau bakal ngelakuin apa sama kamu. Saya masih sabar ngehadapin kamu gara-gara kamu Kakaknya Taca dan dulu kamu pernah nolong Iis buat kuliah. Tapi, kalau kamu lewatin batas lagi, maaf-maaf saya bisa ancurin kamu sampai akar-akarnya kaya yang saya lakuin sama si Kokom,” Juan memperingatkan Rozak.


Rozak mendengus dan meninggalkan Juan yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.


•••


Udah yah cerita perasaan Kang Rozaknya.


kenapa diceritain karena.... hmm yah gitulah hehehee....

__ADS_1


Biar pembaca tau aja kalau Kang Rozak masih ada rasa sama Iis hehehee...


Ciaooo....


__ADS_2