Water Teapot

Water Teapot
S2: Teflon sakti..!


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Dasar laki-laki ngak ada ahlak..!!!” teriak Iis sambil memukulkan teflonnya ke punggung Lex dengan sangat keras.


PLAAANGGG....


Lex langsung terhuyung kedepan Sarah, tapi tubuh Sarah di tarik Dimas, akhirnya membuat Lex jatuh dengan indahnya ke lantai marmer.


“Kamu bilang ngak ada bukti ? Saya pernah liat kamu tampar dan pukul Sarah di biro, kalau Pak Edo ngak misahin kamu bisa abis kamu mukulin Sarah. Ditambah kamu ngomong kata-kata kasar didepan Caca..!! Saya bisa jadi saksinya Sarah, enak aja mau bawa-bawa Caca..! Ngak bisa..!” bentak Iis nafsu, laki-laki bentukkan kaya Lex ini benar-benar harus masuk ke bui biar di gebukkin sama para napi disana..!


Lex yang tersungkur langsung melihat Iis dengan tatapan benci, wanita bertubuh ramping itu benar-benar menghancurkan martabatnya sebagai seorang Lex Iskandar, seorang pengusaha tambang yang paling disegani di Indonesia.


“Kamu tau saya siapa ?” tanya Lex mengancam Iis, Lex ingin Iis sadar dia sedang berbicara dengan siapa. Dia harus tau kalau Iis tidak punya power sama sekali terhadap dirinya


“Siapa ? Emang aku peduli ? Yang aku tau cuman satu, kelakuan kamu tuh ngak ada ahlak tau..! Udah punya Istri baik, cantik tapi masih aja selingkuh..!! Udah punya Ratu malah nyari gundik..!!” pekik Iis sambil melempar teflon kelantai membuat teflon tersebut terpental dari lantai mengenai seseorang dibelakang Iis.


“Ada apa ini ?” suara alto dibelakang Iis membuat Sarah, Iis, Juan, Dimas dan Lex menatap sumber suara.


Mata mereka membulat sempurna saat melihat Nenek, Liliana, Kevin, Dion dan istrinya sudah berdiri sambil melihat mereka berlima.


Mata Kevin langsung menajam melihat Iis berada disana, Kevin sama sekali tidak menyangka Juan berani mengajak Iis ke acara ulang tahun Nenek. Besar sekali nyali anaknya itu.


“Nenek...” Sarah berlari memeluk Nenek Lia kemudian menangis dipelukkannya sambil menyerahkan surat pada Om Dion. Om Dion yang membaca surat tersebut langsung mengeremetukkan giginya menahan amarah. Menantunya ini benar-benar tidak tau diuntung...!!


“Hahahaa.. dateng juga semuanya, aku cuman mau bilang, Caca itu bakal aku ambil, kalau ngak mau diambil bisa. Tapi, tau ‘kan tuntutannya apa, saya mau setengah saham milik Sarah di perusahaan Wijaya Crop,” tawa Lex sambil mengusap bibirnya yang perih karena tadi dihajar oleh Juan dan Iis.


“SINTING KAMU..! Jangan harap saya kasih setengah saham anak saya buat kamu..!” bentak Om Dion kesal.


Nenek diam mendengar perkataan Lex, ada rasa sesal didadanya karena dulu memaksa Sarah menikah dengan Lex Iskandar, anak dari salah satu kawan arisannya.


“Yah, kalau ngak, saya bawa Caca, ngurus Caca gampang. Caca masih kecil dia ngak akan banyak omong, mau saya ngapain juga, ngak kaya Ibunya saya bawa perempuan kerumah aja bawelnya minta amp....”


BUGGGG BUGGGG....!!!!


Dengan kesal Iis memukuli Lex dengan sutil kayu yang entah dapat darimana, Iis memukuli Lex dengan sangat keras sambil menahan air matanya. Hatinya hancur mendengar perkataan Lex yang kurang ajar, Iis ngak mau ada anak yang merasakan apa yang Iis rasakan dulu, dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Dipaksa untuk menerima kelakuan Ayahnya yang tidak punya otak. Iis ngak mau Caca merasakan apa yang Iis rasakan diumur sangat-sangat muda..!!!


“Ngak punya otak kamu yah, kamu sangka Caca ngak punya perasaan. Caca manusia tau..! Dia punya hati punya rasa, kurang ajar, ngak tau malu...!!! Semuanya diotak kamu tuh cuman uang..!!! Sebesar apa sih perut manusia sampai bisa seserakah ini ?” jerit Iis sambil terus memukuli Lex tangis Iis pecah.

__ADS_1


Juan dengan cepat menarik Iis kemudian memeluk Iis erat, “Yang..udah...”


“Kurang ajar, dasar Ayah kurang ajar...!!!!” teriak Iis. Mendengar nama Ayah Iis disebut Juan langsung mengerti Iis melihat Lex sebagai sosok Ayahnya bukan sosok Lex.


“Udah...stop. Udah, napas Yang, napas..” ujar Juan sambil memeluk Iis.


Semua orang disana kaget sekaligus takjub dengan perbuatan Iis pada Lex, Lex yang habis dipukuli Iis hanya bisa duduk sambil menatap semua orang disana. Rasa sakit diwajahnya tidak lebih sakit dari rasa malunya yang dipukuli oleh seorang wanita bernama Lizbet Sandia.


“Awas kamu, saya tuntut kamu atas tindak penganiyayan,” bentak Lex.


“Berani...”


“Saya tuntut balik kamu atas tindak penelantaran anak dibawah umur, KDRT baik secara fisik maupun psikis dan kekerasan pada anak..!” Iis memotong perkataan Juan, Iis tidak perlu perlindungan dari Juan untuk menyelesaikan masalahnya dengan seorang Lex Iskandar.


Lex terdiam, dia baru ingat pekerjaan Iis yang akan sangat berdampak pada gugatannya. Iis akan memberikan bukti-bukti kuat tentang keadaan Caca.


“Apa ? Ngak bisa ngomong ‘kan lo? Aku sama Pak Edo liat sendiri yah kamu mukulin Sarah, kalau Pak Edo ngak misahin kamu, abis Sarah dijadiin samsak hidup. Dan aku denger pake kuping aku sendiri kamu teriak-teriak kata-kata kasar didepan Caca, mana ada anak umur 5 tahun tau kata jal*ng, mana ada..!” teriak Iis sambil melepaskan pelukkan Juan dan berjalan kearah Lex dengan tatapan kesal.


“Bangun, jangan diem aja. Takut lo ? BANGUNNN...! Gue ngak butuh bekingan keluarga Wijaya kalau cuman buat masukin laki-laki curut kaya lo ke bui..!” teriak Iis sambil menarik tangan Lex kasar, berusaha membangunkan Lex dari duduknya.


Lex gentar melihat seorang wanita bertubuh ramping memarahinya habis-habisan. Lebih parahnya lagi wanita ini menolak pertolongan dari keluarga Wijaya. Siapa wanita ini ?


“Apa..? Takut ‘kan lo..! Sarah jangan nangis, kamu naik banding, biar aku jadi saksinya. Jangan nangis....!!!!!” bentak Iis sambil melihat Sarah yang sudah mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Lex langsung berdiri dan berjalan keluar saat melewati Sarah, Lex berbisik “Awas...”


“Ngak usah banyak ngomong, pergi kamu tunggu kami dipengadilan..!” ujar Iis sambil mendorong Lex geram.


Lex langsung angkat kaki dari sana, Lex tidak menyangka di dalam keluarga Wijaya ada seorang perempuan penuh angkara murka seperti Iis.


Iis menatap Sarah kemudian memeluknya, lalu membawa Sarah kekamarnya. “Udah ngak usah nangis, air mata kamu terlalu berharga buat laki-laki brengsek kaya Lex..!”.


Setelah Iis dan Sarah berlalu, semua orang disana hanya bisa terdiam. Kaget adalah kata yang tepat untuk melukiskan perasaan mereka saat ini.


“Your fiance totally badass...!!” ujar Om Dion sambil menepuk punggung Juan, Om Dion langsung mengajak Istrinya untuk menuju kamar tidurnya.


“Pih, Sarah..” ujar Sian sambil menatap kamar anak gadisnya.


“Udah, Sarah udah sama tunangannya Juan, percaya sama Papih, tunangan Juan itu bisa handle Sarah, udah mending kita kekamar,” ujar Om Dion sambil menarik istrinya kekamar mereka.


“Juan... itu tunangan kamu ?” tanya Nenek bingung kenapa Dion bilang kalau Iis tunangan Juan.

__ADS_1


“Bukan.”


“Iya.”


Juan dan Papih Kevin berkata bersamaan, Juan langsung menatap Papih Kevin dengan kesal. “Dia tunangan aku Nek, namanya Lizbet Sandia. Juan maunya nikah sama dia dengan atau tanpa restu Nenek dan Papih,” ujar Juan sambil menatap Neneknya.


“Jangan didenger, Mah. Juan ngak mungkin nikah sama perempuan barbar kaya gitu, udahlah Mah dia itu cuman main-main aja....”


“Kata siapa Nenek ngak kasih restu ? Malah Nenek seneng, kamu mau nikah sama Iis, Iis itu baik..” ujar Nenek sambil tersenyum pada Juan dan mengacungkan jempolnya.


“APAAAA... ? Mamah ngak salah ngomong ? DIA BARBAR Mah, Mamah ngak liat tadi ?” tanya Papih Kevin kesal.


“Tapi, karena dia, sekarang kita terbebas dari tungau bernama Lex Iskandar,” ujar Nenek tenang sambil berjalan melewati Juan, Papih Kevin dan Mamih Liliana.


“Mah, apa bagusnya Iis sih ?” tanya Papih Kevin bingung.


Nenek Lia menghentikan langkahnya kemudian menatap Kevin anak pertamanya. “Kelebihannya, Dia ada saat Nenek butuh teman, Dia ada menemani Nenek tanpa pamrih, dia menolak habis-habisan dijodohkan dengan Dimas yang jelas-jelas lebih ganteng dari si semprul itu,” ujar Nenek sambil menunjuk Juan yang sedang tersenyum.


“Dia juga mau mendengarkan semua cerita Nenek, mengurus Nenek. Tanpa pamrih..! Beberapa kali Nenek coba bujuk dia menggunakan Uang, Iis menolak terang-terangan. Dia gadis baik, Kevin. Harusnya kamu bersyukur Iis mau sama anak kamu yang kelakuannya begajulan,” ujar Nenek, Juan yang mendengarkan perkataan Nenek hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tapi...”


“Kevin, dimana kamu saat Mamah butuh ? Dimana ? Kamu sibuk dengan urusanmu sendiri, sedang Iis dengan senang hati mau meluangkan waktunya,” ujar Nenek Lia.


“Mah..”


“Pokoknya Nenek kasih restu buat kamu Juan, lebih cepat lebih baik. Walau Nenek tau ngak bisa gendong cucu dari kamu. Tapi, setidaknya kamu dapet perempuan yang baik..!” ujar Nenek Lia sambil pergi meninggalkan Juan, Dimas, Papih Kevin dan Mamih Liliana diruangan itu.


•••


Udah tuh udah...


udah dapet restu.. nikah tuh yeh..


masih butuh adegan Nenek ulang tahun ? Beneran mau liat Nenek-Nenek tiup lilin ??? 🤣🤣🤣


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2