Water Teapot

Water Teapot
S2 : Kuat dan tahan lama


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


"Mas..." ujar Iis kaget takut Juan mendengar pembicaraan Abah dan Iis. Demi apapun lebih baik Iis berubah jadi siluman semut daripada Juan tau kalau Ayahnya punya hutang.


"Kenapa, Juan ? Ngiri aja, Abah lagi asik-asik ini sama Iis, udah sana jangan ganggu. Abah lagi mengenang masa lalu...!" kekeh Abah sambil mengelus kepala Iis makin mesra membuat Juan membulatkan matanya.


'Hadeuh dasar tua bangka, Mamih ngak dapet, eh pacar aku diambil,' batin Juan kesal.


"Ngak bisa Bah, Abah harus inget umur. Umur Abah berapa, ngak cocok sama Iis," ujar Juan sambil duduk diantara Abah dan Iis.


"Eh, dodol umur kamu juga jauh ama Iis, inget umur kamu 38 tahun bentar lagi 39 tahun, udah tua. Udah mau kadaluarsa..!" ujar Abah sambi menarik tangan Iis.


"Eh.. Abah 38 tahun juga badan aku masih kaya umur 30 tahun, masih kuat dan tahan lama. Kalau ngak percaya tanya Iis, kuat dan tahan lama pokoknya...!"


Abah langsung membulatkan matanya, kemudian mengambil koran entah dari mana, "Dasar dodol...!!! Mesum maneh (kamu) yah, ngapain aja kamu sama Iis, nikah juga belum, main kuat dan tahan lama aja... semen kamu teh, HAH...!!!!" teriak Abah sambil terus menyambitkan korannya ke badan Juan.


Juan yang kaget mendapatkan sabetan koran Abah hanya bisa menjerit keras, "Aduhhh... astaga... Abah sakit, Bah. Sakittt..."


"Awas yah kamu kalau ngak tanggung jawab sama Iis, ABAH KEJAR KAMU SAMPAI KE DASAR NERAKA....!!!!" bentak Abah ngamuk sambil terus memukuli Juan dengan ganasnya.


Iis yang masih kaget langsung menarik Juan kepelukkannya kemudian melindungi badan Juan dengan badannya sehingga sambitkan Abah mengenai badan Iis ,"Aduhhh..."


"ABAH..." teriak Taca sambil berlari kearah Abah yang masih menyambit badan Juan yang dipeluk Iis.


"Awas Iis, ieu si dodol kudu disambit make koran, awas kamu ngak tanggung jawab..!!!"


"Aw..awwww..." teriak Iis dan Juan bersamaan, tatapan mata Iis dan Juan beradu saat Abah dengan liarnya memukuli mereka berdua, Iis tersenyum pada Juan.


"Kamu, sih... Abah galak tau," bisik Iis sambil tertawa geli karena melihat Juan yang kelimpungan dipukuli Abah.


"Hahaa.. biarin seru," jawab Juan sambil tersenyum pada Iis.


"Abah udah, ihhh... Aa, Akang, Adipatiiiii ini gimana kenapa Abah tiba-tiba nyambit Juan sama Iis..!!" teriak Taca panik.


Adipati langsung menarik Abah yang masih bersemangat menyambit Juan dengan korannya. "Abah kenapa Juan disambit, anak orang Bah..." ujar Adipati bingung, mertuanya ini kenapa tiba-tiba nyambit Juan.


Aa Riki membantu Iis untuk berdiri, sedangkan Kang Rozak membantu Juan.


"Kamu ngomong apa, Juan ?" tanya Kang Rozak. "Iis tuh walau bukan anak Abah, dia itu anak kesayangan Abah setelah Taca dan almarhum Tasya, dulu aku kena sambit 3 hari gara-gara mutusin Iis."


Juan langsung terkekeh mendengar penjelasan Kang Rozak, "Cuman..."


"Cuman apa, anak Abah kamu apaiin hah ? Kuat dan tahan lama segala, Iis kamu ngapain aja sama si dodol ?" tanya Abah.

__ADS_1


"Ngak ngapa-ngapain Abah, Iis mah masih segel, beneran, Iis takut disambit Abah...!" ujar Iis sambil mengusap lengannya yang terkena sambitan Abah.


"Bener...?"


"Bener Abah, ngak bohong," ujar Iis


"Tapi, Iis tau kok aku kuat dan tahan lama, 'kan Abah tau sendiri, banyak jalan menuju roma buat..."


"HIAAAAAATTTTT.....!!!!!" Abah langsung melancarkan aksi sambitan mautnya pada Juan, setelah mendengar perkataan Juan.


"Aduh.. Abah... sakit... ampunnnn...!!!" teriak Juan kaget dengan serangan tiba-tiba Abah.


"Astaga Abah udah," teriak Iis sambil berlari kearah Abah.


"Abah stopp, anak orang Abah...!" jerit Taca yang ikut panik.


Adipati, Kang Rozak dan Aa Riki hanya bisa tertawa melihat Juan yang habis disambit koran legend Abah.


•••


"Abah, Juan anak orang, jangan main sambit aja," ujar Taca kesal saat makan malam di meja makan bersama-sama.


"Abis, si dodol bilang kuat dan tahan lama emang semen tiga roda ?" ujar Abah kesal sambil menyuapkan nasinya.


Juan hanya bisa menahan senyumnya, entah kenapa Juan bukannya merasa sedih atau marah, dia malah merasa senang disambit Abah, entah kenapa ada rada hangat di hatinya mengetahui ada yang peduli pada dirinya.


"Massss," potong Iis gemas dengan ke keras kepalaan Juan.


"Tuh kan..." ujar Abah sambil mengeluarkan korannya.


"Abahhhh...!!!" ujara Taca kesal.


"Udah, makan deh ah. Ribut mulu," ujar Aa Riki sambil menyuapkan makanannya.


Akhirnya mereka makan dengan tenang sambil sesekali bercanda tentang kegiatan mereka sehari-hari.


"Aa, Aa jadi nyewa apartemen Iis ?" tanya Iis.


"Oh, jadi kapan bisa Aa tempatin ?" tanya Aa Riki sambil tersenyum pada Iis.


"Hmm... Iis beresin dulu atuh yah, palingan 2mingguan lagi ngak papa ?" tanya Iis pada Aa Riki.


"Oke, ngak papa, Aa juga mau pulang mau nganterin ini Aki-aki satu," ujar Aa Riki sambil menunjuk Abah.


"Enak aja Aki-aki, Abah Boss tau..."


"Idih, masa Abah Boss susah amat manggilnya, nanti Anak Taca belibet manggilnya," ujar Taca bingung dengan pikiran Abah.

__ADS_1


"Eh biar keren, anti mainescreammm..."


"Hah...???"


Taca, Adipati, Juan, Iis, Kang Rozak dan Aa Riki kebingungan dengan perkataan Abah. Apapula anti mainescream.


"Itu loh, anti mainstream," ujar Abah dingin.


"Hadeuh Abah," ujar Iis gemas, Aki-aki satu ini memang harus di masukkan ke museum saking langkanya.


"Kamu, kamu kapan mau nikahin Iis, kalau ngak ada cita-cita nikahin Iis, mending tinggalin Iis. Biar Iis cari yang mau nikahin dia," ujar Abah sambil menunjuk Juan dengan korannya.


"Segara, Abah. Tapi aku harus ngenalin Iis ke Papih, Mamih sama Nenek aku dulu," ujar Juan sambil tersenyum pada Iis.


"Emang ngak bisa segera yah ?" tanya Abah bingung sesibuk apa sih keluarga Juan.


"Nanti lagi dijadwalin sama Saka dan Tian, biar mereka yang pusing mikirin Jadwalnya," ujar Juan sambil mengelus paha Iis dibawah meja makan.


"Siapa Saka sama Tian ?" tanya Aa Riki bingung, hubungannya apa jadwal Juan dan Papihnya dengan Saka dan Tian.


"Oh, mereka itu sekertaris aku sama Papih. Saka sekertaris aku, sedang Tian sekertaris Papih. Papih sibuk, jadi kalau mau ketemu harus bikin janji dulu, keitung jarilah aku ketemu sama Papih setahun berapa kali. Kalau sama Mamih masih sering," ujar Juan.


Abah yang mendengarkan perkataan Juan hanya bisa menghela napas, keluarga macam apa yang hidupnya seperti Juan, mau ketemu aja susah. Melihat air muka Juan yang sedih, pikiran jahil Abah tiba-tiba muncul.


"Juan, minta nomer handphone Mamih dong,"


"Hah, buat apaan, Bah.." tanya Juan bingung.


"Buat ngajak kencanlah, mau abah ajak kencan sambil liat bulan terus makan odading di sawah Abah," ujar Abah sambil mengedipkan sebelah matanya pada Juan.


"Astaga, Abahhh.... udah atuh ih, usaaaahhhhaaaa mulu..!" ujar Taca sambil memukul Abah kesal.


"Aduh, Neng namanya juga usaha ih..!" ujar Abah sambil tersenyum pada Juan yang dibalas dengan tatapan 'aku ngak mau punya Papih baru' dari Juan.


Tawa di meja makan itu kembali terdengar, suasana ceria dan hangat yang dibuat Abah benar-benar membuat hangat hati Juan dan Iis. Membuat Juan dan Iis sadar apa arti keluarga.


•••


Harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi... *kaka gallon dikeplak pembaca yang sakit kupingnya gara-gara denger kaka gallon nyanyi.


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2