Water Teapot

Water Teapot
S2: Dokter Gabriel 2


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Gawat...” desis Iis sambil menatap bola mata Dokter Gabriel yang coklat pekat.


Suster langsung membantu Iis untuk mengambilkan handphoennya yang terjatuh di lantai. “Bu Lizbet kenapa?”


“Dokternya, laki-laki?” biski Iis pelan.


“Ah, saya lupa kasih tau, yah. Dokter Gabriel itu laki-laki. Maaf yah, saya lupa kasih tau,” ujar Suster itu sambil tersenyum.


Masalahnya, bukan hanya karena Dokter Gabriel itu seorang laki-laki. Tapi, Dokter dihadapannya lebih cocok dijadikan seorang model majalah. Astaga, mata Iis benar-benar tidak bisa diperintahkan untuk tidak menatap lebih lama lagi mata Dokter Gabriel. Jantung Iis hampir copot saat Dokter Gabriel tersenyum pada dirinya. Rasanya Iis ingin berteriak, ANDA DOKTER ATAU MALAIKAT?!


Dokter Gabriel tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk bersalam dengan Iis. Iis hanya bisa terpaku sambil menatap Dokter Gabriel.


“Mrs. Wijaya, haloo...” panggil Dokter Gabriel sambil melambaikan tangannya di depan wajah Iis yang masih terpesona melihat Dokter Gabriel dihadapannya.


“Bu Lizbet,” panggil Suster disamping Iis.


“Hah... iya gimana?” tanya Iis berusaha untuk mengembalikan kewarasannya. Dokter didepannya bahkan lebih tampan dan gagah daripada Adipati. Astaga, bagaimana kalau Juan tau dokter kandungannya laki-laki dan bentukkannya seperti malaikat didepannya.


Dokter Gabriel tersenyum kemudian duduk dihadapan Iis. “Jadi bagaimana, Bu. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Gabriel lagi.


“Ah, itu. Saya mau melakukan inseminasi buatan, Dok. Semuanya, sudah di beritahukan oleh Dokter Tanto pada Dokter Rindu,” jawab Iis cepat. Iis benar-benar berjuang untuk mengembalikan pikirannya kepada dirinya saat ini.


“Ah... anda istrinya Pak Juan Wijaya?”


“Iya, saya istrinya Mas Juan,” jawab Iis sambil menepuk dadanya pelan.


“Iya, iya saya diberitahukan akan ada pasien yang akan melakukan inseminasi buatan. Baiklah, jadi mau saya periksa sekarang?” tanya Dokter Gabriel.


“Sekarang?” tanya Iis kebingungan.


“Iya, atau mau tanya-tanya dulu? Bebas, Mrs. Wijaya,” ujar Dokter Gabriel sambil tersenyum manis. Tinggal di San Paolo membuat Dokter Gabriel akan memanggil siapapun dengan menggunakan nama belakanganya atau nama keluarganya.


Iis memutar otaknya, sebenarnya bukan tanpa alasan dirinya dan Taca datang ke Dokter Rindu. Selain, merasa nyaman bersama dokter wanita, Iis meminimalisir rasa cemburu Juan yang ada di atas rata-rata. Sedangkan, Taca dia mana mau dipegang laki-laki selain Adipati, bisa histeris ditempat yang ada.


“Gini Dok, aduh saya bingung ngejelasinnya. Gini loh, saya...”


“Iya gimana, Mam?” tanya Dokter Gabriel.


“Saya... astaga saya bingung jelasinnya,” ujar Iis kebingungan.


“Ibu kurang nyaman karena saya laki-laki?” tanya Dokter Gabriel sambil tersenyum manis.


Makjan, ini waktu bikinnya orang tua Dokter Gabriel makan apaan sih? Ini anaknya kok bisa bentukkannya kaya gini? Minta resepnya tolong..!?


“Iya,” jawab Iis akhirnya, sudah tidak ada gunanya berbohong sama sekali. Lebih baik dia jujur dan kabur dari sana secepat dan sekilat mungkin. Menyelamatkan dirinya dari jerat senyuman manis Dokter Gabriel dihadapannya.


“Ah, kalau begitu saya tidak bisa memaksa, mungkin lebih baik dibicarakan dengan Mr. Wijaya.”


“Iya, nanti saya tanya suami saya dulu,” jawab Iis lagi sambil mencengkram tas milinya dengan erat.


Klik...


“Maaf saya telat,” ujar Juan sambil membuka pintunya. Matanya terpaku pada Iis yang menatap dirinya sambil tersenyum.


“Hola Mr. Wijaya, silahkan duduk,” ujar Dokter Gabriel sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Iis.

__ADS_1


Juan membulatkan matanya saat melihat sosok yang mempersilahkan dirinya duduk. Sebentar, kenapa ada bule nyasar kesini dan kenapa bule ini ganteng banget?! Jiwa cemburu Juan meronta sampai ke titik tertingginya.


Juan langsung berjalan mendekati kursi disamping Iis yang sedang menatapnya. “Kamu udah diperiksa?” tanya Juan. Jantungnya berdetak kencang, rasanya Juan bakal salto ditempat bila seandainya istrinya sudah di periksa oleh dokter itu. Bisa-bisa meja dihadapannya terbang ke luar ruangan.


“Belum, Mas. Aku nunggu Mas,” jawab Iis jujur.


Tiba-tiba beban di pundak Juan terlepas saat mendengar perkataan Iis. Napas Juan kembali normal, dengan tenang dia menjabat tangan Dokter Gabriel dan duduk disamping Iis.


“Halo Mr. Wijaya, saya Dokter Gabriel. Saya yang akan menangani proses inseminasi buatan pada Mrs. Wijaya,” Dokter Gabriel memperkenalkan dirinya pada Juan. Dokter Gabriel berusaha untuk memberikan kenyamanan pada Juan dan Iis. Sebenarnya, wajah Dokter Gabriel yang diatas rata-rata benar-benar menyulitkan Dokter Gabriel untuk melakukan tugasnya sebagai Dokter. Karena, banyak para suami yang merasa keberatan bila Dokter Gabriel memeriksa Istri-istri mereka.


“Ah iya, untuk itu. Saya bisa ngobrol sama istri saya dulu?” tanya Juan sambil berdiri dan menarik tangan Iis untuk kelur dari ruangan pemeriksaan, tanpa menunggu persetujuan dari Dokter Gabriel.


•••


“Saka, kamu cari tentang Dokter Gabriel Prados, Dokter yang bekerja di rumah sakit San Paolo. Sekarang, saya kasih kamu waktu 10 menit,” perintah Juan melalui telepon.


“Hah? Bapak nggak salah? 10 menit? Pak ini masalah Pak Dimas aja saya belum beres, Pak,” rengek Saka, Saka benar-benar berjuang keras untuk tidak meledak saat itu juga. Bossnya benar-benar membuat Saka hampir meminum obat racun serangga.


“Nggak salah, cepet. Nggak mau tau, udah biarin dulu kerjaan si Dimas itu, salah sendiri dia beli perusahaan nggak jelas,” ujar Juan sambil menggenggam tangan Iis di saku longcoat miliknya.


“Pak...”


“Nggak ada tapi, saya tunggu Saka..!” perintah Juan sambil menutup sambungan telepon dari Saka.


“Mas, kita cari Dokter lain aja yah,” usul Iis, mending dia cari dokter lain daripada harus berurusan dengan Juan yang ngamuk atau cemburu.


Juan diam tidak berusara sama sekali, tangannya meremas-remas tangan Iis.


“Mas... hei,” panggil Iis berusaha menyadarkan Juan.


“Bentar, ini masalahnya Mas lagi menetralisir hati dan pikiran. Untung tadi kamu belum diperiksa, kalau udah diperiksa auto aku lempar itu meja didalam ruang praktek,” cerocos Juan sambil emmatap Iis.


“Tapi, ganteng yah Mas, dokternya,” ucap Iis sambil mengerling nakal pada Juan.


“Pasti Dokter Gabriel lah, Mas mah, Jauh....”


“Mulut nih yah, aku operasi plastik ajalah ke Korea, biar jadi Oppa-Oppa korea. Biar jadi siapa itu artis korea tuh, Lee Lee... siapa sih,” ujar Juan sambil mengetuk-ngetuk dahinya.


“Lee ming ho,” jawan Iis sambil tertawa renyah.


“Nah itu, biar jadi Oppa-Oppa aja,” ujar Juan kesal.


“Hahahaa... ya boleh. Tapi, maaf Mas, tipe aku yang kaya Mas....”


“Masa? Katanya gantengan Gabriel sama Adipati,” ujar Juan.


“Iya sih gantengan mereka. Tapi, mereka kurang satu hal terpenting,” ujar Iis sambil mengigit pinggir jari telunjuk tangan kanannya.


“Apa?” tanya Juan penasaran.


“Mereka kurang jompo, Mas...”


“Hah...!?”


“Iya, Aku sukanya yang jompo dan sepuh kaya, Mas. Lebih greget gitu,” canda Iis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berjuang untuk tidak meledakkan tawanya, karena melihat ekspress Juan.


“Maksudnya? Astaga jadi kamu suka Om-Om?” tanya Juan sambil menatap Iis tidak percaya.


Tawa Iis akhirnya meledak saat saat melihat Juan yang kaget dengan perkataannya. “Astaga Mas, kalau aku nggak sukanya sama yang jompo nggak mungkin aku nikahnya sama kamu,” kekeh Iis.


Juan langsung merangkul Iis kemudian mengacak-ngacak rambut Iis dengan cepat. Membuat Iis terus tertawa sambil menahan serangan tangan Juan.

__ADS_1


“Kamu, tuh. Bilang lebih matang bisa ‘kan. Demen banget bilang Mas Jompo,” ucap Juan sambil terus mengusap-ngusap rambut Iis kesal.


“Lebih enak bilang jompo daripada mateng, Mas,” canda Iis.


Zreeettt... Zreeeettt....


Juan melepaskan pelukkannya dari Iis. Iis langsung membenarkan rambutnya saat terlepas dari Juan.


“Iya Saka,” ujar Juan saat mengangkat teleponnya.


“Pak, saya udah dapet tentang Dokter Gabriel Prados. Dia adalah Dokter dengan tingkat keberhasilan melakukan inseminasi buatannya sampai 80% atau keberhasilannya sangat tinggi, Pak. Banyak pasangan yang ingin melakukan inseminasi atau program bayi tabung dengan Dokter Gabriel. Dia high recommended (direkomendasi tinggi) untuk Dokter spesialis Inseminasi dan Bayi tabung di Eropa,” terang Saka, Saka saat ini sedang membaca jurnal kedokteran.


Mendengar penjelasan Saka, sepertinya dia harus membuang perasaan cemburunya jauh-jauh ke pusat bumi. Kalau tingkat keberhasilannya sebesar itu, kenapa nggak, Iis melakukan inseminasi buatan oleh Dokter Gabriel.


“Oke, Makasih Saka,” ujar Juan sambil menutup sambungan teleponnya.


“Gimana, Mas?” tanya Iis.


Juan menatap Iis, “Yang, kalau aku nggak berkeberatan kamu ngelakuin inseminasi buatan sama Dokter Gabriel, kamu mau?” tanya Juan sambil menatap Iis.


Iis langsung mengurutkan keningnya, tumben-tumbennya suaminya tidak cemburu tingkat kecematan. “Kok kamu ijinin?”


Juan tersenyum masam, “Tingkat keberhasilan Dokter Gabriel benar-benar tinggi, Yang.”


Iis langsung menatap Juan, “Aku mau, tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Kamu jangan cemburu,” Iis memperingatkan Juan. “Aku nggak mau saat ngelakuin pemeriksaan dan lain-lain kamu ngamuk-ngamuk nggak jelas,”ujar Iis.


“Oke aku janji, asal Dokternya nggak aneh-aneh, aku nggak bakal cemburu,” ujar Juan. Juan akan berjuang untuk tidak cemburu sama sekali.


“Janji?”


“Janji, Yang...”


“Oke, aku mau,” ujar Iis sambil tersenyum pada Juan.


“Oke, moga semua usaha ini ada hasilnya,” ujar Juan sambil memeluk Iis.


•••


Yeahh... jangan cemburuan yah Mas Juan. Nggak usahlah baku hantam. Itu dokter juga sukanya sama Kaka Gallon kok bukan sama Iis *ngarep.


Nggak bakal ada adegan baku hantam, hahahaa...


Penasaran ini tuh betapa mahadayanya Dokter Gabriel? Yakin mau liat? Nggak bakal sawan kan? Janji?


Oke nih Kak Gallon kasih, Ini Visualnya Dokter asli yah, emang dia seorang Dokter di San Paolo. Dan termasuk 5 dokter tertampan di dunia.


So this is it...




Dan nama dokternya, Dokter Gabriel 🤣🤣🤣🤣. Nggak usah dicari nanti pusing kepala 🤣🤣🤣.


Dokter asli, Dokter Neurologi (Dokter khusus yang mengobati sistem saraf.)


Maaf yah peran ilalang di novel Kaka Gallon kagak ada yang biasa. Bahkan kadang pemeran utamanya kalah gantengnya, hahahaaa....

__ADS_1


Ciaoooo...


__ADS_2