Water Teapot

Water Teapot
S2: Penyelesaian masalah..


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Seharian itu Iis benar-benar kewalahan mengurus segala-galanya. Mulai dari Ayahnya, rumahnya yang kembali berantakan, pertanyaan Pak RW, Pak RT, tetangga, Rina yang selalu datang dengan kekepoannya, Bernard yang seperti anak stress karena melihat ibunya ditangkap polisi, dan segala hal yang hampir membuat kepalanya pecah. Untungnya Juan tampak anteng dan memaklumi kalau istrinya sedang sibuk.


“Mas, udah makan?”tanya Iis akhirnya setelah dari pagi sampai jam 10 malam tidak menegur suaminya sama sekali.


“Udah Sayang, aku udah makan. Sini mau ini?”panggil Juan sambil menyodorkan sekotak coklat merk ferrero rocher yang dibawa Juan dari Jakarta.


Iis mengelengkan kepalanya dia lebih butuh pelukkan suaminya daripada coklat. “Mau peluk...”ujar Iis manja sambil merentangkan tangannya.


“Hahaa...ya udah sini, Sayang,”pangil Juan sambil memeluk Istrinya yang sudah duduk dipangkuannya dengan erat dan tak lupa mengecup pucuk kepala Iis.


“Capek Mas,”ujar Iis sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Juan.


“Sabar, mau gimana lagi.”


“Maaf yah, Ibu tiri aku otaknya rada nggak bener, jadi bikin semua orang ribet,”ujar Iis.


“Nggak papa, aku udah tau kok sebelum nikah sama kamu juga, jadi ngak kaget,”jawab Juan santai sambil membuka bungkus coklat.


“Aku capek Mas, aku capek hidup aku begini-begini mulu. Aku tuh ingin hidup bahagia ngak ada pikiran apa-apa, sesimple itu,”ujar Iis sambil menatap Juan yang sedang memakan coklatnya.


“Mas kayanya hidup kamu bahagia-bahagia aja, nggak ada beban gitu,”ujar Iis sambil mengelus pipi Juan.


“Hidup aku udah bahagia lah, punya Istri kaya kamu aja udah bikin aku bahagia. Makanya banyak-banyakkin makan coklat,”ujar Juan sambil menyuapkan satu butir coklat ke mulut Iis.


“Ehmm...” Iis yang kaget disuapin coklat hanya bisa tersenyum.


“Udah biarin Bunda di penjara. Biar dia rasain semuanya, besok paling kita tengokkin Bunda deh sama Ayah. Nah ajak juga tuh sikunyuk Bernard,”ujar Juan sambil menunjuk Bernard yang sembunyi dibelakang kulkas.


Iis yang kaget langsung melihat Bernard yang sedang sembunyi dibelakang kulkas. “Ngapain kamu disana, sini.”


Bernard dengan takut-takut keluar dari persembunyiannya, Bernard anak laki-laki berumur 12tahun ini ketakutan saat akan kembali ke kamarnya dan menemukan Kakaknya.


“Sini, ngapain kamu disana,”panggil Iis sambil mengerakkan tangannya memanggil Bernard. Semenjak mengetahui Bernard bukan anak Ayahnya, entah kenapa Iis merasa makin kasian dengan Bernard.


Bernard masih diam dan menatap wajah Juan dengan takut-takut. Tatapan Juan benar-benar membuat Bernard ketar ketir.


“Sini, mau coklat nggak?”tanya Iis lagi.


“Mau Teh..”Cicit Bernard.


“Ya udah sini, cepet nanti diabisin Mas Juan,”ujar Iis sambil turun dari pangkuan Juan dan duduk disamping Juan.


Bernard pun akhirnya berjalan mendekati Juan dan Iis. Kemudian, duduk di depan Iis dan Juan sambil mengambil sebuah coklat dan memakannya.


“Enak..”

__ADS_1


“Enak yah, hehehe...”ujar Iis sambil memberikan lagi satu lagi coklat.


“Iya, makasih Teh,”ujar Bernard.


Sedang asik memakan coklatnya tiba-tiba Juan mengajukan pertanyaan yang membuat Bernard kaget.


“Kamu mau pesantren ngak?”tanya Juan.


“Hah...”


“Mas..”ujar Iis tiba-tiba.


“Iyah kamu tau kan Ibu kamu kelakuannya kaya apa. Saya disini nggak ada maksud untuk buang kamu. Saya kasih kamu dua pilihan. Ikut saya dan Iis ke Jakarta, sekolah disana. Anggap kami berdua Ayah dan Ibu kamu, atau pergi ke Bandung dan pesantren disana, tapi tetap anggap kami berdua Ayah dan Ibu kamu,”ujar Juan.


Bernard bungkam, apa yang dikatakan Juan benar. Bernard bukan anak bodoh, disekolahnya dia habis-habisan di bully oleh teman-teman sekolahnya. Bernard sudah biasa melihat Bundanya bermain-main dengan Om-Om dipasar. Bundanya tidak pernah baik padanya, yang baik hanya Ayah dan kadang Teh Iis. Bahkan kalau mau jujur Ibu jauh lebih baik daripada Bunda.


“Mas, Bernard masih kecil mana bisa dia ambil keputusan. Bernard masih 12 tahun..!”ujar Iis kesal.


“Iya tau, tapi, sebentar lagi kamu harus masuk SMP ‘kan,”ujar Juan sambil menatap Bernard dan dijawab anggukan oleh Bernard.


“Kalau kamu mau, Mas bisa masukin kamu ke ECO Pesantren Daarul Tauhiid, semuanya Mas urus, kamu tinggal sekolah yang bener. Ngak usah mikirin apapun, apapun yang kamu butuhkan buat sekolah kamu bisa minta sama Teh Iis. Tapi...”


“Tapi apa, Mas?”tanya Bernard sambil menatap Juan takut-takut.


“Sekolah yang bener, ingat, sekali kamu bikin ulah, jangan harap saya nolong kamu lagi, ngerti..!”Juan berbicara setegas mungkin.


“Jadi Mas mau nyekolahin saya?”tanya Bernard dengan mata berbinar.


“Mas..”ujar Iis sambil mencubit kecil perut Juan, astaga Bernard masih kecil.


Bernard menganggukkan kepalanya dengan cepat, sebenarnya sekolah yang disebutkan oleh Juan adalah sekolah idamannya, brosur-brosur sekolah itu sering Bernard sembunyikan di balik buku-bukunya. Dia ingin seperti Aa Gym, itu cita-citanya. Tapi, Bunda selalu mengeluh bila Bernard menyinggung sekolah itu, kata Bunda sekolahnya kemahalan, nggak ada biaya dan lain-lain.


“Kamu mau sekolah disana ‘kan. Saya liat brosur-brosurnya kemarin.”


“Mas liat? Iya, saya ingin sekolah disana, saya ingin pesantren. Tapi, Bunda bilang itu mahal....”


“Makanya, saya sekolahin kamu. Tapi, janji satu hal. Jangan bikin onar, belajar yang bener, ngerti kamu Bernard Sandia ?”tanya Juan.


“Ngerti Mas, Bernard janji bakal sekolah yang bener. Bernard bakal banggain Teteh sama Mas,”jawab Bernard sambil menahan tangisnya.


“Bernard, nggak usah buat Teteh sama Mas Juan, mending lakuin itu semua buat diri kamu sendiri. Biar kamu bisa jadi orang atau seenggaknya kamu bisa hidup mandiri,”ujar Iis sambil menepuk punggung Bernard pelan.


“Makasih, Teh.. makasih dan maaf kalau Bernard nakal sama Teteh,”ujar Bernard sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.


“Iya, maafin Teteh juga yah, sekarang anggap Teteh sama Mas Juan orang tua kamu yah,”ujar Iis sambil memeluk Bernard, entah sejak kapan Iis tidak merasakan sesak lagi. Iis tidak merasa benci lagi pada Bernard, karena Iis tau Bernard tidak salah, yang salah Bunda...


•••


“Mas, kenapa kamu baik gitu sama Bernard?” tanya Iis sambil menatap Juan yang sedang mengetik di meja belajar kamarnya.


Juan membawa semua pekerjaan bersama dengan dirinya. Adipati bisa bertanduk bila dia tidak mengerjakan pekerjaannya. Juan menghantikkan ketikkannya kemudian membuka kacamatanya.

__ADS_1


“Kalau aku nggak nolongin Bernard, siapa yang mau nolongin dia? Keluarga Ibunya?”


Iis diam mendengar perkataan Juan.


“Ayah kamu nggak punya saudara, terus nanti kalau dia tau kalau dia anaknya Idad, emang mau keluarga Idad ngurus dia? Nggak bakalan, Yang. Dia bisa luntang lantung. Anak umur segitu luntang lantung mau jadi apa nantinya?”


“Nggak tau..”jawab Iis sambil tersenyum kecil pada Juan, ada rasa bangga didalam hatinya.


“Dia juga pintar kok, nilai-nilai sekolah dia bagus dan semangat dia belajar gede banget. Kalau nggak gede mana mungkin dia tetep mau sekolah walau hampir satu sekolah bully dia, gara-gara dia anak Bunda,” ujar Juan sambil menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Kamu tau dari mana?”


“Saka, Saka aku suruh nyelidikin semuanya tentang Bernard. Kalau seandainya Bernard bukan anak pintar dan mau belajar, mana mau aku ngomong kaya tadi,”ujar Juan.


“Terus kamu serius nyuruh dia anggap kita ayah sama ibunya?”tanya Iis.


“Iya, tapi tidak secara hukum. Ribet urusannya kalau secara hukum, keluarga aku bakal nentang. Apalagi Papih, sampe detik ini aja dia belum mau nerima kamu, Yang. Apa coba yang bakal dia lakuin kalau aku angkat Bernard jadi anak,”terang Juan.


“Mas...”


“Selain itu, kalau anak itu nggak aku bina dari sekarang dan kita anggap ngak ada, nanti dia udah gedenya bakal nyusahin kamu. Tapi, kalau kita arahin dari sekarang, kita didik dia biar bisa berdiri diatas kakinya sendiri pasti dia bakal baik-baik aja nantinya,”Juan beranjak dari duduknya kemudian mendekati Iis.


“Satu hal lagi, kamu tuh keliatannya cuek dan nggak peduli sama Bernard, padahal diotak kamu ini,”ucap Juan sambil menyentuh dahi Iis lembut, “kamu mikirin Bernard ‘kan?”


Tebakan Juan benar, Sejujurnya Iis sangat memikirkan Bernard. Dia takut kalau anak itu tidak ada pegangan dan malah ngelakuin hal-hal yang ngerugiin dirinya sendiri. Walau Bernard bukan anak Ayahnya tapi setidaknya Bernard sudah menjadi Adiknya selama 12 tahun.


“Iya...”


“Nah, daripada istri aku nanti uring-uringan ngurusin adiknya yang sebenarnya nggak ada hubungan darah sama sekali, mending dari awal aku antisipasi. Bernard bakal sekolah disana, biar Saka yang urus semuanya, disana uang sekolah, biaya makan, laundry, uang extrakulikuler bahkan jajannya pun sudah termasuk,”ujar Juan.


“Kamu tau dari mana?”tanya Iis kebingungan sejak kapan suaminya ini tau tentang hal-hal berbau pesantren SMP.


“Sa...”


“Saka? Astaga kamu harus naikkin gaji dia, kalau aku jadi Saka, aku bakalan minta gaji sebulan 20juta kayanya,”ujar Iis kagum dengan kelincahan dan kehebatan Saka.


“Gaji dia lebih, Yang,”kekeh Juan sambil memeluk Iis.


Iis tersenyum mendengarkan perkataan Juan, terserahlah dia mau gaji Saka berapa, asal sekertaris merangkap assisten pribadi Juan berjenis kelamin laki-laki Iis tidak akan ambil pusing.


•••


Masalahnya diberesini satu-satu yah....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2