Water Teapot

Water Teapot
S2: Masalah baru..


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Bu Iis,” ujar Saka.


“Loh, kamu ngapain disini ?” tanya Iis bingung saat menemukan Saka dikantornya.


Saka langsung tersenyum, “Saya di suruh pak Juan buat minta Kartu keluarga sama KTP Ibu Iis. Katanya, mau ngurus buat nikah, Bu.”


“Ah... bentar yah, saya ambil dulu,” ujar Iis sambil mengambil map dari dalam laci meja kerjanya.


“Ini.”


“Makasih, Bu. Moga lancar yah Bu, karena Pak Juan maksa saya buat nyelesaiin semuanya secepatnya,” ujar Saka sambil mengambil map dari tangan Iis.


“Iya, doain aja lancar yah Saka,” Iis meminta Saka untuk mendoakan kelancarannya pengurusan surat-suratnya.


“Siap, Bu. Doa terbaik buat Ibu sama Pak Juan. Selama Pak Juan ngak bikin kepala saya pusing dan merubah jadwal seenak-enaknya juga marah-marah, saya selalu mendukung...!?” ujar Saka sambil mengepalkan tangannya keudara.


Iis langsung tertawa melihat kelakuan Saka, Saka adalah orang yang sangat humoris, kadang Iis sering dibuat tertawa dengan kelakuannya.


“Iya, doain aja yah, makasih yah,” ujar Iis.


“Sama-sama Bu, saya permisi yah,” ujar Saka undur diri dari sana.


Setelah Saka pergi Iis langsung melanjutkan pekerjaannya kembali. Iis benar-benar merasa bahagia untuk saat ini, Iis tidak pernah tau akan adanya badai yang datang.


•••


Setelah pulang dari biro Iis mencoba menelepon Ayahnya, Iis ingin memberitahukan kalau besok dia akan bertemu dengan keluarga Juan dan kalau lancar Juan akan kerumah Iis di Citeko untuk menikahi Iis.


“Ayah, apa kabar ?” tanya Iis ceria, rasa bahagia benar-benar menyelimuti Iis saat ini.


“Uhukk baik,Is. kamu baik ?” tanya Ayah dengan nada suara yang terdengar sakit.


Iis tidak percaya dengan omongan Ayahnya, gimana caranya Ayahnya baik-baik saja tapi nada suaranya Ayahnya seperti yang sedang sakit parah. Jangan bilang Ayahnya stress karena kelakuan Bunda, si J*lang itu pasti bikin ulah..!


“Ayah, jujur sama Iis ada apa ?” tanya Iis sambil melihat kanan dan kirinya memastikan tidak ada Juan di sekitarnya.


“Ngak ada apa-apa, Iis. Emang Ayah udah tua ini, udah banyak penyakit,” Ayah bersikeras bahwa saat ini dia hanya sakit biasa.

__ADS_1


“Yah, jangan bohong lah sama Iis, awal akhirnya nanti Iis yang tanggung, udah cepet ada apa ? Itu si J*lang bikin perkara lagi ?” tanya Iis cepat, kepalanya langsung sakit, Iis langsung ingat kemarin Ayah pergi kerumah keluarga Bunda, pasti bikin perkara lagi.


“Ayah...!?”


“Hah... maaf Iis, maaf..”


Perasaan Iis langsung tidak enak, benerkan pasti ada masalah lagi, pasti masalahnya UANG...! Ngak akan jauh-jauh dari itu semua.


“Kenapa lagi, si J*lang itu pasti bikin hutang lagi, kalau bukan dia pasti keluarganya, ngakulah Yah, Iis udah capek,” ujar Iis.


“Iis, Ayah minta maaf, kayanya kostan ibu kamu harus Ayah jual.”


Brakkkk....


Kaki Iis seperti tidak bisa menopang tubuhnya, Iis ambruk dengan sukses. Kepalanya sakit, penglihatannya tiba-tiba kabur dan napasnya sesak, Iis terduduk di kasur milik Juan.


“Maksudnya gimana, Yah ?” tanya Iis sambil mencoba bernapas dengan baik.


“Bunda, Bunda punya hutang lagi ke renternir,” jawab Aya pelan, saking pelannya Iis harus benar-benar menekan kupingnya ke handphone miliknya.


“Berapa ?” Iis berusaha menelan salivanya, si j*lang sialan itu benar-benar membuat keluarga Iis hancur lebur, dasar lintah sialan...!?


“Bukan urusan kamu Iis, ini urusan Ayah, Ayah cuman minta izin kamu buat jual kostan Ibu...”


“Maaf Iis...” ujar Ayah sambil terisak, sebenarnya Ayah sangat berat mengatakan ini pada Iis, tapi Ayah sudah tidak punya apa-ap lagi, hartanya hanya tinggak sepetak sawah yang hasilnya untuk mereka makan, rumah, dan kostan milik almarhum istri pertamanya.


“Yah, hutang Bunda berapa ?” tanya Iis pasrah.


“Satu...”


“Satu apa, satu juta, satu rebu, satu...”


“Milyar,”


“DASARRRR U****....!?” Iis menjerit keras saking kesalnya, bodo amat Juan mendengar apa yang Iis omongin, Bodo amat, terserah lah terserah ...!?


“Maaf Iis.”


“Buat apa Yah, astaga. Kiriman Iis tiap bulan ngak cukup ? Iis udah sesak napas ini buat bayar hutang Bunda di koperasi, sekarang Bunda punya hutang lagi ? Astaga Ayah, Ayah ngak bisa tinggalin Bunda ?” pekik Iis kesal, saking kesalnya Iis melempar bantal disampingnya.


“Maaf, Abah ngak tau. Katanya Bunda minjemin uang ke sodaranya buat bisnis ternak lele, ternyata Bunda di tipu, Iis, ternak lele ngak jalan. Uang pun hilang,” ujar Ayah.


“Ternak lele 1 milyar, itu lele jenis apaan ? LELE TURUNAN SULTAN !?!” pekik Iis kesal.

__ADS_1


Sudah habis kesabaran Iis pada Ibu tirinya, seandainya Ayahnya tidak ada, sudah habis Bunda Iis cakar.


“Ayah ngak tau, ayah benar-benar harus jual kostan, Iis.”


“Nggak...! Iis ngak mau, jual yang lain, Iis ngak mau Yah, itu punya Ibu,” Isak Iis kesal.


“Atau minta bantuan Juan ?” tanya Ayah akhirnya, Ayahnya tau Juan orang yang berada. Kemarin saat Taca menikah Ayah terkesima dengan acara pernikahan Taca dan Adipati. Bunda apa lagi matanya bercahaya melihat mobil yang dipakai Juan dan Iis saat mengantar mereka di terminal.


“NGGAK...!? Jangan libatin Juan, awas aja kalau Ayah libatin Juan. Udah nanti Iis pikirin lagi,” ujar Iis kepalanya sakit.


“Ya udah, kamu nelepon Ayah ada apa, Iis ?” tanya Ayah.


“Hah... besok Iis mah ketemu Keluarga Juan, nanti kalau udah selesai semuanya, aku sama Juan mau kesana, mau minta restu Ayah buat nikah,” ujar Iis cepat.


Ayah terdiam mendengar perkataan Iis, akhirnya anak gadisnya akan menikah. Ayah bersyukur Iis menikah dengan pria mapan dan bertanggung jawab, mungkin sudah saatnya Iis berbahagia. “Iyah, Ayah restuin Iis, Juan pria baik,” ujar Ayah.


“Yah, jangan bilang Juan tentang hutang Bunda, dan jangan pernah kasih nomer telepon Juan ke Bunda. Pokoknya aku ngak mau Juan berhubungan dengan Bunda, ribet urusannya,” ujar Iis.


“Iya, Ayah janji. Udah yah. Ayah mau tidur kepala Ayah sakit,” ujar Ayah tiba-tiba.


“Iya, yah.. sampai ketemu di Citeko. Ayah kalau ada apa-apa hubungi Iis, itu hutang Bunda batas waktunya masih lama ‘kan ?” tanya Iis.


“Iya, masih lama.”


“Jangan bilang-bilang Juan Ayah, jangan pernah bilang-bilang Juan kalau Bunda punya hutang 1,6 milyar. Ngak ada hubungannya sama Juan. Ini masalah kita, Yah..” Iis mengingatkan Ayah sambil memutuskan sambungan telepon.


Iis melempar handphonenya kesembarang arah, kepalanya sakit. Iis butuh aspirin..!


Tiba-tiba Iis merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang, lalu Iis merasakan ada kepala yang menciumi telinganya, sambil berbisik.


“Siapa yang punya hutang 1,6 milyar, Yang ?”


•••


Nah loh...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2