
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Taca yang sedang asik memakan buah lemon sambil menonton serial Netflix The Girl From Nowhere, semenjak hamil Taca sering memakan lemon dan menonton serial misteri yang kadang membuat Adipati sakit kepala.
"Amore, ngak serem kamu liat yang kaya gini ?" tanya Adipati bingung melihat tontonan Taca.
"Ngak, seru loh ini," ujar Taca sambil memakan lemonnya dengan cara digigit seperti memakan apel, melihat hal tersebut Adipati langsung meringis.
"Amore, nanti kamu sakit perut makan lemon, itu lemon yang keberapa ?" tanya Adipati sambil mengusap lehernya.
Taca tidak menjawab, dia hanya mengacungkan tiga jarinya ke atas. Adipati langsung menahan napasnya. 'Astaga, ngak asem apa ?' batin Adipati.
"Pak, ada Pak Juan dan Iis," ujar Bi Yuli sambil menyimpan beberapa potong lemon dimeja.
"Suruh masuk."
Bi Yuli hanya menganggukkan kepalanya.
"Taca..." teriak Iis sambil duduk disebelah Taca yang sedang asik mengerogoti lemonnya.
"Astaga, Taca itu lemon ? Ngak asem..." ujar Iis bingung melihat Taca sedang memakan lemonnya.
"Ngak, enak loh Is, seger..." ujar Taca sambil tersenyum pada Iis.
"Kamu kalau mau minta Bi Yuli yah, ini mah punya aku," ujar Taca sambil memakan lemonnya.
"Ogah..." jawab Iis sambil berdiri kemudian duduk disebelah Juan yang juga meringis melihat Taca yang memakan lemon.
"Bini lo kenapa ? Kerasukan jin lemon ?" tanya Juan bingung.
"Hahahaa... dari kemaren dia makanin lemon mulu, gue juga pusing liatnya," ujar Adipati.
"Ngapain kalian kesini ?" tanya Taca sambil berbalik menatap Juan dan Iis sambil mengigit lemonnya lagi.
"Astaga, Mas. Ngilu..." ujar Iis sambil menyembunyikan kepalanya di bahu Juan.
"Enak loh, Is. Mau ngak ?" tawar Taca lagi pada Iis yang langsung dijawab gelengan kepala Iis.
__ADS_1
"Ta, kemarin aku ngobrol sama Radi, Radi minta dikasih waktu buat ngobrol sama kamu," ujar Iis sambil menatap Adipati takut-takut dari balik bahu Juan.
"Mau ngapain lagi ? Mau bikin aku berantem lagi sama Taca ? Mau apa lagi ?" tanya Adipati kesal sambil menyilangkan tangannya geram.
"Kata Radi ini permitaan terakhir dia, dia ngak bakal gangu kamu lagi Ta, Di... dia cuman minta ngobrol berdua sama Taca," ujar Iis sambil memeluk Juan dari belakang, Iis seram melihat Adipati.
Juan langsung menepuk lembut tangan Iis, Juan tau Iis ketakutan setengah mati dipelototi Adipati.
"Di, mending lo izinin deh, dia udah janji sama gue ini permintaan terakhirnya. Dia cuman mau ngobrol doang sama Taca, setelah ini dia ngak bakal ganggu lo lagi," ujar Juan sambil menggosok tangan Iis yang merangkul perutnya.
"Kagak...lo kalau tiba-tiba Rozak minta ngobrol berdua sama Iis, bakal lo izinin ?" tanya Adipati kesal sambil menatap Juan.
"Gue ngak bisa jawab, sorry. Tapi, percaya sama gue, kalau Radi masih macem-macem sama lo dan Taca setelah ini, gue bakal suruh orang buat deportasi dia dari Indonesia, gimana ?" tanya Juan pada Adipati.
"Emang bisa, Mas ?" tanya Iis bingung, emang gampang apa deportasi orang seenak jidat.
Juan hanya menatap Iis sambil tersenyum misterius, " Ada caranya,Yang."
"Ihh..." Iis hanya bisa membulatkan matanya mendengar jawaban Juan yang yakin akan perkataanya.
"Aku mau..." ujar Taca sambil mengelap tangannya dengan tissue basah yang sudah disediakan Bi Yuli di meja.
"Ngak..." ujar Adipati sambil menatap Taca.
Adipati diam, dia malas sebenarnya untuk mengizinkan Taca bertemu dengan Radi. Rasanya dia ingin menonjok Radi, harusnya setelah peristiwa lift si Radi itu Adipati bunuh.
"Kasih aku satu aja alesan yang masuk akal kenapa aku harus izinin kamu ketemu sama Radi, padahal dia udah jahat banget sama kita ?" tanya Adipati kesal sambil menatap lekat-lekat manik mata coklat milik Taca.
Taca terdiam kemudian menghela napasnya, "Janji ngak marah sama alasannya ?" tanya Taca sambil menatap Adipati lembut.
Iis langsung mengeratkan pelukkanya pada Juan, "Mas, kita keluar aja, yuk."
"Ngak papa, Yang," ujar Juan menenangkan Iis.
"Iya.." jawab Adipati penasaran.
Taca menatap Adipati sambil tersenyum, "Aku... aku... pernah jatuh cinta sama Radi, Di. Radi laki-laki pertama yang bisa ngetuk hati aku disaat aku masih trauma parah. Radi sabar dan baik. Dia tidak pernah menyentuh aku barang seujung kukupun."
"...."
"Dia hanya berani menarik kemeja, tas, map atau apapun yang menempel di badan aku. Dia baik. Aku sama dia ngak berpisah secara baik-baik, ego kita berdua sama-sama tinggi waktu itu. Aku juga penasaran kenapa dia ninggalin aku 2 tahun yang lalu. Aku mau tau alasannya."
__ADS_1
"......"
"Selain itu, aku ingin dia bahagia seperti aku sekarang. Sekarang aku udah bahagia banget sama kamu Di, aku cinta sama kamu, sayang sama kamu, dan aku ingin Radi nemuin perempuan baik untuk dirinya. Aku ingin Radi menemukan cintanya. Aku ingin Radi bahagia," ujar Taca sambil tersenyum pada Adipati.
"....."
"Jadi, aku mohon sama kamu, izinin aku ketemu Radi, izinin aku tau kenapa dia tiba-tiba pergi, dan yang terpenting izinin aku buat nyadarin Radi kalau dia bisa bahagia selain sama aku," ujar Taca sambil menatap Adipati dengan tatapan 'Aku cuman mau itu aja, ngak lebih'.
Adipati diam mendengat penjelasan panjang Taca. Kepalanya berpikir keras, dia sebenarnya ogah mengizinkan Taca bertemu lagi dengan Radi. Demi apapun dia sudah tidak suka dengan Radi semenjak peristiwa di Singapura.
"Ta.. kalau kamu mau dia bahagia ngak usahlah ketemu sama si Radi, biarin aja dia cari kebahagiannya sendiri," ujar Adipati kesal.
"Di, aku mohon sama kamu. Ini terakhir, aku janji kalau nanti Radi masih keras kepala, aku ngak bakal mau ketemu dia lagi. Aku ngak bakal peduli lagi sama dia, aku janji sama kamu, Di, please." ujar Taca sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Kamu masih cinta sama dia ?" tanya Adipati.
"Ngak Di, sekarang cinta aku buat bapaknya anak ini," ujar Taca sambil tersenyum jenaka dan menunjuk perutnya.
Adipati langsung tersenyum melihat kelakuan Taca. "Oke, terakhir tapi aku ikut, aku liat kamu dari jauh. Radi ngak boleh megang kamu, apapun yang terjadi..!" ujar Adipati sambil menatap Taca.
"Dan, kalian juga harus ikut, ngak mau tau," ujar Adipati sambil menunjuk Juan dan Iis yang langsung dijawab anggukan oleh Juan dan Iis.
"Makasih, Di," ujar Taca sambil berlari kepelukkan Adipati kemudian mencium bibir Adipati membuat Iis dan Juan kaget dengan kelakuan Taca yang tidak seperti biasanya.
"Astaga kalakuan...!!!!" teriak seseorang yang membawa koper.
Taca, Iis, Juan dan Adipati langsung menatap sumber suara dan langsung berteriak.
"ABAHHHHH...!"
•••
Siapa yang kangen Abah dan koran saktinya ? Hehehe...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon