Water Teapot

Water Teapot
Lupa


__ADS_3

Setelah berjibaku dengan barang-barang dan kardus-kardus yang ada akhirnya mereka berempat bisa makan dengan tenang di apartemen Adipati.


"Capek ya ampun, ngak mau deh pindah dua kali," ujar Taca sambil meminum air putih didepannya.


"Ya ngapain pindah lagi, kaya ngak ada kerjaan aja, " ujar Iis sambil memasak daging, seketika itu juga bau daging menyeruak ke sekeliling ruangan.


Taca dengan cepat dapat mencium bau daging yang menyengat langsung menyerngitkan hidungnya, rasa mual langsung Taca rasakan. Dengan cepat Taca berlari kekamar mandi melemparkan sumpit ditangannya.


"Amoreee...." teriak Adipati kebingungan kenapa Taca berlari.


Iis menatap Adipati, kemudian tersenyum senang. Feeling Iis mengatakan kalau Taca sedang isi. Senyumnya terus berkembang. "Adipati.... ah kamu keren..." teriak Iis sambil berlari kearah Adipati kemudian refleks memeluk Adipati.


"Eh... Yang, astaga Ayang...!!" teriak Juan cepat saat melihat Iis memeluk Adipati, dengan cepat Juan turun dari kursinya kemudian menarik badan Iis.


Adipati hanya bisa diam dipeluk Iis, wangi morinaga menguar dari tubuh Iis, membuat Adipati merapatkan area pribadinya. (Demi apapun Adipati lelaki normal yah, Iis juga ngak jelek hahahahaa *author)


"Yang, jangan centil...! Ngapain meluk-meluk Adipati ? Ngak cukup apa kamu meluk aku tiap malem. Enak aja meluk Adipati..." cerocos Juan sambil menarik Iis keruang tamu.


"Eh... maaf, Mas,"


"Maaf..maaf. Ngapain kamu meluk si Adipati, enak meluk aku kemana-mana, centil amat sih."


Adipati yang hanya bisa melihat pertengkaran Iis dan Juan sambil menahan tawanya. Adipati langsung teringat Taca, dengan cepat Adipati mencari Taca kekamar mandi.


Uweeekkkk....


Taca muntah hebat di atas closet kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya. Semua isi perutnya terkuras habis, kepalanya pusing hidungnya sakit karena tersedak muntahannya sendiri.


"Amore, are you ok ?" tanya Adipati sambil duduk disebelah Taca kemudian memegangi rambut Taca kebelakang tanpa ada rasa jijik sama sekali.


"Mual, Di. Kepala aku juga pusing,"ujar Taca sambil memencet tombol flush untuk membersihkan muntahannya.


"Aku kenapa, yah ?" tanya Taca sambil menyederkan kepalanya ke dada Adipati.


"Besok kita kedokter, yah. Sekarang kamu mau makan apa ?" tanya Adipati sambil mengelus rambut Taca lembut.


"Mau meluk kamu aja," ujar Taca sambil mengeratkan pelukkannya pada Adipati menekan tubuhnya kedada suaminya.


Adipati memeluk badan Taca erat sambil mengusap punggung Taca. Sambil sesekali mencium pucuk rambut Taca.


"Tadi Iis meluk aku sambil bilang aku hebat, aku ngak ngerti aku hebat kenapa," ujar Adipati bingung.


Taca langsung menatap manik mata kesayangannya. "Hah.... ngapain Iis meluk kamu ?"


"Ngak tau..."

__ADS_1


Taca kemudian berpikir keras ngak mungkin sahabatnya meluk orang tanpa alasan yang pasti. "Ya udah aku tanyain, lagi konslet kayanya otak Iis," canda Taca lagi.


•••


"Iis kenapa kamu meluk Adipati ?" tanya Taca bingung saat melihat Iis yang sedang mengerucutkan bibirnya di ruang tamu.


"Hadeuh, jangan juga kamu ngambek kaya si Mas. Aku ngak sengaja aku happy, kayanya kamu hamil, deh...!!" ujar Iis sambil memberikan tatapan jenaka pada Taca.


"Hah... kok bisa ?"


"Eh Maemunah, kamu 'kan saban hari di "makan" Adipati, sehari berapa kali di "makan" Adipati?" tanya Iis.


Sontak muka Taca memerah saat mendengar pertanyaan Iis, mengingat nafsu Adipati yang besar membuat Taca sering kewalahan.


"Jawab, Ih..."


"Ngak tau, kadang 2 kali, kadang 3 kali. Pokoknya gitu aja," jawab Taca sambil memilin bajunya.


"Edun, itu minum obat ?" tanya Iis sambil tertawa.


"Ihhh... kamu mah. Terus kalau aku hamil aku harus gimana ?" tanya Taca bingung.


"Astaga.. yah kedokter kandungan lah, emang mau ke bengkel ketok magic ?"


"Astaga Taca, ngapain marah. Kamu udah nikah juga yang ada Abah happy tau...!!!"


"Ehhh.... iya yah, aku udah nikah aku lupa. Hahahahaaa..." ujar Taca sambil memukul dahinya, Taca benar-benar lupa kalau dia sudah menikah dengan Adipati.


"Gini nih, kalau pas pacaran terlalu bebas, ampe udah nikah aja lupa hahahahaa.." canda Iis sambil mendorong bahu Taca.


"Hehehee... ya maaf, besok aku cek deh. Besok aku ke dokter sama Adipati. Doain aku beneran hamil, yah." ujar Taca sambil memeluk Iis.


"Arghh happy, jadi pengen cepet nikah. Terus aku hamil juga, nanti kita bisa playdate.... ahhh unyuuu...!"


Taca terdiam mendengarkan imajinasi Iis, ada rasa bersalah di dada Taca, Taca merutuki dirinya, janjinya pada Adipati untuk tidak memberi tahu Iis kalau Juan mandul membuat Taca membungkam mulutnya.


"Iya, Iis..."


"Argh... kesayangan aku," ujar Iis sambil memeluk Taca erat.


•••


"Mas, masih ngambek ?" tanya Iis sesaat sampai apartemen Juan.


"Ngak, tapi kamu ngapain meluk Adipati ?" tanya Juan bingung dengan kelakuan Iis yang tiba-tiba memeluk Adipati.

__ADS_1


"Hehehee... kayanya Taca hamil, Mas. Makanya aku refleks peluk Adipati, maaf yah Mas," ujar Iis sambil menepukkan tangganya di depan dadanya.


"Yakin..."


"Mudah-mudahan kita doain yang baik aja, besok katanya Taca bakal ke dokter kandungan buat periksa, Ah... aku ngak sabar punya ponakan, pasti anaknya lucu, Mas..." ujar Iis sambil meloncat-loncat bahagia kemudian mengalungkan tangannya keleher Juan.


"Seneng banget, emang penting banget yah, punya anak ?" tanya Juan pada Iis sambil memeluk Iis kemudian mengecup bibir Iis.


"Kamu ngak mau punya anak ?" tanya Iis bingung.


"Ngak..." jawab Juan pendek.


"Hah.... kenapa ?" tanya Iis makin bingung, air mukanya berubah sedih. Demi apapun Iis ingin punya anak, satu juga ngak papa deh. Iis suka anak kecil apalagi liat pipi anak kecil yang gembul. Ah... hati Iis langsung leleh.


Melihat air muka Iis yang berubah sedih, Juan hanya bisa menahan napasnya. Demi apapun dia juga ingin punya anak. Dia suka anak kecil, dulu dia senang kalau ke acara-acara ulang tahun ponakan-ponakannya, bermain bersama-sama. Tapi, semenjak mengetahui dirinya mandul Juan tidak suka berdekatan dengan anak kecil, hatinya selalu sakit.


"Satu aja yah, satuuu aja..." pinta Iis sambil memberikan tatapan puppy eyesnya.


"Please..." ujar Iis lagi sambi memeluk Juan.


'Kalau bisa aku hamilin kamu tiap tahun, Yang.' batin Juan.


"Liat nanti, yah."


"Oke, Mas," ujar Iis sambil mencium bibir Juan kemudian berlari kekamarnya.


Juan hanya bisa menghela napasnya dan berdoa pada tuhan moga ada tindakan medis yang bisa membantunya. Berapapun harganya akan Juan bayar.


"Sial..."


•••


Nah nah... Juan ayoo jujur, Iis galak loh... 🙈🙈🙈


Bisa di cekik kamu kalau ngak jujur, Juan hehehee...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2