
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Hari ini kamu jadi pergi ?" tanya Juan sambil menggunakan polo shirtnya.
Iis dengan cepat membenarkan kerah polo shirt milik Juan. Kemudian mencium pipi Juan "Iya, aku mau bantuin oma-oma gitu. Dia kesepian ngak ada anak, ngak ada cucunya. Pada sibuk katanya, jadi aku mau masak sama Oma-oma itu."
"Kenal dimana, Yang ?" tanya Juan bingung, kadang relasi pertemanan Iis suka mengejutkan.
"Di supermarket, Mas. Yang kemaren itu aku belanja. Nah Oma itu juga ikut belanja, baik loh orangnya ramah gitu, aku jadi inget Ibu aku," Iis berkata sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Juan langsung mengerutkan keningnya, Iis ini terlalu baik kadang-kadang membuat Juan jantungan. Gimana kalau dia diculik atau di jual ?! Bisa semaput Juan nyari Iis. "Itu Oma-oma yakin oma yang baik ?" tanya Juan lagi.
"Yakin, baik kok."
"Beneran ? Mau aku temenin ?" tanya Juan was-was, berbagai pikiran negatip berkecambuk diotaknya.
"Ngak usah, kamu juga mau ketemu klien 'kan, di club golf," ujar Iis mengingatkan Juan.
"Ya udah kamu ikut aku, aja," pinta Juan.
"Ih.. ngapain aku ngak ngerti, satu-satu nya kata yang aku tau itu hole in one," ujar Iis sambil mengikat rambutnya menjadi ponytail.
"Ya udah, pokoknya nanti kalau udah sampai langsung kabarin aku yah, pokoknya kalau ada apa-apa langsung telepon," ujar Juan was was.
"Aduh, Mas. Aku bukan anak kecil ih, sekalian aja kamu beliin aku jam tangan Imoo terus suruh aku pake, biar ketauan aku jalan, lari atau apapun juga," cecar Iis kesal.
"Ide bagus, Yang. Besok aku suruh Saka beliin buat kamu," kata Juan sambil menjawil hidung Iis kemudian pergi meningalkan Iis yang kesal dengan kelakuan Juan.
•••
Ting tong...
Setelah sampai Iis langsung menekan bel yang ada di pintu rumah bercat putih di kawasan pantai indah kapuk.
"Iya..."
"Hai Bi Surti ini aku Iis," ujar Iis sambil melambaikan tangannya pada Bu Surti.
"Ah, Mbak Iis, sini masuk Mbak..." ujar Bi Surti sambil menyuruh Iis masuk kedalam rumah yang tampak mewah bagian dalamnya.
"Mana Nenek Lia ?" tanya Iis sambil mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah mencari penampakan Nenek Lia.
"Ibu sudah di dapur, Mbah. Dari pagi sudah semangat sekali, dia sampai nyiapin semuanya sendiri," ujar Bi Surti senang.
__ADS_1
"Wah..."
"Iya, biasanya Ibu tuh susah sekali disuruh minum obat pagi, eh pas saya bilang nanti Mbak Iis batal datang kalau Ibu ngak minum obat. Owalahh.. langsung obatnya diminum cepet banget," Bi Surti menerangkan sambil menepuk kedua tangannya.
Zreettt zrettt
"Bi, aku angkat telepon dulu yah, ehm.. nanti aku nyusul ke dapurnya, dapurnya disana 'kan ?" tebak Iis sambil menunjukkan arah tebakkannya.
"Iya, Mbak... kalau gitu saya ke tempat Ibu dulu, yah," ujar Bi Surti.
Selepas Bi surti pergi Iis langsung mengangkat teleponnya.
"Ha..."
"Kamu di Pantai Indah Kapuk ? Rumahnya ngak aneh-aneh 'kan ?" tanya Juan tanpa babibu lagi.
Iis hanya bisa menggaruk kepalanya, beneran aku pulang dari sini Iis harus tanya Juan, kenapa dia bisa tau lokasi Iis dengan tepat. Apa Juan masukin jam Imoo ke tasnya yah ?
Iis dengan cepat mengeluarkan isi tasnya, tapi tidak ada penampakan jam tangan Imoo di tasnya sama sekali.
"Ayang... hoi jawab..!" ujar Juan kesal karena pertanyaannya tidak dijawab sama sekali.
"Eh... iya, aku di Pantai Indah Kapuk, kamu kok bisa tau sih ?" tanya Iis bingung.
Juan langsung terkekeh dengan pertanyaanya Iis, benar kata Taca, Iis gaptek akut. "Dengan kekuatan cinta apa sih yang ngak bisa aku cari, Yang," gombal Juan.
"Hadeuh.... susah ngomong sama King of Gombalan," kata Iis sambil memasukkan kembali barang-barangnya kedalam tas.
"Iyah, Mas aku janji, love you," ujar Iis tiba-tiba membuat Juan tersenyum bahagia.
"Love you more, Yang," jawab Juan sambil menutup teleponnya.
Iis melihat layar handphonenya yang sudah gelap. Iis dengan cepat memasukkan kembali Handphonenya kedalam tas kemudian berjalan ke arah dapur yang tadi sudah ditunjukkan oelh Bi Surti.
•••
Setelah 4 jam berjibaku dengan berbagai macam cake dan kue kering akhirnya Iis bisa duduk bersama Nenek Lia sambil meminum Teh di kebun kecil yang berada di sebelah dapur kotor milik Nenek Lia.
"Nenek, wangi banget ini kue kejunya, hmmm renyah lagi," ujar Iis sambil memakan Kue keju buatannya dengan Nenek Lisa, mereka memang membuatnya berdua tapi menggunakan resep Nenek Lia.
"Kamu ini, kan kamu yang bikinnya, Nenek cuman nyuruh-nyuruh aja," ujar Nenek Lia sambil tersenyum senang.
"Tapi 'kan resepnya dari Nenek, aku cuman masuk-masukin doang," ujar Iis sambil mencomot satu lagi kue kejunya.
"Hahahahaa.... aduh udah lama Nenek ngak sebagaia ini," ujar Nenek Lia sambil menyeruput tehnya.
Iis melihat hasi masak-masaknya bersama Nenek, " Nek, kita kaya lagi bikin acara Cooking Grandma kalau liat keadaan dapur sekarang."
__ADS_1
"Hahahaa, kamu ada-ada aja mana ada acara kaya gitu."
"Nanti Iis bikin di youtube. Eh atau kita bikin channel Youtube aja Nek, jadi tiap minggu aku kesini kita bikin channel Youtube, trus hasil masakkannya kita bagi-bagiin ke orang-orang, gimana Nek ?" usul Iis sambil menatap Nenek Lia, Iis menyarankan ini supaya Nenek Lia ada kegiatan dan tidak sendirian lagi. Iis juga entah kenapa ingin kembali lagi ketempat Nenek Lia, Nenek Lia sangat asik diajak ngobrol.
"Wah, Nenek ngak ngerti," ujar Nenek Lia.
"Ngak, papa nanti aku yang urus, Nenek tingal syuting aja. Nanti aku minta tolong pacar aku deh, Nek," ujar Iis tiba-tiba ingin melibatkan Juan.
Air muka Nenek Lia yang tadinya ceria langsung berubah sedih. Melihat perubahan air muka Nenek Lia, Iis langsung bertanya, "Kenapa Nek?"
"Kamu udah punya Pacar ?" tanya Nenek Lia.
"Ah.. Iya, aku udah punya pacar, Nek.." jawab Iis mantao sambil tersenyum.
"Hah, sayang banget tadinya mau Nenek jodohin kamu sama cucu Nenek, cucu Nenek ada 3, 2 laki-laki 1 perempuan. Yang laki-laki belum pada nikah semuanya. Yang satu bujang lapuk udah 39 tahun ngak nikah-nikah. Yang satu lagi umurnya 30 tahun sama juga belum nikah-nikah. Kalau yang perempuan udah nikah udah punya anak 1." Nenek Lia bercerita.
"Aduh, sayang banget aku udah punya pacar, Nek. Heheher..." kekeh Iis, demi apapun Iis ngak ada cita-cita ganti pacar.
"Ah.. padahal Nenek udah suruh cucu Nenek kesini," ujar Nenek sambil tersenyum.
"Gimana kalau kenalan dulu, umurnya 30 tahun, baik lagi. Mau yah," pinta Nenek Lia.
"Ehhh... tapi nanti pacar saya ngamuk," jawab Iis kebingungan, Juan tipe lelaki pencemburu akut. Padahal kata Mamih dulu Juan bukan lelaki pecemburu tapi semenjak dengan Iis, cemburunya kadang buat Iis garuk-garuk kepala.
"Ngak, lah. Kenalan aja yah, yah. Tenang, Nenek kenalin sama yang umur 30 tahun, karena cucu Nenek yang umurnya 39 tahun susah dikasih tau, begajulan, playboy cap kadal ngak bagus sama kamu." ujar Nenek mengingat kelakuan Cucu terbesarnya.
"Hahahaa... ngak ah, Nek. Pacar saya cemburuan," tolak Iis lembut.
"Ah, cobain yah, Nenek sedih kalau gini."
"Hmmm ya udah, kenalan doang 'kan, Nek." ujar Iis sambil tersenyum manis.
"Iya..."
"Bu, Den Dimas udah datang," ujar Bu Surti.
"Dimas, sini nak," ujar Nenek Lia sambil tersenyum bahagia.
•••
Nah pasti kaka gallon diamuk masa, katanya ngak bakal ada pebinorrr... haiz Dimas bukan pebinor dia hanya ilalang 🤣🤣🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon