
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Gio duduk menikmati udara segar dari dalam mobilnya, saat ini Gio sedang menuju rumah Taca di Citeko. Udara sejuk menyambut Gio saat mendekati rumah Taca.
Gio kebingungan saat melihat ada dua rumah bercat putih, "Kamu coba tanya sama orang itu, yang mana rumah Taca."
"Baik Pak..." ujar supirnya.
Gio membuka jendelanya sambil terus menatap kejalan dan sawah-sawah didepannya.
"Mau kesiapa yah ?"
Gio terdiam kemudian melihat orang yang menyapanya. "Oh saya cari rumahnya Taca."
"Oh, Neng Taca, Taca yang pacaran sama bule mesum. Taca yang bekasannya Ryan ?"
Gio terkejut mendengat perkataan orang tersebut, seburuk itukah Taca dimata orang-orang desa ini.
"Gimana maksudnya, Bu. Emang mesum gimana ?" tanya Gio penasaran.
"Iya, bulenya mesum, masa peluk-pelukkan didepan rumah, pas saya kesana. Itu Bulenya lagi nyium-nyium dadanya Taca sambil pangkuan. Kan mesum, Pak..."
Gio langsung memukul dahinya sambil tersenyum, Adipati memang benar-benar anaknya. Gio ingat dulu, dia bahkan lebih mesum daripada Adipati, sampai almarhum Istrinya sering memarahi dirinya yang sering genit ditempat umum.
"Lah, kok Bapak ketawa ?"
"Hah... oh ngak kenapa-kenapa. Coba dimana rumahnya." tanya Gio sambil terkekeh.
"Itu disebelah rumah saya." ujar Ceu Ningsih.
"Oh, makasih yah, Bu."
"Oh, Bapak mau apa cari Taca. Hmmm jangan-jangan itu bulenya miskin yah sebenernya ? Bapak mau nagih hutang kan ? Ngaku aja Pak. Saya udah curiga mana ada orang sekaya itu, masa bisa sampai punya helikopter...!!" cecar Ceu Ningsih geram.
Gara-gara Adipati datang menggunakan helikopter dan membuat geger se Citeko, akhirnya pesta pernikahan Rina dan Entis tidak ada yang membicarakannya. Padahal Ceu Ningsih sudah habis-habisan untuk membuat pesta tersebut meriah.
Gio tercengang dengan perkataan wanita didepannya, seumur hidup dia baru menemukan mahluk semenyebalkan ini, padahal dia baru bertemu dengan wanita ini kurang dari 5 menit.
"Papa...." terdengar teriakan Adipati, Adipati langsung berlari ke arah Gio, kemudian memeluknya erat.
"Capek, Pa ? Taca ada didalam," ujar Adipati sambil melepaskan pelukkannya.
Gio tersenyum pada Adipati kemudian menepuk bahu anaknya.
"Kenalkan Bu, nama saya Gio Berutti, saya Bapaknya bule mesum calon suaminya Taca. Dan iya, bule mesum ini punya hutang sama saya, hutang menantu." ujar Gio sambil menjabat tangan Ceu Ningsih sambil memberikan senyuman terbaiknya.
Ceu Ningsih terdiam, entah karena malu atau terpukau melihat betapa gantengnya Gio. "Oh...".
"Sama, helikopter itu emang bukan punya Adipati, Tapi itu punya saya, terus saya kasih ke Adipati."
Ceu Ningsih langsung merasakan panas diwajahnya, rasa malu langsung dirasakan oleh Ceu Ningsih. "Oh... iyah.. hmm saya permisi dulu, mari."
__ADS_1
Ceu Ningsih pun pergi dengan terburu-buru meninggalkan Adipati dan Gio yang tersenyum.
"Siapa itu, Di ?"
"Orang aneh, hobinya ngegosipin Taca sama aku terus," ujar Adipati kesal.
"Hahahhaaa... orang aneh, sudah mana calon mantu dan besan, Papa."
•••
"Abah, ini Papa Gio, Papanya Adipati," Taca memperkenalkan Gio pada Abah.
Abah tersenyum pada Gio, kemudian menjabat tangan Gio. "Abah, panggil aja Abah."
"Gio, panggil Gio ?"
"Boleh Gio, sip..." ujar Abah sambil menunjukkan kedua jempolnya.
"Jadi ada apa Gio, kesini ?" tanya Abah to the point. Abah sudah tidak sabar mau menikahkan Taca dan Adipati, bukan karena Adipati kaya, tapi Abah sudah kesal melihat kemesuman Adipati pada Taca. Bisa-bisa jadi duluan kalau dibiarkan terus menerus.
"Hahahaa... saya mau mewakilkan anak saya, saya kesini ingin meminta Taca untuk menjadi istri Adipati."
Abah tersenyum mendengar perkataan Gio, memang itu yang Abah tunggu, sebuah kepastian seorang Adipati. "Bagus Abah mah setuju, apalagi Adipati udah kasih Avanza kemaren. Abah setuju.." teriak Abah semangat.
Gio tertawa melihat tingkah calon besannya ini, ternyata benar yang diceritakan Adipati, bahwa besannya ini memang unik.
"Baiklah, kalau begitu. Pertanyaan selanjutnya. Adipati mau sama Taca ?" tanya Gio sambil tersenyum pada Taca yang terlihat malu-malu.
"Mau, Pa," cicit Taca sambil memilin kemeja yang dipakainya, jantung Taca saat ini benar-benar bertalu-talu.
"Baiklah, jadi kita sekarang besan, Abah ?" tanya Gio sambil merentangkan Tangannya bermaksud memeluk Abah.
"Eh sebentar ada satu lagi masalahnya," semua orang terdiam kemudian menatap Kang Rozak.
"Apalagi sih, Kang ?" tanya Taca kesal.
"Adipati, kamu udah sunat ?" tanya Kang Rozak.
"Hah ..????" ucap Aa Riki, Taca, Abah, Adipati dan Gio serentak.
"Iya, sunat. Udah belum ?" tanya Kang Rozak lagi.
Adipati langsung menatap Gio, meminta bantuannya untuk menjawab pertanyaan Kang Rozak. Seingatnya dia belum pernah melakukan sunat.
"Sunat yah, kalau saya sih pas nikah sama istri saya dulu, saya sudah disunat. Kalau kamu sih, seingat Papa, belum " jawab Gio polos.
"Alah segede ieu can di sunat, heuras atuh..."
(Aduh, segede gini belum sunat, keras dong)
Plak...
Taca memukul perut Aa Riki untuk menghentikkan ucapannya.
"Jadi, aku belum disunat, Pa ?" tanya Adipati bingung.
__ADS_1
"Seinget Papa sih belum, Papa lupa," jawab Gio jujur.
"Nah, kalau belum berarti kamu harus disunat dulu, Di. Udah sunat baru nikah. Gimana ?"
Adipati meringis membayangkan, "ade"nya harus dipotong sedikit. "Amore.."
"Iya.." jawab Taca.
"Kamu bisa bedain mana yang udah disunat sama yang belum ?" tanya Adipati, berharap Taca tau kalau miliknya sudah disunat atau belum.
"Bisa, aku pernah liat punya Aa Riki sama Kang Rozak dulu sebelum dan sesudah disunat," jawab Taca polos, masih belum mengerti arah pertanyaan Adipati.
"Jadi, kata kamu punya aku udah disunat atau belum ?" tanya Adipati polos, tanpa tau apa dampak pertanyaannya.
Taca yang belum ngeh dengan situasi yang ada menjawab dengan sama-sama polos. "Yang kamu ? Yang kamu belum disunat, Di. Waktu aku pegang dibagian..."
"APAAAAA NENG PERNAH PEGANG PUNYA INI BULE ????" teriak Abah kaget sambil memelototi Taca kemudian berpindah pada Adipati.
Taca langsung terdiam, kemudian menggigit bibir bagian bawahnya. 'Aduh... bodo bodo' rutuk Taca didalam hati.
"Pegang doang, Bah. Cuman pegang ngak ngapa-ngapain.." koreksi Taca cepat.
"Waktu itu, anak saya sakit, jadi minta dimandiin Taca," bela Gio, Gio yang sangat mengerti kultur Indonesia langsung memberikan alasan.
"Dimandiin ?" ucap Kang Rozak kaget, "Berarti liat sebadan-badan dong."
"HIAAAATTT...." tiba-tiba Abah berteriak sambil meloncat kearah Adipati, kemudian menindih Adipati dengan badannya tak lupa memukuli Adipati dengan koran kesayangannya, setelah mendengar omongan Kang Rozak.
Plak..plak...plak...
"Dasar bule mesum... bener ieu mah kudu nikah gancang-gancang...!" ujar Abah sambil memukuli Adipati dengan koran saktinya.
(Dasar bule mesum, bener harus dinikahi cepat-cepat).
"Aduh Abah.. astaga.. ampun ampun, iya boleh nikah, sekarang iya, aduh..." teriak Adipati sambil melindungi dirinya. 'Dari mana datangnya itu koran sih ????!' batin Adipati kesal.
Gio yang melihat peristiwa itu hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat anaknya dipukuli oleh calon mertuanya menggunakan koran.
Sedangkan, Kang Rozak dan Aa Riki menatap dengan tatapan 'nakal kamu yah' pada Taca. Taca hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kan cuman mandiin, Kang, Aa." ujar Taca sambil menundukkan kepalanya.
"Kelakuan.." ujar Aa Riki dan Kang Rozak bersamaan.
•••
Sunat dulu, Di 🤣🤣
Baru nikah, tenang udah ada Pak katro buat jadi penghulunya... 🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon