
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Caca udah tidur, Sar ?" tanya Iis pada Sarah.
"Udah, baru aja," ujar Sarah sambil berdiri disebalah Iis yang sedang memasak ikan bakar.
Iis yang fokus memasak tidak sadar dengan tatapan Sarah sampai Iis menolehkan kepalanya. "Astaga, Sarah ada apa...?" tanya Iis sambil menatap Sarah.
"Tell me anything...!!!!"
(Kasih tau aku semuanya)
"About ?"
(Tentang ?)
"Kamu sama Abang, kok bisa sih ? Kok bisa kamu pacaran sama Abang ?" Sarah benar-benar penasaran dengan cerita percintaan Juan dan Iis.
Sebelum menjawab Iis tersenyum sambil mengoleskan saus kecap ke ikan yang sedang dibakar oleh Iis. "Mau tau banget ?"
"Banget...!!!!"
"Jadi..."
Iis pun menceritakan kisahnya kenapa dia bisa bertemu denga Juan, dan bagaimana akhirnya dia bisa berhubungan dengan Juan, semuanya Iis ceritakan kecuali saat Papih memberikan cek pada dirinya.
"Jadi kamu kasih surat kegadisan kamu ke Om Kevin sama Papih ?" Sarah benar-benar takjub, dengan keberanian Iis yang ngamuk dikantor Papihnya.
"Iya, aku jengah Papih Kevin bilang aku jual diri mulu, kalau aku perawan gimana cara jual diri sok.." ujar Iis sambil membalik ikan gorengnya.
Sarah menahan tawanya mendnegarkan perkataan Iis, apa yang dikatan Iis benar juga, ternyata ada wanita sepintar dan secerdik ini.
"Jadi, Taca kemarin istri Adipati ?" tanya Sarah sambil melirik kekanan dan kekiri, "Bule ganteng yang haummm..."
"Haum.. ?" tanya Iis.
"Heeh, Haum hot hahahaa..."
"Jangan bilang kamu pernah..." Iis menggantungkan perkataanya, kepala dia hampir pecah dengan kelakuan suami Taca.
"Maybe yes, maybe no.." goda Sarah sambil mengambil sumpit dan ingin mencicipi ikan.
"Arghh tau ah, jangan ngomong-ngomong ke Taca, bisa abis Adipati di murkai Taca nanti," ujar Iis sambil menatap Sarah dan dijawab Sarah dengan tawa khasnya.
Iis langsung menyimpan ikan bakarnya ke piring, tiba-tiba Dimas ada dihadapannya.
"Wah ikan nih, cobain dung,"pinta Dimas sambil membuka mulutnya meminta disuapi ikan oleh Iis.
"Hadeuh..." Iis dengan cepat mengambil daging Ikan dengan garpuh kemudian menyuapkan ikan tersebut ke mulut Dimas, tetapi.
__ADS_1
"Nggak punya tangan lo semprul ? " tanya Juan sambil menggeserkan tubuh Dimas dan mengambil suapan Iis dengan mulutnya.
Iis hanya bisa tercengang melihat kelakuan Juan yang kekanak-kanakan. Sedangkan Dimas hanya bisa meringis sambil mengusap bahunya.
"Enak Yang, nanti aku makan suapin yah, aku tunggu disana," ujar Juan sambil menarik tangan Dimas untuk menemaninya keluar ruangan.
"Itu, Abang ?" tanya Sarah kaget sambil bengong menatap Juan yang sedang menyeret Dimas.
"Iya, Abang Huangggg si jomblo akut, uzur dan begajulan. Hahahaa.." Iis benar-benar malu sendiri dengan ucapannya dan pikirannya dulu. Andai Iis tau Huang adalah Juan pasti dia ngak akan mungkin ngomong dan berpikir yang aneh-aneh.
Sarah menantap Iis kemudian menyentuh dahi Iis, "Nggak panas, kamu masih sehat Iis."
"Ya iyalah, emang aku kena malaria. Hihihihihii..."
"Kamu bener-bener hebat yah bisa naklukin Abang, sampe kaya gitu. Emang Abang cemburuan ?" tanya Sarah penasaran.
"Banget, ampe aku ngobrol sama tukang parkir aja Mas, pernah ngambek. Inget pas kamu kasih tas buat aku ulang tahun ?"
Sarah langsung menganggukan kepalanya.
"Mas, ampe ngambek. Bibirnya ngak berhenti ngoceh. Ampe budek deh kuping ini," ujar Iis sambil menggaruk kupingnya.
"Really ?"
"Iyah, beneran ngak bohong. Pusing aku pokoknya kalau mas uda cemburu, rasanya ingin berubah jadi sawi hahaaa.."
"Lah sawi, sekalian tomat, Iis," ujar Sarah sambil menahan tawanya.
"God is he really Abang Juan ?" tanya Sarah takjub dengan manjanya Abang.
(Tuhan, apakah benar itu Abang Juan ? )
"Yes, He is..!"
Detik itu juga Sarah tertawa, "Itu kelakuannya kaya gitu ?"
"Setiap hari, setiap saat, setiap waktu," ujar Iis sambil memberikan ikan bakarnya ke pada pembantu disana.
Iis dan Sarah berjalan kearah Juan dan Dimas yang sedang duduk dan melihat keindahan laut. Sarah langsung duduk diantara Juan dan Dimas, membuat satu-satunya kursi yang tersisa adalah disebelah Dimas. Iis dengan santainya duduk disebelah Dimas.
"Nanti siang, EO yang mau ngurus dekor mau datang. Acaranya hari minggu, nah masalahnya Nenek mau minta kamu buat bikin kuenya Iis," ujar Sarah sambil menunjuk Iis.
"Aku ? Bahannya gimana, kue apa ?" Iis memang jago bikin kue tapi Iis jiper juga kalau harus buat kue ulang tahun seorang Amalia Wijaya.
"Bahannya udah ada, kamu tinggal bikin. Kamu bisa bikin cheese cake kan ?" tanya Sarah.
"Bisa, tapi yakin mau kue buatan aku ? Kalau ngak enak gimana ?" tanya Iis bingung, jangan bandingkan kue buatannya dengan kue-kue dari bakery mahal.
"Nenek udah bilang gitu, mau yah," ujar Sarah.
"Udah lah Iis, bikin aja. Kemarin 'kan kue kamu juga enak, ampe ambil 2 potong aku," ujar Dimas sambil mengacungkan dua jempolnya pada Iis.
Iis tersenyum melihat Dimas yang mengapresiasi kue bikinannya dulu. "Makasih, nanti aku bikinin lagi deh, kamu suka kue apa ?" tanya Iis.
__ADS_1
Brakk...
Tiba-tiba Juan berdiri sambil membanting koran ke meja. "Bikinin sana kue, sekalian nikah sana sama Dimas."
Juan menatap Iis dengan tatapan kesal, kemudian pergi meningalkan Iis, Dimas dan Sarah yang bengong dengan kelakuan Juan.
Sepertinya Iis harus banyak-banyak bersabar dengan kelakuan Juan, "Aku kejar Mas dulu yah, ngambek dia."
"I..ya.." ujar Sarah bingung.
"Masss... ihh.. Masss, tunggu," Iis mengejar Juan yang sudah masuk kedalam rumah.
Setelah Iis dan Juan berlalu dari hadapan Sarah dan Dimas, Sarah langsung merangkul pundak adiknya tersebut.
"Lo percaya itu Abang ?" tanya Sarah.
"Kagak, Abang kagak kaya gitu. Abang tuh dingin, Cool, ngak peduli sama sekitarnya. Selengean, dulu pas sama Cicil aku ngobrol ampe peluk-peluk Cicil aja dia santai loh, lah ini," ujar Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kayanya lo, harus mundur buat dapetin Iis deh kalau gini, lo masih ada keinginan buat matahari besok 'kan ?" tanya Sarah lagi sambil menatap Dimas, adik satu-satunya si jomblo ngenes.
"Tenang, Kak. Ini bukan cuman mundur, menjauh aku Kak. Aku mending deketin temennya Iis yang dulu siapa namanya Taca, nah itu aja deh, suaminya pasti ngak kaya Abang."
"Mau jadi pebinor juga mikir-mikir, Dimas. Kamu tau ngak siapa suami Taca ?"
"Siapa ?"
Sarah langsung menatap Dimas kemudian mencubit pipi adik kesayangannya itu.
"Aw... sakit Kak," ringgis Dimas.
"Sadar, kamu ngak bakal bisa nyaingin pesona Adipati Berutti..!" Sarah berkata sambil tersenyum manis.
"What...!? Taca istri Adipati ? Adipati sahabatnya Abang ? " tanya Dimas.
"Iya..."
"Nyerah, udah nyerah. Kenapa sih cewe high quality udah sold out semuanya..!" rutuk Dimas sambil menghenpaskan badannya ke sandaran kursinya.
"Tenang Dimas, kenyataan hidup memang berat, hahahahaaa...." ujar Sarah sambil menepuk-nepuk bahu Dimas yang sedang merutuki nasibnya.
•••
Sabar Pak Dimas, mungkin jodohnya belum lahir 🤣🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1