
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
Jangan lupa komen juga yah, please...
Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Astaga, Neng Taca.. aduh Neng. Alhamdulliah Neng udah sadar," jerit Bi Yuli sambil berlari menghampir Taca yang baru saja keluar kamar bersama Adipati.
"Bi Yuli..." pekik Taca lemah, Taca langsung memeluk Bi Yuli, tanpa ada rasa sungkan.
"Neng, Bibi nepikeun ka lieur mikiran Neng. Kunaoan atuh Neng teh ?" tanya Bi Yuli polos.
(Neng, Bibi sampai pusing mikirin Neng, Neng itu kenapa, sih ?)
Taca hanya bisa tersenyum melihat Bi Yuli, Bi Yuli yang ternyata adalah salah satu tetangga di rumah Abah memang selalu secerewet ini.
"Teu kunanaon, Bi. "
(Ngak kenapa-napa, Bi)
Bi Yuli menuntun Taca berjalan sedikit demi sedikit. "Den, baju Neng Taca abis, Den? Perasaan kemaren Bibi baru setrikain baju Neng Taca, deh."
"Emang kenapa, Bi ?" tanya Adiapati bingung.
"Lah, ini Neng Taca malah pakai kemeja, Aden."
"Hahahhaaa... ngak papa, Bi. Emang aku lebih suka pake kemeja Adipati, Bi." jawab Taca.
"Oalahhh... sangka bajunya abis hehehe."
Taca kemudian duduk dimeja makan, menatap hidangan sushi dihadapannya. Taca mulai memakan sushinya dengan lahap.
Adipati duduk disamping Taca, terus menatap Taca yang sedang makan dengan lahap. Seperti mimpi melihat Taca bisa makan sendiri seperti ini.
"Kamu..ngg..k ma...kan..."tanya Taca dengan mulut penuh sushi.
"Ngak, Amore," Adipati menahan tawanya melihat mulut Taca yang terlihat penuh, "Kamu kaya kelinci, Amore."
"Ohokk...ohok..." Taca langsung keselek mendengar perkataan Adipati.
"Astaga, Amore... minum, minum. Biii minum mana, cepet Bi minum...!!!" panggil Adipati panik. Adipati lalu memeluk Taca kemudian menepuk-nepuk punggung Taca pelan. "Ya ampun, Ta. Ati-ati dong. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana ?".
Taca kebingungan melihat reaksi Adipati yang terlalu over reacting. "Di, aku cuman keselek."
"Iya, gimana kalau kamu keselek terus, meninggal. Aku sama siapa ? Mau tanggung jawab kamu ?" tanya Adipati kesal sambil memberikan minum pada Taca.
"Di..." panggil Taca sambil memegang kedua pipinya, "Aku ngak akan kemana-mana aku janji. Aku bakal disamping kamu terus."
"Jangan, bohong Ta. Tiga hari kamu tinggalin aku, langit aku runtuh Ta. Please jangan tinggalin aku," Adipati menciumi telapak tangan Taca dengan lembut.
Taca diam menatap Adipati, perasaannga campur aduk. "Ngak, Di... aku ngak bakal ningalin kamu, ngak akan pernah..." ucap Taca sambil mengecup bibir Adipati pelan dan dalam.
"Yang... kita pulang ajalah, udah sehat gitu. Pulang yuk, Yang, kita kelonan..." suara bariton Juan mengagetkan Adipati dan Taca.
"Iis...." panggil Taca sambil mendorong sedikit badan Adipati.
"Taca, kamu udah sadar. Astaga...." Iis berlari kecil mendekati Taca, kemudian mendorong Adipati, supaya bisa memeluk sahabatnya.
__ADS_1
Adipati yang terdorong kesamping hanya bisa mendengus kesal. 'Kalau bukan sahabat Taca, udah gue pites..!' batin Adipati.
"Jangan berpikir buat mites pacar gue, yah," ujar Juan sambil mencomot sushi dimeja makan.
Adipati hanya bisa tersenyum kuda mendengar tebakan Juan yang akurat.
"Kamu, kapan sadar? Udah makan? Aku bawain soto ayam. Makan soto yah pake nasi," ujar Iis sambil memberikan bungkusan berisikan soto pada Bi Yuli.
"Lupa, Di kapan aku sadar ?" tanya Taca.
"Kemarin."
Iis langsung memeluk Taca lagi, kemudian mencium pipi Taca, "Astaga jantung aku olah raga, Ta..."
Taca melihat raut wajah Iis, Taca tau dengan pasti. Iis pasti menangis semalaman, matanya bengkak.
"Iis jangan nangis lagi, aku udah sehat kok. Nih aku udah makan sushi banyak banget. Udah jangan nangis, ntar orang-orang nyangkanya kamu kena KDRT," ujar Taca sambil tertawa renyah membuat Iis tersenyum.
"Terbalik kali, Ta... yang ada Juan yang kena KDRT aku," canda Iis sambil duduk disamping Taca.
Juan dan Adipati hanya bisa menatap Iis dan Taca dihadapan mereka.
"Jadi, kapan lo kekampung Taca ?" tanya Juan sambil mengaruk kepalanya.
"Lusa, lusa aku bakal ketempat, Taca."
"Di, kalau lusa berarti aku bisa kenikahannya tetangga aku, dong."
"Siapa yang nikah?" tanya Bi Yuli dan Iis berbarengan. Bi Yuli yang dari tadi wara wiri disekeliling mereka langsung kepo.
"Ihh meni kompak, hahaha.." ujar Taca sambil tersenyum.
"Rina, anaknya Ceu Ningsih."
"Sama siapa ?" lagi Bi Yuli dan Iis bertanya bersama-sama.
"Hahahaa... kalian tuh yah kalau kepo bisa barengan, gini. Sama Kang Entis..."
"KANG ENTIS YANG NGEJAR-NGEJAR KAMU!?” teriak Iis tidak percaya.
"Astaga move on juga, inget banget dulu pas kamu mau kerja di Jakarta, Kang Entis sampai maksa-maksa kamu buat nikah, ampe bawa orkes kedepan rumah Abah ahhahaaaa.” Tawa Taca dan Iis meledak mengingat kejadian terebut.
"Wah, Bibi inget kejadian itu, ampe bikin geger satu kampung. Hahahahahaaa.” Bi Yuli pun ikut tertawa bersama.
"Siapa Entis?" tanya Adipati penasaran.
"Itu, bucinnya Taca. Wah ... ampe bikin satu kampung heboh, deh. Cinta sampe mati, Taca forever,” ledek Iis sambil tertawa.
Taca langsung memukul Iis kesal.
"Oh, ya udah nanti kita datang kenikahannya si Entis itu. Buat nyadarin dia, kamu udah punya aku. Nanti kita kesana sekalian bilang kesatu kampung kamu, kamu nikah sama aku bukan si Entis!" cerocos Adipati membuat semua orang disana menahan tawa.
"Astaga Ta, yang ini juga bucin, kamu." bisik Iis pelan ditelinga Taca.
"Kita ikut juga yuk, Yang. Sekalian aku kerumah orang tua kamu. Buat minta kamu," ujar Juan.
"Iya Is, ikut yuk. Ijin kebiro kamu deh. Yuk, please,” rengek Taca.
"Ya udah aku ikut.”
__ADS_1
"Asikkk.” Taca tersenyum pada Iis.
"Yess... nikah bareng kayanya kita, Bro," canda Juan sambil memukul bahu Adipati.
"Enak aja, bikin acara sendiri sana. Gue kagak mau nikah ngikutin keluarga lo, rib...”
"Ribut yah, keluarga gue mah emang cinta keributan," potong Juan cepat, seperti menyembunyikan sesuatu.
Adipati langsung menunjukkan tatapan 'sorry Bro, lupa,' pada Juan. Untungnya Taca dan Iis tidak terlalu memperhatikan.
Zzzzrrrt zzzrrrttttt
Suara handphone Juan mengema, Juan mengambil handphonenya dan melihat peneleponnya.
Juan langsung bangkit " Di, we need to talk."
(Di, kita harus bicara)
Adipati langsung mengikuti Juan kedalam ruangan kerja miliknya.
"Yah..." Juan mengangkat handphone kemudian mengalihkan pada mode speaker.
"Pak Wijaya, saya sudah urus semuanya. Untuk tersangka Niko sudah dipastikan akan terjerat pasal-pasal yang berat. Niko pasti akan masuk penjara dengan waktu yang lama."
"Iya.." jawab Juan singkat pada pengacara keluarga Wijaya.
"Untuk tersangka Jules, sudah dipastikan dia pun terjerat beberapa pasal. Sudah dipastikan dia akan dipenjara minimal 3 tahun penjara, masalahnya ada pada..."
"Becca,” potong Adipati kesal, ada rasa sesak kenapa dia tidak menampar atau memukuli Becca kemarin.
"Iya, Pak. Keluarganya melakukan perlawanan dengan gigih, bahkan beberapa bukti ada yang dimanipulasi. Kami sudah melakukan pencegahan sebaik mungkin. Namun, ada beberapa bukti yang lolos."
"DAMN....!!!" maki Adipati, Becca bukan lawan yang mudah. Keluarga besar Nata pasti akan melindungi Becca dari scandal. Ayah Becca bukan orang yang bisa di anggap remeh.
"Ada cara lain untuk membuat Becca sulit lepas dari jeratan hukum. Nona Taca, apa Nona Taca bisa jadi saksi persidangan ?" tanya pengacara Juan.
"GILAAA, AKU NGAK MAU NGELIBATIN TACA YAH..." teriak Adipati kalut. Lebih baik dia mati daripa harus memberikan beban tambahan pada Taca.
"Ngak papa, Di. Aku siap..." ucap Taca tiba-tiba dari dekat pintu ruang kerja Adipati. Taca selama ini menguping pembicaraan Adipati dan Juan.
"Astaga, Amore. No.. aku ngak mau kamu nambahin beban pikiran."
"Ngak, aku siap. Mereka harus dihukum, Di. Mereka harus dapat ganjarannya,” jawab Taca mantap.
Adipati hanya bisa menatap Taca yang terlihat mantap dengan keputusannya.
•••
Taca itu tegar sekuat karang sodara-sodara...!!!!!!!
Kaka Gallon ucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat semua pembaca ❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon