
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Pagi-pagi sekali Iis sudah sampai di suatu perusahaan terbesar di Indonesia. Iis masuk kedalam gedung perusahaan tersebut untukbertemu dengan Team psikotestnya.
“Bu Lizbet, ini tadi ada yang nitip,” ujar salah satu rekan kerjanya sambil memberikan bungkusan pada Iis.
Iis langsung mengambilnya dan membuka bungkusan tersebut. Iis melihat 2 buah coklat Ritter Sport cornflakes kesukaannya dan sebuah boneka ikan pari kecil. Senyuman langsung bersemi dibibir Iis.
Ekor mata Iis melihat sebuah kartu ucapan bergambar ikan pari, dibukanya kartu tersebut dan langsung terlihat tulisan tangan Juan.
Aku kangen rebutan coklat sama kamu, Yang. Ehm.. Yang, Ikan pari kangen dipeluk, bayi gede juga kangen meluk kamu.
Iis benar-benar dibuat melayang dengan kelakuan manis Juan, padahal Iis sama sekali tidak menghubungi Juan. Tapi, Juan benar-benar memperhatikannya. Arghh... Iis kangen Juan.
“Bu Lizbet, ayo..” ujar Pak Sugito mengajak Iis mengikuti yang lainnya.
“Oh, Iya mari..” Iis memasukkan coklat, kartu dan boneka ikan parinya kedalam tas miliknya dengan hati-hati.
Sesampainya di lobby utama mata Iis membulat karena kaget. Iis baru membaca nama perusahaan yang didatanginya itu, Wijaya Corp. Napas Iis langsung sesaak saat melihat tulisan tersebut.
“Maaf Pak Sugito, apakah pemilik perusahaan ini bernama Kevin Wijaya ?” tanya Iis takut-takut.
“Iya benar, Bu Lizbet tau dari mana ?” tanya Pak Sugito sambil menatap Lizbet.
Iis langsung menelan salivanya, astaga dia saat ini sedang melakukan psikotest diperusaan keluarga Juan, gimana kalau dia ketemu Papih ?! Kepala Iis langsung pusing.
“Saya baca di internet,” dusta Iis sambil mengambil map peserta psikotest yang akan di wawancara oleh dirinya.
Iis langsung masuk kedalam ruangan tertutup khusus untuk melakukan wawancara secara tertutup. Dibukanya map dihadapannya dan lagi-lagi Iis harus menelan salivanya.
“Juan Wijaya ?!”
Mata Iis membulat saat melihat nama siapa yang harus Iis wawancarai, semesta benar-benar menginginkan Iis bertemu Juan diruang sekecil ini, BERDUAAAA ??!
Bisa runtuh pertahanan Iis, astaga gimana ini. Ahh... ganti peserta saja. Dengan cepat Iis membawa map kemudian membuka knop pintu, akan tetapi ada yang sudah menarik terlebih dahulu knop pintu dari luar.
“Ayang...”
Mata Iis seperti meloncat keluar dari tempatnya saat melihat Juan dihadapannya, Juan yang sedang tersenyum melihatnya.
“Ah...”
“Bu Lizbet, tolong wawancara Pak Juan. Dia hanya butuh wawancara sebagai formalitas. Karena keputusan jabatan Pak Juan ditentukan dewan direksi.” ujar Pak Sugito sambil tersenyum pada Juan dan Iis.
__ADS_1
Pak Sugito yang tidak bekerja di bagian Psikolog Anak, sama sekali tidak tau kalau Iis adalah tunangan Juan. Sehingga, Pak Sugito memberikan tugas tersebut pada Iis yang terkenal mampu mewawancara seseorang dengan baik.
“Tapi, Pak..”
“Mari dimulai Bu Lizbet,” ujar Juan sambil tersenyum penuh arti sambil mendorong Iis kedalam ruangan.
Iis langsung mundur masuk kedalam ruangan saat Juan mendorong Iis masuk. Juan dengan cepat menutup pintu dan mengunci pintu.
“Yang..” panggil Juan sambil memeluk Iis, membuat Iis melepaskan genggamnya dari map berisikan informasi tentang Juan.
“Mas, ah... Pak Juan maaf saya harus mewawancarai Bapak,” Iis berjuang untuk bersikap sepropesional mungkin.
“Panggil Mas, Yang..”
“Tapi, saya harus..”
“Panggil Mas, Yang.”
Iis kebingungan satu sisi dia harus profesional tapi di sisi lain rasanya dia ingin membalas pelukkan Juan.
“Mas..”
“Hai Yang, kamu apa kabar ? Udah terima ikan parinya ?” tanya Juan sambil mengusap pipi Iis.
Tubuh Juan seperti terpangkas setengahnya, Juan benar-benar kurus. Pipinya tidak segar, matanya cekung, dan yang paling kentara adalah janggut Juan yang sudah mulai tumbuh.
“Mas, kamu udah makan belum ?” tanya Iis.
“Belum, aku ngak sempet makan,” ujar Juan.
Iis kemudian menarik tangannya dari genggaman Juan. Iis berjalan ketempat duduknya begitupun Juan yang akhirnya duduk dihadapan Iis.
“Kenapa aku harus wawancara kamu ? Emang kamu ngak kerja di Adipati lagi ?” tanya Iis bingung.
“Aku masih jadi wakil Adipati, aku kesini cuman formalitas doang. Aku udah tolak buat jadi direktur perusahaan ini, biar sepupu aku aja yang jadi Direktur. Tapi, Papih sama Mamih paksa aku buat ikut Psikotest dan Wawancara, formalitas aja katanya. Pokoknya aku nggak mau kerja disini, peduli amat sama perusahaan ini,” ujar Juan santai.
Iis hanya menganggukkan kepalanya, kepalanya pusing mendengar pekerjaan Juan yang berpindah dari perusahaan miliknya dan perusahaan keluarganya. Intinya Juan punya dua perusahaan, satu perusahaan keluarga dan satunya perusahaan miliknya dan Adipati.
“Ini bagi dua,” ujar Iis sambil memberikan coklat Ritter Sport cornflakes yang sudah dipotong dua. “Makan Mas. Kamu terakhir makan kapan ?”
Juan mengambil coklat dari Iis kemudian memakannya. “Terakhir makan ? Lupa, mungkin 2 hari yang lalu aku makan bener.”
“Astaga, Mas. Kamu bisa sakit,” ujar Iis khawatir sambil memijat dahinya.
“Makanya pulang, Yang. Biar aku ada yang urus,” ujar Juan sambil melahap habis coklatnya. Dari kemarin Juan tidak nafsu makan, tapi sekarang tiba-tiba Juan merasa sangat lapar.
“Yang, coklatnya minta lagi,” pinta Juan sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Iis dengan cepat memberikan bagiannya pada Juan. “Tumben ngak ngambek bagian kamu aku pinta ?” tanya Juan saat mengambil coklat bagian Iis.
“Kamu kayanya lapar banget, Mas. Jadi aku ridho kamu makan semuanya,” jawab Iis sambil melihat Juan yang dengan lahapnya memakan coklat. Iis hanya tersenyum sambil menjilat jari telunjuknya yang masih ada sisa coklat.
Iis berjalan dan mengambil berkas-berkas Juan. Iis dengan teliti menyusun kembali berkas tersebut kemudian memasukkannya kedalam map, saat berbalik Iis kaget melihat Juan dibelakangnya.
“Astaga Mas, jangan ngagetin..!” ujar Iis kesal sambil menepuk bahu Juan pelan.
“Yang diruangan ini ngak ada CCTV, ngak ada kaca juga, pintu juga aku udah kunci...”
Iis bingung dengan omongan Juan, hubungannya apa ruangan ngan ada CCTV, kaca dan pintu yang sudah dikunci dengan wawancara mereka ?!
“Iya, terus.....”
Kalimat Iis sama sekali tidak terselesaikan karena Juan sudah memeluk Iis dengan erat, saking eratnya Iis sampai terhuyung kebelakang dan menabrak dinding dibelakangnya. Tubuh Iis merosot dan terduduk dilantai.
Juan langsung melepaskan pelukkannya dan merebahkan dirinya dilantai menjadikan paha Iis sandaran kepalanya, Juan langsung mencari posisi paling enak untuk merebahkan dirinya.
“Mas, ini kita harus wawancara, kalau ngak wawancara aku harus kasih apa sama Pak Sugito ?” tanya Iis bingung.
“Bilang aja, aku waras dan sehat, tapi menolak untuk menjadi Direktur diperusahaan sialan ini ..!” ujar Juan sambil memiringkan kepalanya, membuat wajahnya sejajar dengan perut Iis.
“Lah, ngaco.. bisa-bisa aku dipecat ini,” ujar Iis kesal dengan jawaban Juan.
“Yah terserah kamulah mau ditulis apaan, aku mau tidur. Salah kamu ngak pulang aku jadi insomnia, sehari tidur cuman sejam doang, udah ah ngantuk..!”
Iis mengepalkan tangannya saking kesal dengan kelakuan Juan yang seenaknya. Astaga apa yang harus Iis lakukan, Iis menatap kertas-kertas ditangannya dan membaca profile Juan. Saat membaca profile Juan, Iis mendengar dengkuran halus dan teratur dari Juan. Juan benar-benar tertidur dengan pulas.
Tangan Iis refleks mengusap rambut bayi besarnya yang super manja. “Astaga Mas, kalau kamu semanis ini, gimana aku bisa ningalin kamu.”
Senyum manis merekah di mulut Iis melihat Juan yang tertidur di pahanya. Iis langsung mengambil pulpen dan mulai menulis pertanyaan yang akan Iis ajukan pada Juan nanti saat Juan bangun. Pertanyaannya harus tepat sasaran, karena Iis yakin waktu yang dimilikinya sangat sedikit untuk mewawancarai seorang Juan Wijaya.
•••
Bayi besarnya Iis datang... hihihihihii...
Ambyar Iis kalau dikasih manjanya Pak Juan Wijaya.
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1