
"Di...."
"Amore, sayang kamu kenapa?" tanya Adipati kaget saat mendapati Taca berlari kearahnya.
"Aku dikejar rampok," jawab Taca cepat sambil melirik kebelakang dan mendapati dua orang yang tadi mengejarnya masih ada dibelakangnya.
Adipati langsung mengeratkan pelukkannya pada Taca, dia merutuki kebodohannya tadi, yang malah berpisah dengan Markus. Kenapa tadi dia malah meminta untuk berpisah. Berkelahi dengan orang lain bukan suatu masalah bagi Adipati. Tapi, ada Taca disana, dia tidak mau ada apa-apa dengan istrinya.
"Rampok mana? Anak kecil itu mana?" tanya Adipati sambil menatap Taca, pandangannya langsung beralih ke leher Taca, "Kalung kamu mana?"
Taca langsung menarik tangan Adipati untuk berlari sekencang-kencangnya, Adipati yang ditarik tangannya mau tidak mau berlari di samping Taca. Jalanan kota Roma yang terkenal padat, membuat Taca dan Adipati berusaha untuk menghindar banyak orang disekelilingnya.
"Move... move..." teriak Taca sambil terus berlari, entah bagiaman caranya, awalnya Taca berlari di depan Adipati. Tapi, detik ini tiba-tiba Taca sudah berlari dibelakang Adipati.
Tangan Taca terus digenggam oleh Adipati, mereka berlari dengan sangat kencang. Sesekali Taca melirik kebelakang dan mendapati kedua perampok itu juga sedang berlari mengejarnya.
Adipati berbelok ke kanan dan langsung berlari kearah lorong gelap. Dengan sekali hentakkan Adipati menari badan Taca kedalam pelukkannya,menyembunyikannya di balik badannya.
Suara derap langkah terdengar sangat jelas ditelinga Taca, dengan cepat Taca menyembunyikan kepalanya diperut Adipati, memeluk tubuh suaminya seerat mungkin.
"Di, aku takut," cicit Taca sambil memejamkan matanya, berharap semuanya berjalan baik-baik saja.
"Amore tenang, jangan teria...."
Perkataan Adipati terhenti saat Adipati merasakan ada seseorang yang menarik kerahnya. Mau tidak mau badan Adipati tertarik kebelakang dan melepaskan pelukkannya dari Taca.
"Di..." pekik Taca keras sambil berusaha menggapai badan suaminya dengan kedua tangannya."Di... Aw...."
Taca merasakan rambutnya ditarik oleh seseorang dari belakang, "Lepas...!"
Adipati langsung menangkap tangan perampok yang menarik kerah bajunya, dengan segenap kekuatannya ditariknya tangan perampok itu ke arah depan, Adipati pun menghentakkan pinggulnya sampai mengenai perut perampok tersebut, hal itu langsung membuat perampok itu hilang keseimbangan. Moment itu tidak disia-siakan oleh Adipati dengan sekali hentak Adipati melempar badan perampok itu ke dinding didepannya.
"Di... tolong," jerit Taca yang kesakitan karena rambutnya ditarik dengan sangat keras oleh rampok lainnya.
Adipati langsung mendekati Taca, tapi karena konsentrasinya terbelah dia tidak sadar, kalau salah satu perampok tersebut menjegal kakinya. Keseimbangan Adipati pun terpecah, mau tidak mau badan Adipati langsung limbung dan terjatuh ke jalanan berbatu. Hidung Adipati dengan suksesnya mencium jalanan berbatu.
"Di..." jerit Taca sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan perampok dibelakanngnya. Taca benar-benar tidak nyaman dengan sentuhan dari perampok tersebut yang berjenis kelamin lelaki itu. Rasanya, Taca ingin berteriak keras-keras.
"Ok signora, dammi tutti i soldi che hai?" ujar perampok yang tadi menjegal kaki Adipati. (Ok nona, berikan aku semua uang yang kamu punya?)
Otak Taca berputar cepat, dia harus membodohi kedua perampok ini, tapi bagaimana caranya? Mungkin dengan berpura-pura tidak bisa berbahasa Itali, bukan berbohong juga sih, tapi bahasa Itali Taca bisa dibilang sama dengan anak umur 5 tahun. "I can't speak... Awwwww...."
Rambut Taca ditarik lagi oleh perampok dibelakannya. Rasa sakitnya jangan ditanya, pedih. Taca menatap Adipati yang masih tergeletak tak bergerak, entah Adipati pingsan atau mati, Taca sama sekali tidak bisa memastikannya.
"Give all your mon...."
DOR...
Terdengar suara tembakkan, Taca langsung membungkukkan badannya, saking takutnya. Kakinya bergetar hebat, air matanya hampir keluar dari matanya. Tiba-tiba saja pandangan Taca gelap, badan Taca langsung ambruk di samping Adipati, Taca pingsan.
__ADS_1
+++
"Hai...Amore... Amore..." panggil Adipati sambil mengusap-ngusap rambut Taca pelan dan lembut. "Bangun Amore...."
Taca mengerjapkan matanya, berusaha membuka matanya sedikit. Saat membuka matanya, Taca kaget saat melihat wajah suaminya yang sudah babak belur. "Di, muka kamu kenapa? Kok jadi gini? Itu idung kenapa?" tanya Taca sambil menyentuh hidung Adipati pelan.
"Aw... pelan Amore ini sakit, idung aku baru ciuman sama jalanan batu kota Roma," canda Adipati sambil menyentuh hidungnya sendiri.
"Kok, bisa jadi parah gini sih?"
"Nggak papa, bentar lagi juga sembuh, cuman memar doang, Amore," jawab Adipati santai sambil menyentuh hidungnya sepelan mungkin.
"Perampoknya gimana? Fabio?" tanya Taca sambil berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
"Satu-satu Amore nanyanya," ujar Adipati sambil membantu Taca duduk dan mengelus bagian belakang rambut Taca pelan. Saat menarik rambut Taca, Adipati langsung meringgis saat melihat banyaknya rambut Taca yang rontok. "Sakit banget ini rambut kamu, kayanya. Sampai rontok banyak gini."
Taca mengelus rambut bagian belakangnya pelan,sakitnya bukan main. "Iya, sakit banget, Di...."
Adipati langsung mengelus bagian belakang rambut Taca pelan, sambil menciumi pucuk kepala rambut Taca. "Udah nggak papa, untung tadi ada Markus, kalau nggak ada, aku udah nggak tau bakal gimana kejadiannya, Amore"
"Di, rampoknya gimana? Itu Fabio gimana?" tanya Taca masih penasaran.
"Rampoknya udah diamanin sama Markus, kalau Fabio kata Markus, tidak bisa ditemukan. Kakeknya juga katanya sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit," jawab Adipati.
Taca mengusap rambutnya dan membuang rambutnya yang sudah rontok ke lantai rumah sakit, "Di, kasian Fabio dia anak baik, Di. Dia cuman butuh uang buat biaya kakekknya dirawat."
Tangan Taca langsung menyentuk lehernya, menyentuh posisi dimana liontin kalungnya, selalu bertengger. "Maaf, Di. Tadi, aku kasih kalungnya ke Fabio, aku kasian sama dia. Dia bilang, dia butuh biaya buat Kakeknya kerumah sakit."
"Are you...."
"Di, maaf. Aku cuman nggak tega aja, kasian,Di," potong Taca sambil menatap Adipati dengan tatapan Puppy eyes andalannya.
"Aduh, Amore kamu tuh, entah terlalu baik atau terlalu lugu.Ya udah nggak papa, nanti aku beli lagi aja. Aku beliin kalung yang sama, yah," ujar Adipati sambil mengusap tangan Taca.
Taca langsung menganggukkan kepalanya pelan, tanda menyetujui ide Adipati. Sesaat Taca memperhatikan wajah Adipati, yang babak belur.
"Di, kita 'kan mau nikah lagi, masa muka kamu kaya gini, ntar disangkanya kamu nikah paksa lagi sama aku," canda Taca sambil menahan tawanya.
"Nggak papa, biar orang nyangka, kamu wanita kejam yang memaksa aku nikah sama kamu," kekeh Adipati.
"Idih kejam gimana adanya, yang ada kamu yang maksa aku nikah dari awal," protes Taca.
"Kalau nggak dipaksa, keburu brojol Kama sama Kalila kemarin, Amore," Adipati mengingatkan Taca. Taca terkekeh mendengar perkataan Adipati.
"Taca, aduh kamu kenapa, Neng?"
Suara yang sangat dikenal Taca dan Adipati langsung menyadarkan mereka, bahwa mereka tidak sendirian. Abah, ternyata sudah datang sambil membawa Kafta.
"Abah, Kafta," ucap Taca dan Adipati berbarengan.
__ADS_1
Plak....
Adipati langsung merasakan sambitan koran lagend dari Abah di bahunya. "Aduh, Abah sakit banget."
"Kamu, tuh. Ini kenapa Taca sampai kaya gini?" tanya Abah sambil menunjuk Taca.
"Tadi, Taca dirampok." jawab Adipati santai.
"Kok bisa, kamu sih nggak bisa jaga istri, kamu tuh yah. Aduh kasian kamu, Neng. Udah kalau kaya gini, nikahan kamu sama Adipati ditunda aja," ujar Abah sambil melihat wajah Adipati yang babak belur.
"Nggak mau, sayang Abah. Masa mau di batalin gitu aja, nggak mau ah," jawab Taca cepat.
"Nggak dibatalin, tapi diganti aja calon pengantennya," jawab Abah sambil tersenyum misterius.
"Sama siapa?" tanya Taca dan Adipati berbarengan.
Abah langsung membenarkan kerah bajunya dengan wajah yang menunjukkan ekspresi jumawa, "Sama Abah lah."
"Ngaco, Abah ih..." ujar Taca sambil memukul bahu Abah.
"Calonnya siapa, Bah?" tanya Adipati bingung, seingatnya Abah kesini hanya bersama Riki dan Rozak.
"Gampang itu, mah," jawab Abah ngasal.
"Mana bisa Abah," ucap Taca kesal.
"Tapi, Neng. Abah juga ingin nikah lagi, boleh yah, yah," pinta Abah pada Taca.
"Iya, boleh. Taca nggak larang. Tapi, Abah cari dulu sana calonnya. Jangan asal comot juga," ujar Taca sambil mengayun lembut Kafta.
"Sip, Abah mau download aplikasi tinder dulu. Biar Abah bisa dapet jodoh, oke," ujar Abah sambil mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.
Taca dan Adipati hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Abah yang seperti mendapatkan puber kedua. "Iya, nanti sama saya di bikin pesta yang mewah buat Abah," dukung Adipati sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Bagus, kamu emang mantu terbaik," ujar Abah sambil tersenyum senang.
"Aku sampai lupa loh, tadi kita ampir dirampok, cuman gara-gara ketemu Abah. Bapak kamu itu vibe-nya beda, Vibenya itu bikin happy," ujar Adipati.
"Yah, itulah Abah, Di." Taca menatap Abah sambil tersenyum manis. Didalam hatinya Taca selalu memberikan doa terbaik untuk Abah.
+++
Hai... kalian lebih suka nikahan Abah atau Taca?
Kebayang Abah nikah lagi, kebayang yang jadi istrinya semaput, hahhahaaa.
Ah, buat pemenang tas rajut, harap bersabar yah. Kerena satu dan lain hal, admin yang mengurus pendistribusian tas rajutnya, lagi ada yang harus dilakukan di real life. Jadi, dimohon kesediaannya untuk bersabar yah. Sama ini, yang pemenang komen, masih ditunggu untuk memberikan nomer teleponnya yah. Bisa via DM Ig atau Fb. Pc MT/NT juga bisa yah.
Ciaoo...
__ADS_1