Water Teapot

Water Teapot
S2: Kevin Wijaya...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Juan dan Iis masuk kedalam ruangan Vvip dan langsung mendapati Papih yang sedang tertidur di kasur rumah sakit bersama seorang dokter dan suster yang sedang memeriksanya juga Tian sekertaris Ayahnya.


Juan dengan cepat mendekati dokter, “Gimana Papih saya?”.


“Ah Pak Juan, mari kita bicarakan di luar,” ujar Dokter Rendra sambil menarik Juan keluar bersama dengan suster.


“Tian ‘kan?” tanya Iis pada Tian yang sedang berdiri disamping Papih.


“Iya Bu Iis, saya Tian,” jawab Tian sesopan mungkin.


“Kamu bisa pulang,” ujar Iis sambil tersenyum ramah pada Tian.


“Tapi....”


“Nggak papa, nanti saya yang urus. Kamu pulang aja, yah,” pinta Iis sambil tersenyum pada Tian.


Tian langsung menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari hadapan Iis.


Iis menatap mertuanya, dengan cekatan Iis menyimpan barang-barangnya dan mengikat rambutnya menjadi ponytail. Ditariknya kursi kecil kedekat kasur Papih.


“Li... Liliana...” panggil Papih sambil membuka matanya sedikit.


“Om, mau apa?” tanya Iis dengan sigap menanyakan keinginan Papih.


Papih kaget mendengar suara Iis, pikirannya langsung berkelana kesana dan kesini. Diliriknya mantu disebelahnya.


“Kok kamu bisa disini? Istri saya mana?” tanya Papih ketus sambil menatap Iis sinis.


Menikah dengan Juan selama 7 bulan tidak membuat Papih luluh pada Iis. Hampir setiap ada kesempatan Papih akan berkata menyakitkan pada Iis. Tapi, Iis yang dablek hanya tersenyum atau bahkan menjahili Papih. Kadang, Juan yang ngambek dengan Papihnya kalau Papih sudah menghina atau berkata super sinis pada Iis.


“Mamih masih di London, Om. Katanya lusa baru bisa sampai Indonesia,” ujar Iis sambil membantu Papih untuk duduk.


“Saya bisa sendiri,” ujar Papih sambil mendorong Iis agar menjauh dari dirinya.


“Tapi....”


“Saya bisa sendiri, jangan cari muka deh kamu, masih untung saya izinin kamu nikah sama anak saya,” sentak Papih kesal.


Iis hanya bisa mendengus saat mendengar perkataan Papih yang membuat hatinya sakit. Dengan cepat Iis mundur tidak membantu Papih sama sekali.


Papih tampak kepayahan saat bangun dari duduknya, tapi, dasar Papih kepala batu dia menolak pertolongan Iis. Papih akhirnya berhasil duduk dengan baik di kasur rumah sakit. Tangannya langsung mencoba mengambil gelas minum disampingnya. Lagi-lagi Papih kesulitan untuk menggapai gelas disampingnya.


Hampir 10 menit Papih berusaha untuk mengambil gelasnya, selama 10 menit itupun Iis hanya menatap Papih berusaha untuk mengambil gelasnya sambil menahan tawanya.


“Iis bantuin dong, Papih mau minum ini,” ujar Papih sambil menatap Iis.


“Mau dibantuin Om?” tanya Iis sambil menahan tawanya.

__ADS_1


“Ya iyahlah, ambilin,” pinta Papih.


Dengan cepat Iis mengambilkan minum Papih kemudian memberikannya pada Papih, setelah Papih minum sampai tandas, dengan cepat juga Iis mengelap bibir Papih dengan Tissue kering dan menmbantu Papih menyenderkan kembali tubuh Papih.


Papih menatap Iis dengan tatapan kaget, kenapa Istri anaknya ini mau membantunya, pdahal dia sudah sangat sering mencaci maki Iis.


“Om, udah makan? Mau makan?” tanya Iis sambil melirik mangkok makanan disamping Papih.


Papih baru ingat kalau dirinya belum makan dari pagi saking sibuknya, ditambah kabar tentang kebodohan adiknya Dion yang menjual sahamnya tanpa melakukan pembicaraan terlebih dulu membuat penyakit jantungnya kumat. Untungnya, Dimas tadi dengan sigap membawa dirinya ke rumah sakit, kalau tidak mungkin sudah game over dirinya.


“Iya, Om mau makan. Om belum makan dari pagi, Om lupa,” ujar Papih sambil menatap Iis, berharap Iis membalasnya dengan dengusan atau sikap sinis. Tapi....


“Ya udah, Iis suapin yah,” ujar Iis sambil mengambil mangkok disamping Papih dan dengan cekatan menyuapi Papih.


Papih hanya bisa diam dan membuka mulutnya, dengan lahap Papih memakan makanannya sampai tandas, setelah habis Iis membantu Papih untuk minum.


Iis langsung membereskan semuanya dengan cekatan. Sampai merapihkan kasur Papih dengan cepat.


“Kamu tuh kerjanya Psikolog atau Suster sih? Kok cekatan amat,” tanya Papih sambil tersenyum pada Iis.


Iis langsung membalas senyuman Papih, “Dulu aku suka rawat almarhum Ayah aku, Om. Jadi udah biasa ngerawat orang sakit.”


Papih menganggukkan kepalanya, “Maaf kemarin pas Ayah kamu meninggal, Papih nggak bisa hadir,” ujar Papih.


“Nggak papa Om, Iis tau Om sibuk. Kan udah diwakilin Mamih sama Mas Juan juga,” jawab Iis santai.


“Maaf.”


“Hah... Nggak papa Om, udah ah. Aku juga udah baik-baik aja.” Iis langsung duduk kembali di kursi.


Saat TV dinyalakan langsung terdapat film The Pursuit of Happyness, film tentang perjuangan seorang Ayah yang berjuang untuk bertahan hidup bersama anak lelakinya.


“Papih mau nonton ini?” tanya Iis.


“Boleh Papih, belum nonton film ini,” ujar Papih sambil menatap layar TV. Iis yang memang suka nonton film pun akhirnya mereka menonton film tersebut dengan santai.


Klik....


Juan masuk kedalam kamar dengan terburu-buru, Juan ingat dia meninggalkan Papih dengan Iis dalam satu ruangan sama saja seperti menyimpan Istrinya di dalam kandang macan. Saat Masuk ke kamar Juan dikagetkan saat melihat Istrinya menangis tersedu-sedu disamping Papih yang sedang mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah seperti menahan amarah.


‘Astaga kenapa lagi ini,’ maki Juan didalam hati sambil berjalan dengan cepat kearah Iis.


“Papih, ngapain Iis lagi sih? Emang Iis salah apa?” tanya Juan sambil menatap Papihnya dengan tatapan kesal. Salah apa istrinya sampai dimarahi oleh Papih !?.


“Mas...” isak Iis sambil mengusap air matanya.


“Kamu diapain Papih, Yang?” tanya Juan khawatir sambil mengusap pipi Iis.


“Itu, Mas... Itu,” ujar Iis sambil menunjuk tv dihadapannya.


“Apa?” tanya Juan gemas sambil melihat kearah TV.


“Kasian Chrisnya,” isak Papih tiba-tiba sambil mengambil tissue disampingnya dan melap air mata dengan malu-malu.

__ADS_1


“Kasian Mas, Chrisnya diusir dari hotel terus tidur di kamar mandi stasiun kereta sama anaknya, astaga Mas sedih banget ini filmnya,” isak Iis sambil melap air matanya.


“Hah... jadi ini nangis gara-gara film?” tanya Juan sambil berkacak pinggang dan menatap Papih dan Iis yang menatapnya dengan mata yang bengkak karena menangis.


“Iya,” jawab Iis dan Papih berbarengan.


“Om, itu kasian anaknya,” isak Iis sambil menunjuk layar TV.


“Iya, perjuangan seorang Ayah, Om ngerasainnya. Dulu, waktu Juan kecil. Si Juan bikin kepala Om pusing, nakal banget Juan dulu, anak tetangga pada dirayu semuanya, jiwa playboy Juan udah diasah sedari kecil, Iis,” Papih tiba-tiba curhat kelakuan Juan yang sudah Playboy sedari belia.


“Udah nggak aneh, Om, satu-satunya perempuan yang ngak dimodusin Juan cuman Bi Sur, Taca Istrinya Adipati aja pernah dimodusin sama Juan, Om,” ujar Iis sambil mengambilkan minum untuk Papih.


“Emang semprul si Juan itu,” ujar Papih dengan suara yang masih terisak karena masih terbawa suasana film.


Juan hanya bisa menatap Papih dan Iis yang tiba-tiba akur karena sebuah film.


“Hadeuh, ini kenapa malah jadi ngomongin Juan,” protes Juan sambil duduk disamping Iis.


“Kenyataan Juan, kamu emang semprul sedari kecil, mirip kaya Om Dion,” ujar Papih sambil mengusap air matanya.


“Yeh... udah ah, pulang yuk, Yang,” ujar Juan.


“Nanti dulu Juan, ini film belum selesai, Papih masa ditinggal sendiri,” protes Papih.


“Iya, Mas pulang aja, biar Iis jaga Om disini. Ini filmnya juga belum selesai,” ujar Iis sambil menatap Juan.


“Hah, nggak kalau kamu disini aku sama siapa? Nggak, aku mana bisa tidur kalau nggak ada kamu,” protes Juan.


“Alah, Juan. Sehari doang Papih minjem istri kamu. Lusa Mamih pulang Papih balikin Istri kamu,” cerocos Papih sambil menatap Juan dengan tatapan memohon pada Juan.


“Hadeuh, ya udah. Juan pulang deh, kamu disini nggak papa?” tanya Juan pada Iis dan langsung di jawab anggukan oleh Iis.


“Beneran?”


“Iya Mas beneran, kasian juga Papih kalau sendirian disini, kamu besok kesini lagi aja bawain aku baju ganti, yah,” pinta Iis.


“Ya udah, Papih Juan pulang yah,” ujar Juan sambil mencium pucuk kepala Iis.


“Iya sana pulang, ini lagi rame ini filmnya,” ujar Papih sambil melambaikan tangannya pada Juan, tanda mengusir Juan.


Juan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Papih dan Iis. Sebenarnya, Papih dan Iis ini klop kelakuannya. Ah... mudah-mudahan Papih dan Iis bisa baikkan.


•••


Nonton deh The Pursuit of Happyness pemerannya Will Smith, filmnya lumayan lah...


Heheee...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2