Water Teapot

Water Teapot
S2: Unhappy....


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis terdiam mendengar teriakkan Juan, bentar apa kupingnya tidak salah dengar. Gimana maksudnya? Apa? SUAMINYA MANDUL?!


Dengan tangan yang bergetar Iis membaca ulang isi kertas yang ada ditangannya. Jantungnya berdetak kencang, napasnya memburu. Tangannya bergetar hebat.


Bola mata Iis berlari-lari dari kanan ke kiri saat membaca tulisan di kertas tersebut. Disana tertulis bahwa jumlah ****** milik Juan sangat sedikit dan Juan akan kesulitan memiliki anak.


Napas Iis tercekat saat membaca rangkaian kata yang ada disana. Kepalanya tiba-tiba limbung, bentar jadi Juan mandul?


Tiba-tiba langitnya runtuh, jadi selama ini, Juan mandul? Jadi selama ini Juan bohongin dia? Jadi selama ini Juan menolak punya anak karena dia mandul? Ternyata Juan yang sakit, bukan dia...!!!!


“Mas... Mas...” panggil Iis sambil menggerak-gerakkan badan Juan.


Juan hanya bergerak sedikit, kemudian kembali tertidur. Sepertinya hangover membuat Juan kembali tidur pulas.


Iis terdiam melihat suaminya, tiba-tiba rasa sedih menelusup ke hati Iis, tangis Iis pecah. Sakit, hatinya sakit. Astaga... kenapa Juan tidak jujur, apa salah dia?


Jadi selama ini dia berjuang punya anak itu sia-sia? Kenapa Juan sebrengsek ini pada dirinya? Kenapa? Apa salahnya? Kenapa Juan nggak jujur.


Tangan Iis langsung menutupi mulutnya, tangisnya meledak tapi Iis berjuang mengontrol tangisnya agar tidak bersuara keras, kaki Iis goyah sampai lemas membuat Iis terduduk disamping kasur. Tangis Iis yang makin keras dan bersuara Iis redam sambil menggigit sprei.


Sakit tuhan, sakit....!!!!


•••


Sepanjang malam Iis sama sekali tidak tidur, Iis hanya duduk di ruang tamu sambil menatap pemandangan kota Jakarta yang sendu. Diputar-putarnya cincin nikah miliknya, sesekali diliriknya cincin tersebut.


Lagi Iis menangis, tangisan Iis pecah. Astaga kenapa sakit? Padahal ini kebohongan Juan yang pertama kali, tapi sakitnya bukan main.


Iis ingat kata-kata Juan yang selalu bilang tidak mau punya anak, Iis ingat kata-kata Juan yang kadang bilang ingin punya anak tapi kadang menolak memiliki anah. Iis ingat betapa marahnya Juan saat tau dia suntik HCG kemarin. Jadi, jadi ini alasannya, astaga tuhan.


Iis langsung menarik-narik rambutnya keras saking stressnya. Di tekuknya kakinya sampai menyentuh dadanya, Iis ingin teriak. Iis ingin memaki suaminya...!!!


Rasa Cintanya kalah dengan rasa marahnya, kebenciannya pada Juan benar-benar sudah berada di titik maksimalnya. Iis nggak kuat.....


“AAAHHHHHH......” Iis berteriak sekencang-kencangnya dia tidak peduli Bi Sur atau Juan mendengarnya.


PRANG.....


Iis melempar gelas ke arah dinding saking kesalnya, Iis benar-benar butuh melepas amarahnya. Rasa sesak didadanya benar-benar membuat dia hampir gila.


“Neng...” panggil Bi Sur.


Bi Sur yang kaget mendengar suara benda dilempar dan teriakkan langsung buru-buru berjalan mendekati Iis.


“Bi Sur,” panggil Iis lemah.


“Neng kenapa? Ada apa?” tanya Bi Sur sambil mendekati Iis.


“Nggak papa Bi, aku cuman lagi kesal,” ujar Iis sambil mengusap hidungnya, Iis berusaha untuk menutupi kesedihannya, jangan sampai ada yang tau Juan mandul. Cukup dirinya yang tau.


“Ah, ya udah Bibi beresin dulu yah,” ujar Bi Sur sambil mengambil kertas hasil pemeriksaan Juan dan tak sengaja membacanya sekilas.


“Ah... Bibi jangan.” Iis dengan capet mengambil kertas dari tangan Bi Sur, Iis takut kekurangan suaminya diketahui Bi Sur.


“Alhamdulilah Pak Juan udah jujur sama Neng?” ujar Bi Sur.


Perkataan Bi Sur membuat Iis kaget dan menggantungkan tangannya di udara. “Maksudnya?”

__ADS_1


“Maksudnya, Pak Juan udah jujur ‘kan ke Neng Iis tentang mandulnya?” tanya Bi Sur sambil tersenyum, Bi Sur sama sekali tidak tau perkataannya mampu membuat kemarahan Iis meledak.


“Bentar, gimana?” tanya Iis bingung.


“Pak Juan udah jujur kalau dia mandul ke Neng Iis kan?” tanya Bi Sur takut-takut, Bi Sur yang sadar akan perubahan intonasi suara Iis langsung merasa takut salah berbicara.


“Bibi tau kalau Juan mandul, sejak kapan?” tanya Iis kaget.


“Sejak, sejak.. ah Bibi mau ambil lap dulu,” jawab Bibi sambil berusaha untuk menjauh dari Iis.


“Mau kemana? Jawab pertanyaan saya,” ujar Iis sambil memegang tangan kanan Bi Sur dengan keras.


“Neng....”


“Nggak usah takut sama Mas Juan, saya yang tanggung jawab, jawab Bi, siapa aja yang tau?” tanya Iis.


“Setau Bibi sih. Semua keluarga Pak Juan tau,” ujar Bibi.


Iis terdiam pantas selama ini tidak ada satupun keluarga Juan yang memaksanya untuk hamil atau apapun juga. Ternyata mereka sudah tau Juan mandul. Iis memaklumi itu semua, masih okelah hanya keluarga Juan dan Bi Sur yang tau.


“Siapa lagi?”


“Paling Nona Cicil, karena dulu sebelum mereka putus, Pak Juan dan Nona Cicil selalu berantem masalah kemandulan Pak Juan,” ujar Bi Sur jujur.


Iis masih diam, ternyata Cicil tau. Ah jangan-jangan yang disuntik HCG itu bukan Citra tapi Cicil. Astaga... kenapa dia bisa sebodoh ini sampai tidak sadar kalau Juan dan keluarganya aneh. Kenapa dia bisa tidak sadar, kepekaannya sepertinya tertutupi rasa cintanya yang besar pada Juan.


“Bi....”


“Iya Neng,” jawab Bibi takut-takut.


“Tolong siapin baju-baju dan perlengkapan pribadi saya, terus masukin ke dalam koper. Simpen kopernya di lobby, titip Pak Zulkarnaen. Bajunya ambil aja di kamar tamu, bawa bajunya yang cukup buat seminggu,” pinta Iis sambil menatap Bi Sur.


“Neng mau kemana? Neng, jangan gara-gara Bi Sur, Neng pergi.”


Iis hanya tersenyum pada Bi Sur, “ Nggak, udah beresin aja, Bi,” ujar Iis sambil menatap Bi Sur.


•••


Juan terbangun dari tidurnya dan kaget saat sadar dirinya sudah ada dikamarnya. Dengan cepat dia mengedarkan pandangannya mencari Iis. Juan ingin bertanya bagaimana dia bisa sampai disana. Diraihnya handphonenya kemudian menelepon Adipati.


“Apa?” tanya Adipati saat mengangkat teleponnya.


“Gimana caranya gue pulang?” tanya Juan langsung.


“Dianter Cicil kayanya. Kama sakit panas, jadi kemarin gue langsung ke rumah sakit, Taca panik,” ujar Adipati.


“Hah... jadi gue pulang sama Cicil? AHHH.... alamat ngamuk ini Iis,” ujar Juan panik.


Juan yang tau Iis masih ada rasa cemburu pada Cicil langsung panik. Dengan cepat dia menutup sambungan telepon dari Adipati dan berlari keluar kamar mencari Iis.


Matanya dengan cepat mencari sosok istrinya, ekor matanya langsung melihat Iis yang sedang duduk di meja makan sambil mengetuk-ngetukkan cincin.


‘Sebentar, cincin apaan itu?’ batin Juan sambil memicingkan matanya untuk melihat cincin apa yang diketuk-ketukkan oleh Iis.


“Astaga itu cincin nikah, kenapa Iis lepas. Arghh... gawat..!?” bisik Juan sambil berlari mendekati Iis yang terlihat bengong.


“Ayang...Ayang... aku bisa jelasin,” ujar Juan sambil menatap Iis.


Iis yang mandengar perkataan Juan langsung menghentikan gerakan tangannya. Diliriknya Juan dengan tatapan terdingin yang pernah Juan liat.


Juan langsung berpikir yang tidak-tidak. Argh... sial kenapa dia bisa sampai mabok sih, pasti dia cium-cium Cicil atau dia.....


‘Nggak mungkin dia sampai transfusi darah putih sama Cicil, pasti dia ingat..!’ batin Juan.

__ADS_1


“Apa?” tanya Iis dingin.


Juan kaget mendengar intonasi suara Iis yang dingin, saking dinginnya Juan sampai bergidik. Astaga pasti dia benar-benar membuat Iis marah, kemarin dia ngapain sama Cicil!?


“Mas minta maaf, Mas nggak inget apa-apa kemarin. Kalau seandainya Mas ngelakuin aneh-aneh sama Cicil Mas minta maaf,” ujar Juan sambil mengusap bahu Iis tapi Iis menjauhkan diri dari usapan Juan.


Deg...


Seumur hidup Juan belum pernah di tolak oleh Iis, semarah-marahnya Iis, Iis tidak pernah menolak sentuhan Juan.


“Yang, aku beneran nggak tau kalau yang anter aku bakal Cicil, aku...”


“Maaf Juan, saya nggak marah karena anda dianter Cicil atau apalah, saya nggak peduli,” ujar Iis dingin.


Plak...


Juan seperti ditampar dan merasa kaget setengah mati saat Iis memanggil dirinya dengan nama depannya, bukan Mas atau sayang. Istrinya marah besar...!?


“Yang, kamu marah kenapa? Salah aku apa?”


“Salah anda?” tanya Iis sambil berdiri dan mengambil tasnya.


“Yah apa, Yang?”


“Sampai kapan anda mau bohong? Kapan anda mau jujurnya, Pak Juan Wijaya Yang Terhormat,” sentak Iis sambil menyodorkan kertas dan cincin nikahnya kemudian pergi meninggalkan Juan yang kebingungan.


“Yang.... nggak lucu yah cuman gara-gara Cicil kamu kaya gini, maksudnya apa kamu kasih-kasih cincin nikah gini?” bentak Juan sambil mengambil cincin dan suratnya kemudian berjalan mengejar Iis.


“Ayang...!” sentak Juan sambil menyambar tangan Iis yang sudah berada didepan pintu.


“Apa?”


“Ini kenapa cincin kamu lepas? Maksudnya apa? Nggak lucu Lizbet Sandia Wijaya...”


“Lizbet Sandia nama saya Lizbet Sandia nggak pake Wijaya..!” ujar Iis dingin, mukannya benar-benar tanpa ekspresi.


“Kamu istri aku, kamu udah masuk kekeluarga Wijaya...”


“Oh, aku keluarga Wijaya juga? Aku sangka aku outsider(orang luar),” ujar Iis sambil melepaskan tangan Juan dari kedua bahunya.


“Outsider gimana? Yang kamu marah kenapa? Ini ada apa sih?” tanya Juan kebingungan, kenapa tiba-tiba Istrinya ini jadi penuh dengan teka teki.


“Udah lah Juan, terserah anda mau ngapain. Saya sudah tidak peduli, silahkan berbohong terus sampai mamp•s, buat aja kaya saya yang salah, buat aja kaya saya yang sakit, terserah kamulah,” sentak Iis sambil mendorong Juan kemudian keluar dari apartemen.


BRAK.....


Juan kaget bukan main, ada apa dengan istrinya ini? Dengan kesal dilihatnya surat yang tadi Iis berikan.


JLEGERRR....


Seperti ada guntur disiang bolong saat Juan membaca tulisannya. Astaga kenapa Iis bisa punya surat catatan medisnya yang menyatakan dia mandul, seingatnya Juan menyembunyikannya di dalam buku tahunan SMAnya.


Dengan cepat Juan membuka pintu dan berteriak keras..


“AYANG...!!!”


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2