
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Adipati keluar dari ruangan tersebut sambil menahan tawanya. Niat hati mau membantu eh, malah diusir.
"Adi.. Adipati.."
Adipati menoleh dan menemukan Iis yang berlari terburu-buru, kearahnya.
"Eh, Iis ada apa ?"
"Di, aku punya perasaan ngak enak, tadi Taca di minta buat keruangan Entis. Buat tanda tangan sesuatu," ujar Iis sambil menstabilkan nafasnya karena berlari-lari.
"Hah.. tanda tangan apaan? Kenapa harus keruangannya segala, sih ?" wajah Adipati langsung berubah pucat.
"Ngak tau, tapi perasaan aku ngak enak. Entis bukan orang nekat kaya Becca dan Ryan. Tapi aku ngerasa ngak enak aja," Iis memperjelas alasannya kenapa sampai dia mencari Adipati untuk mencari Taca.
Adipati langsung memijat keningnya,"Ya udah kita cari ruangan Entis."
•••
"Pak Entis didalam," ujar Jojo sambil membukakan pintu ruangan Entis, Taca langsung masuk kedalam ruangan kemudian melihat Entis diruangan tersebut.
"Taca, duduk dulu. Mau minum apa ?" tanya Entis sambil menutup map didepannya.
"Ngak usah Entis, ada apa yah ?" tanya Taca bingung.
"Oh, nggak saya cuman mau ngobrol ajah, atuh," ujar Entis sambil menunjukkan senyuman terbaik miliknya.
Taca hanya bisa memundurkan kepalanya melihat senyuman Entis."ngobrol kan bisa ditempat lain, Ntis."
"Yah, kalau disinikan bisa berdua, kalau ditempat lain pasti diganggu Adipati atau Rani. Kalau gini kan enak," Entis berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati kursi Taca.
Taca langsung merasa risih melihat Entis mendekatinya. Rasanya dia ingin kabur melarikan diri dari sana.
"Neng, Akang masih suka sama Neng, Neng suka sama Akang, kan ?" tanya Entis sambil berjongkok didepan Taca.
"Hah ? Gimana ? Entis otak kamu masih normal kan ?" Taca benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Entis.
"Normal, Neng. Neng, Entis suka sama Neng. Entis tau Neng pulang buat menggagalkan rencana pernikahan Entis sama Rina 'kan. Jujur aja Neng. Ngak papa kok."
'Astaga, Entis lo mabok aibon atau gimana sih ? ' batin Taca sambil menepuk dahinya.
"Entis.. kan dari dulu, Taca udah bilang, Taca ngak suka sama Entis. DULU, SEKARANG, BESOK, DAN YANG AKAN DATANG...!!" jerit Taca frustasi, karena mahluk didepannya ini benar-benar bikin kepalanya pusing.
Entis hanya tersenyum, kemudian menyentuh kedua tangan Taca. "Kamu cemburu yah, gara-gara saya mau nikah sama Rina. Tenang Taca, kalau kamu bilang Iya, seminggu lagi yang nikah itu saya sama kamu, bukan saya sama Rina."
Taca langsung menarik tangannya, dia tidak suka ada yang menyentuhnya kecuali Adipati. "Entis, saya udah punya calon suami, namanya Adipati Berutti, dia calon suami saya."
"Hahahahaa... dia itu siapa sih ? Saya lebih dari dia Taca. Dia hanya pekerja kantoran biasa, pegawai kubikel." olok Entis sambil kembali memegang tangan Taca.
Dengan cepat Taca menarik tangannya lagi, kemudian mendorong kursinya kebelakang agar kursinya menjauh dari Entis.
"Pak Entis kalau tidak ada yang mau dibicarakan saya permisi dulu," Taca langsung berdiri dengan cepat saat tercipta jarak antar Taca dan Entis.
"Taca, saya akan batalkan pernikahan saya, saya maunya sama kamu..."
__ADS_1
"TAPI TACA MAUNYA SAMA SAYA...!!!" suara bariton Adipati langsung membuat Taca dan Entis melihat kearah pintu.
Dengan cepat Entis berdiri dari jongkoknya, sedangkan Taca langsung berlari kepelukan Adipati.
"Kamu ngak papa, Ta ?" tanya Iis khawatir
Taca hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Hai, Adipati apa kabar," ujar Entis dengan wajah tanpa dosa, ingin rasanya Adipati melempar Entis.
"Ka.."
"Pak Entis, Pak RK (Ridwan Kamil) sudah datang, Pak." ujar Jojo.
Entis langsung tersenyum kemudian, berjalan kearah pintu keluar.
"Andai kamu jadi istri saya, kamu pasti duduk dekat Pak Ridwan Kamil dan bakal banyak yang menghormati kamu, Ta. Ngak kaya sama Bule itu. Ngak ada yang hormatin kamu, paling kamu makin digunjingin yang tidak-tidak, Ta." ujar Entis sambil pergi meningalkan Taca, Iis dan Adipati.
"ASTAGAA..."
"Udahlah Di, dia lurah disini, kita ngak bisa marah-marah sama dia," ujar Iis menenangkan Adipati sambil mengerucutkan bibirnya. Iis kesal, tapi Iis mau apa, tidak ada yang bisa dia lakukan juga.
"Oke, Enough is Enough (sudah cukup), Taca, Amore." panggil Adipati.
"Iya ?"
"Benerin pakaian kamu, masukkin kemeja putih kamu, gerai rambut kamu. Kamu bawa make up ?"
Taca hanya menganggukan kepalanya.
"Ok, touch up ( perbaikki make up kamu), dan lo.." Adipati menunjuk Iis.
"Benerin rambut, make up dan rapihin baju lo, lo ikut juga, cepet."
Iis dan Taca mengikuti perkataan Adipati.
•••
"Jadi Pak Ridwan, acara ini diselenggarakan demi kelancarannya bulan KB nasional di Jawa Barat." ujar Entis sambil tersenyum lebar.
"Oh, yah bagus sangat saya dukung. Ini semuanga yang bantu ?" tanya Ridwan Kamil, sambil memandang berkeliling melihat para karang taruna Desa Citeko.
"Iya, Pak betul sekali. Kami bekerja sama dengan warga masyarakat sekitar."
Pandangan mata Ridwan Kamil terhenti pada sebuah wajah, wajah yang dikenalnya dengan baik. "Wah, ini saya ngak salah liat ?"
"Kenapa, Pak ?" tanya Entis penasaran.
"Pak Adipati Berutti ? Astaga, ini beneran anda ?" ujar Ridwan Kamil sambil berjalan menghampiri Adipati.
"Long time no see, Mister Governor," Adipati langsung menjabat tangan Ridwan Kamil sambil tersenyum bisnis.
"Astaga, kamu ngapain disini ?"
"Saya sedang membantu pekan KB didesa ini, kebetulan calon istri saya orang sini, terus kakaknya salah satu pemuda karang taruna. Jadi saya bantu-bantu." jawab Adipati sambil menarik Taca kedekatnya.
"Yang mana calonnya ?" tanya Ridwan Kamil bingung melihat Iis dan Taca.
"Yang ini, Pak. Taca namanya." ujar Adipati sambil mendorong Taca sedikit kedepan.
__ADS_1
Beberapa wartawan memotret Taca dan Adipati.
"Saha namina, Neng ?" tanya Ridwan Kamil.
(Siapa namanya, Neng ?)
"Taca, Pak."
"Linggih dimana, Neng."
(Tinggal dimana, Neng ?)
"Didieu, Pak. Di Citeko." jawab Taca, Taca berjuang mengunakan bahasa sunda terbaikknya, sampai Aa Riki yang melihat itu menahan tawanya.
(Disini, Pak. Di Citeko)
"Wah, hebat kamu Adipati, bisa dapetin mojang Citeko. Hahahaaa..."
"Hahahaa.. Bapak, bisa aja. Oh yah Pak, kalau yang ini calon istrinya Juan Wijaya," ujar Adipati sambil mendorong badan Iis.
"Hah... Juan Wijaya ? Anak satu-satunya keluarga Wijaya, yang itu ?" tanya Ridwan Kamil sambil menjabat tangan Iis.
Lampu kamera wartawan langsung terlihat dikanan dan dikiri mereka, berjuang memotret wajah Iis.
"Iis, Pak." jawab Iis ditengah kebingungan kenapa banyak sekali wartawan yang memotretnya.
"Wah..wah.. maaf Pak Lurah, kursi buat saya mana ? Saya mau duduk bareng Pak Adipati dan Calon istrinya juga Calon istri Pak Juan."
Entis hanya bisa terdiam melihat keakraban Adipati dan Ridwan Kamil, Entis makin penasaran siapa sebenarnya Adipati ini.
"Disana Pak.."
Sesampainya dikursi yang akan ditempati Oleh Ridwan Kamil, Rani yang sudah menunggu datangnya Ridwan kamil langsung, berdiri dan memberikan senyuman terbaiknya, tapi senyumnya langsung pudar saat melihat Ridwan Kamil sedang berbincang dengan Adipati bukan dengan Entis.
Senyumnya makin hilang saat, dirinya diminta untuk pindah duduknya kebelakang, kemudian melihat kursi miliknya malah didudukki Taca, Iis dan Adipati. Karena, Entis pun duduk dibelakang bersama dirinya bukan bersama Pak Ridwan Kamil.
Pada saat Ridwan Kamil maju kedepan untuk memberikan kata sambutan, Adipati menolehkan wajahnya kebelakang kemudian berkata pada Entis.
"Taca tidak perlu menjadi, Istri kamu untuk duduk disebelah Ridwan Kamil, cukup menjadi Istri saya, Taca bukan hanya bisa duduk disebelah Ridwan Kamil, bahkan dia bisa duduk disebelah Pak Joko Widodo." ujar Adipati dengan tatapan tajam pada Entis.
Entis terdiam, rasa kesal dan amarah mengguruh didadanya.
"Ah satu lagi," Adipati langsung menjabat tangan Entis sambil tersenyum. "Kenalkan, Adipati Berutti, CEO TOKO, salah satu perusahaan Unicorn terbesar di Indonesia. Dan saya tidak pernah merasa akrab dengan anda, Pak Entis Darmawangsa."
Deg
Wajah Entis langsung berubah pias, dia langsung mengingat kebohongan yang dia ucapkan di pasar waktu itu. Entis langsung terdiam tidak mampu berkata-kata. Dia sadar dan mundur untuk mendapatkan Taca, dia sadar lawannya BERAT.....!!!
•••
Akhirnya Pak Entis sadar siapa Adipati hahahahhaaaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon