Water Teapot

Water Teapot
S2 : Sadarnya Ayah...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis memainkan soto didepannya, diaduk-aduknya soto betawi di depannya. Napsu makannya menghilang, sudah seminggu ini Ayah tidak sadarkan diri. Iis hanya bisa menemani Ayah sambil berceloteh tentang apapun, berharap Ayah menjawab pertanyaan Iis entah dengan anggukan atau kata-kata Hmm dan Oh.


“Hei.. makannya yang bener, Yang,” pinta Juan saat melihat Iis menumpahkan sotonya ke pinggir meja.


“Hah..ah...iya maaf, aku kayanya lagi ngak fokus,” jawab Iis sambil mengambil tissue dan melap kuah soto.


“Mikirin apa sih kamu, Yang?” tanya Juan sambil membantu Iis melap kuah soto dihadapannya.


Iis hanya bisa tersenyum simpul mendengar perkataan Juan, “Mikirin Ayah, kenapa belum sadar-sadar yah?” tanya Iis jujur sambil menatap Juan.


“Nanti juga sadar, Yang. Maaf yah, andai aku ngak ngobrol di pengadilan, mungkin Ayah kamu ngak bakal tau kalau Bernard bukan anaknya,” ujar Juan sambil mengelus rambut Iis.


“Nggak papa, kebenaran harus keungkap ‘kan,” ujar Iis sambil memilin tissue didepannya.


“Maaf.”


Iis tiba-tiba mengelus paha Juan dengan lembut, “Nggak papa, bukan salah kamu juga. Aku yang terlalu kepo pas liat kamu ada disana. Jadi aja aku masuk kedalam.”


“Aku...”


Zrrrttttt zrrrttttt


Handphonen Iis bergetar pelan, dengan cepat Iis mengangkat teleponnya.


“Dengan Ibu Lizbet Sandia ?”


“Iya saya sendiri, ini siapa?” tanya Iis.


“Saya dari rumah sakit, mau mengatakan kalau Ayah Ibu sudah sadar.”


“Ayah sadar?” tanya Iis kaget bercampur senang.


“Iya, Bu. Ayah Ibu sadar dan dari tadi mencari Ibu juga Pak Juan.”


“Oke.. saya kesana sama suami saya,” ujar Iis sambil menutup sambungan teleponnya.


“Ayah sadar ?” tanya Juan pada Iis.


“Iya, makan dulu aja, Mas. Kamu belum makan ‘kan,” ujar Iis sambil melirik makanan Juan yang belum ada setengah-setengahnya dimakan oleh Juan.

__ADS_1


“Aku masih...”


Iis dengan cepat menyuapi Juan nasi dan sotonya. Iis tau suaminya ini belum makan sama sekali.


“Ayah ngak bakal kabur dari rumah sakit, jadi mending kamu makan dulu. Satu orang sakit aja udah bikin kepala aku pecah. Apalagi kalau dua orang, bisa nangis dipojokan aku, Mas,” cerocos Iis sambil menyuapkan makanan ke mulut Juan lagi.


Juan hanya bisa tersenyum dan memangkukan kepalanya di tangan kanannya sambil menerima suapan Iis.


“Aaaaa Mas.. bukan senyum,” ujar Iis sambil menyodorkan sendoknya ke arah bibir suaminya dengan gemas.


“Kalau ngak lagi dirumah makan atau ngak di Indonesia udah abis kamu aku cium, Yang,” bisik Juan sambil mengerling nakal.


Dengan gemas Iis memasukkan sendok kemulut Juan, “Kalau dirumah kamu mau ‘makan’ aku juga bebas, Mas. Aku mah pasrah.”


“Ohok...ohok...” Juan tersedak mendengar jawaban Iis. Sial istrinya ini tau saja cara membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


“Aduh Mas, pelan-pelan makannya. Ini minum dulu,” ujar Iis sambil memberikan minuman ke Juan.


“Udah ah, yuk,” ajak Juan sambil melap mulutnya, otaknya sudah mulai berkelana kekanan dan kekiri setelah mendengar perkataan Iis.


•••


“Yah...” panggil Iis pelan sesaat masuk kedalam kamar Ayah. Di kamar Ayah sudah ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa Ayah.


Ayah tersenyum melihat Iis dan Juan yang masuk kedalam ruang rumah sakit. “Iis...”


“Bu Lizbet dan Pak Juan, ini Pak Apo sudah mulai sadar, tapi masa kritisnya belum lewat. Jadi, masih saya dan team saya pantau,” ujar Dokter itu sambil tersenyum.


“Ah iya, makasih yah Dokter,” ujar Iis sambil berjalan mendekat.


“Ah, Bu Lizbet ada yang ingin saya bicarakan dengan Ibu di luar, mari,” pinta Dokter sambil membawa Iis keluar ruangan.


Iis mengikuti dokter tersebut, meninggalkan Ayah dan Juan didalam kamar berdua. Setelah Iis keluar dari dalam kamar, Ayah tiba-tiba memanggil Juan.


Suara Ayah yang seperti sedang kumur-kumur membuat Juan harus menajamkan pendengarannya.


“Juan...Nak, sini Ayah mau ngomong sesuatu,” ujar Ayah.


Juan mendekat pada Ayah dan duduk disamping ranjang rumah sakit Ayah. “Iya..”


“Nak, Ayah minta sama kamu jaga Iis, yah. Kasian Iis, Ayah udah jahat sama dia. Karena kebodohan Ayah Iis sama Ibunya menderita. Jaga Iis yah, Nak. Jangan sakitin dia, karena dia udah ngak punya siapa-siapa,” ujar Ayah sambil berusaha menggerakkan tangannya.


“....”


“Entah harus seperti apa permintaan maaf Ayah buat Iis, Ayah ngak berharap dimaafkan. Ayah cuman berharap kamu bisa jaga Iis.”

__ADS_1


“Iya Ayah, Juan bakal jaga Iis. Juan tau Ayah ngak salah disini, ego kita sebagai laki-laki memang kadang menjerumuskan diri kita ke sesuatu yang salah,” ujar Juan sambil menepuk pelan tangan Ayah.


“Iya, Ayah minta kamu jangan kalah sama ego kamu, seandainya Iis ngak bisa kasih kamu anak laki-laki atau perempuan, bahkan tidak bisa memberikan kamu anak, jangan sakiti dia. Daripada kamu nyakitin dia, lebih baik tinggalkan dia, mungkin dia bisa mendapatkan yang lebih baik dari kamu,” pinta Ayah sambil menahan air matanya.


Mendengar perkataan Ayah, Juan hanya bisa tersenyum pedih. Bukan Iis yang tidak bisa hamil. Tapi, dirinya yang tidak bisa memberikan anak pada Iis.


Hening...


Tidak ada yang berkata diantara Juan dan Ayah, mereka berdua sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sibuk dengan kenyataan yang harus mereka hadapi. Satu pria menyesal sampai ke tulang sumsumnya karena sudah menyia-nyiakan Istri dan Anaknya. Dilain pihak ada Juan yang sedang meratapi nasibnya, mencoba mencari cara untuk mengubur kenyataan kekurangan dirinya.


“Nak..” panggil Ayah memecahkan kesunyian diantara mereka berdua.


“Iya.”


“Tolong panggilkan Bunda dan Bernard kesini, bisa?” tanya Ayah sambil menatap Juan dengan tatapan kosong.


“Hah... buat apa?” tanya Juan bingung, buat apa dia memanggil Bunda dan Bernard kesana. Okelah kalau Bernard, tapi kalau Bunda buat apa? Mana ngurus izinnya susah, terus ngak ada faedahnya pula.


“Tolong panggilkan saja, ini permintaan Ayah, Ayah mohon sama kamu,” ujar Ayah sambil menatap langit-langit kamar.


“Oke, nanti Juan minta Saka urus prosedurnya, karena buat minta izin keluar lapas sedikit susah,” ujar Juan sambil menatap Ayah.


“Kalau bisa secepatnya, ada yang ingin Ayah sampaikan ke mereka berdua. Sekalian kamu sama Iis juga ada yah,” pinta Ayah lagi.


Klik...


Iis masuk kedalam ruangan, “Lah, lagi ngobrol apa ini ?” tanya Iis sambi berdiri dibelakang Juan.


“Ayah minta buat....”


“Ayah minta buat dibeliin duren,” potong Ayah sambil mengedipkan matanya pada Juan. Juan diam, sepertinya mertuanya ingin melakukan sesuatu, entah sesuatu itu apa, moga rencana Ayahnya tidak membuat Iis stress lagi.


“Hah duren, nggak, enak aja baru sembuh langsung makan duren. Nggak, nggak bisa. Awas aja kalau dikasih duren, Mas jangan kasih duren yah,” ujar Iis sambil meremas bahu Juan.


“Aww... sakit, Yang,” pekik Juan kaget.


“Hahahhaa... sabar yah, Nak. Iis itu mirip Ibunya, almarhum Ibunya itu gemesan, jadi hobinya nyubit, gigit, cengkram... sabar yah,” ujar Ayah sambil tersenyum kecil.


“Sabar ini, Yah, saking sabarnya abis badan aku di uwel-uwel Iis,” ujar Juan sambil menepuk paha Iis pelan.


“Hahahhaaa...”


•••


Nb: pas baca dialog Ayah bayangkan orang lagi kumur-kumur ngomong yah, abis kalau dialognya dibikin kaya orang kumur-kumur, panjang nanti tulisannya. Heheheheee....

__ADS_1


Besok kaka gallon masih ngak bisa jamin updatenya teratur atau nggak, Kaka gallon masih belum terlalu sehat hehehee...


Ciaooo....


__ADS_2