
“Masuk atau kita putus?”
Hati Dimas langsung ketar-ketir dibuatnya, jantungnya langsung berolahraga. Phobia balon milik Dimas, tidak bisa diremehkan. Waktu kecil Dimas pernah pingsan hanya gara-gara balon.
“Ade, Kakak mohon. Yuk, keluar biar kita ngobrol di sini. Kakak mau minta maaf, Kakak tau, Kakak salah sama Ade,” bujuk Dimas, Dimas akan melakukan berbagai macam cara agar tidak usah masuk kedalam ruangan sialan itu.
Hening...
Yaraa sama sekali tidak menjawab, tatapan Yaraa hanya lurus kedepan, menatap Dimas.
“Ade....”
“Nggak, kalau nggak mau masuk mending kita putus....” ujar Yaraa tega.
Dimas langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Astaga gadis didepannya ini benar-benar membuat dirinya kesal.
“Ade, jangan ngomong putus-putus gitulah. Emang Ade nggak cinta sama Kakak?” tanya Dimas.
“Kakak cinta sama Ade?” tanya Yaraa.
“Kalau nggak cinta mana mungkin Kakak ketar ketir liat kamu ngobrol sama laki-laki lain. Kalau nggak cinta mana mungkin Kakak....”
“Masuk kesini, sekarang,” pinta Yaraa, “ Ade hitung sampai tiga.”
“De....”
“Satu...” Yaraa mulain menghitung sambil mengangkat jari telunjuknya.
“Ade, Kakak....”
“Dua...” Yaraa menambahkan jari tengahnya.
“De....”
“Tig....”
Brukkk...
Yaraa sama sekali tidak bisa menuntaskan perkataannya. Dimas sudah menerjangnya, membuat badan Yaraa limbung dan jatuh ke lantai dan ditimpa badan Dimas yang keras dan berat.
“Astaga balonnya banyak banget, De...” bisik Dimas di kuping Yaraa. “Balonnya kenapa banyak banget sih, itu balon tuh kenapa harus ada dimuka bumi ini.”
Yaraa menolehkan kepalanya dan melihat Dimas yang sedang menutup matanya rapat-rapat. Berusaha untuk tidak melihat apapun disekelilingnya.
“Kenapa matanya ditutup?” tanya Yaraa.
“Kalau dibuka bisa pingsan aku, Dek,” jawab Dimas.
“Nggak bakal dibuka apapun yang terjadi?” goda Yaraa.
“Nggak, mata aku bakal nutup terus. aku nggak bakal buka mata sampe keluar dari ruangan ini,” cicit Dimas.
“Apapun yang terjadi?” Yaraa mencoba memastikannya.
“Apapun, mau ada bom nuklir pun aku nggak bakal buka mata.”
“Panas yah di Italia,” ucap Yaraa tiba-tiba.
“Emang panas, makanya ayo keluar aja dari sini,” mohon Dimas.
“Panas...” ujar Yaraa.
Dimas merasakan sesuatu mengenai wajahnya, seperti kain yang menampar-nampar dagunya. Rasa penasaran membuat Dimas membuka matanya sedikit. Saat membuka matanya, Dimas langsung menelan salivanya dengan sudah payah. Bagaimana tidak, pemandangan yang disajikan, dihadapannya benar-benar membuat jiwa lelakinya meledak.
“Ade...”
Yaraa kaget saat melihat Dimas yang menatapnya dengan tatapan yang belum pernah Yaraa liat. “Katanya nggak bakal liat, katanya matanya bakal nutup, gimana sih,” cicit Yaraa sambil berusah mengancingkan kembali summer dress miliknya.
Tangan Yaraa tiba-tiba dicengkram oleh Dimas, Dimas memaksa Yaraa menghentikan pergerakkannya untuk mengancingkan summer dress miliknya.
__ADS_1
“Kak, apa sih? Mau aku kancing ini,” ucap Yaraa sambil menarik tangannya, namun usahanya tidak berhasil, tangan Yaraa masih tertahan.
“Nggak usah dikancing, bagusan gini, Dek,” jawab Dimas dengan suara parau.
Yaraa membulatkan matanya, “Enak aja.... a....”
Tangan Dimas tiba-tiba sudah mencengkram salah satu bukit kembar Yaraa. Jempolnya, mengusap salah satu pucuk bukit kembar milik Yaraa. Yaraa yang tidak pernah disentuh seorang pria pun, hanya bisa tersentak.
Yaraa langsung merasa perasaan yang aneh dibagian perutnya. Tiba-tiba ada perasaan mengelitik dibagian bawah tubuhnya. Napasnya tiba-tiba tersenggal. Tanpa diminta wajah Yaraa berubah menjadi merah.
“Kaka...” desaah Yaraa.
Dimas benar-benar tidak mampu menahan hasratnya lagi, mendengar suara Yaraa yang mendesah, makin membuat Dimas hilang kendali.
Diciumnya bibir Yaraa yang terbuka, digigitnya bagian bawah bibir Yaraa. Dimas benar-benar hilang kendali, aroma Yaraa dan sikap malu-malu Yaraa benar-benar membuat Dimas menggila.
“Ka...” desah Yaraa diantara ciuman yang diberikan oleh Dimas. Jantung Yaraa bertalu-talu, bibir kekasihnya ini benar-benar manis dan lembut, sentuhan tangan Dimas di bagian dada miliknya benar-benar membuat Yaraa mengejang.
Yaraa merasakan tangan Dimas beralih kepahanya, menyingkap bagian bawah gaunnya. Mengelus paha bagian dalamnnya, menggelitiknya.
“De... kamu manis,” bisik Dimas sambil menggigit cuping Yaraa dan menyapukan lidahnya ke bagian bawah kuping Yaraa.
Yaraa benar-benar dibuat kelimpungan dengan perlakuan Dimas, Dimas benar-benar memberikan sensasi baru bagi Yaraa. Yaraa merasakan sesuatu yang keras dan hangat di pahanya, sesuatu milik Dimas yang mampu membuat Yaraa menikmati kenikmatan dunia.
“Nggak ada tempat lain kamu tuh?”
Suara bariton membuat Dimas menghentikan serangannya terhadap Yaraa. Yaraa tersenyak kaget dan menutupi bagian depan pakaiannya yang sudah tidak beraturan.
“Radi...” pekik Dimas sambil membuka jasnya dan menutupi tubuh Yaraa. Baju Yaraa benar-benar tidak berbentuk lagi.
“Ngapain lo? Nggak ada kamar?” tanya Radi sambil tersenyum tengil.
“Berisik lo, ngapain disini? Diusir lo dari Singapura?” maki Dimas kesal.
“Kagak, gue diundang kesini sama Taca,” jawab Radi.
Dimas langsung membantu Yaraa berdiri dan berjalan keluar dari ruangan penuh balon. Keluar dari ruangan penuh dengan monster.
“Kenal lah, dia sahabat aku dulu pas kuliah di Indonesia. Lo ngapain disini?” tanya Radi.
“Diundang,” jawab Dimas santai sambil menarik Yaraa kedekatnya.
“Siapa ini?” tanya Radi sambil menatap Yaraa.
“Tunangan gue, Yaraa. Kenalin dia Radi, rekan bisnis aku,” jawab Dimas.
“Yaraa,” ucap Yaraa sambil menyembunyikan wajahnya dibalik badan Dimas. Yaraa benar-benar malu.
“Radi,” balas Radi, senyuman langsung mengembang saat melihat Yaraa yang bersembunyi dibalik badan Dimas.
“Gue duluan,” ujar Dimas sambil menarik Yaraa menjauh dari Radi.
“Ok, see you,” ujar Radi sambil melambaikan tangannya.
•••
“Kaka, Ade tadi malu,” cicit Yaraa sambil duduk disamping Dimas.
“Maaf yah, De... Kakak lepas kendali tadi,” ucap Dimas sambil mengacak rambut Yaraa.
“Kalau nggak ada Radi kayanya abis aku tadi,” ujar Yaraa sambil membenarkan kancing baju bagian depannya.
“Kan, baju aku rusak,” rengek Yaraa sambil mencibirkan bibirnya kesal kearah Dimas.
“Mana liat?” tanya Dimas sambil menarik kerah baju Yaraa. Dimas bukannya melihat bagian mana yang rusak dari baju Yaraa, tapi malah semakin merusaknya dengan cara menarik kerahnya dan melihat bagian dalamnya.
“Bagus kok nggak rusak, warnanya juga bagus pink,” kekeh Dimas sambil menyebutkan warna pakaian dalam Yaraa.
Plak...
__ADS_1
Yaraa langsung menepuk tangan Dimas kesal, “Kakak tuh yah, mesum!?”
“Hahaha... mesum sama calon istri nggak dilarang kan?” tanya Dimas sambil mengedipkan matanya kearah Yaraa.
Yaraa menatap Dimas, lelaki yang mampu membuat Yaraa marah, kesal dan bergairah dihari yang sama. “Nggak mau ah, aku nggak mau jadi calon istri kamu.”
“Kenapa?” tanya Dimas sambil menarik badan Yaraa agar lebih mendekat lagi.
“Aku nggak mau dikekang, aku masih mau kuliah. Naek gunung....”
“Naek gunung?” potong Dimas kaget, mau apa Yaraa naik gunung. Dimas suka olah raga, liat badannya kalau tidak percaya. Tapi, naik gunung? Satu-satunya gunung yang mau Dimas naikki saat ini hanya kedua gunung kembar milik Yaraa.
“Iya naik gunung, Kaka tau seven summit?” tanya Yaraa.
“Taulah, itu tujuh gunung tertinggi yang harus didaki. Ini seven summit Indonesia atau dunia?”
“Dua-duanya, Yaraa mau naklukin 7 gunung tertinggi di Indonesia dan dunia, kalau itu udah semua Yaraa lakuin Yaraa baru mau nikah,” ucap Yaraa sambil menatap Dimas.
Kepala Dimas langsung pusing mendengar perkataan Yaraa. Dimas tau dengan pasti betapa bahayanya naik ke atas gunung dan Yaraa dengan entengnya punya cita-cita menaklukkan gunung-gunung itu. Sinting!?
Bukan masalah biaya, Dimas dengan rela memberikan biaya untuk Yaraa naik kegunung manapun didunia ini. Masalahnya adalah nyawa, berapa banyak nyawa yang hilang hanya karena kegilaan manusia-manusia kelebihan hormon yang ingin naik kepuncak gunung.
“Dek... gimana kalau gini,” Dimas berusaha untuk melakukan negosiasi dengan gadis manis disampingnya.
“Apa?” tanya Yaraa.
“Kamu tau kan naik gunung itu butuh biaya?” tanya Dimas.
“Iya, terakhir aku denger butuh 1 milyar buat naik gunung everest,” jawab Yaraa.
“Nah, gimana kalau gini. Ade, nikah sama Kakak,” ujar Dimas sambil menunjuk dada Yaraa.
“Terus?”
“Nah, nanti kita udah nikah, Kakak bakal biayain Ade buat naek kegunung manapun yang Ade mau,” bujuk Dimas. Saat ini diotak Dimas hanya ada bagaimana cara membuat Yaraa mau menikah dengan dirinya. Dengan cara apapun!?
“Ade....”
“De... udahlah, nikah sama Kakak, yah. Umur Kakak udah bangkotan ini. Udahlah De...” rayu Dimas sambil mengusap pipi Yaraa.
“Ade nggak mau nanti udah nikah, Ade dilarang ngomong sama laki-laki, kaya tadi. Ade nggak mau,” ujar Yaraa sambil menunjuk dada Dimas.
“Ya udah, Kaka janji nggak bakal cemburu lagi. Tapi, Ade nikah sama Kaka yah,” bujuk Dimas lagi.
Semenjak menyentuh tubuh Yaraa tadi, entah kenapa Dimas makin menginginkan Yaraa. Dimas tau seandainya Dimas menjebol Yaraa, dia akan kecanduan tubuh Yaraa. Virg*n effect (efek merasakan kegadisan seseorang, membuat candu)
“Ta....” Yaraa menatap Dimas kesal, sebenarnya Yaraa tidak berkeberatan menikah dengan Dimas. Dimas walaupun om-om, tapi bukan om-om perut buncit mata keranjang. Dimas manis dan baik, Dimas memperlakukannya seperti dirinya seorang ratu. Baru tadi saja Yaraa kaget dengan sikap Dimas yang liar sampai merusak dress miliknya.
“Argghh... sini tangan kamu, cepet,” ujar Dimas sambil mengambil tangan Yaraa.
Yaraa kaget saat Dimas menyematkan Cincin bermata berlian besar kejari-jarinya. Cincin bermerk Tiffany and Co, tampak cantik dijari Yaraa.
Dimas turun dari kursi dan berlutut di hadapan Yaraa, sambil tersenyum. Dengan tenang Dimas mencium tangan Yaraa.
“Nayaraa Sebastian, mau nggak kamu menua bareng aku?” tanya Dimas.
“Mau, aku mau hidup bareng dengan lelaki menyebalkan bernama Dimas Wijaya,” jawab Yaraa sambil menundukkan wajahnya dan mengecup bibir manis Dimas ditemani sinar matahari Italia yang hangat, sehangat ciuman mereka berdua...
•••
Done...
Yaraa dan Dimas...
Siap untuk bonchapter lainnya?
Siap untuk Radi dan Arrumi?
Here we go...
__ADS_1
XOXO GALLON.