
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Taca dan Adipati saat ini sudah menunggu di ruang tunggu dokter kandungan. Taca benar-benar terkulai lemas didada Adipati. Semua makanan yang masuk semuanya keluar. Taca sebenarnya sangat lapar, demi apapun dia ingin makan.
"Di, aku mual. Aku ngak sanggup," isak Taca, seumur hidup dia tidak pernah sesakit ini.
"Sabar, Amore... sabar yah. Nanti kita tanya obat buat nahan mualnya. Kita liat dulu kamu hamil atau ngak," ujar Adipati sambil mengelus-elus punggung Taca.
"Nyonya Berutti," ujar Suster saat keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Iya," jawab Adipati sambil memapah Taca.
"Aduh, Pak. Ibunya mabok banget, yah ?" tanya Suster saat melihat Taca yang sangat-sangat pucat dan berjalan sempoyongan.
"Bu, kenapa pake high heels ? Takutnya Ibu jatuh,"ujar Suster itu lagi.
Taca tersenyum pada suster didepannya, semua sepatu flatnya dibuang oleh Adipati. Hanya menyisakan sepatu Heels, "Nggak papa, kemaren suami saya salah buang sampah. Jadi tas isinya sepatu flat saya dia buang SEMUANYAAAA....!!" ujar Taca sambil menatap Adipati kesal.
Adipati hanya bisa nyengir kuda mendengar omongan Taca, kemudian dengan cepat Adipati mengangkat Taca dengan gaya bridal. "Maaf, pulang dari sini kita beli sepatu deh."
"Sebanyak sepatu yang kamu buang," ujar Taca sambil tersenyum lemah.
"Iya, satu toko kamu beli juga terserah...!" ujar Adipati sambil melewati suster yang tersenyum kecil melihat Taca dan Adipati.
"Pagi," ujar Dokter Rindu sambil menatap kedatangan pasien barunya, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kaget saat melihat Taca datang yang diikuti Adipati dibelakangnya.
"Pagi, Dok..."
"Loh bukannya, Bapak ini yang dulu bikin onar di Rumah Sakit, yah ? Yang sama Bu Becca ?" tanya Dokter Rindu, Dokter Rindu sangat mengingat kehebohan yang ditimbulkan Adipati, Becca, Juan dan Iis dulu.
"Hah... suami saya emang ngapain, Dok ?" tanya Taca bingung.
Adipati yang berdiri dibelakang Taca langsung memberikan tanda silang dengan kedua tangannya, meminta Dokter Rindu untuk bungkam. Adipati sedang malas berurusan dengan masa lalu yang berhubungan dengan Becca.
"Oh, ngak ngapa-ngapain, Bu. Gimana Bu, apa keluhannya. Ibu kayanya muntah parah, yah ?" tanya Dokter Rindu mengalihkan pertanyaannya.
"Iya, Dok. Setiap pagi saya muntah banyak banget. Saya ngak sangup, Dok," ujar Taca melupakan pertanyaannya.
"Oke, Ibu tau darimana Ibu hamil ? Ibu sudah Test Pack ?" tanya Dokter Rindu lagi.
"Belum, Dok... tapi Istri saya maboknya parah. Banyak yang menyarankan kendokter kandungan," ujar Adipati sambil mengelus-elus pungung Taca.
Dokter Rindu hanya bisa tersenyum dan memaklumi pasangan dihadapannya, "Ok, kita USG aja, yah." ujar Dokter Rindu sambil tersenyum pada Adipati dan Taca.
Taca dan Adipati langsung berjalan ke ruang pemeriksaan, dengan cepat Taca tidur di tempat yang sudah disediakan. Dokter Rindu dengan cepat melakukan pemeriksaan USG, dilihatnya dengan seksama kondisi rahim Taca. Setelah beberapa lama senyum merekah di bibir Dokter Rindu.
"Iya, ini hamil...."
"Hamil, Dok ?" tanya Taca dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Iya, hamil... ini kantungnya. Hmmm kapan terakhir datang bulan Bu Taca ?" tanya Dokter Rindu.
"Hmm... sekitar 1 bulan yang lalu." ujar Taca sambil menggaruk kepalanya karena baru sadar kalau dia terlambat datang bulan.
"Wah, sebentar yah," Dokter mengutak atik mesin USGnya.
"Kamu telat 1 bulan, kok ngak ngeh ?" tanya Adipati bingung padahal dulu Taca selalu marah-marah walau telat 3 hari.
"Hehehee... lupa, Di."
"Dulu telat 3 hari aja kamu uring-uringan," Adipati mengingatkan Taca sambil berbisik.
Taca tersenyum sambil berbisik pada Adipati, "Dulu, kalau jadi aku pasti di rebus sama Abah, Kang Rozak dan Aa Riki. Kalau sekarang malah di kasih ucapan selamat, Di," ujar Taca sambil mengerling nakal.
"Hadeuh... dulu kamu hamil juga aku bakal tanggung jawab, kok," ujar Adipati sambil menjawil hidung Taca.
"Oke, diliat dari hitungan dan lainnya. Bu Taca sudah hamil 2 bulan." ujar Dokter Rindu sambil tersenyum.
"Kok bisa, Dok ? kan Amore terakhir datang bulan sebulan yang lalu." tanya Adipati bingung.
"Bisa, Bapak mungkin pada saat berhubungan Ibu Taca baru selesai datang bulan dan sedang masa-masa suburnya. Jadi hitungan kehamilan itu dihitung dari hari terakhir wanita selesai datang bulan." ujar Dokter Rindu menjelaskan.
"Tapi kan aku disun..."
PLAKKK...
Adipati merasakan pukulan di bahunya keras, "Kamu lupa yah, sebelum disunat kamu "makan" aku kaya apa. Aku sampe remuk tau," bisik Taca sambil tersenyum pada Dokter Rindu.
Adipati mengingat semua kelakuannya sebentar kemudian menunjukkan giginya yang putih, "Ya maaf, heheee..."
"Jadi gimana, Pak ?" tanya Dokter Rindu setelah duduk dikursinya.
Taca dan Adipati sedang duduk dihadapan Dokter Rindu.
"Saya mual, Dok. Semua makanan yang saya makan keluar lagi. Sama saya boleh makan sushi ?" tanya Taca langsung, entah kenaoa dia ingin makan sushi.
"Nanti saya kasih obat untuk mualnya sama vitaminnya yah. Diminum yah, Bu. Hmm untuk sushi boleh tapi jangan yang mentah. Soda juga tidak boleh."
"Yah..." Taca mengembikkan mulutnya tiba-tiba Taca menangis. Entah kenapa dia ingin makan salmon sushi kesukaannya.
Dokter Rindu langsung mengerti bawan hormon Taca hanya bisa tersenyum, "Bu Taca, boleh makan sushi tapi cuman 1 yah. Jangan lebih..."
"Beneran, Dok ?" ujar Taca wajahnya berubah ceria.
"Iya, jangan lupa diminum obatnya. Oh, minum susu jangan lupa, susu biasa aja jangan susu khusus ibu hamil juga ngak papa, happy terus yah, Bu..."
"Makasih yah, Dok"
•••
Sesampainya di apartemen Taca langsung menelepon Iis. Dia ingin membagikan moment bahagianya bersama sahabat kesayangannya. Didering ke 4 Iis mengangkat teleponnya.
"Iya, Taca kenapa ?" tanya Iis saat mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Iis, kami hamil...!!"
"MAEUNYAAAAAA....????" (Masa) teriak Iis kegirangan, tanpa sadar dia meloncat sampai menimpa Juan yang sedang membaca koran disebelahnya, perut Iis mendarat sempurna di paha Juan.
"Astaga, Yang... biji aku," ujar Juan meringgis sambil menepuk keras pinggul belakang Iis.
"Awwww.... sakit, Mas..." pekik Iis sambil mendelik pada Juan.
Juan hanya bisa membulatkan matanya kemudian menatap Iis dengan tatapan 'Ini lebih sakit, Yang.'
"Kenapa, Iis ?" tanya Taca bingung mendengar teriakkan Iis disebrang sana.
"Ngak ini, si Mas lagi sensi," ujar Iis sambil menjulurkan lidahnya pada Juan, Juan hanya bisa menahan kesalnya pada Iis.
"Beneran kamu hamil," tanya Iis lagi.
"Iyah aku hamil 2 bulan, tapi aku belum kasih tau, Abah." ujar Taca.
"Ayo cepet kasih tau Abah," ujar Iis senang.
"Ya udah, aku kasih tau Abah dulu yah," ujar Taca kemudian menutup teleponnya.
Adipati yang baru datang sambil membawa kopinya menatap Taca, "Nelpon siapa ?"
"Iis, aku bilang aku hamil. Dia happy banget, heheheee..."
"Amore, jangan terlalu happy didepan Iis, aku ngak enak sama Juan," ujar Adipati pada Taca sambil mengelus rambut Taca.
"...."
"Tolong jangan bilang sama Iis yah, biar Juan yang bilang sama Iis," ujar Adipati pada Taca. Adipati ngak mau sahabatnya itu hancur lagi.
"Iya, Di. Tapi Juan mandul atau kurang subur ?" tanya Taca.
Adipati menatap Taca kadang dia suka kaget dengan kepintaran Taca, "Beda ?"
"Yah... beda lah kalau mandul benar-benar ngak bisa punya anak, kalau kurang subur masih bisa tapi harus usaha lebih keras," ujar Taca sambil tidur di dada Adipati.
"Ngak tau, bukan ranah aku juga buat nanya. Udah deh ah, bukannya kamu mau nelpon Abah ?" tanya Adipati.
"Oh iya hehehe..."
•••
Yeahhh Taca hamil...
Gimana reaksi Abah yah ?
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon