
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Minggu pagi di apartemen, Adipati dan Taca benar-benar sedang menikmati harinya. Bi Yuli diliburkan sehingga mereka hanya berdua di apartemen. Adipati dengan tenang sedang melihat Ipadnya membaca email-email penting , sedangkan Taca sedang chat dengan Iis.
"Astaga..."
"Kenapa, Amore ?" tanya Adipati sambil melirik Taca disebelahnya.
"Ini Radi mukanya kok bisa jadi kaya gini ? Kenapa yah ? Aku lagi chat dia.."
"Ngapain kamu chat dia ? Bukannya udah kamu blokir ?" tanya Adipati kesal.
"Iya, kemaren udah diblokir tapi karena kemaren kita jadi partner kerja jadi sama aku, blokiran nomernya aku buka," jawab Taca polos.
"Sini Handphone kamu..!" perintah Adipati sambil berusaha mengambil handphone Taca.
Taca langsung menyembunyikan handphonenya dibalik badannya, "Ngak... nanti sama kamu dilempar lagi, aku males mindahin datanya, Di."
"Blokir sekarang juga..! Atau aku lempar handphonenya," bentak Adipati sambil menatap Taca.
"Iya, Di," jawab Taca patuh, Taca memang paling tidak bisa berdebat dengan Adipati.
"Udah ?"
"Belum ini ma.."
Taca terdiam membaca balasan Radi, 'maksudnya apa?' batin Taca.
"Amore, blokir..!?" paksa Adipati lagi sambil mengambil handphone Taca dari tangan Taca.
"Di, kamu ngapain mukulin Radi ? Radi salah apa ? Kok kamu tega sih, itu anak orang, Di," ujar Taca sambil menatap Adipati bingung.
'Damn, bener-bener si Radi,' batin Adipati kesal.
"Bukan urusan kamu," ujar Adipati sambil memblokir nomer Radi di handphone Taca, sebelumnya Adipati mengirimkan nomer Radi ke handphonenya.
"Di, jawab ngapain kamu mukulin Radi ?" tanya Taca lagi sambil mencengkram bahu Adipati.
"Kamu mau tau ?"
"Iya,"
"Bukan urusan kamu pokoknya," ujar Adipati sambil bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah kulkas.
Taca yang makin penasaran mengikuti Adipati dibelakangnya, "Di, aku mau tau. Aku yakin kamu ngak akan mungkin mukul anak orang kalau ngak ada alasannya."
"Bukan urusan kamu."
"ADIPATI...!!"
Adipati kaget diteriakki oleh Taca, dengan cepat Adipati memutar badannya kemudian menarik tubuh Taca dan mendorongnya ke kulkas, membuat tubuh Taca terhimpit antar kulkas dan tubuh Adipati.
__ADS_1
"Aw.. Di."
"Kamu beneran mau tau ? Tapi janji satu hal," bisik Adipati dikuping Taca.
"Apa?"
"Jangan histeris, Amore.
'Kenapa aku harus histeris ?' batin Taca. "Oke, aku janji," Taca yang penasaran akhirnya berjanji tidak akan histeris disana.
Adipati mengecup bahu Taca beberapa kali, "Inget pas di lift kemarin, dimana kamu tanya aku, apa aku nyium kamu di lift ?"
"Iya, kamu bilang aku ngigo,"
"Kamu ngak ngigo Amore, kamu benar-benar di cium orang lain,"
Taca membulatkan matanya, "Kamu gila, yah ? Mana mungkin aku mau dicium orang lain, ngaco kamu, Di."
"Aku liat pake mata kepala aku sendiri, si keparat Radi nyium kamu...!" Adipati benar-benar menahan amarahnya.
"Ngak mungkin, Di...!?" Taca mendorong tubuh Adipati kemudian menyentuh bibirnya. "Ngak mungkin...!?"
Taca mulai histeris, tangannya mulai mendorong-dorong badan Adipati, "Ngak mungkin, Di...!"
"AMORE..HEI AMOREEEE...!" Adipati menahan tangan Taca yang terus mendorong badan Adipati.
"Ngak mungkin, kamu ngaco...!" satu sisi Taca merasa perkataan Adipati benar tapi disisi lain Taca ingin mengingkarinya.
"Ya, udah aku ngaco, oke. Angap aja aku yang nyium kamu di lift. Udah tenang..." ujar Adipati sambil menenangkan Taca, Adipati tidak mau sampai Taca histeris atau hilang kesadarannya lagi.
"Kamu pingsan, selama kamu pingsan kamu ngigo manggil nama aku, tapi Radi ngerasa kamu manggil nama dia." Adipati menjelaskan kenapa bisa Radi mencium Taca di lift.
"Aku..aku maaf.." tangis Taca pecah ada rasa bersalah dihatinya, Taca memeluk Adipati erat sambil sesekali mengosokkan bibirnya didada Adipati.
Adipati menghela napasnya, hal inilah yang membuat Adiapati menolak untuk menceritakan kejadian di lift, Adipati takut Taca histeris.
"Maaf, Di.."
"Kamu ngak salah yang salah si Radi. Udah mulai sekarang ngak usah deket-deket sama Radi. Radi juga udah aku pecat. Mending aku rugi uang daripada aku gila gara-gara khawatir mikirin kamu yang bakal kerja bareng Radi,"ujar Adipati sambil mengecup kening Taca.
"Aku bener-bener ngak nyangka Radi kok bisa sekejam itu, Di," isak Taca sambil terus memeluk Adipati dengan erat.
"Ora..."
Zreeet zreeettt...
Tiba-tiba handphone Taca berbunyi, Adipati melirik nomer tidak dikenal di handphone Taca. Adipati langsung memberikan handphonennya pada Taca.
"Siapa ?"
"Ngak kenal, Di. Nomernya nomer baru aku ngak tau," ujar Taca menatap sekilas layar handphonenya.
Zreettt zreeettzzz...
__ADS_1
Adipati langsung mengangkat teleponnya dan mengalihkan pada nada speaker.
"Taca.. aku mau ngomong," ujar suara ditelepon Taca.
"Radi ?" tanya Taca.
"Iya, ini aku. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, ini tentang Adipati, Adipati itu breng..."
"LO YANG BRENGSEK...!?" Bentak Adipati.
"Adipati ?"tanya Radi bingung sambil mengecek nomer di handphonenya takut Radi salah memencet nomer.
"Lo ngak ada kerjaan atau kagak laku ? Jauhin tunangan gue, terserah lo dah mau ngapain tapi jauhin Taca, ngerti ?!," teriak Adipati keras.
"Hahaha... Lo yang brengsek, Adipati. Gue cuman mau ngasih Tau Taca kalau tunangannya itu brengsek..!" bentak Radi lebih keras lagi.
"Astaga, lo punya masalah apa sama hidup sih, lo kagak laku atau gimana ? Taca punya gue mau lo deketin dia ampe kiamat pun, Taca punya gue, ngerti...!?" maki Adipati sambil melemparkan handphone Taca kelantai.
"Di..."
"Si Radi maunya apa sih, dia tuh ngak sadar kamu udah punya aku ? Mau dia apa, sih ?" tanya Adipati kesal sambil mengelus bibir Taca dengan jempolnya.
"Ngak tau, Di. Aku juga bingung dia suka banget jelek-jelekkin kamu," ujar Taca kebingungan.
Adipati yang kesal langsung mencium bibir Taca, ciuman Adipati menuntut dan liar Taca sampai kewalahan menghadapi Adipati, tanpa sadar tubuh Taca merosot kebawah membuat Taca terduduk.
Adipati tidak melepaskan bibir Taca sama sekali, membuat Taca meloloskan desahan-desahan dari bibirnya.
"Di nanti sakit, lagi.." Taca mengingatkan Adipati, disela-sela ciuman Adipati yang menuntut.
"Ahh..." desah Taca saat tiba-tiba tangan Adipati menekan salah satu bukit kembarnya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan aktifitas Taca dan Adipati.
Radi, Radi mendengarkan semuanya dari saluran telepon, handphone Taca tidak rusak sama sekali dan sambungan telepon belum terputus.
Radi mendengarkan aktifitas Taca dengan Adipati sambil menahan amarahnya, di kepalkannya tangannya saat mendengar suara desahan Taca.
Radi bukan lelaki bodoh, Radi tau pasti apa yang sedang Taca dan Adipati lakukan saat ini, rasa sakit langsung melesak didada Radi, napasnya memburu rasa cemburu tiba-tiba menyelimuti Radi.
"BRENGSEKKKK...!!!" teriak Radi sambil melempar handphone miliknya ke dinding kamarnya hingga hancur berkeping-keping,
•••
Maaf pendek kaka gallon hilang ide wkwkwkwk...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon