Water Teapot

Water Teapot
S2: Permohonan Taca...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sudah dua hari semenjak Iis mendengar kabar dari Dimas kalau hubungannya dengan Yaraa berjalan dengan sangat-sangat baik, bahkan sekarang mereka sedang menyiapkan diri untuk naik gunung salak. ah pasangan pecinta adrenalin itu memang saling melengkapi.


Iis dan Juan saat ini sedang menunggu lift untuk membawanya kebawah. Seperti biasa Juan akan mengantar Iis kebiro baru dia akan ke kantornya.


Ting...


“Kamu tuh yah, suka kebablasan, Di.”


Saat pintu lift terbuka Iis mendengar suara khas Taca yang sangat Iis kenal. Benar saja saat lift terbuka dia sedang melihat Taca yang sedang mengembikkan mulutnya sambil menyilangkan tangannya. Sedangkan Adipati sedang berusaha merayu Taca.


“Yah, aku kan nggak sadar, Amore. Lagi gitu mana inget,” bujuk Adipati sambil mengelus-ngelus punggung Taca.


“Hai...” sapa Iis canggung.


“Iis, kamu mau kemana?” tanya Taca tiba-tiba.


“Biro,” ujar Iis jujur.


“Langsung ada klien?” tanya Taca sambil menatap Iis penuh harap.


“Nggak ada, aku ada klien jam 11 siang,” jawab Iis.


“Bagus, kamu anter aku yah, please,” pinta Taca.


“Amore, biar aku yang anter. Nanti pulang kamtor kita kesananya, yah,” pinta Adipati.


“Aku penasaran, Di. Aku kesana sama Iis. Nanti sore kita kesana lagi, yah. Aku mohon,” pinta Taca sambil mengatupkan kedua tangannya memohon pada Adipati.


Adipati langsung menghela napasnya, dia benar-benar tidak bisa berkata tidak pada Taca. “Ya udah, Iis bisa anter Taca?” tanya Adipati.


Iis melirik Juan meminta persetujuan Juan, Juan hanya bisa menganggukan kepalanya.


“Bisa Ta, emang mau kemana? Kamu sakit?” tanya Iis sambil mengamati Taca yang tampak baik-baik saja.


“Iya aku sakit,” ujar Taca sambil mengerling nakal pada Adipati.


“Sakit apa?” tanya Iis khawatir.


“Sakit korban laki-laki,” jawab Taca sambil menyerahkan test pack pada Iis. Iis langsung menutup mulutnya kaget.


Hening sejenak didalam lift tersebut.


“Ahhh.... selamat Taca,” pekik Iis sambil memeluk Taca dengan cepat. Iis langsung menunjukkan test pact tersebut pada Juan sambil meloncat-loncat kecil saking senangnya melihat sahabatnya hamil untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Juan hanya tersenyum kecil melihat Iis meloncat-loncat kecil. “Wow, semangat amat bikinnya, Bro,” ujar Juan.


“Nggak sengaja, keasikan.” ujar Adipati santai sambil menyilangkan tangannya.


“Ah, kayanya keahlian seorang Adipati Berutti dalam “mengangkat” sudah makin hilang,” canda Juan.


“Sial,” dengus Adipati pada Juan sambil menahan tawanya.


Ting...


Pintu lift terbuka, Juan langsung menyerahkan kunci mobil miliknya pada Iis. Juan memilih untuk pergi bersama Adipati dan Iis bisa membawa mobil miliknya ke dokter kandungan.


•••


“Selamat Bu Berutti, anda saat ini sudah hamil selama 2 bulan,” ujar Dokter Rindu sambil tersenyum pada Taca dan Iis.


“Ah... selamat Taca,” ujar Iis sambil memeluk Taca.


Taca langsung memegang perutnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. “De... baek-baek diperut Mamah yah.”


“Hebat kamu Ta, udah mau tiga aja, aku satu aja belom,” ujar Iis sambil mengerucutkan mulutnya.


Napas Taca langsung terhenti, sial dia lupa kalau Juan mandul. Tapi, masa Juan belum kasih tau Iis sih?


“Ibu mau saya periksa rahimnya?” tanya Dokter Rindu.


“Bisa?” tanya Iis penuh harap.


“Ah hampir 7 bulan,” jawab Iis sambil duduk di kursi periksa.


“Ah, harusnya sih kalau udah 1 tahun baru diperiksa atau diprogram hamil, tapi nggak papa saya cek dulu yah,” ujar Dokter Rindu sambil membuka bagian perut Iis.


Taca terdiam dikursinya, rasanya Taca ingin berteriak kalau Iis sehat, yang sakit Juan. Tapi, mengingat janjinya pada Adipati bahwa dia akan bungkam tentang masalah ini, membuat Taca hanya bisa menggigiti bagian dalam bibirnya.


Dokter Rindu diam dan menatap layar dengan tenang. Melihat rahim Iis, senyuman berkembang diwajah dokter Rindu.


“Saya lihat Bu...”


“Wijaya...” Iis memberikan nama keluarga suaminya.


“Saya lihat Bu Wijaya rahimnya siap, bahkan tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan,” ujar Dokter Rindu.


Iis menghela napasnya, sepertinya dia sehat. Mungkin harus lebih banyak berikhtiar dan lebih banyak usaha lagi.


“Kalau Bu Wijaya mau, nanti Bu Wijaya bisa di suntik hCG atau hormon kesuburan,” ujar Dokter Rindu.


“Nggak usah, Iis. Aku baca artiel katanya kamu bakal mood swing sama katanya bagian dada kamu bakal sakit banget,” ujar Taca, astaga Iis nggak butuh suntim hCG yang dibutuh itu Juan dibawa ke dokter kesuburan khusus pria...!


“Nggak papa Ta, aku mau coba disuntik. Kapan itu bisa disuntiknya? Sekarang?” tanya Iis dengan penuh semangat.

__ADS_1


Taca hanya bisa menatap Iis dengan tatapan bersalah, ah Taca ingin berteriak keras kalau yang sakit Juan...!?


“Pada saat masa subur....”


“Ah masa subur saya udah lewat Dok.” Iis langsung merasa sedih.


“Ya udah nanti sehari sebelum masa subur, Ibu kesini aja. Nanti disuntik, terus Ibu bisa melakukan hubungan suami istri dengan suami Ibu, gimana?” tanya Dokter Rindu.


Iis langsung tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dengan cepat. Rasanya Iis ingin cepat-cepat berganti bulan agar dia bisa cepat-cepat di suntik hCG.


Taca hanya bisa menatap Iis dengan pasrah, ah... salah Taca minta antar Iis tadi. Harusnya dia sabar menunggu Adipati. Taca merutuki keputusannya tadi.


•••


Sepanjang perjalanan pulang Iis berceloteh tentang keinginannya memiliki anak dari Juan dan meminta Taca mendoakan agar dia berhasil hamil biar mereka bisa hamil bersama.


Taca hanya bisa tersenyum dan berjuang untuk menunjukkan ekspresi muka bahagia miliknya. Taca tau sedikit saja Taca mengeluarkan ekspressi bersalah, Iis akan mengetahuinya dan Taca akan dicecar pertanyaan yang akan membuat Taca membongkar rahasia Juan.


Untungnya perjuangan Taca tidak sia-sia, Iis sama sekali tidak sadar dengan perasaan bersalah yang Taca rasakan detik ini, karena membohongi Iis.


“Ta... kamu mau aku turunin dimana?” tanya Iis sambil menatap Taca.


“Ah, aku mau ke kantor Adipati dulu, nggak papa ‘kan?” tanya Taca pada Iis.


Sebenarnya keinginan Taca ke kantor Adipati adalah untuk mencari Juan dan menendangnya. Taca benar-benar menahan amarahnya, si curut Juan benar-benar belum memberitahukan keadaannya pada Iis. Bener-bener minta di kutuk jadi siluman mangkok..!?


“Iya nggak papa, ah tapi aku nggak turun. Aku takut telat,” ujar Iis sambil melirik jam di tangannya.


“Iya, nanti aku titipin salam buat Juan deh,” ujar Taca sambil berusaha untuk tersenyum.


Iis langsung mengangukkan kepalanya kemudian membelokkan mobilnya ke dalam parkiran gedung TOKO yang menjulang dengan gagahnya.


Taca pun turun dari mobil kemudian melambaikan tangannya pada Iis. Saat Iis sudah tak tampak lagi dari pandangannya, Taca dengan tatapan seorang ibu hamil yang siap melahap seorang Juan Wijaya, karena telah membohongi sahabatnya, langsung berjalan memasuki gedung perusahaan.


•••


Sabar...


dikit-dikit....


tenang....


Bomnya belum siap, lagi di buat dulu biar nge boom masalahnya bikin gremet...!!!


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2