
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Mas, ini bisa tolong?” tanya Iis yang berusaha untuk meresleting gaunnya.
Juan yang baru selesai menggunakan jasnya tersenyum geli melihat Iis yang sedang berusaha untuk meresleting gaunnya. “Kok dipake?”
Iis langsung manaikkan sebelah alisnya, Iis kaget dengan pertanyaan Juan. Tentu aja Iis harus menggunakan baju, emang Iis orang gila apa datang ke acara nikahan nggak pake baju.
“Mas, kita mau ke acara nikahan loh, masa aku nggak pake baju?” tanya Iis geram.
Juan melirik jam ditangan kanannya, senyumannya langsung memenuhi wajahnya. Juan tiba-tiba melepaskan jasnya dan dasi miliknya. Dengan cepat Juan melepaskan kancing-kancing kemejanya.
Iis langsung mundur sambil menatap Juan dengan tatapan mencurigakan. Mau apa suaminya ini dua jam lagi dia harus menghadiri acara pernikahan. “Mas, jangan minta kelonan.”
Langkah kaki Juan makin mendekati Iis, Iis mundur sampai tubuhnya tertahan tembok dibelakangnya.
“Kenapa? Emang nggak boleh aku minta kelonan sama istri sendiri?” tanya Juan sambil mendekati Iis. Tangan Juan menelusup kepinggang Iis.
“Nggak dilarang tapi, aku nggak mau dandan dari awal lagi Mas,” Iis memperingatkan Juan sambil menahan dada Juan dengan tangannya. Sebenarnya, Iis tidak usah menahan tangan Juan sama sekali, Juan benar-benar tidak bisa lebih dekat lagi dengan Iis. Perut besar Iis benar-benar menahan Juan untuk lebih maju lagi.
Kandungan Iis yang sudah berusia sembilan bulan benar-benar membuat Juan tidak bisa maju lebih dekat lagi. “Nggak udah dandan, rambut kan tinggal disisit. Nanti, baju aku yang pasangin,” rayu Juan sambil menelusupkan tangannya dipaha Iis, mengusap paha Iis pelan membuat Iis tercekat.
“Mas, aku udah gede ini perutnya, nggak bisa kalau berdi...”
Juan mengangkat Iis dengan sekali angkat, Iis memang hamil sembilan bulan. Tapi, Juan masih mampu mengangkat Iis dengan sekali angkat.
“Mas,” pekik Iis kaget saat Juan mengangkatnya kemudian membaringkannya di kasur.
“Mas, aku nggak mau dimarahin Ma....”
Juan dengan cepat membungkam bibir Iis dengan bibirnya, tangannya bergeriliya di tempat-tempat sensitive Iis. Desahan Iis berkali-kali menloncat keluar dari mulutnya.
“Mas...”
pekik Iis saat mengetahui dimana kepala Juan saat ini berada. Iis benar-benar dibuat terhanyut dengan permainan Juan dibawah sana. Berkali-kali Iis menarik rambut Juan lembut, badan Iis menggelepar saat menerima kenikmatan yang diberikan Juan secara bertubi-tubi.
“Mas....”
“Ya,” jawab Juan tiba-tiba kemudian menatap Iis dengan senyuman manis miliknya. Sesaat Iis melihat senyuman Juan, detik itu juga Iis merasakan sesuatu memasuki dirinya, menghentaknya dengan ritme dan irama yang Iis kenal, desahan langsung berloncatan keluar dari mulut Iis dan Juan.
•••
“Iis, Juan dari mana kalian?” teriak Mamih sambil menatap Iis dan Juan dengan tatapan laser.
“Itu Mih....”
“Aku tadi ketemu anak aku bentar,” jawab Juan santai.
Plak...
Mamih langsung memukul bahu Juan dengan gemas, kadang anak semata wayangnya ini harus di beri pelajaran tata krama. “Kamu tuh, nggak liat perut istri kamu? Masih aja yah, mirip bener kaya Papih,” ujar Mamih.
“Mamih kok curhat?” tanya Juan sambil terkekeh.
Mamih hanya bisa tersenyum kemudian duduk di samping Nenek Lia. Iis pun duduk dengan tenang di sebelah Juan, gaun yang digunakannya benar-benar sesak, sepertinya penjahitnya lupa kalau Iis sedang hamil dan membutuhkan ruang gerak yang cukup untuk beraktifitas.
“Mas panas banget,” ujar Iis sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
Juan langsung mengambil kipas portable dan mengarahkannya pada Iis, semenjak mengandung Iis benar-benar sering kepanasan.
“Sabar yah, udah Sarah Ijab kabul kita langsung balik ke kamar yah,” ujar Juan sambil mengusap kening Iis yang keringetan.
“Maaf yah Mas, aku juga nggak ngerti aku keringetan mulu sama pinggang aku sakit,” ujar Iis sambil menahan napasnya karena rasa sakit benar-benar terasa sangat jelas oleh Iis.
“Sebentar yah, Sayang,” pinta Juan sambil mengecup kening Iis.
Acara ijab kabul antara Sarah Wijaya dengan Tristan Triaksono sedang berlangsung dihadapannya. Sarah akhirnya menikah dengan pacar pertamanya saat SMA. Mereka benar-benar dimabuk cinta. Acara pun berlangsung meriah, Juan dan Iis pun langsung beranjak dari duduknya dan menatap Sarah dan Tristan.
__ADS_1
“Selamat yah, Sarah,” ujar Iis sambil memeluk Sarah.
“Makasih yah, Iis. Doakan pernikahan aku sampai mau memisahkan,” ujar Sarah sambil mencium pipi Iis lembut,
“Iya.”
Juan dan Iis akhirnya berjalan ke arah Taca dan Adipati. Adipati sedanh bermain bersams Kama dan Kalila. Sedangkan, Taca sedang asik menyusui Kafta.
“Ta....”
“Iis sini duduk, ati-ati jatoh,” ujar Taca sambil menepuk-nepuk kursi disampingnya.
Iis berjuang untuk duduk disamping Taca, kaki yang extra besar dan perut yang extra berat membuat Iis kesulitan bergerak. Seumur hidup dia tidak pernah sebesar ini, Iis benar-benar tidak bisa bergerak leluasa.
“Udah berat banget yah?” tanya Taca sambil mengelus perut Iis.
“Iya, berat banget. Aku nggak kebayang kamu dulu hamil kembar seberat apa,” jawab Iis sambil menyorotkan kipas portable ke arahnya. Panas bukan main hari ini.
“Seberat rindu aku sama kamu,” goda Taca sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Astaga, jayus ih,” ujar Iis sambil mencolek bahu Taca.
Taca hanya terkekeh dan menatap anaknya yang sedang menyusui. “Aw... Kafta, jangan digigit sakit, Nak,” rengek Taca saat merasakan Kafta mengigit pucuk dadanya.
“Kafta, jangan nakal sama, Mamah,” tiba-tiba Adipati berkata sambil mengusap paha anak ketiganya.
Kafta yang merasa dimarahi oleh Daddynya langsung menutupi wajahnya dengan tangan kanannya, sambil terus menyusu pada Taca.
“Yeh, dimarahin Daddy aja sembunyi, dimarahin Mamah santai aja kamu mah kaya dipantai,” ujar Taca sambil menjawil hidung mancung anak ketiganya.
Iis tertawa melihat pola tingkah Adipati dan Taca bersama ketiga anaknya. Lucu melihat mereka mengurusi tiga anaknya, lebih tepatnya tidak ada yang menyangka kalau ke Taca dan Adipati memiliki tiga orang anak.
Tiba-tiba Iis merasakan rasa sakit teramat sangat dipinggangnya. “Aw....”
Taca yang sedang menatap Kalila, langsung mengalihkan pandangannya pada Iis. “Iis kamu nggak papa?”
Iis membalas tatapan Taca, akhirnya mereka saling bertatapan. “Ta...”
Prang...
Gelas ditangan Juan langsung tergelincir dari tangannya saat mendengarkan perkataan Taca. Juan dengan sigap memeluk Iis. “Yang kamu mau lahiran?”
“Aw... sakit Mas, Aw...” teriak Iis keras sambil mengusap pinggangnya yang tiba-tiba terasa seperti terbakar.
Juan langsung mengangkat badan Iis dan berlari tunggang langgang keluar dari dalam hotel, kearah parkir mobil diikuti Taca dan Adipati yang sudah menitipkan ketiga anaknya kepada Gio.
“Di, mobil lo dimana?” tanya Juan sambil menatap Adipati. Juan lupa dengan kunci mobilnya.
“Di basement, tapi nggak bakal bisa keluar. Pintu basement udah ketutup itu,” ujar Adipati sambil menunjuk pintu basement yang sudah tertutup oleh mobil-mobil dari para tamu undangan Sarah.
“Damn...” maki Juan sambil mengedarkan pandangannya, mencari solusi untuk mengantarkan istrinya ke rumah sakit terdekat.
“Mas, Mas sakit, Mas... huhu...” Iis berjuang untuk bernapas dengan baik dan benar, berusaha untuk menekan rasa sakitnya.
Juan makin panik mendengar Iis yang berteriak keras, karena menahan rasa sakitnya.
“Juan, Iis kenapa?” tiba-tiba terdengar suara Mamih berteriak. Juan langsung melihat Mamih, Papih, Yaraa dan Dimas yang berjalan kearah mereka.
“Iis mau ngelahirin, Mih,” teriak Juan.
“Hah.... cepet bawa ke rumah sakit, Juan...!” teriak Mamih kencang sambil menarik Papih untuk berjalan kearah Juan secepatnya.
“Nggak ada mobilnya, Mobil Juan kuncinya di kamar. Mobil Adipati nggak bisa keluar di basement,” teriak Juan.
“Bang, mobil apapun mau kan?” tanya Dimas.
“Apapun Dim, ini udah mendesak,” teriak Juan kebingungan.
“Mas, sumpah ini sakit banget,” pekik Iis sambil mencengkram bahu Juan keras-keras. Juan hanya bisa menahan rasa sakit cengkraman Iis, sambil mengeluarkan semua bahasa kasar dipikirannya.
“Apapun Bang?” Dimas bertanya lagi.
__ADS_1
“Astaga semprul...! Cepet mobilnya mana?” teriak Juan kesal sambil menatap Dimas.
“Itu, Bang...” ujar Dimas sambil menunjuk mobil yang sudah nangkring manis di lobby.
“WHAT...!?”
•••
Ayoloh mobil apaan tuh?
Hahhaaa...
Hola, nggak Water Teapot belum tamat kok, jangan ngambek dulu....
Kaka Gallon bikin tulisan Tamat, cuman mau liat aja apa sih yang kurang dari cerita Kaka Gallon. Ternyata banyak banget, yah...
Oke deh, kaka Gallon kasih keinginannya, tapi... ini hari senin, ayo jangan lupa Vote Kakak Gallon...
Ah, sama satu lagi hari ini penutupan Giveaway yah. Jadi nanti jam 23.30 bakal Admin Kaka Gallon screen shoot siapa yang udah kasih Point terbesar buat Kaka Gallon.
Untuk koment terkocak pun akan Kaka Gallon tutup sampai jam 23.30 yah....
Hadiah komen terkocak
Pulsa 50k
Pulsa 25k
Pulsa 10k
Hadiah Point terbesar buat Kaka Gallon
Urutan 1 sd 10 bakal dapet 10 tas rajutan cantik...
Urutan 11 sd 15 bakal dapet pulsa sebesar @25k.
Oke jangan lupa yah....
Pengumunan tanggal 20 Maret 2021...
Ah, inget Novel ini belum tamat....
Luv Gallon
__ADS_1
Ciaoo...