
Iis yang sudah datang ke apartemen Taca langsung membereskan perlengkapan mandinya juga berganti pakaian. Taca sedang memesan makanan lewat aplikasi delivery servise.
Zrrreeettt Zreeeetttt
Iis dengan cepat mengangkat Video Call dari Juan.
"Iya, Ju kenapa ?"
"Kamu udah di apartemen Taca, mana coba liat," pinta Juan untuk menunjukkan keadaan sekitar apartemen Taca.
Iis langsung menunjukkan apartemen Taca, semenjak pacara dengan Juan hampir setiap Iis samapai disuatu tempat Juan akan mengvideo call dirinya meminta Iis untuk menunjukkan keadaan sekitar.
"Udah.. beneran di tempat Taca kan, cuman ada aku sama Taca doang," ujar Iis sambil memberikan senyuman terbaiknya.
"Hai Juan..." panggil Taca sambil melambaikan tangannya pada Juan.
"Oke, sip. Have fun yah..." Juan langsung mematikan sambungan Video Callnya.
"Idih... satpam kamu galak. Sieun (takut) ih..." ujar Taca sambil membuka bungkus burger.
Iis hanya bisa menjulurkan lidahnya kemudian menyimpan handphonenya di meja makan, "Hahaa.. 24 jam Ta, saban aku kemana di teleponin terus."
"Syeremmmm..."
"Ta... Radi kok bisa kerja di tempat kamu sih, bukannya dia di Singapura ?" tanya Iis bingung.
Taca langsung menceritakan semuanya pada Iis dimulai dari pertemuan dengan Radi, kekeras kepalaan Radi yang memaksa Taca meningalkan Adipati, perkataan Radi pada dirinya. Taca menceritakan semuanya pada Iis.
Iis hanya bisa menatap Taca kebingungan, kenapa pula dengan otak Radi. Apa selama di Singapura si Radi ini terlalu banyak ngehirup aibon ?!.
"Radi kok berubah gitu sih, itu beneran Radi ?" tanya Iis kebingungan.
"Tau aku pusing, Iis. Kepala aku kaya mau pecah. Kebayang kalau Adipati tau ah udah ambyar-ambyar bisa ada perang dunia ke 7, Iis." ujar Taca sambil membenturkan kepalanya ke meja makan.
"Tapi, Ta kamu ngak ada perasaan lagi sama Radi kan ?"tanya Iis.
"Ya, nggak lah ngapain. Masa aku mau ningalin Adipati," jawab Taca mantap mending dia mati daripada harus ninggalin Adipati.
"Tapi, Radi bisa nekat loh, Ta. Aku ngak mau tiba-tiba terjadi baku hantam. Adipati tau masalah Radi ?" tanya Iis lagi.
"Ngak... aku bingung ngasih taunya aku harus gimana ? Kemarin pas tau chat dari Radi aja handphone aku dibanting. Kebayang kalau tau Radi yang chat aku itu Radian Hasta bisa dilempar kayanya aku, Iis," Taca memberikan alasan pada Iis.
"Iya, dilempar ke kasur hahahaaa..."
"Ngacooo... Adipati kan baru disunat, bangun dikit aja dia udah teriak-teriak. Astaga semenjak disunat bibirnya cerewet banget ngelebihin Ceu Ningsih," cerocos Taca kesal karena setiap hari di cereweti Adipati, kayanya Taca napas aja salah.
"Hahahahaa... sabar yah, Ta."
"Pusing kepala aku marah-mar...."
Ting tong
Suara bel pintu menghentikan ucapan Taca, Taca dan Iis langsung saling bertatapan "kamu mesen sesuatu ?" tanya Taca bingung
__ADS_1
"Ngak.." jawab Iis saling tatap dengan Taca.
Taca melirik jam di dinding napasnya terhenti saat mengetahui jam berapa saat itu. Jam 10.45 WIB.
Ting Tong
Taca dan Iis makin ketakutan, siapa pula yang datang semalam ini ?
"Kedepan bareng-bareng yuk, Iis," pinta Taca sambil mengambil wajan.
Iis langsung menganggukan kepalanya sambil mengambil sutil untuk pertahanan diri. Mereka berdua langsung mendekati pintu apartemen Taca.
Iis membuka pintu dengan cepat...
"Surpr..."
BRAKKK PLAKKK BELENTANG....
Taca dan Iis bersama-sama memukuli orang yang ada di depan pintu apartemen Taca.
"AMPUNNN STOPPPP...."
"Radi..." teriak Taca sambil menghentikan pukulannya pada Radi.
Berbeda dengan Taca yang menghentikan pukulannya, Iis dengan semangat 45 dan semangat juang yang sangat besar terus meneruskan pukulannya pada Radi berkali-kali.
"Dasar kupret... ngak punya otak, ngak tau diri... dasar limbah masyarakat...!" maki Iis sambil terus menyambitkan sutilnya pada Radi.
Taca hanya bisa tertawa melihat betapa brutalnya Iis memukuli Radi dengan sutilnya. Ada perasaan lega melihat Iis memukuli Radi.
"Astaga Iis, sakit tau. Aku ngak kebayang kalau Juan punya salah, bisa di rebus kayanya sama kamu," ujar Radi sambil menangkap sutil yang sedang dipukulkan pada Iis.
"Bukan direbus lagi, di geprek yang ada hahahahaa..." tawa Taca membahana melihat tingkah laku dua sahabatnya, mengingatkannya pada zaman-zaman kuliah dulu.
"Kamu kenapa bisa ada disini ? Tau dari mana alamat Taca ?" selidik Iis kesal sambil menarik-narik sutil yang dipegang oleh Radi.
"Aku liat data karyawan, aku sekalian bawa sushi mungkin kamu lapar, Prince...."
"TACA...!" teriak Iis dan Taca berbarengan. "Namanya Taca bukan Princess, loe sangka Princess Sofia...!" hardik Iis sambil menyebutkan salah satu tokoh kartun kesukaannya.
"Iyah iya Taca..." Radi benar-benar mengerah pada kecerewetan Iis yang sudah tersohor.
"Mau apa kamu kesini ?" tanya Taca cepat.
"Aku mau minta maaf sama mau ngobrol sama kamu, Ta." jawab Radi sambil mengatupkan kedua tangannya sambil menutup kedua matanya.
"Ya udah aku maafin, kamu pulang sana," usir Taca sambil mendorong Radi keluar dari apartemennya.
"Tapi aku mau ngobrol sama kamu, Ta. Please, kasih aku kesempatan, Ta." pinta Radi.
"Eh.. singkong rebus...! Pulang sana, masih syukur lo di maafin sama Taca, kalau gue jadi Taca udah gue larung lo dilaut ancol..!" maki Iis kesal sambil menunjuk Radi dengan sudipnya.
"Serem amat sih, Is... ntar kagak punya pacar lo..!" maki Radi sambil menjulurkan lidahnya pada Iis.
__ADS_1
"Emang gue kagak punya pacar, gue punyanya calon suami, mau apa lo. Udah sana pulang, ganggu aja lo..!" bentak Iis kesal sambil mendorong dada Radi dengan sudip.
"Ta.. gue beneran butuh ngobrol sama lo. Gue mohon..."
"Ah... ngak ada... ngobrol-ngobrol udah sana pergi. Pulang sana, kagak laku lo sampe ngejar-ngejar Taca ? Pulang sana, dasar biji ketumbar...!" usir Iis sambil terus mendorong Radi sampai Radi keluar dari apartemen Taca.
"IISSS PLEASE GUE PUNYA HAK BUAT NGOBROL SAMA TACA...!!" teriak Radi kesal dengan perlakukan Iis yang bar-bar.
"EH JUBAEDAH...PER...."
"Oke, Stop.. kita ngobrol tapi ngak sekarang udah malem, besok aja di cafe depan kantor pas makan siang yah," Taca mengalah dia tau kalau seandainya dibiarkan saja Iis dan Radi akan adu mulut sampai subuh.
"Oke makasih Prince..."
"TACAAAAA NAMANYA TACAAAAA, DASAR BIJI KETUMBAR...!!!" teriak Iis geram dengan kedablekkan Radi.
Taca langsung menarik Iis yang siap menerkam Radi, seandainya Iis tidak ditarik oleh Taca sudah habis Radi dicakar Iis.
Radi langsung melambaikan tangannya kemudian berlalu dari depan pintu apartemen Taca. "Bye Iis, Bye Princess hahahaa..."
"Astaga dasar minyak rem ngak bisa di kasih tau, maunya apa sih si Radi tuh, geram gue...! Minta gue masukin kedalam rice cooker...!!!!" maki Iis sambil membanting pintu apartemen Taca.
Taca hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sahabat kesayangannya ini. "Udah besok kan dia mau menjelaskan katanya, udah biarin aja mau dia ngomong ampe mulutnya berbusa jawaban aku tetep sama. Aku ngak peduli sama dia."
"Kamu harus kasih tau Adipati, Ta...!" ujar Iis, Iis yang menjungjung tinggi keterbukaan dan kejujuran pada pasangan memberikan ide pada Taca.
Taca diam, dia menimbang-ninbang apa yang harus dilakukannya, Taca hapal betul sifat Adipati yang emosian dan gradak greduk, tapi dia harus memberitahukan Adipati masalah ini.
"Iya, besok pagi aku kasih tau, Adi."
"Besok aku juga ikut, aku dari jauh aja duduknya takutnya si Radi ngapa-ngapain kamu, aku mau telepon Juan biar Juan juga ikut...!" ujar Iis sambil mengambil handphonenya bermaksud menelepon Juan.
"Sekalian aja satu kecamatan kamu undang buat liat pertemuan aku sama Radi, Is." ujar Taca sambil memijat keningnya.
"Ide bagus..."
"NGACO IH...!!"
•••
Pasti pembaca ngamuk lagi sama kaka gallon karena digantunguin lagi hahahaha...
Siap-siap perang dunia ke 10 yah 🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1