Water Teapot

Water Teapot
S2: It’s all about money...


__ADS_3

Bernard berdiri dengan tenang didermaga, pegawai kapal tadi sudah mengintruksikan pada Bernard untuk menunggu disana. Dengan patuh Bernard berdiri sambil memeluk map-map miliknya, map-map berharga miliknya.


“Mr. Sandia, you can get on the boat now,” ucap seseorang disamping Bernard. (Mr. Sandia kamu bisa masuk ke dalam kapal boat sekarang)


Bernard hanya menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam boat, ia memilih tempat duduk yang terdekat dengan jendela. Bernard ingin merasakan udara segar danau.


Boat pun mulai mengarungi danau yang indah, pemandangan yang indah langsung memanjakan mata Bernard. Bernard menatap mapnya, secarik kertas tersembul keluar dari dalam map, tampak guratan bekas sobekan yang direkatkan dengan tidak rapi disana. Bernard hanya bisa menghela napas melihat ada rasa sesak didadanya. Rasa yang membuat dirinya mengingat kejadian dua hari yang lalu, kejadian yang melibatkan dirinya dengan Kokom, ibu kandungnya.


•••


Dua hari yang lalu...


Setelah menulis biodata penjengguk rutan, Bernard langsung duduk diruang tunggu yang sudah disediakan. Wajahnya tampak bersinar terang, hari ini adalah hari pertama dia libur dari pesantrennya. Hari dimana dia akan menunjukkan perjuangannya selama kelas satu SMP di tempat Bernard menimba ilmunya. Sesuai janjinya pada Juan, Bernard berjuang habis-habisan untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik di sekolahnya.


Detik ini dia ingin memberikan bukti-bukti keberhasilannya pada Ibunya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa dan mampu bersekolah ditempat yang Bernard idam-idamkan.


Diotaknya Bernard sudah berkhayal, bahwa ibunya akan mencium pipinya dan memeluknya erat. Memberikan selamat akan keberhasilannya.


“Nak, masuk. Bu Kokom sudah ada didalam,” ujar salah satu sipir penjara.


Kokom ibu Bernard mendekam di salah satu rutan khusus perempuan di Bandung. Kokom haru menjalani hukuman sesuai dengan tuntutan yang diberikan pada dirinya. Juan benar-benar membuat Kokom tidak mampu meminta bantuan siapapun. Bahkan, pengacara pro bono pun, tidak ada yang bisa membantu Kokom, Juan benar-benar menyingkirkan segala kemungkinan yang ada untuk membebaskan kokom dan keluarganya.


Bernard masuk kedalam ruangan berisikan satu buah meja dan dua buah kursi. Tampak Ibunya sedang duduk dan menatap Bernard dengan tatapan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.


Bernard langsung duduk berhadapan dengan Bunda. Bunda tampak kuyu dan kusam, tidak ada lagi gurat-gurat kecantikan dan senyuman di wajahnya. Kehidupan penjara benar-benar meremukkan dirinya.


“Bunda sehat?” Bernard berusaha untuk memecahkan suasana, dilihat dari wajahnya Bunda benar-benar sedang dalam mood terburuknya.


“Keliatannya gimana?” tanya Kokom sinis sambil melihat Bernard dari atas sampai ke bawah. Matanya benar-benar menilai semua barang yang menempel di badan Bernard, setelahnya Kokom mendengus keras dengan nada menghina.


“Enak kamu sekarang, Bernard? Iis sama Juan ngurus kamu?” tanya Kokom, ada nada sirik di suaranya.


“Iya Bunda, Mas Juan sama Teh Iis ngurus Bernard. Bernard di urus dengan baik sama mereka, Bernard disekolahin di sekolah yang Bernard mau,” jawab Bernard bangga, Bernard sama sekali tidak tau dampak dari perkataannya akan membuat Bunda melakukan sesuatu yang akan membuat Bernard sakit hati. Sakit yang akan selalu dia kenang hinga dewasa. Sakit yang akan mengubah perasaan Bernard dengan Kokom.

__ADS_1


“Hahahaa... enak kamu yah, jadi anak orang kaya kamu. Apa itu sebutannya? Taipan?” ucap Bunda sambil mengambil menatap Bernard.


“Nggak Bunda, Bernard tetep anak Bunda, Teh Iis sama Mas Juan, cuman ngurusin biaya sekolah Bernard aja....”


“Bernard, kamu harus bantu Bunda,” potong Kokom sambil menatap Bernard lekat-lekat.


“Tolong apa, Bunda?” tanya Bernard tulus, dia benar-benar ingin membantu meringankan hidup Ibunya.


“Bilang sama Iis, Bunda butuh uang 100 juta, Bunda butuh uang buat dapet ruangan khusus disini,” ujar Kokom.


“Hah? Bunda tapi itu nggak mungkin, mana mau Teteh Iis ngeluarin uang 100juta...”


“Perbulan, ingat 100juta perbulan. Bukan buat sekali aja,” potong Kokom cepat, dia benar-benar butuh kenyamanan tinggal di penjara sialan ini.


“Bunda....”


“Atau kamu bohong aja, gimana? Kamu bilang, kamu butuh uanb 100 juta perbulan untuk hidup,” Kokom memberikan ide yang tidak masuk akal. Tidak mungkin Iis mempercayai alasan itu. 100juta/bulan untuk seorang anak SMP? Dimana nalarnya?


Bernard hanya bisa diam menatap mata Kokom yang seperti orang kesetanan, tangan Bernard meremas celana kain yang Bernard gunakan.


“Hah... pelit banget si Juan...!? Katanya orang kaya tapi ngasih ke kamu cuman 500rbu/bulan. Astaga pelit, udah tingalin aja orang kaya gitu,” bentak Kokom sambil melihat map didepannya, dibuka-bukanya map yang dari tadi Bernard bawa-bawa.


“Apaan nih?” tanya Kokom sambil melihat surat-surat di map tersebut. Mata Kokom membaca dengan cepat isi kertas-kertas disurat itu. Sampah, itu kata yang pertama kali terlintas dipikiran Kokom.


Bernard sambil tersenyum dan bersamangat langsung menunjukkan sertifikat dan raport miliknya. “Bunda, ini raport Bernard. Bernard juara satu di kelas, Bernard jadi santri teladan satu sekolah, ini juga sertifikat Bernard karena Bernard udah hapal 2 juz,” ucap Bernard penuh semangat, menurut Bernard itu adalah suatu pencapaian yang sangat besar bagi dirinya.


“Alah, apaan? Ini mah nggak usah dibangain, kaya gini doang,” ucap Kokom sambil mengambil sertifikat santri terbaik dan santri penghafal al-quran milik Bernard.


“Bunda, tapi semua musyrif(orang yang bertanggung jawab mengurus santri pria di pesantren) bilang Berna....”


Brekkk...


Mata Bernard membulat sempurna saat melihat Bunda merobek kedua sertifikat miliknya. Merobeknya menjadi empat bagian, merobeknya menjadi sesuatu ongokkan kertas biasa. Saat melihat Kokom merobek kedua sertifikat itu, Bernard merasa Kokom sedang merobek perasaannya.

__ADS_1


“Bunda jangan....!?” teriak Bernard sambil berusaha untuk merebut sobekan-sobekan sertifikat ditangan Kokom, berusaha menyelamatkan sertifikatnya.


“Denger Bernard, zaman sekarang yang penting itu duit...!” ucap Kokom sambil menggesekkan jari telunjuk dan jempol miliknya, menunjukkan simbol uang, “harusnya kamu tuh perempuan, kalau perempuan bisa Bunda jual atau paling nggak bisa Bunda kawinin sama orang kaya, yah sekaya si Juan sialan itu.”


Bernard mengepalkan tangannya, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya sama sekali dari matanya. Berjuang keras terlihat tegar dihadapan Ibunya, Ibu kandungnya yang tidak pernah menghargai setiap jerih payahnya, menghinanya, mencercanya hanya karena dia tidak mampu menghasilkan uang.


“Bunda, Bernard....”


Brak...


“Udahlah, pulang dah. Kalau mau kesini tuh bawa makanan enak dan duit yang banyak, Bunda butuh itu, bukan butuh kertas ngak berguna gini,” ucap Kokom sambil mendorong kertas-kertas milik Bernard sampai jatuh dan berserakan dilantai.


Bernard menatap kertas-kertas hasil kerja kerasnya berserakan dilantai, terongok tak berarti. Mata Bernard makin panas menahan tangis saat dengan santai dan tenangnya Bunda menginjak rapor miliknya. Rapor yang ingin Bernard bangakan, rapor yang menjadi bukti atas kerja keras Bernard.


“Inget Bernard, didunia ini semuanya tentang uang. It’s all about money, Bernard. Camkan itu...!!!” ucap Kokom sambil keluar dari ruangan itu sambil menutup pintu ruangan dengan keras.


Blam...


Suara keras pintu yang didengar Bernard membuat Bernard sadar, Bunda sudah tidak dapat ditolong, Bunda memang Ibu kandungnya, Ibu yang melahirkannya. Tapi, bukan Ibu yang bisa dijadikan panutannya. Tidak akan bisa...!?


•••


Itulah Kokom dengan kekeras kepalaannya...


Watak Kokom tidak bisa diubah, watak yang sudah mendarah daging pada dirinya...


Biarkan, biarkan Kokom di penjara, sudah jangan ditanya lagi. Sudah jangan siksa Bernard yang sudah malang memiliki Ibu kandung seperti itu...


Coba komen lagi, mau Bonchapter apa lagi?


Nggak usah minta BonChapter pasangan Julis dan Adita...


Mereka sudah memiliki cerita manisnya sendiri yang akan Kaka Gallon buat...

__ADS_1


XOXO GALLON...


Ah, itu tombol like di tampol tolong biar HOBAAAA 🤣


__ADS_2