Water Teapot

Water Teapot
S2: Twins


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Adipati berjalan mengikuti suster didepannya, kakinya sudah bergetar hebat. Keringat dingin keluar, rasa gugup benar-benar menyergap dirinya. Ketakutan benar-benar sudah menghantui disetiap langkah Adipati.


“Pak, yakin ? Masalahnya kalau bapak pingsan lagi palingan sama saya digeser kepojokan sana doang, Pak,” ujar Suster sambil menunjukkan pojokkan ruangan.


“Hah...”


“Abis Bapak berat dan saya juga harus fokus sama Ibu Taca, ‘kan yang melahirkannya Bu Taca bukan Bapak,” ujar Suster tersebut tegas.


“Oh, iya baik. Saya sanggup,” ujar Adipati sambil mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen.


Suster tersebut membuka pintu dan Adipati dengan cepat melihat Taca yang sudah berkeringat, wajahnya tidak karu-karuan, air matanya sudah mengalir dipelupuk matanya.


“Astagaaa... Amore..” teriak Adipati sambil berlari mendekati Taca kemudian berdiri disisi Taca, sambil mengelusi punggung Taca dan memeganggi tangan Taca.


“Di, sakit... huhuhuhuuu...”


“Iya sayang napas yah, napas huhuhuhuhuuu...” ujar Adipati sambil bernapas disamping Taca.


“Di, sakit banget, Dokter belah aja perutnya belahhhhh....!!!!” pekik Taca yang sudah kepayahan mulai meracau tak tentu arah.


Adipati yang mendengar omongan Taca langsung mencelos, wajahnya berubah pias. “Sabar Amore, Sabar...”


Tiba-tiba Taca mendelik pada Adipati, “INI GARA-GARA KAMUUU....ASTAGA SAKIT BANGET, SAKIT. POKOKNYA INI GARA-GARA KAMU...!” pekik Taca sambil menjambak rambut Adipati.


“Aaaa... iyah gara-gara aku, aduhh amore... sakit...” Adipati benar-benar pasrah di jambak oleh Taca, tidak ada bantahan apapun yang keluar dari mulut Adipati, Adipati pasrah.


“Bu Taca tenang yah, sekarang kita napas, oke huhuhu...”


“Hu...hu...hu...hu...hi..hi...hi....” entah kenapa pernapasan Taca berubah dari huhuhu jadi hihihi..


Adipati yang disebelah Taca mengikuti cara taca bernapas. Adipati dan Taca saling tatap, Taca lagi-lagi menarik rambut Adipati geram.


“POKOKNYA INI GARA-GARA KAMU...!” jerit Taca lagi kesal.


Adipati rasanya ingin berkata semua ini atas dasar suka sama suka, ngak mungkin sp*rma dia nyelonong masuk kedalam indung telur milik Taca kalau seandainya Taca tidak menikmatinya juga. Tapi demi kedamaian dunia persilatan Adipati diam.


“Bu Taca fokus,” ujar Dokter Rindu.


“Iya maaf,”


“Bu Taca ini kepalanya udah keluar, kalau saya bilang dorong ibu langsung dorong yah, Pak Adipati tolong dibantu,” ujar Dokter Rindu sambil menahan tawa karena melihat ekspressi Adipati yang seperti orang sembelit.


“Iya..”


“Oke siap, satu dua tiga... Dorong..”

__ADS_1


“Ihhhhhh.....” teriak Taca keras sambil mengeden.


“Oke ayoo ayoo bisa lagi Bu Taca.”


“IHHHHHHHH.....” Taca berteriakk keras sambil menancapkan kukunya ke lengan Adipati.


“AAAAAHHHHHHH...” teriak Adipati kesakitan karena Taca menancapkan kuku-kukunya kelengan Adipati.


“IHHHHHHH......” Taca mengeden dengan keras dan sekuat tenanganya.


“Oeeee oeee oeeeee....”


Dokter Rindu langsung tersenyum kemudian mengangkat seorang bayi mungil, “Yang pertama perempuan, Bu. Ayooo ayooo satu lagi.”


Taca benar-benar kepayahan, dia benar-benar kehabisan tenaga. Rasanya dia ingin tidur, napasnya sudah habis. “Capek, Di. Capek...” isak Taca kepayahan.


Adipati yang dari tadi sudah stress dan bingung mau ngapain akhirnya berdiri kemudian memeluk Taca, sambil mengusap rambut Taca kemudian menciumi rambutnya lembut.


Taca terisak di dada Adipati, “Amore, sedikit lagi yah, aku tau kamu sakit dan capek, tapi Kama masih disana, dia harus ketemu Daddy, Mamah dan kakaknya. Ayo Amore, kamu boleh jambak, gigit atau apapun terserah. Ayoo...” bisik Adipati sambil mengusap punggung Taca.


Taca lalu melihat Adipati kemudian menganggukkan kepalanya, “Aku bisa...”


“Oke siap Bu Taca...”


“Aku bisa....” Taca mensugesti dirinya sendiri.


“Oke... dorong...!!!” teriak Dokter Rindu.


“Ihhhhhhhhh..... aku bisaaa huhuhuhuu ihhhh....” Taca berjuang untuk mendorong sambil menancapkan kembali kuku-kukunya ke lengan Adipati.


“Aku bisa aku.. aku ngak bisa ngak bisaaa capekkk, Dok. Belah aja belah...” jerit Taca sambil menangis kencang, sakit yang Taca rasakan benar-benar sudah tidak bisa Taca ungkapkan dengan kata-kata.


“Bu Taca percaya saya, sekali lagi, Ayoo bisa bisa...” bujuk Dokter Rindu.


“Ayo, sekali lagi Amore” ujar Adipati sambil berdiri disisi Taca membuat “ade” milik Adipati tepat disamping tangan kanan Taca.


“Bu Taca...”


“Huhuhuhuuuu heeekkkkkkkkk.....”


“MAMAHHHHH DAMNNNNNNNN AMOREEEE...!!!” teriak Adipati nyaring karena Taca yang merasakan kesakitan, tanpa sadar mencengkram “Ade” milik Adipati dengan keras kemudian...


Bug...


Taca memukul “Ade” milik Adipati dengan tenaga penuh sampai Adipati mundur kebelakang. “DAMNNN ARGHHHHHHHH....!!!!”


Satu kata untuk Adipati hari ini NERAKA...!? Sakitnya bukan main saat Taca memukul dan meremas “Ade” miliknya.


“Huaaaaaaaaaaa.......” Taca menjerit keras dan...


“Oeee oeee oeeeee...”

__ADS_1


“Selamat Bu Taca, semuanya lahir dengan selamat.” ujar Dokter Rindu sambil tersenyum pada Taca dan....


“DOKTERRRRRRR....!!!!”


PLAKKKKK...


Taca menjerit keras dan tanpa sadar dia menampar Adipat keras karena merasakan sesuatu dibagian kewanitaanya. Ternyata Dokter Rindu sedang membersihkan sisa-sisanya.


Adipati pasrah ditampar Taca, terserahlah. Mau diapakan dirinya, ditampar, dicakar, dan digigit Adipati pasrah. Ini hari termelelahkan bagi dirinya. Sudahlah terserah, Adipati pasrah.


“Sakit, Di. Maaf yah, sakit banget,” isak Taca sambil memeluk Adipati.


‘Sama Amore sakit ini juga.’ batin Adipati sambil menatap “ade” kecilnya yang mungkin cedera, Adipati berdoa moga tidak patah, Adipati masih ingin melakukan transfusi darah putih dengan Taca.


“Selamat, Bu Taca dan Pak Adipati. Anaknya telah lahir dengan selamat,” ujar Dokter Rindu.


•••


Taca saat ini sudah masuk kedalam kamar biasa, sikembar langsung disimpan di kamar khusus anak. Tak lupa Abah menyuruh Adipati mengadzani kedua anaknya. Dan mengingat ‘kan pada Adipati untuk menyunat anak laki-lakinya.


“Inget, bule. Disunat, kasian dia kalau udah gede disunat,” ujar Abah sambil menahan tawanya mengenang betapa menderitanya Adipati dulu.


“Siap Abah...” ujar Adipati sambil mengendong Kama dan membisikkan sesuatu dikuping anaknya. “Ngak akan Daddy biarin kamu menderita, Nak.”


“Di, selamat bro... kamu jadi Daddy sekarang,” ujar Juan dari belakang Adipati sambil mengusap Kama.


“Siapa namanya ?” tanya Iis semangat melihat malaikat-malaikat kecil didepannya kemudian menggendong Kalila.


“Ini Kama Trina Berutti yang itu Kalila Trina Berutti.” ujar Adipati sambil menimang Kama.


“Coba sini gue gendong,” pinta Juan sambil mengambil Kama dengan lembut.


Juan langsung mengendongnya dengan lembut kemudian mengayunkannya, Juan bermain-main dengan Kama. “Apa... ini Uncle Juan. Bobo yah, ah.. lucu banget kamu Kama,” ujar Juan.


Juan pun terus bermain-main dengan Kama membuat Iis tersenyum kecil melihat Juan yang sangat ahli menggendong Kama.


“Mas, simpen Kamanya mau dikasih ke Mamahnya,” ujar Iis.


“Oh, iyah..” Juan langsung menyimpan Kama di box bayinya. Kemudian tersenyum pada suster yang langsung mendorong box tersebut keluar dari ruangan.


•••


Capek yah bikin adegan melahirkan maaf kalau ngak nyambung, mending bikin adegan geng motor beneran dah hahaaa..


Ikut ngos ngosan bikinnya lah ahhahaa...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2