
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“APAAAA...” Juan berteriak keras saat Iis mengatakan berita yang disampaikan oleh Abah tadi.
“Abah ngaco, kali. Kok bisa ?” ujar Juan kebingungan. Kalau berita ini benar berarti Ayah Iis adalah manusia paling bodoh yang pernah Juan temui.
“Aku juga ngak tau, Abah katanya dapat berita itu dari orang terpercaya. Tapi, aku berharap berita itu bener.”
Juan menatap Iis lekat-lelat, Jun tidak habis pikir kalau berita itu benar bisa menghadap yang kuasa jalur express kayanya Ayah. “Kamu tau ‘kan kalau berita itu benar, Ayah bakal sakit. Bahkan bisa aja Ayah bertemu sang pencipta lebih cepat,” ujar Juan.
“Tau, tapi aku ingin berita itu benar. Kalau benar, aku bisa nendang si Kokom ke lubang kelinci. Kalau keadaan Ayah, aku akan kembalikan semuanya kepada pencipta, aku ikhlas,” Iis sudah benar-benar ikhlas dengan apa yang akan terjadi nanti.
Juan mengambil handphonenya kemudian mengetikkan serentetan pesan pada Saka berisikan perintah-perintah dan hal-hal yang harus Saka lakukan.
“Mas, kok malah ngetik sih, gimana ini cara nguak kebenerannya ?” tanya Iis kesal karena tidak diperhatikan oleh Juan.
“Bentar, Yang.”
Iis langsung mengerucutkan mulutnya kemudian menghempaskan kepalanya ke paha Juan. Lebih baik dia tidur saja dipaha Juan sambil nonton netflix.
Juan terus mengetik berbagai macam permintaan pada Saka dan membalas semua pertanyaan-pertanyaan Saka. Sesekali dia mengelus rambut Iis yang sudah asik menonton mini seri Black mirror di netflix.
Iis sudah menyelesaikan satu episode mini seri tersebut. Iis melirik Juan yang masih mengutak ngatik handphonennya. Iis memutar bola matanya kesal.
“Mas..”
“Hmm...”
“Jadinya gimana ?” tanya Iis.
“Bentar, Saka lagi ngurus semuanya. Bentar-bentar ada yang harus aku urus,” Juan kemudian mencium kening Iis dan meminta Iis bergeser karena Juan ingin pergi keruang kerjanya untuk mengurus beberapa hal.
Iis langsung duduk kemudian memperhatikan Juan yang sudah berjalan meninggalkan dirinya. Pikirannya melayang ke informasi yang diberikan Abah pada dirinya, that’s totally mind blowing (itu benar-benar mengejutkan).
“Yang..” Juan tiba-tiba memanggil dirinya kemudian duduk disebelahnya.
“Apa ?”
“Done, semua udah diurus. Kamu mau Kodomo itu minggat ‘kan ?” tanya Juan.
“Kodomo ?”
“Kokom kodomo, Bunda kamu,” ujar Juan sambil menahan tawanya saat melihat ekspressi Iis.
“Iya...”
“Ya udah, kamu tenang. Jangan grasak grusuk, ok. Semuanya udah aku urus.”
__ADS_1
“Beneran ?” tanya Iis, Iis benar-benar ingin Ayahnya tau masalah ini, Iis tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Ayahnya. Pokoknya Ayah harus tau masalah ini, Titik.
•••
Mobil Juan menembus jalan-jalan perlintasan dengan mulus. Juan dan Iis saat ini akan mendatangi rumah Iis di Citeko, Iis bersikeras untuk pergi ke Citeko 2 hari sebelum Papih dan Mamih kerumahnya. Iis harus mengurus banyak hal dirumahnya, Bunda yang pemalas pasti tidak mengurus rumah dengan baik.
“Mas, nanti kamu tinggal dirumah Taca aja, yah. Aku udah minta izin Abah, kata Abah kamu tinggal di rumah Taca aja sama Kang Rozak. Banyak kamar kosong disana,” usul Iis, Iis tidak mau Juan kaget melihat rumah Iis yang pasti akan porak poranda, Iis benar-benar harus menyingsingkan lengan baju dan meminta tolong Icih untuk membereskan rumahnya.
“Kenapa ? Ngak ah, aku mana bisa tidur sendiri, ngak mau,” rengek Juan sambil menggenggam tangan Iis.
Bayi besarnya ini mulai membuat ulah, pikir-pikir dulu sewaktu belum bertemu Iis, gimana cara Jun tidur ? “Jangan ngaco ah, kamu mau digrebek pak RW terus diarak satu kampung ?” tanya Iis kesal.
“Tapi...”
“Kamu sebelum ketemu aku bisakan tidur sendiri ? Udah ah jangan manja, pokoknya kamu tinggal sama Kang Rozak, kalau kamu ngak mau, aku aja yang tinggal sama Kang Rozak....”
“Mulut...ehhh mulut...ngomong tuh yah, iya, iya aku tinggal dirumah Abah, puas..!” ujar Juan kesal.
“Puas...” jawab Iis sambil mengusap paha Juan.
“Yang, jangan diusap nanti loncat ini mobil,” ujar Juan sambil tersenyum jahil.
“Idih mesum,” ujar Iis kesal sambil mengalihkan pandangannya keluar.
Iis melihat pemandangan yang sangat Iis rindukan, sawah-sawah yang terhampar luas, sawah-sawah yang makin hari makin sedikit karena tergerus pembangunan. Penjual-penjual pot-pot dari tanah liat yang bertebaran di sepanjang jalan.
Kampung halamannya indah, berbanding terbalik dengan nasibnya yang awur-awuran, tak tentu arah. Iis berdoa moga acara lamaran nanti berjalan lancar semulus jalan tol.
•••
“Ayah, ini rumah ngak diberesin berapa abad sih ?” tanya Iis geram saat melihat betapa ‘indah’ rumahnya. Saat ini Iis dan Icih sedang bahu membahu membereskan rumahnya.
Ayah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Iis, Ayah sudah tidak bisa menjawab apapun lagi. Ayah sudah pasrah dengan hidupnya.
“Ah... datang juga anak gadis Bunda.”
Suara yang paling Iis benci di hidupnya terdengar sangat jelas dikuping Iis. Bunda Kokom Sandia masuk dengan menggunakan kaca mata hitam dan rambut yang tertata dengan sangat paripurna, dibelakangnya mengekor seorang anak laki-laki.
“Ini rumah kapan diberesinnya sih ? Udah mirip kaya kandang kuda...!!!” maki Iis kesal, apa susahnya sih ngeberesin rumah.
Bunda duduk disebelah Ayah, “Kapan yah, pokoknya pas kamu kesini dulu sama Taca, itu juga kamu yang beresin ‘kan,” ujar Bunda dingin, buat apa dia beresin ini rumah ?
“Hah ??? Hampir setahun yang lalu ? Kok bisa sih Bunda tinggal di rumah isinya kaya gini ?” ujar Iis kesal.
Icih yang ada disana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa tebalnya debu dirumah Iis. Manusia macam apa yang bisa hidup ditempat macam ini.
“Ngak bisa apa ngeberesin rumah doang, ngak sampe satu hari full juga ‘kan..!” gerutu Iis sambil menyapu lantai.
“Uhukkk...uhuukk” Iis terbatuk-batuk menghirup debu yang tebal. Untung saja tadi Juan langsung Iis ungsikan kerumah Abah, kalo ngak, bisa mencak-mencak Juan liat rumah sekotor ini.
“Bunda ‘kan sibuk, kerjaan Bunda ‘kan banyak, ada arisan, ada kumpul-kumpul sama ibu-ibu Pkk, belum urus Bapak kamu,” ujar Bunda santai sambil mengeluarkan makanan dari plastik belanjaannya.
__ADS_1
Ayah diam tak berbicara, rasa-rasanya tenaganya sudah habis bila harus beradu argumentasi dengan Bunda.
Iis bertatapan dengan Icih, Icih yang tau kelakuan Bunda di kampung hanya bisa memutar jari telunjuk tangan kanannya di pinggir kepalanya. Iis yang melihat Icih hanya bisa menghela napas panjang-panjang.
“Ini kamu makan sama nasi dan tempe aja, ayamnya abis buat Bernard sama aku,” ujar Bunda sambil memberikan bungkusan berisikan nasi dan tempe pada Ayah.
“Iya,” jawab Ayah pasrah, sambil mengambil nasi bungkusan.
Iis kaget melihat hal tersebut, apa-apaan ini. Ternyata, selama ini Ayah sama sekali tidak diurus dengan baik. Rasanya Iis ingin memukuli Bunda.
“Bunda...!!! Apa-apaan ini, jadi selama ini Ayah dikasih makan kaya gitu ? Gimana mau sehat,” ujar Iis berang sambil mengambil bungkusan makanan di tangan Ayah.
“Iya, emang kenapa ? Ayah kamu aja ngak keberatan, iya ‘kan,” tanya Bunda sambil menatap tajam Ayah.
“Bunda...”
“Udah, udah Ayah ngak papa makan tempe, emang Ayah suka tempe kok,” jawab Ayah, Ayah yang tidak mau mendengar pertengkarah Iis dan Bunda langsung beranjak dari sana dan berjalan pelan ke dapur.
“Udah Teh, kasian Ayah,” ujar Icih sambil memegang tangan Iis yang sudah siap ngambek pda Bunda.
“Kamu tuh keterlaluan, yah..” ujar Iis pada Bunda.
“Kenapa ?”
“Kamu tuh udah meres bapak saya sampai habis, terus kamu ngak ngurus Bapak saya sama sekali,” ujar Iis.
“Lah, saya masih muda ngapain ngurus kakek-kakek jompo kaya gitu, udah ngak ada duitnya juga,” jawab Bunda sambil menyuapkan makanannya.
Tengggg....
Tiba-tiba otak dan hati Iis panas, rasanya Iis ingin meloncat kedepan Bunda kemudian membenturkan kepala bunda ke meja ruang tamu. Tapi, melihat Bernard disana Iis menahan dirinya. Walau dia membenci anak itu sampai ketulang sumsumnya, tapi dia tidak bisa marah didepan anak kecil.
“Ya cuman cewe ngak bener yang mau nikah sama orang yang jauhhh lebih tua,” ujar Iis sambil berjalan menjauhi Bunda, tapi...
“Oh ngomongin diri sendiri ?”
•••
Sutil... sutil...sutillll.... teflon...tefloonn....sianida sianida.... racun tikus.. racun tikuss..... minyak...minyakk....
Murah...murah....
Tutorial penggunaannya bisa di cari di youtube 🤣🤣🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon