
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Kang Rozak, Abah mau ke Jakarta benaran ?" tanya Taca sambil memijat-mijat kepalanya.
Taca saat ini sedang duduk diruang tunggu menunggu proses sunat Adipati selesai. Taca menelepon Kang Rozak.
"Kayanya sih, Neng. Ini aja Abah lagi beres-beres baju. Emang si bule kenapa sih ?" tanya Kang Rozak bingung karena tadi dia sedang pergi keluar, Kang Rozak hanya meminjamkan handphonennya.
"Tau ah Kang, Taca pusing. Palingan hari ini Taca mau nginep dulu dirumah Adipati, pasti rewel Adipati, nanti Taca kasih alamatnya ke Kang Rozak yah." ujar Taca sambil menundukkan kepalanya membuat rambutnya menutupi wajahnya.
"Hahahahaa... udah nanti Kang Rozak kabarin yah, tapi kamu ati-ati nginep dirumah Adipati. Nanti kamu dimakan lagi..." kang Rozak mengingatkan
'Dari kemaren badan aku udah ringsek di makan Adipati, Kang..!!' batin Taca sambil tersenyum. "Iya, bisa apa dia, kata Dokter ngak boleh ngapa-ngapain, Kang."
"Bagus, hahahaa... oke salam buat si bule yah," ujar Kang Rozak kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Taca masih memijit-mijit kepalanya, tiba-tiba saja Taca mengingat wajah pias Adipati, Taca langsung tersenyum mengenangnya.
"Ehhh..."
Taca merasakan ada sensasi dingin dikedua pipinya, dengan cepat Taca melihat kedepan kemudian Taca melihat manik mata hitam legam yang menatapnya kembali.
"RADI..." pekik Taca sambil memegang kedua tangan Radi yang sedang menyentuhkan botol you c 1000 di pipi Taca.
"Hai, Princess... kenapa sedih ?"
Taca langsung mengambil salah satu botol You c 1000 dari pipinya, kemudian menegakkan badannya. "Siapa yang sedih, orang lapar ini tuh," jawab Taca sambil membuka botol you c 1000.
"Hahaha kalau lapar makanlah, masa malah duduk cantik di rumah sakit," canda Radi sambil duduk disebelah Taca.
"Aku lagi nunggu tunangan aku, Rad," jawab Taca sambil meminum minuman pemberian Radi sampai habis.
"Oh... beneran kamu tuh yakin mau nikah sama tunangan kamu ?" tanya Radi sambil mencoba mencolek lengan Taca.
Spontan Taca bergerak menjauh, "Jangan Colak colek, Rad. Geli tau, kaya ngak tau aja aku ngak nyaman dipegang sama cowo," ucap Taca sambil menggeser duduknya.
"Hahahaa... tau, inget banget dulu, pas mau aku cium eh kabur..."
Taca mengedipkan matanya berusaha untuk mengingat kapan Radi mau menciumnya, "Oh.. waktu makram ? Itu tuh kamu mau nyium aku ? Hahahahhaaa... aku sangka kamu mau mukul aku, Rad."
__ADS_1
Taca ingat kejadian itu, saat itu Taca masih tidak nyaman disentuh pria manapun, makanya dia selalu menjaga jarak dengan siapapun, hanya Radi yang bertahan ada disampingnya hingga Radi tiba-tiba pergi ke Singapura.
"Iyah mau aku pukul pake bibir hahahahaa..." canda Radi sambil menyenderkan badannya pada sandaran kursi.
"Ihh ngaco... kamu ngapain ke sini ?" tanya Taca.
"Anterin Kak Cindy."
"Kak Cindy sakit ?" tanya Taca bingung.
Radi langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bingung. Taca yang melihat gelagat Radi langsung menangkap ada yang tidak beres.
"Kak Cindy sakit apa ?"
"Pikiran kali yah, suaminya sering mukulin dia. Selingkuh sana sini. Aku udah bilang berkali-kali jangan percaya sama buaya, Kak Cindy ngak percaya. Yakin kalau laki-laki tersebut bakal berubah. Naif..."
"..."
"Bukannya berubah malah makin menjadi-jadi. Padahal dari pacaran udah keliatan mantannya banyak." ucap Radi sambil menatap mata Taca. Taca terdiam menatap manik mata Radi yang hitam kelam, Taca memang paling lemah dengan lelaki yang memiliki sorot mata tajam, Taca seperti terbius dengan tatapan Radi.
"Makanya, aku khawatir sama kamu, aku ngak mau kamu kaya Kak Cindy, Ta," ujar Radi sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Taca, entah karena sudah terbiasa atau tau Taca yang tidak suka disentuh, usapan Radi tidak menyentuh kepala Taca, Radi hanya menyentuh angin.
"Aku ?" tanya Taca bingung.
"Iya, kamu... ngapain juga kamu pacaran sama Adipati Berutti, hampir semua orang tau kelakuan dia. Jangan naif Ta, orang ngak bakal berubah gitu aja. Jangan punya pikiran Adipati bakal berubah setelah dia nikah. Liat contohnya, liat Kak Cindy...!" ujar Radi memberikan handphonenya pada Taca.
"Ini Kak Cindy ?"
"Orang ngak akan berubah Ta, tinggalin tunangan kamu itu. Adipati itu ngak baik. Jangan Naif, Ta. Please..." pinta Radi sambil menatap Taca.
Taca terdiam sambil tersenyum pada Radi, "Rad, makasih udah ingetin aku. Tapi.. aku yakin Adipati ngak kaya gitu. Dia ngak bakal ningalin aku...."
"Hahahhaa... Ta, jangan naif..."
"Mungkin aku naif, tapi aku percaya Adipati, Rad," ujar Taca sambil berdiri.
"Makasih minumannya, Rad..." ucap Taca sambil berjalan.
Tangan Radi langsung menangkap tangan Taca kemudian menciumnya lembut.
"Kalau, kalau aku ngak ke Singapura, apakah bisa aku jadi tunangan kamu saat ini, Ta ?" tanya Radi sambil mengusap punggung tangan Taca dipipinya.
Taca terdiam, kesadarannya melayang. Dengan cepat ditariknya tangannya dari Radi. "Mungkin, Rad. Mungkin..." jawab Taca sambil berjalan menjauhi Radi.
__ADS_1
Radi terdiam kemudian tersenyum, mengambil teleponnya kemudian menekan nomer seseorang, didering ketiga telepon tersebut tersambung.
"Halo Pak Lukito...."
•••
"Amoreeee...." rengek Adipati sambil memeluk Taca saat Taca menemuinya di ruangan Dokter Satria.
Taca hanya bisa tersenyum melihat Adipati merengek seperti ini. "Aduh, ini bayi besar ngerengek."
"Amoreeee sakit..."
"Pak Adipati saya sarankan jangan terlalu manja pada Bu Taca ?" ujar Dokter Satria.
"Kenapa ?" tanya Taca bingung sambil melepaskan pelukkan Adipati, kemudian menunduk bermaksud untuk duduk dikursi sebelah Adipati.
Gerakan Taca membuat Adipati melihat bagian dalam dada Taca, membuat pikirannya berlari kekanan dan kekiri, kemudian...
"Dokter, sakit..!!" teriak Adipati sambil mengusap celananya.
"Nanti kaya gitu, karena kalau sampai ereksi, yah. Sakit Pak.." ujar Dokter Satria sambil menahan Tawanya, seumur hidup dia baru lihat pasien se mesum ini.
Taca hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Taca hanya bisa memaklumi keadaan Adipati yang kadar mesumnya diatas rata-rata.
"Astaga, sakit...huhh hahh huhh hahh...." Adipati mengatur napasnya berusaha meredakan rasa sakit dibagian pribadinya.
"Sakit banget, Di ?" tanya Taca khawatir, Taca lalu mengelus punggung Adipati, tanpa sadar Taca mengelus leher Adipati kemudian mengenai telinga Adipati, memberikan sensasi tersediri pada tubuh Adipati.
"Amore... please. I really love you, tapi untuk satu bulan ini jangan sentuh aku dulu." pinta Adipati sambil menundukkan kepalanya.
Taca yang mendengar perkataan Adipati hanya bisa menahan tawanya. Akhirnya nafsu Adipati benar-benar ditaklukkan, dan yang menaklukkannya itu adalah sunat...!!!
TERIMA KASIH SUNAT 🤣
•••
Asikkkk Adipati libur sebulan hahahaha...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon