
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Tuk tuk tuk...
Terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamar Iis. Iis yang sedang bergelung di dada Juan berusaha untuk membuka matanya.
Tuk tuk tuk....
“Neng... bangun, jadi hari ini ke makam Ibu ?” tanya Ayah dari balik pintu, Iis yang selalu mengunci pintu kamarnya, membuat Ayah tidak bisa masuk kedalam kamar Iis.
“Ah... iya, Yah. Bentar Iis mandi dulu, bentar..” ujar Iis sambil mengucek matanya kemudian menatap Juan yang sedang asik tertidur disampingnya.
“Mas..” panggil Iis lembut sambil mengusap pipi Juan.
“Masss.. bangun, Ayo kita ke makan Ibu aku,” ujar Iis sambil mengusap pipi Juan lembut.
Mata Juan terbuka sedikit demi sedikit, “Aku ngantuk, Yang. Pengen kelon...”
Iis hanya tersenyum mendengar perkataan Juan yang selalu manja. “Ayo, Mas. Aku mau kenalin sama Ibu aku. Ibu aku pasti seneng liat mantunya dateng,” ujar Iis lagi.
Pelukkan Juan makin erat Iis rasakan di pinggangnya. Tanpa Iis sadari kedua tangan Juan meremas bagian belakang pinggul Iis membuat Iis berteriak keras karena kaget.
“Aaaaa...!!!” teriak Iis sambil memukul bahu Juan yang sedang menahan tawanya karena berhasil membuat Iis berteriak.
Tok tok tok...
“Kenapa, Nak ?” tanya Ayah dari luar kamar khawatir bila terjadi sesuatu pada Iis.
“Ngak ada apa-apa Yah, ini cuman ada tikus aja..!!!” ujar Iis keras sambil membulatkan matanya ke arah Juan yang sedang terkekeh pelan. “Tikusnya pake baju abu-abu,” bisik Iis kesal.
“Oh, tikusnya diluar atau didalem kamar Iis ?” tanya Ayah masih khawatir.
“Diluar, tikusnya nyebelin...!!!” ujar Iis lagi sambil mencubit pipi Juan geram.
“Oh, ya udah Ayah tunggu dimeja makan yah,” ujar Ayah sambil beranjak dari depan pintu.
“Iya Yah,” jawab Iis.
“Tikus mau pulang dulu yah, nanti ketemu diluar,” ujar Juan sambil mencium bibir Iis cepat kemudian beranjak dari kasur Iis dan meloncat keluar kamar Iis dengan gampangnya.
Iis tersenyum pada Juan dan melambaikan tangan kirinya sambil berkata “Bye, tikus kesayangan...”
Juan langsung menundukkan badannya memberi hormat pada Iis, “à revoir ma chère”
(Sampai berjumpa lagi, sayang)
__ADS_1
Iis tertawa mendengar bahasa Prancis Juan yang fasih. Juan bayi besar kesayangannya benar-benar selalu membuat Iis tersenyum.
•••
Sesampai di makam Ibu Iis, Iis langsung membuka kursi lipat untuk Ayah duduk. Ayah langsung duduk di kursi tersebut sambil mengucapkan salam pada Ibu Iis dan membaca doa-doa untuk istrinya.
Iis berjongkok sambil membersihkan ilalang-ilalang liar kecil-kecil yang muncul di makan Ibu. Sesekali terdengar suara Iis yang melantunkan doa pada Ibunya.
“Neng, ini Iis mau nikah... dia mau nikah sama laki-laki baik, namanya Juan. Neng, ikhlas ‘kan ?” tanya Ayah sambil mengusap batu nisan Ibu.
“Hai Bu, ini Juan,” ujar Juan sambil berjongkok di belakang Iis.
“Moga kamu, sehat disana yah. Ternyata yang kamu omongin benar, suatu hari nanti Iis pasti akan memberikan anak laki-laki buat saya. Ternyata, maksudnya Iis akan menikah dan Suaminya akan menjadi anak saya. Hah... andai saya mendengarkan perkataan kamu, mungkin kamu masih hidup, Neng,” ujar Ayah lirik sambil terus mengelus batu nisan Ibu.
“Yah...” ujar Iis lirih sambil mengusap bahu Ayahnya.
Juan yang terkenal cuek hanya bisa menggaruk kepalanya, dia masih tidak mengerti kenapa Ayah Iis begitu bodohnya meninggalkan berlian demi batu kali. Juan pribadi lebih baik menahan hawa nafsunya daripada harus berselingkuh dari Iis. Dapetinnya aja sudah masa mau disia-siain begitu saja.
“Saya sudah ikutin keinginan kamu, saya tidak akan menceraikan Bunda apapun yang terjadi, karena kamu ngak mau Bernard mengalami apa yang dialami oleh Iis, saya lakukan keinginan kamu, Neng. Walau resikonya sangat menyakitkan untuk diri saya. Iya, saya yang salah, saya yang memiliki keinginan besar untuk memiliki anak lelaki. Jadi, ini konsekuensinya saya terima dengan iklas,” ujar Ayah sambil mengusap rambut Iis.
Rasa-rasanya Juan ingin menarik kursi yang didudukki oleh Ayah, tapi dia masih sayang pada Iis. Astaga Ayah Iis ini benar-benar yah kelakuannya. Kalau mau kesiksa sama keputusannya, siksa aja diri sendiri, ngak usah ajak-ajak Iis yang malah kena getahnya jadi harus membayar hutang-hutang Bunda.
“Nak, jaga Iis yah... jangan bikin Iis sakit, Ayah ingin Iis bahagia,” ujar Ayah sambil tersenyum pada Juan.
Ah... andai Juan tidak ingat betapa berusahanya Ayah melindungi Iis dari pukulan Bunda kemarin, mungkin Juan akan menjawab dengan kata-kata extra sinis yang bakal membuat Ayah mengurutkan dadanya.
“Terima kasih, Nak,” ujar Ayah sambil menepuk bahu Juan lembut.
Ah andai kelakuan Ayah Iis tidak seperti ini, pasti Juan akan angkat topi. Mungkin Juan akan menghormatinya seperti dirinya menghormati Abah.
•••
Setelah pulang dari makam Ibu Iis. Juan, Ayah dan Iis dikejutkan dengan sebuah mobil yang sudah terparkir cantik didepan rumah Ayah.
Mata Juan memicing saat melihat plat nomber dan tipe mobil yang sedang parkir dengan manisnya di depan pekarangan rumah Iis. “Yang itu mobil, Papih deh,” tebak Juan pada Iis.
“Eh... bukannya datangnya besok ?” tanya Iis bingung, astaga gimana ini?
“Kenapa, Neng Iis ?” tanya Ayah sambil berjalan pelan di sebelah Iis.
“Itu, Yah. Ada orang tua Mas Juan datang, katanya besok ternyata sekarang datangnya,” ujar Iis kebingungan.
“Wah... gimana ini, dirumah cuman ada Bunda. Bisa gawat...” ujar Ayah panik sepanik-paniknya. Dia tau kelakuan istri keduanya itu. NEKAT..!!
Air muka Iis langsung berubah pucat, Iis menatap Juan dengan tatapan ‘Mas-gimana-ini’.
Juan yang mengerti arti tatapan Iis langsung menganggukkan kepalanya dan berlari kedalam rumah Iis, berharap Bunda Kokom Hollykom tidak membuat perkara pada Papih yang masih belum setuju pada Iis.
Sesampainya didepan pintu Juan mendapati Papih dan Mamih yang sedang mengobrol dengan Bunda. Bunda tampak ramah didepan kedua orang tua Juan. ‘Astaga dasar kadal betina..!’ maki Juan didalam hati kesal.
__ADS_1
“Ah, Nak Juan sudah dari makam almarhum Ibu Iis ?” tanya Bunda dengan senyuman selebar mungkin.
“Udah,” jawab Juan pendek sambil menatap Mamih, “Kenapa dateng sekarang ?”.
“Papih ‘kan sibuk, besok dia harus ke Hongkong. Jadi bisanya sekarang,” ujar Mamih cepat sambil mengelus paha Papih.
“Iya, mana Ayah sama Iis. Kita omongin langsung aja semuanya,” ujar Papih cepat, dia ingin cepat-cepat menyelesesaikan masalah yang ada, kerjaan Papih banyak.
“Om, Mamih,” ujar Iis sesaat Iis sampai di ambang pintu diikuti Ayah dibelakangnya.
“Iis sini sayang, duduk disebelah Mamih,” ujar Mamih semangat, entah kenapa Mamih sayang sekali sama Iis, rasanya kalau melihat Iis seperti melihat anak wanita yang sangat Mamih inginkan.
Iis menurut kemudian duduk disebelah Mamih, Ayah langsung duduk disebelah Bunda. Juan memilih duduk didekat pintu masuk kedalam ruangan makan rumah Iis.
“Oke, jadi saya Papihnya Juan mau melamar anak Pak Apo, yang bernama Lizbet Sandia,” ujar Papih to the point.
“Iya, saya tau. Saya setuju, saya sudah ngobrol dengan Iis. Dan Iis juga mau dengan Nak Juan, jadi saya menyetujuinya,” jawab Ayah sambil tersenyum pada Papih.
Papih hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah tau jawaban dari keluarga Iis. Ini semua hanya formalitas yang membuang-buang waktu menurut Papih, andai Nenek Lia tidak memaksanya untuk ke Citeko, mana mau Papih menginjakkan kakinya kesana.
“Untuk waktu tempat dan lain sebagainya biar Juan saja yang urus, untuk biaya biar Juan juga yang bayar,” ujar Papih sambil tersenyum menyebalkan pada Juan.
Muka Juan langsung berubah tengil, Papihnya ini benar-benar senang menjahili dirinya, “Iya, Juan yang tanggung semuanya, tenang aja Pih,” ujar Juan cuek.
“Iya, nanti saya dan Iis juga akan bantu,” ujar Ayah, Ayah sebenarnya memilik tabungan untuk Iis. Tabungan yang bisa Iis pakai bila Iis akan menikah nanti.
“Ah... tapi saya butuh 2 milyar dari kalian kalau Juan ingin menikah dengan Iis..!” ujar Bunda cepat lalu menyilangkan kedua tangannya didada sambil tersenyum culas.
“BUNDAAAA...!!!!”
•••
Butuh santet online ? Pelet ikan? Racun tikus ? Sianida? Teflon ? Gergaji listrik? Kapak ? Celurit ? Pisau daging ?
JANGAN HUBUNGI SAYA...
karena saya cuman penulis... 🤣🤣🤣🤣🤣
*garing yah ? Biarin ah... 🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1