
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sesampainya di area pantai Sarah, Iis dan Caca berjalan kearah kapal-kapal yang berjejer dengan gagahnya. Iis menyangka mereka akan kesana menggunakan kapal biasa atau beramai-ramai dengan orang lain, tapi tidak semudah itu maemunah...! Iis saat ini sedang pergi dengan orang kaya, jangan harap naik kapan abal-abal.
“Yuk...”
Sarah langsung menaiki sebuah privat yacht yang panjang, Iis mengekor dibelakang Sarah, pada saat masuk Iis hanya bisa banyak-banyak mengurut dada, melihat bagian dalam yacht tersebut yang menurut Iis sangat mewah.
“Naik ini ?” tanya Iis pada Sarah.
Sarah yang sedang duduk sambil minum Equil Sparkling Water hanya menganggukkan kepalanya. “Bisa naik Chopper sih, tapi kurang asik. Ngak bisa liat laut sama sekali, cuman gitu-gitu doang, mana berisik banget lagi, mending naik Yacht,” ujar Sarah santai.
Ini benar-benar bukan dunia Iis, Iis dulu paling memilih antara naik ojek pengkolan atau naik angkutan umum. Lah ini memilih antara naik Yacht atau Chopper, ah.. sudahlah ada untungnya juga berteman dengan orang kaya.
“Kalau Aunty mau, nanti naik coopelnya sama Uncle Huang aja, dia bisa nerbanginnya,” ujar Caca sambil duduk disamping Iis.
Setelah mendengar kelakuan Huang seperti apa, Iis tidak yakin dia akan selamat bila terbang bersama Huang. Bisa-bisa dia di tendang dari chooper dalam hitungan menit.
“Nggak deh makasih, Aunty masih ingin liat matahari esok, Nak,” ujar Iis sambil tersenyum pada Caca yang sudah dengan manjanya tidur dipangkuan Iis. Melihat Caca yang tidur dipangkuan Iis, mengingatkan bayi besarnya yang entah dimana.
Ting...
Iis mengambil handphonenya, ada Chat dari Juan. Dengan cepat Iis membukanya.
-Udah naik kapal yah, diliat-liat kamu di air
Iis sekarang sudah tau bagaimana Juan melacaknya, Juan melacaknya menggunakan sinyal handphonennya, pantas kemarin Juan sama sekali tidak bisa melacaknya karena Iis menggunakan nomer dan handphone baru ditambah Iis tidak pernah menggunakan kartu kredit atau debit selama pelariannya kemarin.
-Iya, aku naik yacht. Kata temen aku, aku mau diajak ke pulau H.
Send
“Siapa tuh, sampai senyum-senyum segala. Kayanya cinta banget kamu sama tunangan kamu,” Sarah menatap Iis yang sedang tersenyum.
Bukan cuman cinta Iis sudah sayang dan peduli dengan Juan. Rasa-rasanya sejauh apapun Iis melarikan diri dari cengkraman Juan, pasti akan kembali lagi pada Juan. Sejauh apapun Iis menjauhkan diri dari Juan dan sekeras apapun Iis mencoba melupakan Juan, entah bagaimana caranya Juan pasti bisa mendapatkannya kembali.
“Tunangan aku, Sarah. Aku udah ngak bisa kemana-mana, kaya diiket gitu,” ujar Iis sambil membenarkan rambutnya yang berkibar-kibat tak tentu arah.
“Ini..” Sarah memberikan ikat rambut pada Iis yang kesulitan menjinakan rambutnya.
__ADS_1
Semenjak Juan yang melarang Iis mengikat rambutnya, Iis sudah jarang membawa ikat rambut. Iis dengan tenang menerima ikat rambut dari Sarah dan mengepang rambutnya.
“Wahh.. aku mau dikepang..!” jerit Caca sambil menatap rambut Iis yang terkepang sempurna.
“Mau ? Sini sama Aunty, Mamih punya ikat rambut lagi ?”tanya Iis sambil menyisiri rambut Caca dengan jari-jari tangannya.
Sarah memberikan lagi satu ikat rambut pada Iis, “Caca kalau sama Mamih kok ngak mau dikepang ?” tanya Sarah.
“Ngak mau ah, Mamih kalau kepang Caca bentuknya ngak cantik,” Caca memberikan alasan.
“Ihh kamu tuh,” ujar Sarah.
“Done, cantik ‘kan, kaya Elsa.” ujar Iis sambil menunjukka kepangan Caca.
Caca langsung berjalan ke arah kaca kemudian berputar-putar di depan kaca kemudian berlari ke arah ruang kemudi didepan.
“Jawab pertanyaan aku, cinta banget kamu sama tunangan kamu ?”
Sebelum menjawab pertanyaan Sarah, Iis membawa sesuatu dari dalam tasnya kemudian menyerahkan pada Sarah.
“Apa nih ?” Sarah mengambil kartu dari Iis kemudian membacanya.
Aku kangen rebutan coklat sama kamu, Yang. Ehm.. Yang, Ikan pari kangen dipeluk, bayi gede juga kangen meluk kamu.
“Wow.. ini tunangan kamu yang nulis ? Kapan ?” Sarah takjub membaca tulisan dikartu itu. Masih ada cowo seromantis itu didunia ini, wajib dimasukkan kedalam musium sepertinya tunangan Iis ini.
“Ngak sesek diiket ?” tanya Sarah, jujur dia bisa meledak kalau diiket seperti itu.
“Ngak, karena Mas bukan ngiket aku sebagaimananya, dia masih bisa ngasih aku ruang kebebasan. Tapi, yah itu manja sama rasa cemburunya membabi buta kadang bikin aku kesel,” ujar Iis sambil menatap Sarah.
“Dimas tuh cemburuan, berapa kali dia diputusin karena cemburunya parah. Yang ngak cemburuan itu Abang, hampir semua pacar-pacarnya Abang biarin. Inget banget dulu motonya terserah mereka mau ngapain, nanti juga balik lagi.”
Iis benar-benar penasaran dengan Huang ini, rasanya dia ingin bertanya pada Huang kenapa kelakuannya bisa se aneh itu.
“Kamu beneran ngak suka Dimas ? Itu Dimas ganteng gitu, daripada ama Abang.”
“Ngak dua-duanya deh Sarah, makasih.”
Sarah tertawa mendengar jawaban Iis, wanita didepannya ini benar-benar tidak silau dengan harta sepertinya. Seandainya wanita lain pasti dengan cepat akan menyetujuinya, mungkin Nenek sudah merayakan pesta pernikahan Dimas. Tapi, Iis dengan entengnya menolak Dimas, bahkan Abang.
“Wah, Nenek pasti sedih. Tapi, nanti kalau ketemu Nenek kamu harus yang sabar yah. Nenek bakal semangat banget jodohin kamu sama Abang atau Dimas, bahkan kamu bakal dipromoin ke Papih dan Papihnya Abang,” Sarah memperingatkan Iis, Sarah hapal betul Neneknya yang sangat suka memaksa orang, jiwa otoriter Neneknya masih sangat-sangat terasa oleh keluarganya.
“Pokoknya jawabannya NGGAK, heheee,” jawab Iis tenang.
__ADS_1
Sarah merangkul Iis sambil tertawa, “Hidup nggak...!”
Tawa pun pecah antara Iis dan Sarah. Rasanya menyenangkan berbicara dengan teman.
Zreettt zreettt...
Sarah melihat handphonenya dan menghela napas, saat melihat nama mantan suaminya tertera dengan indahnya dilayar handphonennya.
“Siapa ?”
“Papahnya Caca..” jawab Sarah dingin.
“Angkatlah Sar, mungkin mau ngobrol sama Caca,” ucap Iis.
“Iya,” Sarah langsung beranjak dari duduknya kemudian berjalan kearah Caca yang sedang berada diruang kemudi, rasa malas untuk mengangkat telepon dari mantan suaminya ini benar-benar sudah merasuk ke tulang sumsumnya.
Sepeninggalnya Sarah, Iis melihat laut didepannya, hatinya berbunga-bunga hari ini. Akhirnya dia bisa liburan tanpa ganguan dari bayi besarnya yang manjanya ampun-ampunan.
“Sintinggg si Lex...!” Sarah tiba-tiba datang sambil berteriak membuat Iis kaget.
“Kenapa ?”
“Masa dia mau nyusul, cari muka sama keluarga aku pasti..! Arghh... kamu hati-hati sama Lex, dia itu mata keranjang, liat paha mulus dikit langsung mau embat...!”
Iis hanya bisa manggut-manggut, Iis bingung dengan kelakuan orang kaya yang berjenis kelamin laki-laki hobi bener jadi laki-laki mata keranjang. Iis bersyukur Juan sudah sadar dan kembali kejalan yang benar dan lurus, kalau ngak ? Iis mending nikah sama Kang Rozak..!
“Pokoknya Iis, kamu jangan deket-deket sama Papih aku, mantan suami aku dan yang terpenting jangan deket-deket sama Abang, laki-laki dikeluarga aku yang waras cuman Dimas dan Papihnya Abang, setia sampai mati..!!!”
“Iya...”
Cuman itu jawaban yang bisa Iis berikan pada Sarah, tanpa tau siapa sebenarnya Abang Huang yang terkenal mata keranjang, uzur, begajulan, menyeramkan dan titisan singa.
•••
Dududududdudddduuu...
selamat menikmati ceritanya..
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon