
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Mas... Taca sama Adipati kok kabur, mereka mau kemana?” tanya Iis sambil menunjuk Taca dan Adipati yang berlarian masuk kedalam sebuah gedung.
Juan hanya bisa mengulum senyumnya, bule mesum itu memang tidak bisa diajak kompromi kalau soal nafsu. Dimanapun dan kapanpun.
“Mau menghangatkan diri, dipagi hari yang indah ini,” jawab Juan santai.
“Hangat? Astaga Mas ini udah panas, udara disini tuh udah panas banget. Mau dihangatin pake apa lagi?” Iis benar-benar bingung dengan omongan Juan. Menghangatkan diri dari Hongkong. Ini suhu udara aja udah panas banget, dari tadi Iis udah kipas-kipas saking panasnya.
Juan hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keluguan Iis, “Nanti aku juga bakal angetin kamu, kok.” Juan berkata sambil mengecup bahu kanan Iis yang terbuka.
“Idih ogah, lagi panas gini malah minta yang anget-anget. Mending yang dingin, Mas, kayanya minum es jeruk enak, Mas,” ucap Iis sambil mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan mamang-mamang tukang es jeruk. “Tapi, nggak ada.”
Saking gemasnya Juan langsung menyubit perut Iis.
“Aw... apa sih, kenapa nyubit-nyubit. Sakit tau,” ujar Iis kesal sambil memukul bahu Juan kesal.
“Kamu tuh yah, nggak ngerti kode,” kekeh Juan sambil mengusap perut Iis yang tadi dia cubit.
“Kode apaan ih, kode morse? Bukan anak pramuka aku tuh, Mas,” jawab Iis sambil mengambil koin dari dalam tasnya.
“Bukan kode itu, kode yang lain. Kode panggilan alam,” jawab Juan.
Iis menolehkan kepalanya dan menatap Juan bingung, “Mas mau pipis? Atau panggilan alam yang satu lagi?”
“Bukan panggilan alam yang itu, Yang. Panggilan alam yang lainnya,” Juan benar-benar gemas dengan kepolosan istrinya ini. Polos-polos tapi kalau di kasur Juan kadang suka kaget sendiri.
“Yang mana?” tanya Iis sambil mengaduk-ngaduk tasnya. Mencari sesuatu.
“Kamu nyari apaan?” tanya Juan penasaran.
“Aku nyari koin, katanya kan kalau lempar koin terus bikin permintaan. Permintaannha bakal dikabulin.”
Iis mengeluarkan recehan dari tasnya dan menyodorkan kearah Juan. “Nah, masalahnya receh aku cuman ada 200 perak ini. Bakal dikabulin nggak yah?”
“Hahahaa... nggak ada lagi, Yang? Kamu nggak bawa cash?” tanya Juan pada Iis.
“Nggak, kan kata kamu, kamu bilang aku nggak boleh bawa uang cash sama sekali. Kamu bilang aku cukup bawa kartu debit sama kredit kamu aja,” cerocos Iis sambil terus mengaduk-ngaduk isi tasnya. Tas Marhen J kuning miliknya sampai Iis jungkir balikkan demi menemukan koin.
__ADS_1
Tangan Juan merogok-rogok saku celananya, berusaha mencari uang koin untuk Iis lempar. Masalahanya dia juga tidak membawa uang cash sama sekali. Uang cash miliknya masih berbentuk lembaran.
“Nggak ada, Yang,” ujar Juan sambil mengangkat kedua tangannya.
“Aku udah dapet 3000 ini,” ujar Iis sambil menunjukkan 5 buah uang 200an dan 2 buah uanh seribuan. “Tapi, bakal dikabulin nggak yah, permintaan aku banyak masalahnya. Murah amat gitu bayarannya,” kekeh Iis sambil menggoyang-goyangkan koin yang ada digenggaman tangannya.
“Coba aja Yang, emang permintaan kamu apaan?” tanya Juan.
Iis lalu melemparkan uangnya kedalam kolam, saat koin-koin itu jatuh kedalam kolam. Iis langsung mendengar suaranya dengan jelas. Dengan cepat Iis mengatupkan kedua tangannya di dada dan mengucapkan permintaannya tidak keras, Tapi Juan yang dekat bisa mendengar perkataan Iis dengan jelas.
“Aku mohon semoga keluarga kecil aku bahagia, aku mohon semoga Mas Juan nggak kumat bangsulnya, aku mohon semoga Liz jadi anak yang baik dan....”
Juan menunggu dengan tenang, Juan benar-benar ingin tau permintaan selanjutnya dari Iis.
“Dan aku mohon buat supaya suamiku itu suka makan nasi, masa tiap kerestoran hobinya beli steak ama pasta mulu. Aku tuh nggak bisa kalau nggak makan nasi....”
“Astaga Yang, kamu tuh mau makan nasi?” tanya Juan pada Iis. Iis langsung menganggukan kepalanya cepat, sudah tiga hari dia tidak makan nasi. Rice cooker yang dibawanya di pinjam Rina. Rina beralasan dia ngidam nasi jadi memaksa Iis memberikan rice cooker mini miliknya.
“Iya, aku laper...” ujar Iis sambil mengusap perutnya. Tantangan terbesar menikah dengan Juan adalah menahan lapar disaat seluruh keluarganya makan steak, sedangkan dirinya ingin makan mie goreng pake nasi. Hidup Karbo...!!
“Ya udah yuk, pulang kita makan nasi. Aku bakal suruh orang hotel masak nasi. Kamu mau nasi pake apa?”
“Nasi anget pake ayam goreng, sambel terasi, ditambah lalapan...”
Iis hanya bisa menjulurkan lidahnya, saat berjalan mengikuti Juan kearah mobil mereka. Dengan cepat Juan menjalankan mobil di jalan-jalan kota Roma. Memiliki sim internasional membuat Juan leluasa mengemudikan mobil dinegara manapun dibelahan dunia apapun.
“Mas, Taca sama Adipati ditinggalin?” Iis baru sadar kalau mereka meninggalkan Taca dan Adipati.
“Biarin aja, mereka udah gede ini. Mau pulang tinggal pulang. Adipati lebih hapal daerah ini daripada kita,” ucap Juan yang membelokkan mobilnya ke kiri.
Pemandangan tiba-tiba berubah menjadi pemandangan pedesaan yang asri. Juan benar-benar menikmati pemandangan yang ada. Dibukanya kaca jendela mobilnya, membuat udara diluar masuk kedalam mobil.
Iis yang sudah hapal dengan kelakuan suaminya yang spontan hanya bisa menerima nasibnya. Pasrah adalah kunci hubungan pernikahan yang bahagia bersama seorang Juan Wijaya.
Tiba-tiba pemandangan itu berubah menjadi pemandangan danau yang sangat indah dihadapan Iis. Juan, langsung memarkirkan mobilnya di depan danau.
“Keren nggak Yang?” tanya Juan sambil merentangkan tangannya.
“Iya, bagus...” jawab Iis sambil keluar dari dalam mobil dan merengangkan tangannya. Menghirup udara sebanyak-banyak.
Iis melihat Juan yang ada didalam mobil sedang menyisir rambutnya dengan tangan kanannya. Entah kenapa otak Iis langsung berlari kekanan dan kekiri. Ide gila tiba-tiba tercetus begitu saja di otak Iis.
Iis dengan cepat masuk kedalam mobil, namun Iis masuk kebagian belakang mobil. Iis duduk dikursi penumpang. “Mas...”
__ADS_1
“Kok masuk lagi, Yang?” tanya Juan bingung sambil menatap Iis yang sudah duduk manis di jok penumpang.
“Aku mau dianter kesuatu tempat, Mas,” ujar Iis sambil menyentuh pipi Juan dengan kedua tangannya. Menguncinya.
“Kemana?”
“Kelangit,” bisik Iis pelan sambil mendekatkan bibirnya ke arah bibir Juan, mengikis jarak antara mereka berdua.
“Ketujuh,” bisik Iis sambil mengecup bibir Juan yang empuk dan hangat. Iis mengalungkan tangannya keleher Juan. Juan yang goyang karena tidak siap menerima serangan Iis, langsung memperbaikki posisinya tanpa melepaskan pangutannya sedikitpun.
Iis menarik badan Juan agar berpindah dari kursi pengemudi, ke kursi penumpang. Menariknya, untuk menindih tubuhnya, tanpa melepaskan pangutannya sama sekali.
“Yang, kamu beneran mau ngelakuin di mobil? Bukannya kamu nggak mau ngelakuin di mobil?” tanya Juan sambil menatap Iis.
Iis sama sekali tidak menjawab, tangannya sedang berusaha membuka kancing celana milik Juan. Saat, berhasil Iis dengan cepat menggenggam sesuatu yang sudah membuat sempit celana Juan dari tadi.
“Ayang...” erang Juan sambil mengigit jarinya untuk menahan erangannya yang akan meloncat keluar.
“Mau atau...”
Juan langsung mencium bibir Iis, menelusupkan lidahnya kedalam ronga mulut Iis, menggelitik bagian dalam gigi Iis, memberikan sensasi yang mampu membuat Iis mengangkat pinggulnya ke atas dan menyenggol bagian pribadi Juan yang sudah siap dari tadi.
Tangan Juan mengelus paha Iis, untuk membebaskan bagian bawah Iis dari pakaian dalamnya. Menarik pakaian dalam itu dengan sekali hentak, sedangkan bibirnya sudah turun kebagian leher Iis dan bermain di bagian inti salah satu bukit kembar milik Iis.
Mengecupnya dan memainkannya sesuka hati Juan. Desahan demi desahan keluar dari mulut Iis, desahan yang membuat Juan makin liar, makin ingin menggabungkan kedua tubuh mereka dengan liar.
“Mas...” desah Iis saat merasakan rasa sakit dibagian dadanya karena di gigit oleh Juan, ditambah merasakan sesuatu menerobos dirinya dan mulai menghentaknya dengan ritme yang mampu melentingkan tubuhnya dan melambungkan perasaannya kelangit ketujuh.
Ketempat dimana Iis inginkan, langit ketujuh....
•••
Udah sore kan? Nggak panas lagi kan...
Udah mendung lah yah, dingin dikit ini... hahahaa...
Ah, ada yang mau kasih ide nama singkatan pasangan Adipati-Taca nggak?
Juan-Lizbet (Iis) : Julis
Adipati-Taca?
Ah jangan lupa tombol likenya diteken, yang keras yah....
__ADS_1
ciaooo....