
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please...
Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Berapa jam kekampung kalian ?" tanya Juan sambil mengenakan kaca mata hitamnya bersiap untuk mengemudikan mobilnya.
"Hmmm, sekitar 2 jam-an, Ju," jawab Iis sambil membenarkan duduknya.
Juan dan Adipati duduk didepan, sedangkan Iis dan Taca duduk dibelakang. Mereka bersiap untuk ke kampung Taca dan Iis yang berada di Plered.
"Apa nama desanya tadi ?" tanya Adipati, mencoba untuk memasukkan lokasi desa Taca dan Iis.
"Citeko," jawab Iis tenang.
"CITEKO.." Adipati mengulang kembali kata-kata Iis.
"Water teapot," ulang Taca sambil tersenyum manis pada Adipati melalui kaca spion tengah.
"Hahahaaa... kamu masih aja suka bikin lelucon jayusss..." tawa renyah Iis membuat Taca tertawa terbahak-bahak mendengar leluconnga sendiri.
"Hah ? Bentar Citeko atau Water Teapot ?" tanya Adipati kebingungan, karena dia harus memasukkan data ke sistem GPS dengan benar.
"Citeko itu bahasa Inggrisnya Water Teapot, Di," jawab Taca santai.
"Hah... gimana cara ?" Juan penasaran sambil menatap Taca bingung.
"Ju, Ci bahasa Indonesianya air, Air bahasa Inggrisnya Water kan. Nah, Teko itu bahasa inggrisnya Teapot. Jadi Citeko bahasa Inggrisnya Water Teapot, HAHAHAHAHAA..." Iis menerangkang lelucon Taca.
Juan dan Adipati diam dan saling pandang mencoba mencerna lelucon garing Taca. Seketika itu juga mereka tertawa.
"FUCEK, jayus lo Ta, hahahaaa..." ujar Juan sambil melempar Taca dengan Tissue.
Tawa mereka berempat memenuhi ruang di mobil tersebut.
"So... let go to Water Teapot, everbody..!!!" ucap Adipati.
"Goo..." teriak Taca dan Iis berbarengan.
•••
Selama perjalanan tak henti-hentinya mereka berempat bercanda, semua dikomentari. Tanpa mereka sadari mereka sudah akan sampai kerumah Taca. Kanan dan kiri hanya terlihat hamparan sawah. Mereka terus berjalan.
"Itu rumahnya, yang cat putih," ujar Taca sambil menunjuk rumah sederhana bercat putih. Rumah biasa saja, tidak modern tapi terlihat asri dan tenang.
"Rumah kamu dimana, Yang ?" tanya Juan penasaran.
"Rumah aku, maju lagi kedepan. Sekitar 4 rumah dari sini," jawab Iis.
Juan langsung memparkirkan mobilnya dihalaman rumah Taca. Mereke berempat pun bergegas keluar.
"Iis.." ujar seseorang dari belakang Iis.
"Kang Rozak." Ujar Iis pelan sambil menatap Kang Rozak yang masih menggunakan baju seragam guru PNS.
__ADS_1
"Damang, Is ?" tanya Kang Rozak sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya.
(Sehat, Is ?)
"Damang, Kang," jawab Iis sambil menyambut uluran tangan Kang Rozak.
Taca yang melihat itu langsung tersenyum, kemudian pura-pura bersin tapi sambil mengatakan sesuatu, "HAATTT CLBK."
Iis yang sadar akan bersinnya Taca, langsung mendelik pada Taca, "TACA."
"Neng, pulang kamu ?" ujar Kang Rozak sambil merangkul Taca.
"Masih inget Neng, Kang ?" tanya Taca sambil mengerucutkan bibirnya.
"Masihlah."
"Oh, sangka teh, udah liat Iis mah lupa aja sama Taca. Masih belum move on, Kang ?" olok Taca sambil tersenyum jahil.
"Hussh.. ngaco.." ujar Kang Rozak sambil mencubit kedua pipi Taca dengan gemas.
"Neng Taca.....?!" tiba-tiba terdengar suara dari arah rumah.
"Aa Riki..!" jerit Taca sambil berlari kemudian, memeluk Aa Riki dengan erat.
"Pulang, oge kamu teh, teu kangen ka Abah, Aa sam Kang Rozak. Meni lama pisan di Jakarta, teh." kata Aa Riki dengan logat sunda kental.
"Pulang, atuh Aa." jawab Taca sambil tersenyum senang.
"Eh ada Iis, apa kabar Iis ? Pantes Rozak, anteng diluar ada kamu ternyata. Hahahahaa..." ujar Aa Riki, perkataan Aa Riki membuat Juan, was was. Siapa sebenarnya Rozak itu.
"Abah, ABAH ada Taca nih.," teriak Aa Riki .
"Astaga Neng, pulang kamu Neng," Abah langsung memeluk Taca dengan Erat, saat mengetahui anak perempuannya pulang.
"Iya Abah, Neng pulang. Ehmmm Neng pulang bawa calon," jawab Taca sambil melepaskan diri dari Abah kemudian berdiri disamping Adipati.
"Siapa itu ? Tukang kredit ? "tanya Abah polos saat melihat Adipati. Sontan perkataan Abah membuat Juan tertawa terbahak-bahak, dan baru terhenti saat Adipati menginjak sepatunya.
"Ih.. bukan Abah. Ini calon suami Taca, namanya Adipati Berutti. Pacar aku," jawab Taca kesal karena Abah menyangka Adipati tukang kredit.
Perkataan Taca langsung membuat Abah, Kang Rozak dan Aa Riki berada di mode waspada. Mereka bertiga sangat menjaga Taca, siapapun yang menikahi Taca harus ditest terlebih dahulu.
"Adipati berutti, Om," ujar Adipati memperkenalkan dirinya.
"Kamu mau nikahin anak saya ?" tanya Abah langsung to the point.
"Iya." jawab Adipati mantap.
"Kamu, punya AVANZA ?"
Mendengar pertanyaan Abah, Taca langsung memukul dahinya. Iis hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan Abah. Juan dan Adipati melongo.
Seumur hidup Juan dan Adipati bertandang kerumah wanita, pasti orang tua wanita tersebut akan bertanya tentang apa pekerjaan mereka, siapa keluarga mereka dan lain-lain. Tapi, pertanyaan Abah benar-benar out of the box.
"Hah ???" Adipati kebingungan dengan pertanyaan Abah.
"Iya, kamu mau nikahin anak saya kan ? Nah kamu punya mobil Avanza atau innova ? Kalau ngak punya mending kamu mundur, saya ngak mau nikahin anak saya sama orang yang ngak punya Avanza atau Innova," ujaf Abah tegas.
__ADS_1
"Abah, suruh Adipati, Taca sama Juan masuk dulu, yuk," ujar Iis mengingatkan Abah.
"Eh ada calon mantu Abah, ayo kalau gitu kita masuk," ujar Abah sambil masuk kedalam rumah.
Semua orang masuk kedalam rumah tapi Iis ketinggalan tasnya sehingga kembali ke mobil untuk membawa tasnya, pada saat berbalik...
"Calon mantu maksudnya gimana, Yang ?" tanya Juan sambil menatap Iis kesal.
Iis hanya bisa diam menatap Juan, dia sedang malas membahas kisah cinta masa lalunya dengan Kang Rozak. Rasanya malas aja harus membahas-bahas sesuatu yang sudah lalu. Capek lebih tepatnya.
"Bukan apa-apa, Ju. Udah masuk, yuk," ucap Iis sambil mengelus pipi Juan.
Juan yang tidak puas dengan jawaban Iis, langsung mendekatkan dirinya pada Iis, kemudian berbisik ditelinga Iis "Kamu jangan macem-macem, yah. Iis."
Iis yang sudah tau peringai Juan, hanya bisa menghela nafas. 'Kalau ngak cinta udah aku tendang kamu, Ju.' batin Iis.
"Ju, janji aku bakal jelasin semuanya, tapi ngak sekarang. Kamu ngak cape apa? Sama jangan deket-deket gini, kalau ketauan Pak RW bisa-bisa kita dikawinin di pos satpam," jawab Iis sambil mendorong pelan Juan.
Juan malah makin menekan badan Iis, menghimpitnya antara tubuh Juan dan mobil. "Mana Pak RW-nya ? Aku ngak papa dikawinin di pos satpam, Yang. Biar beda dari yang lain," ujar Juan sambil nyengir kuda.
"Ngaco ah, Ju. Ayo masuk," cerocos Iis sambil menggenggam tangan Juan kemudian menariknya masuk kedalam Rumah Taca.
•••
"Jadi kumaha, maneh boga Avanza teu? Lamun teu boga mah geus mending tong hayang nikah jeung anak urang," ujar Abah sambil meminum teh yang sudah disajikan oleh Inah, assisten rumah tangga di rumah Taca.
Adipati yang tidak mengerti bahasa sunda hanya bisa menatap Taca, meminta bantuan.
"Kata Abah, jadi gimana, kamu punya Avanza ngak? Kalau ngak punya mending ngak usah punya keinginan buat nikahin aku," Taca menerangkan dengan cepat.
"Saya ngak punya Avanza Om, saya punyanya Tesla, Range Rover sama BMW," jawab Adipati jujur, Adipati tidak punya Avanza sama sekali.
Mendengar nama mobil yang diucapkan Adipati, Kang Rozak dan Aa Riki langsung sadar bahwa Adipati adalah orang berada. Namun, berbeda dengan Abah yang punya pikiran yang Absurd.
"Ohh ngak bisa kalau begitu, kamu ngak punya Avanza. Ngak bisa, pokoknya harus punya Avanza, titik...!!!"
"Harus Avanza, Om ?" tanya Adipati bingung.
"Iya, Avanza, hidup Avanza..!!" Teriak Abah.
•••
Iyahlah hidup avanzaaaaaaaaa hiduppppppp...!!!
Hahahaaa
Maaf yah part-part awal part-part tidak penting dulu heheheee....
Pemanasan dulu kaka...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1