Water Teapot

Water Teapot
S2: Maybe in another life...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Neng....”


Iis melirik Rozak sambil tersenyum, sepanjang jalan Iis hanya diam dan menyenderkan kepalanya di jendela. “Iya.”


“Turun disini, liat laut yuk, dikampung mah nggak ada laut adanya sungai,” canda Rozak sambil turun dari dalam mobilnya.


Iis tertawa kecil mendengar candaan Rozak, Rozak lelaki yang selalu menemaninya dari dirinya kecil sampai dewasa. Iis membuka pintu mobilnya saat akan turun dari mobilnya Iis terdiam saat melihat Rozak sudah berjongkok.


“Kang....”


“Kamu nggak pake sepatu, pake sepatu Akang aja yah, kegedean dikit nggak papa ‘kan. Sepatu kamu masih nomber 39 ‘kan?” tanpa menunggu jawaban dari Iis Rozak memakaikan sepatu ke kaki Iis.


Iis diam melihat Rozak yang memakaikan sepatu untuk kakinya, “Kegedean Akang, sepatu Akang no 42,” ujar Iis sambil mengulum senyum.


“Nggak papa, Akang takut kaki kamu luka,” ujar Rozak sambil menuntun Iis untuk turun dari mobil.


“Lah, terus Akang nggak pake sepatu gimana?”


“Nggak papa, Ayo turun,” ujar Rozak sambil menggandeng tangan Iis untuk mengikutinya kearah laut Jakarta.


Iis turun, dengan cepat wangi laut langsung menyeruak ke hidungnya. Angin laut langsung menerpa wajahnya, semuanya seperti mengangkat masalah dari bahunya.


Rozak terus menuntun Iis sampai ke sebuah kursi yang menghadap matahari yang mau terbenam didepannya. Iis dengan cepat duduk disebelah Rozak dengan jarak yang lumayan jauh. Rozak tersenyum melihat Iis yang memberikan jarak pada dirinya, itulah Iis selalu bisa menjaga dirinya sendiri.


Hening, tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua. Hanya tersengar suara deru ombak, angin dan sesekali suara deru mobil terdengar dikuping mereka berdua.


“Kang....”


“Iya,” jawab Rozak saat mendengar panggilan Iis.


“Kenapa Akang ningalin Iis dulu? Iis yakin bukan karena PNS, pasti karena Iis kalau berantem nyebelin yah? Kata-kata Iis nggak pernah di filter kalau kata Mas Juan,” ujar Iis sambil menatap Rozak. Belajar dari pengalaman berpacaran dengan Rozak, Iis benar-benar berusaha untuk tidak bertemu dengan orang yang membuat dirinya marah, karena Iis benar-benar tidak mampu mengontrol lisannya dengan baik saat dalam keadaan marah, terbukti saat ini Iis mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat Juan menamparnya.


“Juan bilang gitu?” tanya Rozak.


“Iya, Neng itu kalau marah nggak pernah di filter, asal jeplak aja,” ujar Iis sambil memainkan handphonennya yang dari tadi bergetar mendapatkan serangan panggilan telepon dan chat dari Juan.


Rozak tersenyum kecil, apa yang dikatakan Iis benar. Iis tipe wanita yang sopan, kalem, santun tapi kalau marah pasti kata-kata yang menyakitkan akan keluar dari bibirnya yang mungil. “Iya, emang kamu kaya gitu, Neng. Makanya kamu kalau marah milih pergi ‘kan?”


“Iya, mending pergi daripada harus ngeluarin kata-kata yang nyakitin hati orang dan menyesal kaya sekarang,” isak Iis.


Rozak diam menatap Iis yang sedang terisak menangisi masalah rumah tangganya yang demi apapun Rozak tidak mau tau, Rozak takut kelepasan. Rozak akhirnya mengusap pucuk kepala Iis lembut dengan tangan kirinya.


“Iis bingung, Iis harus gimana ngehadapin Mas Juan, Iis serba salah, kaya Iis yang salah,” ujar Iis sambil terus mengusap air matanya, sakit didadanya benar-benar menggedor-gedor dadanya meminta untuk dikeluarkan. Iis butuh Katarsis (Katarsis adalah istilah seseorang saat melampiaskan amarah. Katarsis terkadang dimaknai sebagai salah satu cara mengatasi amarah.)


“Terus?”


“Yah, Iis teh harus gimana atuh? Iis emang salah ngelakuin sesuatu nggak bilang Mas Juan dulu. Iis salah, Iis udah minta maaf. Tapi, Iis nggak pernah nyangka Mas Juan marah itu karena Mas Juan yang sakitnya bukan Iis,” ujae Iis, Iis serba salah bagaimana caranya dia curhat pada Rozak tanpa memberitahukan apa masalahnya.


“Kenapa atuh kamu teh nggak bilang dulu sama suami kamu?” tanya Rozak.


“Salah yah?” tanya Iis sambil menepuk-nepuk pahanya.


“Yah bukannya kalau udah nikah harus ngobrol bareng-bareng, semuanya harus diomongin.” ujar Rozak.


“Berarti aku pergi sama Akang juga ini dosa atuh,” ujar Iis sambil menahan tawanya.


“Alah iya, kumaha atuh ini, Akang udah menculik istri orang. Mana mantan pacar terindah, lagi,” goda Rozak sambil menatap Iis.


“Hahahhaa... nah loh, dosanya bagi dua,yah,” canda Iis lagi sambil tertawa.


“Haduh, dosa Akang teh banyak, nggak usah dibagi-bagilah.” kekeh Rozak sambil memukul bahu Iis pelan.

__ADS_1


Mereka berdua pun tertawa lepas mendengarkan lelucon yang sebenarnya tidak lucu, demi apapun lelucon macam apa ini?


“Beneran, Iis kamu teh kenapa?” tanya Rozak lagi sambil melihat Iis, “seingat Akang, Juan bukan laki-laki yang suka main tangan.”


“Seingat Iis juga gitu, semarah-marahnya Mas Juan, Mas Juan nggak pernah mukul Iis. Ah... mungkin karena Iisnya nakal kali, kalau ngomong nggak di filter,” ujar Iis sambil memainkan rambutnya.


“Tapi, kamu tuh kalau udah ngomong nggak difilter pasti ada sesuatu yang bener-bener bikin kamu ngambek,” ucap Rozak.


“Iya, emang ada yang bikin aku marah banget. Pokoknya intinya Mas Juan nggak mau disalahin aja. Dia ingin aku yang salah pokoknya, padahal kalau kata aku Mas Juan yang salah. Tapi, udahlah aku udah males mikir juga,” Iis beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk celanannya yang tiba-tiba saja penuh pasir.


“Iis, kamu maunya gimana sama Juan? Cerai?” tanya Rozak penasaran, karena kalau Iis cerai dengan Juan dia bakal yang paling depan berusaha untuk masuk kembali ke hati Iis dengan cara apapun.


Iis kaget dengan perkataan Rozak, sumpah demi apapun tidak pernah ada terbersit kata ingin bercerai dengan Juan. Nggak mau, pernikahan itu sekali seumur hidup, kalaupun Juan mandul dan tidak bisa memberikan anak ya sudah mungkin itu sudah nasibnya, Iis ikhlas tapi saat ini Iis masih marah pada Juan.


“Nggak Kang, pernikahan itu sekali seumur hidup” jawab Iis.


“Kalau kamu dipukul Juan lagi?”


“Berarti itu nasib Iis, nggak papa. Tapi, Kang Rozak tau ‘kan kalau Iis seterong,” isak Iis sambil menatap Rozak yang sudah berdiri didepannya sambil mengangkat tangan kanannya ala binaragawan.


“Akang ningalin kamu bukan karena PNS, Akang ningalin kamu karena Bunda, Bunda minta 500 juta ke Akang, Akang nggak mampu buat kasih itu semua, Akang bukan anak sultan Iis,” tiba-tiba saja perkataan itu meluncur dari mulut Rozak.


“Hah... Bunda?” Iis benar-benar kaget dengan perkataan Rozak.


“Maaf, yah....” ujar Rozak.


Iis hanya bisa mengusap pipi Rozak pelan, hah... mungkin, mungkin bila Rozak anak sultan mungkin beda ceritanya. Mungkin saat ini Iis menikah dengan Rozak dan menjadi kakak ipar Taca, memiliki anak.


“Maybe in another life, we could be lovers and


We'd have each other, Kang,” ujar Iis sambil tersenyum simpul.


(Mungkin di kehidupan yang lain, kita bisa menjadi kekasih dan memiliki satu sama lain, Kang)


“Iis....”


“Iis, Maaf...” Rozak spontan memeluk Iis merengkuhnya mencium wangi tubuh Iis, wangi kesukaannya, wangi yang dirindukannya.


Iis hanya diam dan memposisikan tangannya didada memberikan jarak antara tubuhnya dan tubuh Rozak, tangis Iis pecah didada Rozak. Berkali-kali Iis mendengar kata maaf dari mulut Rozak, entah kata maaf untuk apa, entah maaf karena memeluknya atau karena maaf dulu Rozak meningalkannya.


Beberapa menit berlalu Rozak melepaskan pelukkannya dari Iis, Iis dengan sigap mengusap air matanya dari pipinya kemudian berusaha tersenyum. Iis mendongkak menatap Rozak.


Rozak yang entah kenapa seperti terhanyut pada romansa cinta lamanya pada Iis, Rozak kemudian mendekatkan wajahnya pada Iis, mengikis jarak diantara mereka....


Berharap masih ada cinta dihati Iis....


Masihkah ada?


•••


Hai semuanya Kaka Gallon mau bikin Giveaway nih.... siap-siap yah.


Giveawaynya sebagai berikut.


Giveaway 1:


• Tanggal 1 Maret 2021 Kaka Gallon mau crazy update dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut.




Kalau Like Bab 318 dan 319 mencapai 800like tiap babnya, Kaka Gallon bakal update 2 chapter tambahan pada tanggal 1 Maret 2021.



__ADS_1


Kaka Gallon ingin gitu sekali-sekali ngerasain masuk ke 15 besar Rangking Vote. Jadi kirim Vote kalian yang 1 vocher itu buat novel Water Teapot. balasannya adalah Kaka Gallon bakal Update lagi 2 Chapter tambahan lagi pada tanggal 1 Maret 2021.





(Iya Vote yang itu, yang tiap senin dikasih. Kasih Kaka Gallon dulu dong buat minggu ini, Please 😘)



Coba-coba Kaka Gallon ingin juga liat comment di Bab 318 dan 319 tuh rame gitu. Kalau commentnya mencapai 80 comment, cust kaka gallon kasih lagi 1 episode tambahan.



Total kalau kalian bisa lakuin 3 hal tersebut. Kaka Gallon bakal Update 7 bab langsung dihari senin 1 Maret 2021...!? (Kapan coba kaka Gallon Update sebanyak itu?)


• Giveaway 2.


Kaka Gallon punya Giveaway lagi hehee...


Giveawaynya dapet tas rajut super cantik untuk 10 orang pemenang. Caranya?




Ayo kasih Point yang banyak buat Kaka Gallon. Biar Novel Kaka Gallon bisa nangkring cantik manis di Rangking Point.


10 orang yang ngasih Rangking Point terbanyak bakal Kaka Gallon kasih 10 Tas rajutan super cantik...




Untuk pemberi point rangking 11 sd 15 bakal mendapatkan pulsa masing-masing sebesar 25k...!?




(Batas pemberian Point sampai Tanggal 15 Maret 2021, pengumuman pemenang Tanggal 20 Maret 2021)



• Giveaway 3



MASIH ADA LAGI? Masih lah, Kaka Gallon kalau kasih Giveaway nggak nanggung. Hihihihihii....



Ayo, komen yang banyak di Bab Kaka Gallon mulai dari tanggal 1 Maret 2021 sd 15 Maret 2021. Nanti Kaka Gallon bakal nyari 3 Komen paling Kocak (Tapi, harus sesuai cerita dan tidak ada hujatan pada Kaka Gallon). Nanti bakal Kaka Gallon kasih hadiah.


- pemenang 1, pulsa 50K


- pemenang 2, pulsa 25k


- pemenang 3, pulsa 10k


Jadi, semangat yah hehehe...


Warning : Untuk yang mengikuti Giveaway Point dan Vote, tolong pastikan aplikasi Manggatoon dan Noveltoon di android kalian sudah di upgrade ke Versi ManggaToon 2.0.0, NovelToon 1.2.6. (HANYA UNTUK PENGGUNA ANDROID BUKAN IPHONE)


Contoh tampilan yang udah di update...

__ADS_1



__ADS_2