Water Teapot

Water Teapot
S2: Permintaan maaf Ayah.


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Malamnya Iis sedang duduk dikamar sendirian, membaca rundown acara dan masih penasaran dengan dimana acaranya akad nikah yang akan dilakukan oleh Juan. Calon suaminya ini benar-benar membuat Iis geram.


Iis dan Juan tidak mau mengikuti pernikahan dengan adat apapun. Mereka lebih suka menikah secara universal. Biar cepet sih sebenrnya, bisa dikata Iis sudah ngebet nikah dengan Juan, Iis sudah hamoir tidak mampu mempertahankan dirinya, beberapa kali pertahanan dirinya hampir jebol. Dari pada jebol sebelum menikah, mending cepet-cepet nikah.


Tok tok tok...


Iis langsung bangkit dari sofa kemudian berjalan kedepan pintu kamarnya.


“Siapa?”tanya Iis sambil membuka pintu kamarnya dan mendapati Ayahnya berdiri di depan kamarnya.


“Ayah,” desis Iis sambil mundur beberapa langkah.


Ayah melihat kekiri dan kekanan kemudian mendorong Iis masuk kedalam kamarnya.


“Ada apa Yah?”tanya Iis, perasaannya tidak enak, apalagi melihat gelagat Ayah yang memaksa masuk kedalam kamar Iis. Sialnya Juan sedang pergi bersama Adipati.


“Cepet tutup pintunya,”ujar Ayah sambil terus berjalan kemudian duduk di sofa.


Iis dengan cepat menutup pintu dan menguncinya. “Ada apa Yah?”


“Sini duduk sini,”pinta Ayah sambil menepuk sofa disampingnya yang kosong. Iis menurut.


“Ini,”ujar Ayah sesaat Iis duduk disebelah Iis.


“Apa?”Iis bingung, Iis menerima pemberian Ayah, sebuah kotak perhiasaan beludru berwarna merah hati. Dengan cepat Iis membuka kotak tersebut.


“Ayah ini...”


“Perhiasan Ibu kamu, Ayah berhasil tebus lagi. Ayah minta maaf, Ayah jual kostan kamu. Ayah ngak mau kamu dihina keluarga Juan, seandainya mereka tau kamu punya hutang besar. Itupun bukan hutang kamu. Itu hutang Bunda dan Ayah. Sisa dari uangnya Ayah ambil buat menebus perhisan ini, di pegadaian.”jawab Ayah sambil mengelus rambut Iis.


Iis terdiam melihat kalung koye milik ibunya, cincin nikah berlian mata satu ibunya dan gelang ronce emas milik ibunya. Bukan perhiasan yang mewah, seperti yang dibelikan oleh Juan dan Mamih. Tapi ini milik ibunya, kenangan Ibunya.


“Ayah mau, kamu pakai ini. Ini emang ngak sebagus perhiasan yang dibelikan Juan atau keluarganya. Tapi, ini dulu milik ibu kamu. Ayah sembunyiin ini semua dari Bunda. Karena, ini hak kamu. Pakai yah, Ayah mohon,”ucap Ayah sambil mendorong kotak perhiasan tersebut pada Iis.

__ADS_1


“Iya Yah..”jawab Iis sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


“Bagja (bahagia)yah, Iis,”ujar Ayah sambil mengelus kepala Iis.


“Iyah Yah, Iis janji. Tapi, Ayah harus sehat yah. Ayah tinggal Jakarta aja, nanti aku yang urus, atau Ayah mau tingal di tempat khusus, Iis udah cari ada satu tempat namanya Jababeka Senior Living. Bagus Yah, nanti biar Iis yang urus semuanya..”


Ayah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Anak gadisnya ini benar-benar menyayanginya, padahal dia sudah menyakiti hati anaknya sampai berkeping-keping.


“Ayah, tapi Bunda ngak ngurus Ayah..”


“Tapi, ada Bernard yang harus Ayah lindungi,”potong Ayah sambil mengusap lengan Iis pelan. Dia masih punya seorang anak lagi yang harus dia jaga, anak yang membuat Ayah rela hidup bersama Bunda.


Mendengar nama Bernard membuat Iis ingin berteriak keras, Bernard bukan anak Ayah, dia anak Idad..!!!


“Ayah, Bernard itu...”


“Bernard dan kamu yang bikin Ayah bertahan hidup didunia ini, sekarang kamu udah bahagia. Sekarang, Ayah tinggal memikirkan nasib Bernard saja. Kalau ada apa-apa dengan kalian berdua Ayah ngak akan sanggup hidup di dunia ini,”ujar Ayah sambil menepuk bahu Iis.


Iis langsung menghentikan niatnya untuk berkata-kata. Dia tidak mau Ayah sakit lagi, Stroke sekali lagi, Ayah tinggal nama.


“Nah, ngomong-ngomong mahar Juan apa?” tanya Ayah bingung, karena semua biaya benar-benar ditanggung Juan. Kasarnya dia datang kesana hanya membawa diri.


“Lah, ya udah paling nanti pas akad nikah Ayah dikabarin apa maharnya, jadi nanti Ayah bisa apalin di lokasi,”ujar Ayah.


“Yah, akad nikahnya dimana sih?” tanya Iis penasaran. Sepertinya hanya dirinya di sana yang tidak tau dimana tempat akad nikahnya.


Ayah tersenyum, masih ingat dikepalanya kalau Juan mewanti-wanti dirinya untuk bungkam. “Nanti aja besok kamu liat, udah ah. Ayah mau tidur, besok subuh kamu mau nikah,”ujar Ayah sambil berdiri dari sana.


“Yah, ngak bisa kasih tau dikit aja,”pinta Iis memohon.


“Ayah udah janji sama Juan, maaf yah,”Ayah langsung berjalan ke arah pintu.


“Ayah, anak Ayahkan Iis, please Yah, Please...” ujar Iis sambil mengatupkan kedua tangannya didada.


Ayah menahan tawanya, sudah lama dia tidak melihat anak gadisnya ini memohon sampai sebegininya. Rasanya terakhir Iis memohon minta dibelikan boneka Barbie di pasar, Iis masih mengepang rambutnya. Sekarang Ayah jarang melihat Iis mengepang rambutnya lagi.


“Ngak bisa, Ayah udah janji sama Juan,”ujar Ayah lagi sambil mengusap rambut Iis lembut.


“Ayah...”

__ADS_1


•••


Juan dan Adipati sedang berbincang di restoran. Saat sedang berbincang Adipati menunjuk seseorang di belakang Juan.


“Itu yang namanya Idad, disebelahnya ada anaknya,”ujar Adipati sambil menunjuk Idad dan Ryan.


“Lo sinting yah, ngundang Ryan ? Kalau Taca liat terus histeris, lo yang gue potong..!”ancam Adipati sambil menatap tajam Juan. Adipati yakin, bila Taca melihat Ryan, pasti Taca akan histeris. Kalau sampai kesadaran Taca hilang, orang yang pertama kali Adipati tendang adalah Juan.


Juan hanya tersenyum simpul, mereka harus ada. Rencana dimulai dari saat ini. “Tenang, Saka udah nyimpen meja mereka ditempat paling jauh dari Taca. Kalau ada apa-apa juga Taca ada lo, ada Abah, Riki sama Rozak. Lupa, bini lo banyak satpam?”


“Pokoknya sampai bini gue histeris, lo yang bakal gue tendang pertama kali, Ju,”ancam Adipati lagi.


“Tenang, lo liat deh bentar lagi,”ujar Juan sambil meminum kopi didepannya.


Adipati terus melihat Idad dan Ryan yang sedang makan, tiba-tiba ada seorang lelaki mendekati mereka kemudian mengajak mereka berbincang.


“Dimas?”


Juan tersenyum senang, ternyata ada gunannya juga punya ponakan. “Yup, biar Dimas ngelobi Idad. Biar Idad hancur sehancur-hancurnya.”


“Rencana yang itu beneran mau lo lakuin?” tanya Adipati.


“Iya, makanya tuh tugas lo,”ujar Juan sambil menunjuk adik Kokom yang baru turun dari tangga.


“Oke, fine.. doain gue sukses,” ujar Adipati sambil beranjak dari sana


“Ngak butuh doa, bacotan lo pasti bisa bikin adiknya Kokom ngak berkutik, Di,”ujar Juan sambil tersenyum senang.


Adipati hanya bisa tersenyum dan pergi meninggalkan Juan. Juan langsung melihat jam ditangannya. Sepertinya dia butuh istirahat, besok dia akan menikahi pujaan hatinya.


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2