Water Teapot

Water Teapot
S2: Kampung...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Italy?” tanya Iis sambil menatap Juan kebingungan.


“Śi, Iis, saya laki-laki Italia, kampung saya yah di itali,” ujar Gio sambil menunjuk dadanya.


“Eh... sugan teh, kampung teh di Cibangkong, Cikiih, Cililin... Itali bukan kampung atuh, Om Gio,” ujar Iis kaget, saking kagetnya logat sundanya langsung keluar.


(Eh... disangka tuh, kampung itu di Cibangkong, Cikiih, Cililin... Italy bukan kampung, Om Gio)


“Hahahaaa tapi kampung halaman buat saya Iis,” kata Gio sambil tertawa renyah.


“Mas, kalau kita ikut, kita ngapain di Itali?” bisik Iis.


“Nanam anggur?” jawab Juan asal.


“Eh... ngapain ih,” ujar Iis lagi.


“Hahaa... anggap aja liburan, kasian Liz belum pernah jalan-jalan juga,” Juan menatap Liz yang sedang asik tersenyum pada Kama.


“Itu Liz, demen amat liatin Kama,” ujar Juan lagi.


Iis melihat Liz sambil tersenyum, anaknya ini sepertinya tau mana lelaki ganteng. “Hahaha... biarin aja Mas, Liz tau kali, kalau Kama udah gedenya ganteng.”


Juan langsung menatap Iis, “Bisa celaka kalau anak kita pacaran sama anaknya si semprul Adipati.”


“Kenapa?”


“Ntar, kelakuannya sama lagi, kaya Bapaknya,” keluh Juan.


Iis hanya bisa tertawa pelan, semenjak memiliki anak perempuan, Juan seperti ketakutan akan siapapun anak lelaki yang mendekati Liz. Ayolah, Liz belum ada satu tahun umurnya, tapi setiap anak bayi laki-laki yang mengajak Liz bermain, semuanya ditanya riwayat hidupnya. Iya, Juan bertanya bibit bebet dan bobotnya.


“Ya, udahlah Mas, Liz masih kecil juga, nggak mungkin dia besok minta nikah sama Kama,” jawab Iis.


“Kalau dia minta nikah sama Kama, aku bakal suruh Kama bikin surat perjanjian....”


“Surat perjanjian?”


“Iya surat perjanjian, bahwa kelakuan Kama tidak akan sama seperti Bapaknya, enak aja Liz udah aku urus dari kecil, aku sayang-sayang, eh... disia-siain sama si Kama, minta aku jadiin air cucia beras kalau gitu,” cerocos Juan.


Iis hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya, “Terserah kamu lah, Mas. Aku ikut aja,” ujar Iis pelan.


•••


“Di...” panggil Taca mesra pada suaminya yang sedang duduk di kursi teras rumah Gio.


“Apa, Amore?” tanya Adipati sambil mengusap pucuk kepala Taca.

__ADS_1


“Aku boleh minta tolong nggak?” tanya Taca.


“Minta tolong apa?” Adipati malah balik bertanya pada Taca.


“Aku sama Iis mau pergi dulu sebentar, bisa tolong jaga Kama, Kalila sama Kafta?” pinta Taca sambil menyatukan kedua tangannya. “Please....”


“Kama, Kalila sama Kafta nya dimana? Terus kamu mau kemana juga sama Iis?” tanya Adipati, Adipati selalu was-was bila Taca berpergian tanpa membawa anak-anak, masalahnya Istrinya ini tidak ada tampang ibu anak tiga. Dikasih baju SMA pun masih pantas.


“Kama sama Kafta tidur dikamar kamu, kalau Kalila dia lagi sama Nonno,” jawab Taca.


“Terus kamu mau kemana?”


“Aku sama Iis mau jalan-jalan ke Mall, sebentar aja. Boleh yah, sebentar aja kok...” ujar Taca sambil mencium pipi Adipati.


“Tapi, jangan genit. Jangan aneh-aneh, sama satu lagi bawa Kafta,” ujar Adipati.


“Ih... kok malah bawa Kafta, aku kan mau jalan-jalan dengan tenang, Di.” pinta Taca, sebenarnya nggak ada salahnya bawa Kafta, Kafta juga bukan bayi yang rewel, dia malah bayi yang sangat-sangat penurut. Tapi, Taca sedang ingin berjalan-jalan bebas dari anak, seperti, mengingat masa muda.


“Bawa Kafta atau nggak aku izinin sama sekali,” ujar Adipati sambil menjawil hidup Taca.


“Kenapa Kafta harus aku bawa sih, Di. Kan aku mau jalan-jalan aja,” protes Taca.


“Kalau kamu bawa Kafta, nggak bakal ada cowo yang deketin kamu. Siapa coba Cowo yang mau deketin kamu kalau kamu bawa-bawa anak? Nggak ada,” ujar Adipati.


“Tapi....”


“Bawa Kafta atau nggak sama sekali,” ujar Adipati.


Taca langsung menganggukan kepalanya, lebih baik dia mengalah. Daripada, tidak dapat izin dari suami bulenya.


“Juan kata Iis bakal diminta buat jagain Liz, jadi Iis nggak bakal bawa Liz,” ujar Taca.


“Ya udah palingan aku nanti ketaman bareng Juan. Kamu bawa Kafta,” ujar Adipati sambil menyentil hidung Taca.


“Oke, kamj jangan nakal di taman,” ujar Taca sambil mencium cepat bibir Adipati.


“Siapa yang mau deketin bapak-bapak anak tiga, Amore? Nggak ada,” ujar Adipati sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Masalahnya, sekarang ini perempuan lebih suka sama yang bapak-bapak anak 3 daripada sama cowo lajang. Apalagi bapak-bapak anak tiganya kaya kamu, ah sudahlah langsung heboh,” cerocos Taca.


“Hahaa... ya udah lah, bapak-bapak anak tiganya sayang sama Istrinya, jadi nggak bakal bikin perkara,” ujar Adipati lagi.


“Bagus...”


•••


“Lo beneran mau bikin acara kaya gitu nanti di Itali?” tanya Juan pada Adipati yang sedang duduk di sampingnya.


Saat ini mereka sedang duduk di taman. Kama dan Kalila sedang bermain pasir didekat mereka. Sedang, Liz sedang tertidur pulas di dorongan bayi miliknya.


“Iya, bagus kan.”

__ADS_1


“Nggak bakal bangkrut lo bikin acara kaya gitu?” tanya Juan lagi.


“Nggak tau juga sih, pasti bakal ngeluarin banyak bangeg biaya, tapi masalah pesawat udah sama lo urus kan?” tanya Adipati pada Juan, yang langsung dijawab anggukan oleh Juan.


“Nggak kebayang gimana hebohnya bini lo ntar, bisa bikin geger satu desa,” ujar Juan lagi.


“Biarin, biar nggak ada yang nyinyir lagi.”


“Siapa yang nyinyir? Ada yang berani nyinyir sama lo?” canda Juan, walau Juan tau siapa yang sangat suka nyinyir pada kehidupan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Rina dan keluarganya. Nyinyirannya jangan ditanya, pedes.


“Jangan pura-pura nggak tau, mereka itu nyinyirnya nggak bisa di kontrol. Kayanya kalau nggak nyinyir nggak bakal hidup,” terang Adipati sambil mieminum air dari dalam botol minumnya.


“Hahahaa... mereka juga dibawa ke itali?” tanya Juan penasaran.


“Iya, mereka juga gue bawa ke Itali, biar heboh sekalian dah,” ujar Adipati.


“Pertanyaannya, apa mereka punya paspor?”tanya Juan.


“Pertanyaan lo salah, harusnya lo tanya, apakah mereka tau fungsi dan kegunaan paspor,” kekeh Adipati lagi.


“Astaga bener, ntar mereka sangka paspor buku nikah lagi. Kebayang di Itali paspornya ilang, auto stress mereka, Di,” ujar Juan sambil tertawa terbahak-bahak.


“Makannya udah aja, mereka semuanya gue suruh naik pesawat lo aja, jadi mereka nggak bakal tau urusan-urusan boarding dan lain-lain. Tinggal masuk aja ke pesawat, palingan di pesawat mereka teriak-teriak minta nasi.” Tawa Adipati dan Juan langsung meledak saat mengatakannya.


“Astaga kualat gue, bini gue bakal bawa beras kayanya. Iis kemarin selama di New Zaeland marah-marah karena butuh makan Nasi, kalau nggak makan nasi nggak makan,” kenang Juan.


“Hai... lo sangka mertua gue kagak teriak-teriak di pesawat minta nasi apa? Inget nggak pas ke finlandia?” tanya Adipati lagi.


“Astaga inget banget, ampe dia berdoa didalam pesawat hahahaaa....”


“Bangk*, gue diceritain ampe bengong kemaren. Untung gue cinta anaknya, kalau nggak... ah sudahlah, tobat gua,” kekeh Adipati.


Tawa mereka benar-benar menyatu dengan udara di sana, membuat suasana sedikit meriah. Kama dan Kalila betah bermain di pasir. Sedangkan, Liz anteng tidur di strollernya.


“Tapi, lo yakin bikin....”


“Yakin, udah nggak usahlah kamu ngomong apa-apa. Pokoknya tau beres aja,” ujar Adipati sambil mengangkat jempolnya pada Juan.


•••


Mau bikin apaan sih Pak Adipati....


penasaran Kaka Gallon...


Hai... cuman mau ngasih tau aja, cerita akan kembali ke bagian Taca dan Adipati. Juan dan Iis kan udah bahagia banget nih yah, jadi biarkan mereka berdua, menikmati kebahagianya....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2