Water Teapot

Water Teapot
S2 : Juan cuman mau sama Iis


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Juan sedang melihat berkas-berkas didepannya? Kepalanya pusing tujuh keliling melihat pekerjaan didepannya, Adipati benar-benar menolak mengerjakan pekerjaan tambahan karena fokus mengurusi ngidamnya Taca yang kadang membuat Juan kaget.


Tok tok


"Pak Juan, ada telepon dari Pak Kevin Wijaya," ujar Saka dari balik pintu.


"Oh, yah makasih," ujar Juan sambil mengangkat gagang teleponnya.


"Iya Pih,"


"Kata Mamih kamu lagi deket sama cewe ?" tanya Papih langsung pada pokok permasalahan.


Juan langsung menghentikan aktifitasnya kemudian memfokuskan pikirannya pada obrolannya pada Papih.


"Kanapa emangnya, Pih ?" tanya Juan dingin.


"Kenapa ? Cewe itu anak siapa ? Kerjaannya apa ? Keluarganya dari mana ?" tanya Papih bertubi-tubi.


Juan hanya bisa menghela napasnya, ini yang Juan benci dari Papihnya semuanya harus sesuai dengan standar yang ada, harus dari keluarga A B C D E, bener kata Adipati keluarganya Ribet...!


"Namanya Lizbet panggilannya Iis, dia Psikolog Anak, keluarganya orang biasa dia anak petani di Citeko," jawab Juan jujur.


"Haaahh.... kamu ngak bercandakan ? Kamu gila pacaran sama orang biasa ?" ujar Papih sambil menggebrak meja kerjanya.


"Kenapa emangnya, salah ?" tanya Juan dingin.


"Salah, Juan. Mau ditaro dimana muka Papih kalau anak satu-satunya Papih nikah sama orang bukan dari kalangan kita ? Mau taro dimana muka Papih ?" tanya Papih kesal.


"Muka Papih ? Yah... Muka Papih taro aja di kepala Papih, emang mau di taro dimana lagi ?" tanya Juan dingin, demi apapun dia tidak ada rasa sayang pada Papihnya.


"Juan Wijaya...!" teriak Papih kesal.


"Ya."


"Astaga Juan, jangan gara-gara kamu mandul kamu bisa pilih pasangan seenak-enaknya, Juan," bentak Papih kesal.


"Ngak ada hubungannya kisah percintaan Juan sama kemandulan Juan, Pih..!" bentak Juan kesal.


Papih terdiam mendengar perkataan Juan, "Jangan bilang Iis ngak tau kamu mandul."


"Bukan urusan, Papih." ujar Juan kesal.


"Hahahaa... apa jadinya kalau Iis tau kamu mandul, Papih yakin 100% dia bakal bertahan disamping kamu, dia cuman butuh duit kamu Juan. Hahahaaa... pinter kamu, kamu cari cewe yang bisa kamu beli pake uang.."

__ADS_1


"PAPIHHHH.... jangan bikin Juan marah, Papih memang orang tua Juan tapi ini udah keterlaluan..!" ujar Juan geram, rasanya dia ingin menyumpal mulut Papihnya dengan berkas-berkas yang ada didepannya.


"Lah, emang kenyataan kan. Coba kamu bilang ke Iis kamu mandul, pasti Iis bakal terus disamping kamu, kenapa ? Orang dari kalangan gitu cuman butuh Cuan, Juan CUAN...!" kekeh Papih.


"Kamu pinter Juan, jadi nanti kamu nikah sama dia, terus ceraiin dia. Nanti kamu bakal Papih jodohin sama anak temen Papi yang janda anak 1 atau 2. Win win solution, kamu jenius Juan..."


"SINTING PAPIH YAH ?!" bentak Juan keras sambil memukuli angin dihadapannya saking kesalnya dengan omongan tua bangka sialan yang harus Juan panggil Papih.


"Kenapa ? Itu solusi buat keadaan kamu," ujar Papih merasa tidak bersalah sama sekali.


"Papih, Juan cinta sama Iis. Juan cuman mau Iis. Juan ngak pernah berpikir sampai kesana, terserah Papih mau ngapain pokoknya," ujar Juan kesal.


"Kamu tau Nenek 'kan ? Kamu sangka dia mau menerima cucunya menikah dengan kalangan biasa ?" tanya Papih mengingatkan Juan.


"Terserah, kalau Papih, Nenek atau siapaun di keluarga Wijaya ngak setuju aku sama Iis terserah, aku bakal keluar. Aku ngak bakal pake nama keluarga Wijaya lagi, Juan ngak peduli Pih," ancam Juan pada Papihnya.


"Cih... ancaman basi, Juan. Terserahlah, nanti Papih jadwalkan pertemuan Papih, Mamih, kamu dan Iis,"ujar Papih sambil menutup sambungan telepon dengan kesal.


Juan langsung mengambil pesawat telepon didepannya kemudian melemparkannya ke pintu ruangan kerjanya.


Brakkkk


Pesawat telepon yang tidak berdosa itu saat ini teronggok tak berdaya di dekat pintu keluar ruangan Juan.


Tok tok tok


"Pak, ini berkas-berkas yang Bapak minta kemarin."


"Simpen disana," ujar Juan sambil menunjuk sudut yang kosong dimeja kerjanya.


"Sama Pak ada..."


"Mas, kamu kenapa ?" tanya Iis sambil memunculkan kepalanya di balik pintu ruang kerja Juan.


"Yang, sini." ujar Juan sambil memanggil Iis untuk masuk. "Saka tolong itu teleponnya ganti baru, dan kalau nanti Pak Kevin minta makan malam keluarga sama saya langsung aja iyah 'kan sepadat apapun jadwal saya."


"Baik Pak, Mari Bu Lizbet," ujar Saka sambil mengambil telepon yang tadi dilempar Juan.


Klik...


Terdengar suara pintu ditutup.


"Ayang sini, duduk," pinta Juan sambil menepuk pahanya.


"Duduk disini aja, Mas. Malu nanti kalau Saka atau siapa masuk kesini," ujar Iis sambil duduk di sofa yang ada di ruangan Juan.


"Ya udah aku yang kesana," ujar Juan sambil duduk dibelakang Iis kemudia memeluknya dari belakang dan membenamkan kepalanya di bahu belakang Iis.


"Kenapa, Mas ?" tanya Iis bingung karena tadi Iis mendengar Juan berteriak dari ruangannya dan membanting barang.

__ADS_1


'Papih aku gila...' batin Juan kesal.


"Mas.." panggil Iis lembut sambil berbalik melihat wajah Juan yang ditekut.


"Hmm..."


"Kamu kenapa ? Jangan marah-marah, kenapa sih. Jelek tau marah-marah sampai lempar barang gitu," ujar Iis sambil mengusap kedua pipi Juan.


"Ngak papa, aku cuman capek. Boleh peluk ?" tanya Juan sambil memeluk Iis tanpa mendengar jawaban Iis sama sekali. Juan memeluk Iis meletakkan kepalanya di ceruk leher Iis menghisap wangi morinaga kesukaannya.


"Mas..."


"Aku ingin meluk kamu dulu, aku mohon..." ujar Juan sambil terus memeluk Iis erat.


"Iya..."


•••


Setelah menutup teleponnya Papih langsung memanggil sekertarisnya Tian untuk mengumpulkan informasi mengenai Lizbet atau Iis.


"Kamu, cari semua informasi tentang Lizbet atau Iis ini, pokoknya cari informasi tentang perempuan yang sedang dekat dengan Juan, mengerti ..!" ujar Papih sambil memberikan berkas-berkas pada Tian.


"Baik, Pak. Saya akan cari secepatnya, saya permisi, Pak," ujar Tian sambil keluar dari ruangan Papih,


Papih terdiam menatap indahnya kota Jakarta dari kursinya, pikirannya melayang-layang pada berbagai macam rencana untuk mencari tahu tentang Iis.


Papih tidak tau siapa itu Iis, seperti apa rupa dan bentukknya. Tapi, mendengar cerita dari istrinya Iis adalah anak yang baik dan sayang dengan Juan. Istrinya sangat setuju dengan pilihan Juan, tapi Papih masih ada keraguan, dia tidak mau sampai Juan salah langkah dan menikah dengan perempuan yang hanya ingin mengeruk harta kekayaan keluarga Wijaya saja.


Papih tidak mau Juan menderita, Papih ingin Juan berbahagia. Papih tidak mau Juan sakit hati lagi seperti saat bersama Cicil. Dia harus tau apa motif Iis mendekati putranya. Dia harus tau.


•••


Dorrrr


Ketemu lagi sama Kaka Gallon, heheheeee...


Gimana udah kangen belum sama Kaka Gallon ? Hahahaa...


Selamat menikmati season 2 water teapot ❤️❤️❤️.


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2